Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 41


__ADS_3

"Emmppt..." terdengar lenguhan panjang khas suara orang bangun tidur.


Aini mengerjap ngerjap kan kedua matanya sangat terasa bahwa tubuhnya masih lemas, energi chi nya keluar banyak sekali semalam membuat Aini lemas seperti tak bertulang.


Masih linglung Aini mencoba mengumpulkan kesadarannya,dia mengingat bahwa semalam dia sangat berusaha semampunya untuk menolong tunangannya.


Terdengar dengusan kasar dari bibirnya,kini kepalanya dia sandarkan di kepala ranjang yang entah kamar siapa ini.


Dengan enggan dia mencoba bangkit dari duduknya tapi sekali lagi kepalanya sangat pusing .


"Bagaimana keadaan mu nduk..." tanya seorang Kakek tua yang tak lain adalah penjaga Aini.


"Alhamdulillah baik kek meskipun agak pusing..." sambil memejamkan matanya Aini menjawab sekenanya.


"Heemm... Kakek sudah tahu dimana letak bungkusan itu diletakkan nanti disaat kau sedikit sehat lekaslah kau ambil agar tidak ada kejadian selanjutnya.


"Iya kakek... lalu bagaimana dengan kak Aditya kek?? apakah dia baik baik saja...??" sebenarnya Aini sangat mengkhawatirkan Aditya tapi saat ini kepalanya benar benar pusing tak kuat rasanya jika dia memaksa untuk bangun dan menghampiri Aditya.


"Dia baik baik saja, kau tenanglah dia sudah aman hanya saja kau harus segera mengambil bungkusan itu..." mau tak mau kakek itupun mengungkapkan apa yang harus dilakukan Aini sesegera mungkin.


Aini masih bergeming memejamkan matanya yang dirasa berat untuk dipaksakan membuka kedua matanya.


"Duduklah, kakek akan membantumu menyalurkan tenaga dalam ke tubuhmu agar segera pulih" titah kakek dan dia juga membantu Aini duduk,nampak sekali kalau Aini sangat tidak bertenaga.


Kini posisi Aini pun duduk bersila dengan posisi lotus seperti biasanya berhadapan dengan kakek yang juga duduk bersila dan dengan posisi yang sama. Kini keduanya pun sama sama memejamkan matanya kedua tangan kakek itu bergerak perlahan seperti sedang menari tapi sedikit kaku hingga akhirnya kedua telapak kakek itu menghadap kearah dada Aini tapi tidak sampai menyentuh hanya 20 Senti meter jarak nya dari tubuh Aini.


Seketika rasa Hangat kemudian lambat laun pun menjadi panas kini kening Aini mengeluarkan peluh meskipun tidak banyak, setelah itu nampak terasa sedikit berkurang rasa panas yang menjalar ditubuh Aini dan berubah menjadi dingin tapi sedikit sejuk hingga mampu membuat Aini seperti fresh kembali, ibarat handphone seperti habis dicass.


Dua puluh lima menit kemudian selesai lah kakek memberikan tenaga dalam chi yang disalurkan untuk gadis itu.


"Sudah... lekaslah bangun nduk dan cepat cari bungkusan itu yang berada di pintu belakang rumah dan di pintu depan ditengah tengah kau ambil sebelum fajar menyingsing,kakek undur diri dulu kau tahu harus melakukan apa selanjutnya bukan..??" Aini pun mengangguk mendengar penjelasan kakeknya.


"Baik kakek... dan terimakasih atas semuanya!! Aini tidak tahu bagaimana kalau tidak ada dirimu kek....."


"Hhmm... Kakek pergi Assalamualaikum... panggil kakek kalau membutuhkan bantuan!!" peringat dan ucap salam kakek dan lekas menghilang dari tempat Aini berada.

__ADS_1


"Waalaikumsalam kakek..." Aini pun bergegas bangun dari tempatnya, sebelum Aini memutar handle pintu ternyata pintu terbuka yang ternyata nyonya Rossa sudah berdiri didepan pintu.


"Aini... kamu tidak apa apa sayang" nampak kekhawatiran terpancar dari wajah nyonya Rossa.


"Alhamdulillah saya baik Tante..." jawab Aini apa adanya.


"Tapi nak kamu belum sarapan loh,ini mama bawakan sarapan untuk mu sayang..." tanpa menunggu Aini menjawab Nyonya Rossa pun nyelonong masuk dan menaruh makanan itu dimeja depan sofa dikamar itu.


Hhhhhhh


Aini menghela nafas ringan mau tidak mau Aini pun mengiyakan ajakan atau perintah Nyonya Rossa, setelah nyonya Rossa pamit keluar Aini pun segera menghabiskan sarapan paginya,tak bisa dipungkiri perutnya pun juga merasakan lapar.


Sepuluh menit kemudian Aini pun sudah selesai dengan sarapan nya dia tak bisa menunggu lama setelah menaruh piring kotor bekas dia sarapan lalu mencuci nya Aini pun hendak menemui Pak Antoni guna minta izin untuk menggali sesuatu yang kakeknya tunjukkan tadi.


Setelah Aini menjelaskan perihal maksudnya pak Antoni pun mengizinkan tapi harus dibantu Barjo atau Paijo disaat menggalinya, bagaimana pun juga pak Antoni sangat berhutang banyak pada gadis tersebut.


Setelah beberapa saat Barjo yang sudah berhasil menggali tampak pandangan mereka dikejutkan dengan sebuah bungkusan putih yang berisi boneka kayu dan ada sedikit lapisan kain kafan putih bercampur dengan tanah kuburan dan kembang tujuh rupa dan hal serupa pun ditemukan saat Barjo kembali menggali ditengah-tengah pintu belakang rumah pak Antoni.


