Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 80


__ADS_3

Hari ini sudah genap 1 bulan Aditya dan Aini ditempat kakek buyut Aini yang tak lain adalah di dusun Wringin Anom tepat dibawah kaki gunung Willis, Nampak sekali kehidupan sederhana yang dilalui Aditya dan Aini berjalan dengan sempurna bagi pasangan muda tersebut.


Entah mengapa bik Aditya Maupun Aini tak ingin kembali pulang dimana tempat mereka biasanya tinggal, Aditya sangat nyaman disini jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.


Aditya dan Aini hanya tinggal berdua disana, sedangkan kakek buyut Aini hanya sesekali datang menengok mereka,kalian mungkin berpikir mereka akan tinggal didunia ghaib dimana tempat kakek buyut Aini tinggal, ternyata itu tidak benar mereka berdua tinggal di desa yang sangat terpencil.


Kakek buyut Aini memang tinggal ditempat dunianya berasal , kakek buyut Aini hanya memberikan perlindungan selama dia berada disana dan memberikan wejangan wejangan untuk Aditya dan Aini.


Tanpa sepengetahuan Aditya ternyata kakek buyut Aini diam diam memasukkan Cakra dengan warna biru dan hijau agar tanpa disadari Aditya dia bisa juga seperti Aini, meskipun tidak sehebat dan sekuat Aini, setidaknya Aditya bisa mengimbangi cucu buyutnya.


Kini Aditya seolah olah lupa darimana dia berasal,dia seperti lupa bahwa dia berasal dari kota,entah bagaimana cara mereka hidup tanpa bekerja.Bahan makanan sudah tersedia lengkap didapur sederhana mereka.


Aditya pun tak pernah bertanya darimana semua itu berasal, setiap hari Aini memasak hidangan yang sederhana tapi sangat mengenyangkan perut Aditya.


Nampak sekali gurat gurat kebahagiaan diwajah pria tampan itu,sesekali dia melihat Aini yang sedang merajut entah merajut apa, Aditya hanya memandangi wajah ayu Aini dalam diam dan diam diam tersenyum manis.


Dia masih ingat bagaimana malam pertama dengan Aini,tanpa dia sadari bibirnya tersenyum lebar kala mengingat bagaimana dia melakukan malam pertama mereka.


Suara ******* wanita pujaannya dan betapa gagahnya dia mengungkung dan menghujam penuh lenguhan dan kenikmatan sampai akhirnya mereka sama-sama mendesah sama sama menghabiskan malam liar berdua bahkan sampai pagi menjelang.


Aditya sendiri tidak tahu betapa kuatnya dia malam itu seolah-olah dia memiliki kekuatan penuh untuk menghujam gadis itu,tanpa dia sadari dia sendiri bertanya tanya darimana dia mendapatkan kekuatan itu.


"Kak... " Aini memanggil Aditya tapi tak ada respon, sedangkan Aditya masih setia dengan lamunannya sambil tersenyum senyum sendiri.


Aini mengerutkan kening kini Aini atau apa yang sedang suaminya lamunkan, tiba-tiba saja semburat merah nampak diwajah Aini. Darimana Aini tahu tentu saja dari hasil membaca apa yang ada dalam pikiran Aditya sekarang.


"Kak... "Lagi lagi tak ada respon Aini geram dan gemas sendiri dibuatnya, akhirnya dia memutuskan menghampiri Aditya yang tengah asyik melamun.


Puk


"Kak... isshhh" Aditya yang terkejut spontan melihat kearah sang istri.


"Lagi ngelamun apa sih,.. dipanggil daritadi gak nyahut..." Aditya sontak salah tingkah dan gelagapan sendiri.


Wajahnya memerah karena malu Aditya lupa bahwa Aini mampu membaca pikiran orang,kini dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


"Dasar mesum ih..." Rajuk Aini.


"Gak papa mesum sama istri sendiri, kan sudah halal sayang..." goda Aditya.


"Aini punya kejutan untuk kak Aditya..." kini mata Aditya penuh dengan binar binar bahagia yang nampak jelas dimatanya.


