
Malam ini cuaca nampaknya cerah Hafiz duduk di balkon kamar pandangannya kosong dia merasa separuh jiwanya hilang.
" Kenapa takdir harus seperti ini ya Allah,. jujur aku tidak kuat hatiku tidak sekuat itu ,.. " kembali Hafiz teringat tawa lepas Aini.
Gadis yang selalu bersemayam di hati kini sudah sangat jauh dari jangkauan,hatinya pilu bahu hafiz bergetar hebat terdengar tangis pilu seorang Hafiz dengan Isak tangis tergugu.
Hatinya sangat sakit berkali-kali dia memukul dadanya sendiri, dibalik sikap tenang yang ditunjukkan tersembunyi tangis pilu dihatinya nyatanya dia tidak sekuat itu.
Lama dia tergugu dalam tangis kalau boleh dia ingin sedikit lebih egois ingin merebut pujaan hatinya dari seseorang yang sekarang sudah jadi tunangan nya.
Dengan mengusap kasar wajahnya nampak wajah yang semula putih kini sudah memerah sembab sehabis menangis.
"Astaghfirullah,.. seharusnya aku tidak mengeluh mungkinkah ini takdirku yang tidak berjodoh denganmu Ai..??" gumam hafiz pelan bertanya pada diri sendiri.
"Ai... secepat inikah kau melupakan ku Ai... kenapa kau tidak bersabar sedikit lagi??" ada rasa marah bercampur kecewa.
"Aaaaahhhh..." sedikit berteriak keras Hafiz menumpahkan kekesalannya.
Dia yang terbilang sangat tenang dan kalem kini uring uringan hanya karena cinta. Yah selemah itu hatinya jika sudah dihadapkan dengan rasa cintanya terhadap Aini.
Kalau saja mama tidak berulah mungkin aku dan Aini sekarang sudah bahagia,'Brengsekk.... Aaaaahhhh...." umpat Hafiz.
Akhirnya tubuhnya pun luruh lemas seolah tak bertenaga dengan masih tersisa sedikit Isak Hafiz mendongakkan kepalanya keatas,dengan mata terpejam kemudian terbuka secara perlahan teringat kembali kenangannya bersama Aini.
Kini wajah yang semula sayu sedih perlahan mulai tersenyum mengingat semua tentang Aini.
Kembali dia memejamkan matanya berharap esok harinya keadaan akan lebih baik lagi kalau memungkinkan dia berharap agar ada keajaiban bahwa waktu telah kembali seperti sebelum dia tertidur lama setelah kecelakaan yang menimpa dirinya dengan sahabat yang merangkap sebagai kakak angkatnya Aini.
"Maafkan aku Candra... karena ulah manusia yang berstatus sebagai ibuku kau meregang nyawa,.." gumam Hafiz lirih.
Sett
__ADS_1
wussss
Seketika angin berhembus menerpa wajah sembab Hafiz,tanpa disadarinya ada sesosok bayangan yang mengawasi hafiz,wajah sendunya menampakkan gurat kekecewaan dia ingin menampakkan dirinya tapi itu diluar kuasanya.
Yah... sosok itu adalah arwah dari Candra, sebenarnya selama ini arwahnya masih belum tenang selama Aini belum menemukan kebahagiaannya.
Karena sebuah janji yang dulu pernah tersematkan bahkan setelah dia meninggal pun arwah nya tidak tenang, kecelakaan yang merenggut nyawanya karena ulah seseorang membuat dia tidak tenang.
Wussss
Sekian detik akhirnya sosok Candra pun menghilang bersama dengan angin,Hafiz yang merasakan ada sesuatu dia menoleh kekiri dan kekanan dia merasakan seperti ada sesuatu yang mengawasi nya sedari tadi tapi dia tidak tahu itu apa pasalnya suasana malam ini sepi hanya suara senandung binatang malam lah yang terdengar.
Sementara itu Pak Harun yang tadi sudah masuk kekamar putranya tapi tak mendapati dimana putranya berada pak Harun pun berpikir mungkin dibalkon,tapi disaat pak Harun hendak menghampiri putranya urung terdengar di cuping telinganya Isak tangis sang putra.
Hatinya sakit melihat betapa hancurnya putranya kalau saja dari dulu dia sedikit tegas terhadap istrinya mungkin putranya tidak akan mengalami kecelakaan dan menyebabkannya koma.
Hatinya ikut sakit merasakan betapa pilunya hati sang putra,takdir seperti apakah kedepannya untuk putranya,yah disaat mendapati putranya sudah terbangun dari tidur panjangnya betapa kaget dan bahagia nya pak Harun.
