Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 33


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 35 menit mobil Devan pun berhenti disebuah resto sederhana dipinggir pantai,tanpa sadar kening Aini mengernyit dia terkejut karena Devan mengajaknya ke pantai apalagi pantai ini dulu adalah pantai penuh kenangan bersama Hafiz dan Candra tetangga Aini yang sudah seperti kakak lelakinya.


"Kenapa kak Devan mengajakku kesini??" karena kehilangan sebagian kekuatan magic nya Aini masih belum bisa membaca isi pikirannya Devan saat ini.


Setelah turun dari mobil Devan pun mengajak Aini masuk ke resto, mereka mengambil tempat duduk didekat jendela. tak lama kemudian seorang waiters pun menghampiri mereka berdua,dan setelah Devan dan Aini memesan makanan Aini yang penasaran pun bertanya pada Devan.


"Kenapa kak Devan mengajakku kesini??" tatapan mata Aini tajam hingga membuat Devan sedikit gelagapan karena tegang.


"Ai ... jangan salah paham oke.. kakak cuma pingin ngajak kamu healing agar gak penat aja dan sekalian aku juga pingin ngajak kamu jalan jalan karena mungkin setelah ini kamu gak bakalan mau aku ajak jalan" spontan jawaban Devan sangat lancar meskipun dalam keadaan sedikit gugup.


"hahaha...." tawa Aini lepas begitu saja melihat tingkah Devan yang sedikit salah tingkah dan tegang.


Devan terpaku ditempat melihat Aini yang begitu tertawa lepas begitu cantik, ayu nampak lesung pipinya jangan lupakan bulu matanya yang lentik apalagi melihat senyum tawanya Aini 'Masya Allah begitu indah sekali ciptaan mu' batin Devan yang tenggelam dalam pesona Aini.


"Ke kenapa kau tertawa ai... ada yang lucu?? kayaknya aku gak lagi ngelawak deh " sedikit malu Devan juga bingung melihat Aini yang tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.


"Astaghfirullah... maaf kak Aini kelepasan habis kak Devan lucu deh...!!" setelah mengambil tisu untuk mengelap air matanya karena tertawa tadi Aini pun terdiam beberapa saat.


"Ai... kamu belum jawab pertanyaan ku tadi ,kenapa kamu kok tiba-tiba tertawa heumm??" kini Devan yang menatap intens Aini.


"Tadi aku cuma bertanya saja tapi kak Devan tegang gitu kayak ketahuan selingkuh aja,trus kayak kak Devan menyembunyikan sesuatu trus ketahuan olehku" kini Aini hanya menampakkan senyum manisnya.


"Hhhh... kirain ada apa" Devan menghela nafas sambil memberenggut.


"Kakak pingin ngajak kamu jalan aja Ai... soalnya bentar lagi aku melanjutkan studi ku yang tertunda ke Amerika" kini Devan menjelaskan dengan sedikit serius.


"Hhmmm..." Hanya itu yang keluar dari mulut Aini.


tak berselang lama pesanan mereka pun tertata dimeja akhirnya tanpa melanjutkan obrolan mereka pun makan dalam diam.


Sehabis makan malam diresto kini mereka berdua pun berjalan jalan dipinggir pantai, dan kini mereka pun nampak duduk disebuah batu besar.

__ADS_1


Dulu Aini juga duduk ditempat ini dia ingat pas waktu itu tiba-tiba hafiz menghampirinya karena mengkhawatirkan dirinya.


"Ai... bolehkah kakak bertanya sesuatu??" sedikit ragu akhirnya Devan pun memberanikan diri bertanya pada Aini.


"He em... " Aini mengangguk tapi sorot matanya tak lepas memandang kearah depan dengan pandangan kosong.


"Apakah kamu masih mencintai Hafiz??" Aini pun menoleh kearah Devan yang juga sedang memandang kedepan kedua alis nya mengkerut.


Hening sesaat kemudian Aini pun menghela nafas panjang tapi Aini masih setia dengan kebungkamannya.


Sedangkan Devan masih setia menunggu jawaban dari gadis yang duduk disebelahnya.


Masih bergeming kini Devan sedikit tidak sabar tiba-tiba saja dia dikagetkan dengan siulan yang sangat keras yang keluar dari mulut Aini. devanpun menoleh kearah Aini dengan cepat lalu kembali arah pandang nya terarah kedepan hembusan nafas dia hempaskan sedikit kasar,Aini hanya melirik Devan dengan bibir sedikit tertarik keatas.


Suiiiiitt


Untuk yang kedua kalinya Aini bersiul Devan pun sebenarnya penasaran dengan apa yang Aini lakukan 'Kenapa dan ada apa' kembali devanpun menghembuskan nafasnya kini sedikit lebih kasar.


Beberapa detik kemudian nampak siluet benda kecil yang terbang dari jauh Devan masih tidak yakin itu apa tapi setelah sedikit mendekat barulah Devan tahu itu apa.


Devan pun membelalakkan matanya kini semakin dekat nampak kibasan sayap elang pun dirasakan Devan kian mendekat kemudian mendarat ditangan Aini.


