Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 94


__ADS_3

Kini disebuah kawasan hutan yang minim pencahayaan meskipun suasana masih siang, bahkan bisa dikatakan sangat terik di cuaca yang sangat ekstrim.


Ditengah-tengah hutan yang terkenal angker itu ada sebuah gubuk kecil yang dihuni oleh seorang pria paruh baya dengan wajah yang terkesan sangat bagi orang yang pertama kali melihatnya.


Pria paruh baya tersebut nampak duduk bersila diatas tikar yang terbuat dari anyaman pandan Jawa, sedang didepannya nampak tungku yang berukuran dua puluh lingkar persegi.


Tungku yang berbahan tembaga Kuningan tersebut didalamnya berisi arang hitam dan dibaluri dengan garam kasar dan sedikit menyan Jawa.


Nampak mulut yang berwarna hitam kecoklatan pria paruh baya tersebut komat kamit membaca mantra entah mantra apa yang dibaca pria paruh baya itu hingga tak berapa lama kemudian muncul beberapa sosok bayangan hitam yang tiba-tiba muncul didepan Ki Sedro tersebut.


"Ada apa kau memanggil kami..." terdengar suara serak dan berat dari salah satu sosok hitam didepannya.


"Saya ingin kalian melakukan sesuatu untuk ku..." titah Ki Sidro dengan pandangan yang dalam dan penuh tekanan.


"Apa yang akan kami dapat jika kami sudah melakukan apa yang kamu mau Sidro..." ucap tanya dari salah satu sosok yang ditengah tengah diantara ketiga sosok hitam tersebut.


"Apa yang kalian inginkan akan aku penuhi asal dalam batas kemampuan ku,.." jawab Ki Sidro tenang.


"Hahahaha.... Hahahaha.... Hahahaha... Apakah kau yakin mampu memenuhi keinginan kami itu Ki,disaat ini kau tidak dalam keadaan tawar menawar dengan kami,." Ki Sidro sedikit terhenyak mendengar pernyataan dari salah satu sosok hitam tersebut.


" Manusia serakah macam kau tidak pantas melakukan negosiasi dengan kami,. "


"Aku memerintah kan kepada kalian untuk menuruti kemauanku bukan meminta tolong kepada kalian mahluk hina." tegas Ki Sidro penuh tekanan.


"Grrrr... kau tidak pantas memerintah kami Sidro... " suara Geraman tertahan dari sosok mahluk yang disebelah kanan depan Sidro.


Ki Sidro nampak mengeluarkan sesuatu dari balik sabuk hitam besar yang terbuat dari kulit ular, jangan ditanya dari mana Ki Sidro mendapatkan kulit ular tersebut, Ki Sidro pernah hampir dipatuk ular cobra dan kebetulan ular itu adalah raja kobra, Ki Sidro dengan susah payah membunuh ular tersebut setelah dirinya mengeluarkan sabit runcing buatannya sendiri.


Setelah berhasil membunuh raja ular kobra tersebut Ki Sidro kemudian mendapatkan batu murah delima yang kini sudah bertengger manis disalah satu jari Ki Sidro sedangkan untuk kulit nya Ki Sidro tak membuang begitu saja dari situlah Ki Sidro memanfaatkan kulit ular tersebut menjadi sabuk kesayangannya sekaligus sebagai jimat pelindung buatnya.

__ADS_1


Kita kembali ke Ki Sidro yang sudah mengeluarkan sesuatu dibalik sabuk ularnya Ki Sidro meremat dengan pelan kemudian bungkusan yang tertutup dengan daun sirih ditangan kanannya sambil membaca mantra.


Lambat laun daun sirih yang membungkus sesuatu tersebut mengeluarkan asap hitam yang awalnya tipis tipis kemudian lambat laun menjadi asap hitam pekat meskipun tak sebesar asap yang keluar dari arang didepannya tapi itu mampu membuat tiga sosok hitam didepannya mengerang kesakitan.


"Aaaahhhhh... bedebah kau Sidro apa yang kau inginkan jahanam..." Ki Sidro masih tak mau melepas mereka begitu saja,rematan demi rematan ditangan Ki Sidro makin mengeluarkan asap kecil yang berwarna hitam pekat kini mulai mengeluarkan bau busuk yang menyengat hingga membuat ketiga mahluk itu meraung kesakitan.


Seakan-akan mereka mengalami siksaan yang teramat sangat sakit bagi mereka,Ki Sidro yang melihat mereka kelojotan karena ulahnya kini nampak tersenyum sinis sambil matanya tak lepas dari pandangan yang ada didepannya itu.


"Lepaskan kami bang**t " teriak salah satu dari mahluk tersebut


"Kalian kesakitan tapi masih mampu mengumpat ku jangan harap kalian bisa lepas dariku" tukas Ki Sidro pelan tapi penuh tekanan.


"Aaaahhhhh... baik apa yang kau mau kami akan melakukan nya tanpa syarat apapun asal kau lepaskan kami.." ucap salah satu mahluk itu.


"Hhmmm..." kini Ki Sidro mulai perlahan mengurangi rematan yang ada di telapak tangannya.


