Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 48


__ADS_3

Saat ini Aditya sudah berada didalam kamarnya nampak senyum mengembang tak pernah lepas dari bibirnya,hari ini Aditya benar benar bahagia karena Aini sudah bisa menerimanya meskipun tidak sepenuhnya.


"Kau belum tidur sayang..." Aditya terlonjak kaget mendengar suara mamanya.


"Mama mau Aditya jantungan yah? ketok pintu dulu dong ma kaget banget aku ma..." mama Rossa tersenyum melihat ekspresi wajah putranya sambil menggeleng pelan.


"Kau ini, tadi mama sudah berulang kali ketuk ketuk pintu kamar mu tapi tidak ada jawaban mama pikir kamu sudah tidur sayang,eehh... pas mama buka pintu dan masuk ternyata anak mama lagi melamun,hemm... masih menyalahkan mama heumm..." cibir mama Rossa membesengut.


"Ma... boleh Adit nanya gak...?" mama Rossa mengangguk


"Boleh sayang, mau tanya apa??" jawab mama Rossa.


"Tapi janji jawab yang jujur yah...?" pinta Adit.


"Heumm mama janji oke" mama Rossa mengangguk setuju.


"Siapa yang sudah membuat Aditya celaka ma...??" sontak mama Rossa membulat kan matanya dia tak menyangka kalau Aditya akan menanyakan hal ini.


Sebisa mungkin mama Rossa tenang dia tidak mau membuat anaknya khawatir dan berpikir yang tidak-tidak.


"Mama tidak tahu sayang " jawab mama Rossa sambil tersenyum paksa.


"Ckk... sudah kuduga mama pasti gak jujur..." sungut Aditya bibir nya mengerucut seharusnya dia tahu akan jawaban dari mamanya seperti itu.


"Sudahlah ma Adit gak tanya lagi..." tajuk Aditya.


"Mama bicara jujur sayang mama gak tahu siapa yang pasti Aini mengatakan kalau ini berhubungan dengan saudara ayahmu." tiba-tiba saja mama Rossa menjadi sangat emosional dia teringat bagaimana Aditya kejang kejang dengan mata mendelik memerah seakan akan dia bukan putranya.


Saat itu Mama Rossa sangat ketakutan beberapa kali Aditya mencoba mencekik lehernya sendiri.


Hhhhhhh


Mama Rossa membuang nafas panjang dia tidak tahu apa salah keluarga nya sehingga dia hampir kehilangan putranya ibarat membunuh tanpa menyentuh.


"Maafkan Aditya ma.. mama istirahat yah ini sudah malam ." kini Aditya melihat mamanya sudah berkaca-kaca, salah dia sendiri kenapa dia musti menanyakan hal ini.


"Heemmm tidak apa-apa sayang mama ngerti kok,oh yah besok undang Aini yah untuk makan malam mama rindu padanya..." pinta Mama Rossa pada putranya.


"Siap mamaku tersayang bidadari ku yang cantik." mama Rossa jadi tergelak melihat tingkah putranya,siapa yang menyangka jika Putra dari seorang Antoni pewaris tahta CEO di perusahaan yang terkenal datar dan Dingin tapi kalau dirumah dia sangat manja.


"Makasih ya sayang... selamat tidur pangeran ku" Aditya jadi geli sendiri mendengar sebutan panggilan dari mamanya,dia pun sedikit mencebik malu.


"Ckk... mama aku udah dewasa bukan anak kecil lagi.." cicit Aditya.


"mama tahu tapi bagi mama kaulah pangeran mama putra mahkota mama dan papa..."


"Dan kak Dewi putri mahkota yang sangat cantik" Aditya melanjutkan kata kata mamanya sambil tertawa mengejek.


"Ckk kayak kita ada disebuah negeri dongeng aja..."

__ADS_1


"Haha... sudah sudah kamu tidur oke jangan melamun aja nanti tak Nina boboin loh.." goda mama Rossa setelah mencium pucuk kepala putranya mama Rossa pun pamit keluar.


"Selamat tidur Aini,.. mimpi indah malam ini ..." dengan mata terpejam sambil tersenyum yang tak pernah lepas dari bibirnya Aditya pun tertidur menyelami mimpi indah nya.


