
Kini keluarga Pak Harun sudah benar benar pindah dari rumah lama,rumah baru yang dikatakan pak Harun sederhana itu memang sederhana tapi dalamnya tidak sederhana sama sekali, sedikit mewah tapi gak mewah mewah amat lantaran pak Harun gak suka sesuatu yang berlebihan.
Sementara mantan istri pak Harun yaitu Bu Astri yang saat ini janjian bertemu dengan putri bungsunya dengan semangat menuju rumah mantan suaminya.
Astri berencana untuk mendekati putri bungsunya itu untuk mengambil hati pak Harun,dia ingin menunjukkan bahwa dirinya sudah berubah.
Tapi lagi lagi Astri kecewa karena mendapati rumah itu sudah kosong,kini Astri menatap nyalang rumah yang pernah dia tinggali bersama keluarganya itu.
Kedua tangannya mengepal sampai buku bukunya memutih, nafasnya memburu wajahnya merah padam.
Kini rencana yang sudah dia susun dengan sempurna gagal sudah, nampak kilat kemarahan tercetak jelas dikedua matanya.
"Brengsek... ini pasti ulah perempuan laknat itu..." terdengar Geraman amarah dari mulut Astri.
Ingin dia teriak tapi melihat situasi nya tidak memungkinkan dia berteriak dengan lantang, takutnya nanti dia dikira orang gila.
"Loh jeng Astri toh... cri siapa jeng" sapa Bu dini istri dari pak RW di area komplek ini.
Seketika raut muka Astri berubah menjadi memelas,Bu Dini tahu kalau Astri ini sangat pandai berakting, tapi Bu Dini bukan orang yang suka ikut campur dalam urusan orang lain jadi Bu dini berpura pura tidak tahu dan cuek saja. Bu Dini juga tahu kalau Astri sudah bercerai dengan pak Harun tapi karena bu dini bukan tipe orang yang suka kepo jadi Bu dini bersikap biasa saja.
"A anu Bu... tadinya saya ingin menemui putri saya tapi... kok kayak nya kosong ... memang nya Bu dini... ehhmm ... apakah mengetahui mereka pada kemana yah Bu..." dengan wajah yang dibuat se memelas mungkin, jadi Astri berharap dapat informasi dari dari Bu dini yang notabene nya istri dari RW jadi besar kemungkinan bahwa Bu dini tahu bukankah orang yang akan pindah atau masuk pasti akan lapor ke RT dan RW setempat, seperti itulah yang ada dalam pikiran Astri saat ini.
Astri sedikit tersenyum miring dia yakin akan mendapatkan informasi dari Bu dini, karena sifat Bu dini yang baik hati dan tidak tegaan jadi Astri memanfaatkan semua itu.
"Apa benar Bu kosong?? perasaan kemari saya lihat pak Harun keluar masuk rumah bahkan kayak nya ngantor kalau dilihat dari pakaian yang dipakai Bu.." seloroh Bu Dini.
Astri tercengang dengan jawaban dari Bu dini,' apa iya dia tidak tahu apa apa' batinnya bermonolog.
" iya Bu .. coba deh lihat lampu masih menyala dan sepi sekali masa iya ada orang nya,lawong biasanya putriku nyiram kembang dikebun miliknya." celetuk Astri sedikit ketus.
__ADS_1
Sementara Bu dini mencoba membuka pagar dan ternyata benar digembok bel rumah ditekan beberapa kali juga gak ada yang keluar.
"Astaghfirullah... kok saya bisa gak tahu yah Bu... coba nanti saya tanya suami maaf yah jeng Astri saya tidak dapat membantu..." ucap Bu Dini tulus.
Astri hanya mengangguk kecil dia kecewa karena tidak dapat informasi apapun dari Bu Dini,Astri mengerang frustasi dengan langkah kaki cepat Astri segera menuju rumah kontrakannya.
Ada beberapa rencana yang harus diubah, yang pertama dia harus menghabisi Aini tapi dia tidak tahu dimana gadis itu tinggal.
" Ah itu bisa dipikirkan nanti " gumam Astri dengan langkah cepat dan lebar Astri yang tadinya berenang pulang ke kontrakannya kini berbalik arah hendak menemui seseorang yang akan memuluskan rencananya.
Setelah 40 menit perjalanan akhirnya Astri sudah sampai di sebuah rumah sederhana minimalis dan nampak asri,Astri beberapa kali mengetuk pintu kemudian muncullah seorang pria paruh baya membuka pintu dengan senyuman lebar.
Sebenarnya Astri sangat risih dengan senyuman dan tatapan orang yang ada didepannya ini yang sangat mesum,tapi karena dia butuh bantuan nya mau tak mau Astri harus mau menjalankan nya demi memuluskan rencananya.
"Ono opo neh koe Rene Astri...." ( ada apa lagi kamu kesini Astri...) tukas pria paruh baya itu yang berprofesi sebagai dukun itu,selama ini Astri memang mendapatkan bantuan dari dukun laknat bin sedikit cabul ini.
Beberapa waktu yang lalu Astri gagal menumbalkan putrinya lantaran si Adriana punya sesuatu yang memagari dirinya jadilah mahluk itu dengan acak mengambil Sukma Hafiz yang saat itu sedang kacau dan pikiran kosong.