Kaget pak Antoni dan nyonya Rossa benar benar syok siapa yang tega melakukan ini pada keluarganya itu yang jadi pertanyaan kedua tuan rumah itu.


Aini pun sedikit bernafas lega setelah itu Aini minta izin pak Antoni dan nyonya Rossa untuk melihat Aditya sebentar kemudian rencananya dia hendak pamit pulang.


"Mungkin setengah jam lagi kak Aditya akan siuman Om Tante..." ucap Aini


"Tolong berikan minuman yang sudah saya tulis dan untuk makanan nya semua jenis makan bisa... ini minuman untuk kak Aditya setelah dia pulih" sambil menyodorkan air mineral kepada Nyonya Rossa.


"Eehhmm ... saya pamit pulang dulu om Tante" Pamit Aini sebelum dia benar-benar akan pulang kembali dia menuju dimana Aditya berbaring di kasur nya.


Pak Antoni merasa benar benar tidak bisa berkata apa-apa saat ini bagaimana caranya berterima kasih pada gadis itu setelah putrinya Dewi lalu cucunya kini putranya Aditya juga gadis itu yang menolongnya.


Akhirnya pak Antoni pun memberanikan diri untuk bertanya siapakah gerangan yang mencoba membunuh putranya dengan cara seperti ini yang benar-benar diluar nalar manusia.


"Ehhmm... Nak Aini... bisakah saya bertanya sesuatu??" Aini pun mengangguk


"Iya Om Monggo...." jawab Aini diselingi logat jawanya.

__ADS_1


"Siapa kah yang..." terjeda kalimat pak Antoni tiba-tiba suaranya tercekat ditenggorokan, tunggu tunggu bagaimana dia dengan tidak tahu malunya menanyakan sesuatu yang menurut nya lancang.


Tapi kalau dia tidak bertanya bagaimana bisa dia tahu siapa pelaku dibalik celakanya sang putra dan apa motifnya ?? kalau soal Dewi yang dulu dia mengetahui dari Dewi kalau teman nya sendiri yang berusaha mencelakainya tapi ini.. siapa dan kenapa??


Masih bingung antara melanjutkannya ataukah dia pendam dalam hati saja siapa tahu Aini nanti dengan sendirinya mengatakan siapa pelakunya.


Begitulah yang ada dalam pikiran pak Antoni,Aini yang tahu apa yang hendak dipertanyakan oleh pak Antoni pun tersenyum dia juga bingung bagaimana harus menjelaskannya.


Aini pun menghela nafas panjang kemudian dia berkata " Saya tahu apa yang hendak om dan Tante hendak tanyakan tapi setelah om dan Tante mengetahui semuanya apakah anda berdua mampu ikhlas dan tidak memusuhi apalagi berpura-pura tidak mengetahui apa apa??" kini Aini pun menjelaskan panjang lebar kenapa dia tak mau memberitahu kan alasannya kenapa dia melakukan itu.


Pak Antoni pun mengernyitkan dahinya kembali hatinya gamang "gadis ini... benar benar diluar nalar kesabaran dan dewasa nya" batin pak Antoni.


"Saya akan memberitahukan siapa dibalik semua ini tapi om dan Tante harus berjanji jangan pernah ada dendam dan sakit hati... maafkanlah dia bagaimana pun caranya,saya tahu sulit untuk memaafkan tapi berusahalah... kit hanya manusia biasa tapi setidaknya kita berusaha menjadi yang terbaik meskipun kita jauh dari kata sempurna.


Beliau hanya khilaf karena rasa iri dengki karena rasa itulah akhirnya iblis mampu membujuk dan merayunya agar bersekutu dengan iblis pula.


Saya harap om dan Tante mempunyai hati seluas luasnya agar kedepannya nanti om dan Tante bisa hidup tenang dan damai tanpa ada dendam yang membebani,gimana... apakah anda berdua mampu..??"


Pak Antoni dan nyonya Rossa terpaku mendengar kata-kata dan petuah gadis yang masih berusia dibawah 25 tahun itu, bagaimana gadis itu memberikan kata kata yang begitu memotivasi dan kena hingga kedua orang paruh baya itu terdiam tak bisa berkata kata.


"Hhmm... saya harus pamit pulang om Tante jangan katakan apapun pada kak Aditya tentang apa yang menimpanya agar pikiran nya tidak terbebani, dan untuk jawaban pertanyaan dari anda Om... dia masih ada hubungan darah dengan anda saya tidak bisa menyebutkan siapa tapi hati hati dan waspada jangan lupa jaga hati jaga rasa jaga ucapan agar tidak ada yang terluka demi anak cucu anda kedepannya" kini Aini pun tersenyum manis.


"Assalamualaikum semuanya... saya pamit"


"Waalaikumsalam" jawab pak Antoni dan nyonya Rossa barengan.


"Mari saya antar sayang ..." dan diangguki oleh Aini.


"Maafkan Tante dan om yah sayang kami hanya tidak ingin bersikap naif..." ucap sendu wanita itu.


"Tidak apa-apa Tante saya senang bisa membantu Anda sekeluarga doakan Aini agar bisa sehat selalu itu saja sudah cukup!!" kata kata Aini mengingatkan kepada Nyonya Rossa agar tidak memberikan apapun dalam bentu materi atau semacamnya karena bagaimana pun itu sudah kewajiban sesama manusia.


Sungguh Aini tidak butuh semua itu melihat orang orang yang disayangi hidup bahagia saja dia juga sudah cukup bahagia.


Setelah mengucap salam dan pamit kini nyonya Rossa pun memasuki rumah dengan hati yang entah,dia semakin mengagumi pribadi gadis tersebut " beruntung sekali jika kau bisa bersanding dengan Aini nak..." gumam Nyonya Rossa sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2