"Astaga Ai.... bagaimana mungkin..." tak bisa berkata kata Devan masih terkejut tapi sedetik kemudian devanpun kagum dengan keindahan burung itu.


Apalagi melihat burung itu sangat jinak nampak sekali bahwa mereka seperti ada ikatan yang sangat lama hingga burung itu mengusap usapkan kepalanya kewajah Aini dengan manja.


Ck ck ck


"Hai king eagle... apakah kau merindukan ku heumm..." kini Aini nampak sangat berbeda Dimata Devan.


Beberapa menit dia terpaku dengan pemandangan yang dilihatnya, bagaimana bisa burung elang itu bisa sangat manja.

__ADS_1


"Namanya King Eagle kak,.. dulu dia aku temukan tergeletak tidak berdaya pas aku main kesini seperti terkena luka tembak" Aini mulai bercerita.


"Aku merawat King Eagle ini sampai subuh dan kak Devan tahu siapa yang membantuku saat itu??" Devanpun menggeleng sebenarnya dia menebak dalam pikirannya 'apakah itu Hafiz ' dalam hati Devan mempunyai pertanyaan seperti itu.


"iya sesuai yang kak Devan pikirkan dia kak Hafiz, sebenarnya yang pertama kali menemukan nya adalah kak Hafiz tapi karena kak Hafiz berpikir burung cantik ini sudah mati jadi kak Devan tidak begitu peduli dan hendak mengambilnya untuk dikuburkan.


Tapi... aku melihat sebuah pergerakan saat itu lalu aku menghampirinya dan benar dugaan ku bahwa si cantik ini masih hidup, kemudian aku bawa pulang untuk ku rawat sampai sembuh.


Dan kak Hafiz pun jug ikut membantu mulai dari membelikan obat-obatan untuk hewan ke dokter hewan menyuapi si cantik makan kak Devan tahu?? si cantik ini makannya sehari 5 sampai 6 kali loh" sambil mengelus bulu halus burung itu Aini bercerita tentang kenangannya bersama Hafiz.


Tapi gara gara itu adik dari hafiz memfitnah dia yang merayu kakaknya tiba-tiba saja Aini menjadi sangat emosional kini matanya pun berkaca kaca,seakan akan ada buih buih kristal Dimata Aini.


Devan bergeming dia masih ingin mendengar kelanjutan ceritanya dari Aini, sedikit ada rasa iri dihati kenapa bukan dia saja yang berada diposisi itu.


"Gara gara kak Hafiz setiap hari ke rumahku maaf ralat tempat indekos ku adiknya kak Hafiz memfitnah ku yang tidak-tidak, apalagi dengan mengatakan kepada warga setempat bahwa aku main guna guna untuk membuat kak Hafiz bertekuk lutut padaku..." ada senyum miris dibibir Aini.


Devan yang mendengar itu sudah tidak kaget lagi karena dia juga sudah mendengar cerita itu dari Hafiz.


Diapun juga masih ingat betapa marahnya Hafiz waktu itu terhadap ibu dan adiknya,lagi lagi Hafiz tidak bisa berbuat banyak waktu itu karena ibunya selalu mengancam akan mengakhiri hidupnya jika Hafiz bersikap berlebihan apalagi jika menyangkut soal Aini.


Ibunya Hafiz pasti selalu mengompor ngompori agar hafiz segera menjauh.


Tapi Hafiz masih kekeh dengan cinta pertama nya, sebenarnya Devan cukup salut dengan Hafiz pasalnya dia sangat setia padahal waktu itu ada sahabat dekatnya yang katanya berteman sejak masih kecil menyatakan cinta padanya dan berakhir dengan gadis sahabat nya itu bunuh diri dengan menabrakkan dirinya jalan yang ramai alhasil sahabat nya itupun tewas mengenaskan dengan sebelum itu terjadi mengucapkan sumpah serapah nya 'Rumit' itu yang ada dipikiran Devan.


"Kak Devan tahu julukan apa yang diterapkan orang orang padaku sejak aku masih kecil hingga dewasa?? " Devan menggeleng pelan.


"Anak aneh atau anak setan " kini wajah Aini penuh dengan senyum luka.


"Kak Hafiz adalah cinta pertama ku kak sampai kapan pun kak Hafiz akan selalu ada di hatiku,tapi aku tidak bisa kembali padanya karena sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan disini,dan sekarang aku udh punya seseorang yang benar-benar membuat ku nyaman meskipun rasa cintaku untuk nya masih 80 persen tapi aku akan memperjuangkan dia karena dia sekarang sudah menjadi spesial buatku" senyuman itu kini berubah menjadi tatapan yang entah.


Kembali Devan patah hati dengan pernyataan Aini, tanpa dia sadari tangannya pun memegang dada sebelah kirinya 'Sakit Ai..' sesakit inikah merasakan cinta tak berbalas?? bergegas devanpun menghapus air mata disudut matanya.

__ADS_1


Cinta memang tak harus memiliki Ai... Tapi dengan melihat mu selalu tersenyum dengan bahagia itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri buatku.


Semoga kebahagiaan selalu bersama mu my princess.


__ADS_2