Kini karena makhluk makhluk itu sudah musnah Astri sudah tidak punya peliharaan jin lagi, dengan imbalan tubuh nya Astri bisa membujuk dukun cabul itu yang lumayan hebat menurut pandangan Astri.
Cokro Aminoto nama dukun itu,dia sedikit mumpuni tapi masih kalah dengan gadis yang berusia 21 tahun.
"Aku isek loroh Astri... lah koe penak ora Melu gelut Karo cah wadon kui.. lah aku gampak nyaris matek rek aku ora cepet cepet mlayu...." ( Aku masih sakit Astri... lah kamu enak tidak ikut bertarung dengan bocah perempuan itu.... lah aku sampai hampir mati kalau aku tidak cepat cepat berlari) ucap Cokro si dukun itu.
"Jadi gelar dukun hebat itu hanya bulan saja cuihh... tahu gitu aku cari dukun yang lainnya saja..." sinis Astri.
Brakk
Astri terjingkat kaget mendengar suara gebrakan meja oleh sang dukun, tapi sedetik kemudian Astri tersenyum sinis melirik dukun itu.
__ADS_1
"Ojo ngeremehno aku Astri... aku kalah uduk perkoro aku Ra iso ngalahno cah wadon kui,.. masalah e cah wadon kui wadahe kuat seng Melu wakeh bahkan bangsa lelembut pun banyak, Yo wakeh yang tunduk Karo cah wadon kui..." ( Jangan meremehkan aku astri... aku kalah bukan perkara aku tidak bisa mengalahkan bocah perempuan itu... masalah nya bocah perempuan itu wadahnya kuat (Jiwa murni ) yang ngikut juga banyak, banyak juga yang dengan bocah perempuan itu )tidak terima dukun itu sedikit berteriak menjelaskan secara tidak langsung kenapa dia bisa kalah dari Aini.
" Cuihh ... kalah yah kalah aja jangan mengelak..." Astri mencibir dukun itu.
Seketika itu juga dukun itu murka mendengar cibiran Astri,dukun itupun maju hendak mencekik leher Astri yang mencoba memprovokasi nya.
"Carikan aku dukun yang paling hebat nanti kamu akan menikmati tubuhku lebih dari yang kamu mau" belum sempat dukun itu menyentuh leher Astri, dengan cepat Astri memotong gerakan dukun itu dengan mengucapkan kata kata barusan.
Seketika itu juga jiwa mesum dukun itu meronta-ronta,gluk gluk dengan susah payah Cokro menelan ludah kasar,tiba tiba saja sesuatu dibawah sana sudah terasa sesak karena terbungkus celana kedodoran milik dukun itu.
Astri yang melihat tingkah dukun yang kepanasan sendiri tersenyum sinis dan jijik,semua ini dia tahan agar dia bisa berhasil menjalankan rencananya.
Benar kata pepatah jika sudah ada kebencian yang merajai dan mendarah daging seribu kebaikan pun tidak akan terlihat karena kebencian yang sudah menutup mata hati.
"Ojo ingkar janji koe Astri... tak dudok ke koe Nang umahe cacak seperguruan ku ,wonge luweh mumpuni Tinimbang aku,tapi... syarat e luweh soroh Tinimbang opo seng tahu koe lakoni teko aku .. gelem ora koe Astri ..??" (jangan ingkar janji kamu Astri... akan aku kasih tahu kamu kerumah kakak laki-laki seperguruan ku, orangnya lebih hebat dari,tapi... syarat nya lebih berat dari apa yang pernah kamu lakukan dari aku mau apa tidak kamu Astri...??) dukun itu menjelaskan panjang lebar sambil bertanya kesanggupan Astri.
Berhubung hati Astri sudah tertutup kabut hitam meyakinkan dengan anggukan cepat dan mantap kesempatan ini tidak akan dia sia siakan.
"Asal apa yang kumau benar benar terlaksana dan terwujud apapun itu akan aku lakukan " yaki Astri.
"Nyoh... saiki Melu aku Kate tak Jak koe sowan rono Nyang umahe cacak seperguruan ku... tapi layanono aku disek wes sesek iki" (Ayo... sekarang kamu ikut mau aku ajak berkunjung kesana kerumah kakak seperguruan ku ... tapi layani aku dulu sudah sesak ini )aku sambil menunjukkan bagian bawahnya, dukun itu menarik pergelangan tangan Astri secepat mungkin agar dia bisa merasakan nikmatnya tubuh molek Astri. Astri yang mengetahui kemana pikiran dan maksud dukun itu hanya tersenyum miris" dasar mesum" gumam astri.
Sementara itu dirumah sakit BINA AKSA nampak didepan ruang UGD Randy mondar mandir dengan wajah khawatir,kalau saja dia tahu dari awal bahwa sahabat nya itu terluka dia pasti dengan cepat menolongnya.
Dengan wajah frustasi gelisah Randy berkali kali menghempaskan nafas kasar "Apa aku hubungi saja keluarga nya..." gumam Randy yang hampir setengah gila.
"Bukankah hubungan mereka sekarang tidak baik-baik saja??" Randy nampak berfikir keras.
"Ckk aku hubungi kakek Bima saja" tak lama kemudian Randy menelepon kakek Bima .
__ADS_1
"Assalamualaikum kek... saya Randy..."