"Aku ingin kau culik wanita yang ada digambar ini..." Ki Sidro menunjukkan gambar wajah seorang wanita yang terlihat disebuah bejana yang terbuat dari Kuningan itu.


"Kau lakukan saja tugas kalian dan jangan banyak tanya,.." ucap Ki Sidro kemudian.


"Wanita itu dijaga ribuan penjaga tingkat tinggi dan disekitarnya ada seorang pemuda yang tak kalah hebat darimu apalagi kakek tua itu,kami pernah mengalami luka luka yang parah karena ulah mereka kami tak yakin mampu melakukan perintah mu Sidro " Ki Sidro tak terima dengan perkataan salah satu mahluk tersebut.


"Kalian menolak perintahku jangan harap kalian selamat ditangan ku,. " lama tak ada suara baik dari Ki Sidro maupun dari ketiga mahluk itu.


"Baiklah... tapi jangan salahkan kami kalau kami gagal, karena mereka sudah menguasai ranah tingkat malaikat penjaga " tak lama kemudian mereka bertiga pun lenyap dari hadapan Ki Sidro.


Satt


"Semakin menarik sekali tapi.. dua hari lagi kita akan bertemu kakek tua... Hahahaha...." terdengar suara tawa dari Ki Sidro dengan menggelegar dan lantang hingga suara binatang binatang yang ada disekitar pun kalah karena suara tawa dari Ki Sidro.

__ADS_1


" Sebentar lagi aku akan menguasai semuanya dan aku akan menunjukkan kepada kalian apa itu kekuasaan dan kekuatan yang sesungguhnya... Hahahaha...."


Sementara dikediaman Hafiz kini nampak sedikit ketegangan didalam ruangan tengah rumah tersebut, beberapa waktu yang lalu pak Harun mendapatkan telepon dari putri keduanya Luciana kalau dia akan pulang beberapa hari lagi.


Yang membuat mereka tegang adalah kabar yang diterima Ruth bahwa Luciana kini tengah hamil besar dan akan melahirkan,dan dengan kedatangan Luciana kali ini bersama beberapa anggota dari kaum sekte yang berada di negara tersebut dan kedatangan mereka kemari adalah untuk menghadiri ritual black moon esok lusa.


Ruth juga mengatakan kalau mereka kemungkinan terbesar adalah akan menjadikan anak yang dikandung Luciana akan dijadikan tumbal bagi para pengikut iblis disana.


Luciana tidak menyadari kalau teman sepermainan nya adalah para penganut sekte aliran sesat pemakan daging manusia alias kanibal karena tujuan mereka adalah untuk memakan janin yang ada dikandungan Luciana.


Anak yang dikandung Luciana adalah anak sah dari Luciana dan suami yang seorang pengusaha tapi sayangnya Luciana menikah secara agama yang dianut sang suami dan Luciana sendiri sudah berpindah keyakinan sekarang dengan keluarganya yakni katolik.


Dan status Luciana saat ini adalah istri kedua dari pengusaha tersebut, Luciana terjebak dengan pergaulan yang tidak disukai suaminya hingga mengakibat kan mereka sering kali terlibat cek Cok dan adu mulut hingga suaminya jarang pulang meskipun uang selalu mengalir direkening Luciana.


Suami dari Luciana tersebut tidak mengetahui kalau Luciana kabur dari mansion miliknya,jiwa Luciana yang tidak ingin terkekang kini dia merasa ingin kembali bebas dari kekangan sang suami pengusaha nya.


Kalau saja suaminya tahu mungkin Luciana akan kembali dikurung didalam mansionnya,karena suami dari Luciana menginginkan anak laki-laki dan yang ada dikandungan Luciana saat ini adalah bayi laki-laki yang sangat diinginkan oleh suaminya.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang nak..." tanya pak Harun yang begitu tertekan saat ini.


Hati ayah mana yang akan tega melihat putri dan cucunya akan dijadikan tumbal jiwa untuk para kaum sekte tersebut. Pak Harun juga tidak mau Luciana berada disini karena putri bungsunya juga kini menjadi incaran mereka karena tanda lahir yang terdapat ditubuh putri bungsunya Adriana.


Sungguh pak Harun sangat emosi dan tertekan saat ini,tapi pak Harun juga tidak mau putri keduanya juga menjadi korban apalagi kini putri keduanya tengah mengandung cucunya.


Tiba-tiba dadanya begitu sesak Hafiz yang melihat papanya kini mendekat dan merangkul papanya dan berusaha untuk menenangkan papanya.


"Jangan khawatir aku akan memikirkan sesuatu bersama Ruth bagaimana selanjutnya,papa istirahat saja jangan memikirkan apapun" ucap Hafiz menenangkan.


Pak Harun hanya mengangguk pasrah, tadinya pak Harun tidak begitu mempedulikan putri keduanya karena sifatnya yang brutal dan sesuka hati,tapi disaat mendengar kabar yang disampaikan Ruth membuat hatinya juga ikut berdenyut nyeri.

__ADS_1


"Kalian tunggu disini aku akan bertemu dengan sahabat ku..." usai mengucapkan itu Ruth pun menghilang dari pandangan mereka.


Slass...


__ADS_2