"Oh yah... apa itu...??" sungguh Aditya penasaran dengan kejutan yang akan diberikan istrinya itu.


"Kalau dikatakan sekarang yah bukan kejutan lagi tuh..." kini wajah Aditya berubah menjadi sedikit sendu bukan karena sedih melainkan karena penasaran.


"It's okay sayang... kakak tunggu " Aini melihat suaminya dengan sayang kini dia menyentuh wajah suaminya dengan lembut.

__ADS_1


Aditya yang diperlakukan seperti itu nampak ada seberkas cahaya kebahagiaan disana, karena baru kali ini istrinya berinisiatif menyentuh dan menggodanya.


Yah bagi Aditya Aini saat ini tengah menggoda nya,sungguh kebahagiaan Aditya saat ini sangat lah sempurna,dia memejamkan matanya merasakan lembutnya sentuhan sang istri.


Kini Aini mencium pipi kiri dan kanan Aditya dengan lembut dan kasih sayang dan sekarang bibir Aini berada tepat ditelinga Aditya sambil membisikkan sesuatu disana " aku mencintaimu kak,.. sangat.... " kini bibir Aini mulai berpindah tempat ke bibir Aditya


Cup


Tiba-tiba Aditya membuka kedua matanya karena terkejut tapi disaat dia membuka kedua matanya sudah tidak didapatinya sang istri.


Ketika dia menoleh dia melihat Aini yang sedikit berlari dan menjulurkan lidahnya. seolah-olah mengolok-olok Aditya.


"Ai... sayang... kok gak diterusin sih..." Aditya pun melompat dari tempat duduknya dan bersiap mengejar Aini.


"Sayang.... awas yah kalau kena gak akan kakak lepasin..." kini mereka berdua saling kejar mengejar seperti bocah yang bermain petak umpet didalam rumah.


Hap...


"Ayoo ... mau lari kemana heumm...." Aditya memeluk Aini dan menggelitik perut wanita itu.


"Hahahaha... kak lepas geli... haha... lepas kak geli.... "


"Gak akan .. akan kakak bikin kamu gak bisa jalan kali ini ...." Aini pun memerah wajahnya karena kalimat absurd suaminya.


Kakak buyut Aini yang hendak melihat cucu buyutnya pun kini kembali kala melihat cucunya begitu bahagia dan tidak bisa diganggu gugat.


Sedangkan dikediaman pak Harun nampak kesibukan seperti biasa kini Hafiz sudah beraktivitas kembali seperti biasanya kekantor meskipun tidak setiap hari,semua masih sama sang asisten lah yang bekerja dengan luar biasa.


Sedangkan Hafiz kalau ada meeting dan jika memang ada berkas berkas yang harus segera diselesaikan dan tidak bisa dipending baru dia akan stand by dikantor.


Sedangkan pak Harun dirumah menemani putri bungsunya Adriana sebenarnya dia tidak tega melihat putri bungsunya yang berdiam dirumah karena kehendaknya,Harun hanya tidak mau terjadi apa apa terhadap putri bungsunya itu.


Sementara Luciana yang dia tidak tahu dimana keberadaan nya sudah tidak begitu dia pikirkan, wataknya yang benar-benar mirip dengan istrinya dia menyerah untuk membimbing nya kejalan yang benar.


Kini yang jadi prioritas utama nya adalah putra sulungnya dan putri bungsunya saja,soal Luciana dia pikirkan nanti jika sudah bertemu dengannya.


Sebenarnya Harun tahu keberadaan Luciana dari kakek Bimo tapi dia meragukan nya, mungkin dia tidak melihat dengan kepala nya sendiri hingga pria paruh baya itu tak mempercayai apa yang dikatakan kakek Bimo.


Tok tok tok


"Masuk..." nampak mbok Sumi pembantu rumah itu memasuki ruangan Harun dengan wajah pucat dan sedikit gemetar.


"Ada apa mbok..." nampak pak Harun mengerutkan keningnya,ada apa dengan pembantu nya ini .


