
Kini Aditya dan Aini sudah berada didalam kamar pengantin, nampak senyum bahagia terbit dibibir pria itu.
Ceklek
Nampak Aini keluar dari kamar mandi, netra nya melihat Aditya yang senyum senyum sendiri keningnya berkerut sebelah alisnya terangkat menatap sesosok pria yang sekarang sudah sah menjadi suaminya itu.
"Kak... " sontak Aditya sedikit terjingkat mendengar suara lembut Aini. Kedua matanya nya tak lepas dari menatap gadis yang sekarang sudah halal untuk dia sentuh.
Entah mengapa tiba-tiba saja dirinya menjadi gugup,yah meskipun Aditya sosok yang glamor dulunya tapi Aditya tak pernah sekalipun menyentuh wanita,entah mengapa tapi itulah fakta nya dia dulu sangat tidak suka jika harus bersentuhan dengan wanita.
Apalagi wanita yang lebih dulu mendekati entah dengan cara halus ataukah dengan cara terang terangan menggodanya.
Aini menghela nafas panjang lagi lagi Aditya melamun,didekatinya sang suami.
"Assalamualaikum suamiku..." kembali Aditya terkejut, suara lembut istrinya sangat menggelitik rungunya entah mengapa malam ini istrinya begitu sangat cantik dan seksi dimatanya.
"Wa waalaikumsalam sayang..." jawabnya sambil cengar cengir gak jelas .
"Kak ... mandi dulu biar seger setelah itu kita sholat bareng..." tukas istrinya dan Aditya pun mengangguk dan segera masuk kekamar mandi.
Sementara diruang keluarga berkumpul keluarga besar dari pihak pak Antoni maupun dari pihak mama Rossa, mereka bercanda ria sambil mengobrol tentang bisnis.
Sementara pak Antoni sedang berbicara dengan kakek buyut Aini, sedangkan Aston yang tak lain adalah adik dari pak Antoni kini seperti orang linglung semenjak kepulangan nya dari rumah ini beberapa waktu yang lalu,entah apa yang terjadi dengan nya hingga dia bisa menjadi seperti itu.
"Besok aku akan membawa cucuku ketempatku bersama putramu... " suara berat kakek buyut Aini nampak begitu tegas dan tak terbantahkan.
Sementara pak Antoni hanya bergeming sambil menatap kosong kedepan,hatinya sebenarnya sangat kacau dan bingung setelah dia mengatakan yang sebenarnya kepada istri dan anaknya juga menantunya dia sangat terpukul dengan reaksi sang istri.
Flashback on
"Kalau begitu kita batalkan saja pa... mama gak mau Aditya kenapa napa... " suara isakan mama Rossa pilu terdengar disegala sudut kamar mereka sementara Dewi dan suaminya hanya bergeming mereka tidak tahu harus mengatakan apa.
"Lalu jika kita membatalkan acara pernikahan putra kita besok apa kau sudah siap dengan segala konsekwensinya Rossa..." suara pak Antoni pelan penuh dengan tekanan.
"Hiks hiks... apa tidak ada jalan lain pa... mama gak mau kehilangan putra kita satu satunya..." ucap mama Rossa sendu.
__ADS_1
"Ada..." nampak binar mata bahagia terpancar di puppy eyes mama Rossa. Kalau saja dalam keadaan yang berbeda mungkin pak Antoni akan merasa gemas dan mengungkungnya melihat wajah istrinya yang seperti itu,tapi sekarang keadaan sangat tidak mungkin untuk pak Antoni melihat wajah menggemaskan istrinya malah sekarang terlihat seperti boneka panda yang merajuk sebal.
"Setelah acara pernikahan ini Aditya harus segera menyelesaikan tugasnya sebagai suami kemudian Aditya harus menceraikan Aini itu jalan satu-satunya jika kau keberatan dengan apa yang akan Aditya lakukan nantinya." sontak kedua mata Dewi membelalak sempurna.
"Tidak... jangan lakukan itu, Aditya tahu apa yang terbaik menurut nya, Dewi yakin Aditya punya alasan sendiri dan Dewi yakin Aditya sudah mengetahui semuanya jauh jauh hari karena itulah dia bertekad untuk meneruskan niatnya menikahi Aini..." tukas Dewi tegas.
Pak Antoni juga sependapat dengan Dewi,tapi tidak dengan mama Rossa beliau kekeuh hendak membatalkan acara besok hari.
"Saya tahu saya hanya sekedar menantu disini ,tapi kali ini saya sependapat dengan istri saya biarkan Aditya menjalani apa yang dia yakini karena menurut saya tidak ada yang salah dengan semuanya karena mungkin dengan..."
"Tidak .... sekali tidak tetap tidak..." teriak mama Rossa.
"Apakah mama sekarang membenci Aini???" tanya Dewi tegas
Mama Rossa bergeming tanpa kata kini dia juga bingung apa yang harus dia lakukan,kedua matanya masih menatap kedua netra putrinya.
Mama Rossa menggeleng kepala dengan ribut,dia sangat menyayangi gadis itu tapi dia juga tidak mau kehilangan putranya hanya demi sesuatu yang menurut nya sangat tidak masuk diakal dan diluar nalar.