"Kau sadar Nak... " sambil memeluk putranya pak Harun berkaca kaca nampak bulir bening jatuh dari kedua matanya
"kau sadar... papa bahagia sekali sangat bahagia,katakan apa yang kau rasakan saat ini..? apakah masih ada yang terasa sakit?? bagaimana dengan kepalamu apakah masih sakit dan pusing??" pak Harun memberondong dengan serentetan pertanyaan dengan bertubi-tubi saking bahagianya.
Hafiz menggeleng pelan sambil tersenyum kemudian berkata
"Saya hanya rindu Aini pa... sangat rindu dimana Aini apakah dia baik baik saja??" pandangannya kosong matanya pun sendu membayangkan apa yang Aini lakukan sekarang?, tidakkah dia juga merindukan ku. Seperti itulah yang ada dipikiran Hafiz
Pak Harun pun terdiam beberapa saat,hatinya pilu meskipun dalam keadaan seperti inipun dia tak melupakan Aini.
Betapa besar cinta Hafiz untuk Aini tapi ... pak Harun tidak bisa mengatakan apa apa lantaran janjinya kepada Aini tadi pagi.
Yah,tadi pagi pak Harun dikejutkan dengan kedatangan Aini dikantornya.
__ADS_1
Awalnya pak Harun biasa saja tapi pada saat Aini mengatakan mampu membuat Hafiz sadar pak Harun harus berjanji pada Aini agar tak mengusik kehidupannya lagi.
Aini harus menjaga hubungannya dengan tunangannya dia takut akan ada fitnah kedepannya lagi karena tak menutup kemungkinan apa yang pernah dilakukan oleh ibunya hafiz tidak terulang lagi.
Pada saat itu pak Harun hanya diam dia sedikit tidak senang dengan syarat yang diajukan oleh Aini, pasalnya pak Harun tahu bagaimana rasa cinta putranya terhadap gadis itu.
Kalau dia sadar apa yang akan dia katakan pada putranya jika dia bertanya tentang Aini.
Sangat berat tapi keputusan Aini tidak bisa diganggu gugat,disamping pak Harun ingin putranya segera sadar dia juga tak punya pilihan lain.
Akhirnya diapun setuju dengan semua syarat yang diajukan oleh Aini, banyak teka teki tentang gadis itu pak Harun sendiri bertanya tanya dalam hati dengan cara apa Aini agar Hafiz segera sadar pada saat ini dari segi tingkatan dokter saja sudah banyak yang menyerah lalu bagaimana Aini bisa melakukan itu?.
Apakah dilakukan dengan ritual khusus? nampaknya Aini mengerti kegundahan hati pak Harun gadis itupun tersenyum hangat.
"Jangan khawatir Om... apa yang Aini lakukan tidak ada ritual khusus hanya saja sedikit beresiko,tapi apapun itu akan Aini lakukan demi kak Hafiz agar segera sadar dari tidurnya " sedikit menunduk Aini pun segera mendongakkan kepalanya.
Terlihat jelas mata indah milik Aini berkaca hingga bulu matanya berkedip kedip agar bulir bulir bening tidak terjatuh dari muaranya.
"Kalau boleh jujur Aini juga masih sayang kak Hafiz,tapi hanya ini yang bisa Aini lakukan Om..." masih dengan kepala mendongak keatas tak lama kemudian Aini pun berkata
"Jangan khawatir semua pasti baik baik saja setidaknya hanya ini yang bisa Aini lakukan dan ini yang terbaik." pak Harun seketika merasa bahwa ini tidak sesederhana itu lalu apa yang disembunyikan gadis itu.
"Semua yang terjadi sudah digariskan oleh Allah Om... mau dipaksa seperti apapun kalau Allah berkehendak lain kita bisa apa..." terjeda Aini pun berdiri
"Sebaik apapun rencana kita kedepannya belum tentu itu yang terbaik justru dibalik semua itu ada kemungkinan mengandung unsur negatif yang tanpa kita sadari.
Percayalah Om... rencana Allah pasti yang terbaik untuk kita" nampak senyum Aini terpancar dengan manis.
Pak Harun masih bergeming banyak yang ingin dikatakan kepada gadis yang ada dihadapannya ini ,tapi entah mengapa mulutnya seakan terkunci,
Tenggorokan nya pun tercekat masih dengan memandang sendu gadis tersebut pak Harun pun menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Oke Aini pamit ... " tanpa menunggu lebih lama lagi Aini pun pergi dari ruangan pak Harun .