"A anu pak... di diluar a ada Bu bu Astri..." Sontak kedua mata pak Harun membola.


Kedua tangannya mengepal kuat rahangnya mengeras wajahnya pun berubah suram dan dingin,dengan langkah lebar dia menuju ruang tamu dimana mantan istrinya berada saat ini.

__ADS_1


Tapi sebelum itu pak Harun memperingatkan mbok Sumi agar menjaga Adriana agar tidak keluar dari kamarnya,dan diangguki oleh mbok Sumi dengan mantab.


Sementara diruang tamu nampak Astri dengan tenang duduk dengan kepala terangkat,dia melihat hunian yang saat ini ditempati oleh mantan suami dan anak anaknya.


"Ada apa kau kemari.... " suara berat dan keras menggelegar ditelinga Astri.


Nampak senyum miring tercetak dibibir seorang Astri.


"Beginikah sambutan yang kudapatkan setelah sekian lama kita tidak bertemu mas...." suara lembut dan dalam keluar dari mulut Astri.


Tanpa disadari oleh Harun bibir Astri kini merapalkan mantra-mantra khusus agar mantan suaminya kembali tunduk kepadanya.


Tapi sejauh Astri merapalkan mantra berulang kali tapi nampaknya tak membuahkan hasil,Astri sedikit terkejut dibuatnya.


"Bagaimana bisa..." batin Astri bermonolog.


"Darimana kau tahu tempat tinggal ku saat ini..." Suara dingin itu kembali membuyarkan konsentrasi Astri.


"Bodoh..." terdengar suara yang hanya Astri yang bisa mendengarkan.


"Silahkan diminum nyonya,... paman... " Astri terkejut dengan kedatangan seorang gadis yang menyuguhkan minuman tersebut.


"Paman... dia siapa??" tanya Ruth sedikit manja seolah-olah dia adalah keponakan Harun.


Harun yang mengerti akan kode pertanyaan dari gadis itu pun dengan cepat dan tanggap menjawab pertanyaan itu.


"Hanya orang asing yang mampir nak..." dan diangguki oleh Ruth.


Astri yang mendengar jawaban dari mantan suaminya tersebut tidak terima


"Aku mantan istrinya kamu siapa..." Astri dilanda emosi dan cemburu.


"Paman... kenapa dia melotot kearah ku..." Ruth yang penasaran dengan Astri pun semakin ingin menjahili nya.


Dia sama sekali tidak takut dengan Astri meskipun dia tahu kini Astri mempunyai aura hitam pekat dan dia bis melihat didahi wanita itu ada tanda khusus dari mahluk tertinggi meskipun hanya tanda kecil dan bagi Ruth itu tak berarti apapun bagi Ruth,


Karena Ruth pernah menghadapi tantangan yang lebih kuat dari Astri,Ruth bisa melihat seberapa kuatnya Astri tapi bagi Ruth itu hanya masih 60 persen saja bahkan kekuatan diatas Astri pun Ruth mampu menghadapi nya apalagi Astri yang hanya seujung kuku baginya.


"Paman bolehkah aku mengusir wanita ini aku tidak suka padanya,.. dia terlalu seram disini lihat saja wjh jelek nya itu..." Astri semakin geram dengan gadis itu.


Siapa dia kenapa suaminya menurut i setiap kemauan gadis itu,Astri semakin ingin tahu ada hubungan apa antara gadis itu dengan suaminya.


"Nenek ... kau keluar dari rumah ini..." Astri mengeratkan rahangnya giginya bergemelatuk


"Sial... gadis ini punya tekanan yang luar biasa tapi aku tidak bis mengukur kekuatan nya,.. " Astri pun memutuskan keluar dari rumah itu dia tidak mau berurusan dengan gadis itu untuk sementara waktu. dia akan mencari tahu dulu tentang gadis tersebut.


Akhirnya dengan langkah berat Astri pun keluar tanpa menghasilkan apapun sebenarnya tujuannya adalah mengambil putrinya secara paksa tapi dengan adanya gadis itu Astri berpikir dua kali sebelum melakukan nya.

__ADS_1


__ADS_2