"JANGAN KHAWATIR TANTE... AINI AKAN MELAKUKAN YANG TERBAIK UNTUK SEMUANYA DAN TANTE JANGAN KHAWATIR SETELAH INI MUNGKIN AINI AKAN MENJAUH DARI KALIAN SEMUANYA JIKA TUGAS SAYA SUDAH SELESAI..." terdengar gema suara yang tidak tahu darimana asalnya dan yang mereka yakini bahwa itu adalah suara Aini.
Sedangkan Dewi dan suaminya sedikit merinding kaku, sebenarnya sehebat apa gadis itu sampai sampai suaranya pun tembus sampai kedalam kamar, bagaimana tidak heran dan sedikit takut karena kamar itu sudah jelas kedap suara.
Flashback off
Pagi pagi sekali Aini dan Aditya sudah berpamitan kepada seluruh keluarga besar pak Antoni dan Mama Rossa,nampak Isak tangis mama Rossa tak terbendung lagi.
"Maafkan mama nak... mama hanya..." belum selesai kalimat mama Rossa Aini menimpali dan menenangkan mama Rossa dipelukan nya.
"Saya tahu apa yang mama khawatirkan insya Allah semuanya aman, asalkan mama harus selalu berdoa untuk kita semuanya ma... terutama untuk putra mama ..." Aini melepaskan pelukannya nampak senyuman manis terpancar diwajah ayu nya.
"Sayang... udah dong pelukannya kapan giliran aku..." Rajuk Aditya kepada istrinya. nampak suara tawa dan canda terpancar diwajah wajah keluarga besar itu.
Setelah Aini dan Aditya pamit satu persatu kepada seluruh keluarga besar mereka. Mereka pun berangkat dengan mobil Aditya tapi ada sopir yang mereka tidak kenal.
Hanya Aini dan Aditya yang tahu sopir itu siapa yang tak lain adalah penjaga Aini dan entah sejak kapan kakek buyutnya sudah berada disamping tempat duduk sopir.
__ADS_1
"Kalian sudah siap..." Aini dan Aditya kini berbarengan mengangguk.
" Tujuan kita mau kemana kek... jangan bilang kalau kita akan ketempat kakek tinggal..." suara Aini memecahkan keheningan.
Entah sejak kapan Aditya sudah tertidur lelap,dan Aini yakin bahwa itu adalah ulah dari kakek buyutnya, "Aini sangat takut kek..." kening kakek buyutnya mengkerut .
"Jangan bilang kau sudah jadi penakut nduk .." Aini menggeleng pelan.
"Aini tidak takut akan tantangan ujian bahkan kematian sekalipun,.. " Aini terdiam beberapa saat " Aini takut terjadi sesuatu dengan orang orang yang Aini sayangi kek..." kini kepala Aini menunduk dia nampak berpikir.
"Apakah aku harus melakukan apa yang dikatakan pak Antoni kek..." ucap Aini lirih dan masih bisa didengar oleh kakek buyutnya.
"Kalau itu yang terbaik maka lakukanlah... tapi... resikonya lebih besar lagi nduk..." sontak Aini mendongak dan netranya pun menatap lekat kakek buyutnya yang tanpa melihat kearah nya.
"Bahkan meskipun Aini tidak melakukan apa yang diminta pak Antoni pun resikonya juga tetap sama kek..." tukas Aini.
"Yoh... koe bener nduk, tapi koe kudu eling pesenku,,, ( Yah... kamu benar nak, tapi kamu harus ingat pesanku,,,)" Aini mengangguk pasrah.
Sementara dipentohouse dimana Nico tinggal kini kakek Bimo menemani sang cucu yang lagi patah hati.
Yah Nico sekarang dalam keadaan yang sangat kacau, pandangan nya kosong dia sangat menyesali dengan takdir kehidupan nya yang sangat kejam menurut nya.
Kakek Bimo menggeleng pasrah berkali-kali kakek Bimo mendesah gusar melihat cucunya yang masih tak bergeming dari posisinya.
"Kalau kau masih seperti ini maka jangan salahkan kakek kalau kau kehilangan gadis yang kau cintai..." Nico masih setia dengan posisi semula.
"Jangan salahkan takdir nak... kalau kau ingin merubah takdir mu maka kau harus berusaha untuk menjadi yang terbaik lagi" masih setia dengan diam tak bergeming kini Nico nampak memejamkan kedua matanya.
"Aku akan memantau Aini kek... sekarang dia pasti bahagia kan kek... aku akan mengirimkan pengawal bayangan punya yang terbaik untuk menjaganya,.." kakek Bimo berdecih.
"Ckk... kau pikir gadis itu tidak punya... gadis itu punya banyak pengawal bayangan dan itu tingkatannya tinggi bahkan sangat tinggi dari punyamu" Nico menoleh sekilas kemudian kembali memejamkan kedua matanya.
"Aku tahu kalau sekarang dia dibawa pulang oleh kakek buyutnya..." kakek Bimo tersentak ' Bagaimana bocah ini bisa tahu...' ujar kakek Bimo dalam hati.
Sudut bibir Nico tertarik keatas sedikit tanpa diketahui oleh kakek Bimo,"setelah 3 bulan kita akan tahu keadaan gadis pujaan ku kek ... dan aku akan setia menunggu bagaimana kabarnya..." kini kedua sudut bibir Nico semakin tertarik keatas.
__ADS_1
Kakek Bimo menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "yowes karepmu.." tukas kakek Bimo