Aini kini sudah bersiap dengan pakaian nya yang serba hitam kali ini dia ingin berkeliling dengan menggunakan tenaga dalam chi guna meringankan tubuhnya.


Setelah siap dia melompat kesana melompat kesini lewat atap atap rumah dengan lincah dia ingin menguji sudah berapa lama dia tidak melakukan aktivitas seperti ini semenjak dia berhasil menyadarkan Hafiz dari koma.


Saat itu tubuhnya sangat lemas begitu sukmanya keluar dari tubuhnya dan melakukan hal hal penting seperti menolong orang-orang dengan Sukma yang ditahan entah itu disengaja ataukah atas suruhan orang lain lewat tenung atau guna guna sudah bisa dipastikan energi nya cepat terkuras.


Dan kini Aini sudah pulih sepenuhnya setelah dia melakukan penyempurnaan diri lewat meditasi setiap harinya, tatapan mata yang tajam penglihatan mata yang jeli dan kepekaan dalam mendengarkan suara-suara entah itu bisikan suara hati dan pikiran apalagi suara suara orang yang suka ghibah dari jarak lebih dari 100 meter.


Sebenarnya dia sangat kesulitan dalam menangkap semua yang dia dengar risih dan seperti ada yang menggelitik telinganya setiap dia mendengar sesuatu yang janggal tapi lambat laun dia sudah terbiasa.


Telinga nya seperti bergerak gerak sendiri apabila ada sesuatu yang bahaya atau yang buruk mengintai, instingnya jadi lebih kuat dari sebelumnya.


Kini Aini sudah berdiri diatas gedung pencakar langit tertinggi di kota ini,dia melihat ke bawah nampak terlihat oleh kedua matanya mobil mobil nampak seperti mainan anak-anak kecil jika dilihat dari atas sini,Aini tersenyum melihatnya.


Kemudian dia memandang keatas jauh disana nampak bintang bintang kerlap kerlip terlihat sangat indah.


Wussss


Tiba-tiba dia melihat sebuah cahaya oranye melintas dan diiringi dengan seperti sebuah buntut berwarna putih Aini pun melompat hendak memeriksa itu apa.


Kini dia sudah berhasil menyamai kecepatan cahaya oranye itu tapi nampaknya ada yang aneh kenapa cahaya itu berhenti disebuah rumah yang sangat besar.


Aini pun bertengger disebuah pohon disamping rumah besar itu dia mengawasi sekitar rumah itu nampak cahaya itu mulai meredup dan hilang sepenuhnya.


Tapi tunggu dulu dia melihat seperti ada sesuatu yang sangat menggangu nya akhirnya Aini pun urung pergi sekali lagi dia mengamati rumah itu dan kini kedua mata Aini fokus kesatu arah.


"Bedeb** seharusnya aku tidak melihatnya tadi,tapi kalau sudah seperti ini mau tidak mau aku akan ikut campur" kini Aini melompat kearah atap rumah itu kemudian dia akan menyelinap masuk kedalam rumah itu.


Sementara itu ditempat tersembunyi nampak seseorang yang sejak tadi mengikuti Aini bahkan setiap pergerakan Aini tak luput dari pengamatan orang itu, terlihat senyum smirk diwajahnya.


"Akan aku coba mendekati mu dari sini" gumam orang itu yang tak lain adalah Nico.


Kini Nico mengikuti langkah Aini dengan sedikit pelan dan pasti Nico berusaha untuk meminimalisir suara atau getaran energi agar Aini tidak curiga kalau ada yang mengikuti.


"Apa yang dilakukan gadis itu disini??" batin Nico bermonolog.


Sedangkan Aini kini sudah berada didalam sebuah kamar yang sangat luas kamar ini ditempati oleh seorang gadis.


Aini mengerutkan kedua alisnya sekarang dia paham apa yang terjadi,"aku akan menolong mu dengan menandai dan memagari dirimu,semoga aku tidak terlambat kasihan kau dek... mau dijadikan tumbal oleh kedua orang tua mu hanya ingin kekayaan yang tidak seberapa, ckkk..."


Aini berdiri disamping gadis itu kini matanya memejam entah apa yang dilakukan oleh Aini tiba tiba tubuh gadis itu seperti diselimuti cahaya putih samar sedikit menyerupai kabut asap tipis disekujur tubuh nya.


Beberapa menit kemudian Aini pun selesai memagari gadis itu nampak senyum puas diwajah ayunya, "Semoga kau baik baik saja dan ... selanjutnya kau dalam pengawasan ku"


Syutt

__ADS_1


Tiba tiba saja Aini sudah menghilang dari kamar gadis itu,selang tak begitu lama tiba tiba sesosok mahluk wanita bergaun putih yang berwajah buruk ( kalau ditempat author namanya mbak Kunti ) berusaha untuk memasuki gadis itu tapi mahluk itupun terpental jauh menembus tembok


Aaaaahhhh


Terdengar suara lengkingan kesakitan dari Kunti itu suara erangan kesakitan dan tangisan khas suara Kunti itu menyayat telinga.


"Kembalilah keTuanmu katakan bahwa kau tak sanggup,aku tidak peduli dengan perjanjian kalian gadis itu dalam perlindungan ku" terdengar suara berat dan parau tapi entah siapa yang mampu membuat kuntilanak itu menjauh dan pergi.


Syutt


"Ckk hanya segitu kekuatan pesugihan rambut kuntilanak itu," Aini berlalu begitu saja setelah dirasa cukup aman.


Sementara Nico yang sedari tadi melihat kegiatan Aini itu hanya tersenyum manis


" Kau masih sama imutnya gadis..."


Srett


Tek


"Sudah puas mengawasi ku tuan... Nico" kini Nico tersentak kala mendapati tubuhnya tidak dapat digerakkan,namun setelah dia mendengar suara Aini akhirnya dia tersenyum licik.


"Manis... manis sekali,. kau hebat gadis" sebelah alis Aini terangkat kini dia menatap Nico dengan berada didepan pria itu.


"What do you want to me... heumm??" tanya gadis itu.


Hhhhhhh


Senyum manis kini terlihat diwajah tampan Nico pupil matanya tak lepas dari menatap manis kearah Aini,Nico mencoba menyelami kedalaman kedua mata gadis itu.


Nico merasakan seperti memasuki sebuah telaga yang sangat dalam nan indah tapi memabukkan dan mampu menghipnotis siapa saja yang mencoba masuk kedalamannya.


Kini senyum Nico semakin mengembang sempurna,Aini mengernyit heran "Ada apa dengan pria ini??" batin Aini bertanya dalam diri sendiri.


"Kau masih sama seperti masih kanak kanak dulu,begitu manis begitu imut dan... cantik,aku suka ...!!" kini tubuh Aini mundur selangkah.


Dia terkejut dengan pengakuan pria didepannya ini,"masih kanak-kanak katanya apa jangan-jangan...?" kini kedua mata Aini membola dan beberapa detik kemudian Aini teringat dan berkata.


"Kakak ceroboh..." tanpa sadar Aini menyebut Nico panggilan sewaktu dia kecil kepada Nico dulu. Puzzle puzzle ingatan dimasa kecil kini berbentuk gambaran gambaran yang Aini ingat bagaimana awal pertemuan nya dengan Nico sampai diapun berpisah dengan Nico.


"Akhirnya kau ingat juga gadis..." kini Nico maju selangkah untuk mendekati Aini,kini gadis itu kaget melihat totokan ditubuh Nico tak berefek pada pria itu.


Aini masih tak lepas memandang wajah Nico seketika wajahnya sendu dan sedikit menimbulkan bening bening kristal diwajah ayunya.


"Apa kabar melati..." Aini memalingkan wajahnya tanpa pamit dia hendak pergi dari sana.


"Seperti yang kau lihat, dan maaf aku harus pulang untuk beristirahat besok aku harus bekerja"


Wussss

__ADS_1


Dalam sekejap Aini pergi dengan secepat kilat seperti seorang ninja tanpa ada bayangan yang nampak.


"Hhhhhhh... sampai jumpa lagi,aku masih menunggu hatimu untuk ku"


__ADS_2