Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 96


__ADS_3

Satu hari menuju kebangkitan iblis yaitu ritual pembangkitan iblis dengan melewati jalur black moon esok,Aini dan Nico beserta kakek Bimo tengah menyiapkan beberapa keperluan yang dibutuhkan untuk esok hari.


"Kak... bagaimana dengan Poppy apakah dia baik baik saja??" Nico berdehem dan hanya mengangguk saja Nico bukannya malas menanggapi pertanyaan nya Aini dia hanya sedikit malu tentang dirinya yang beberapa waktu lalu kepergok Aini tentang Elena.


Nico masih canggung apalagi Aini yang pernah menanyakan tentang 'apakah dia pernah tidur dengan Elena apalagi yang dimaksud Aini bukan hanya sekedar tidur melainkan lebih dari sekedar tidur yakni berhubungan intim' sungguh Nico merasa sedikit malu dan kecil dihadapan Aini.


"Kak... kenapa kak Nico diam aja??" Nico tersentak mendengar pertanyaan Aini.


Aini yang melihat Nico gugup dan agak sedikit canggung dia pun faham apa yang dipikirkan Nico, dan Aini mengerti juga posisi Nico saat ini.


Sedikit tersenyum Aini berniat menjahili Nico, tiba-tiba saja dia punya sedikit ide brilian karena Aini tahu kalau Nico sudah dalam mode seperti itu dan apalagi didepannya Nico seolah-olah ngeblank antara otak dan pikirannya sudah tak sejalan.


"Kek... " kakek Bimo yang awalnya sibuk dengan kesibukannya kini atensinya tertuju ke arah Aini.


"Yoh... nyapo..." jawab kakek Bimo dengan logat khas jawanya.


"Hari ini aku akan kerumah suamiku... eh maksudnya mantan suamiku kek ...!!" kakek Bimo yang awalnya fokus dengan kegiatannya kini mulai mengedar kan pandangan nya kearah gadis itu.


"Mau apa kamu kesana nduk...!!" Aini bergeming selama beberapa waktu kemudian Aini melirik kearah Nico.


Nampak Nico sedikit tidak nyaman dengan situasi akan perkataan Aini, Nico berfikir "apakah dia berniat kembali kepada Aditya?? kenapa Aini begitu bodoh yang ingin kembali kepada lelaki yang tidak punya prinsip dan hanya ... Aaahhhh..." dalam hati Nico berteriak ada segudang pertanyaan bergelayut manja di otak kecil Nico.


Aini yang melihat gelagat dari Nico tersenyum miring sedangkan kakek Bimo yang melihat Aini kemudian melihat cucunya dahinya Lembata laun berkerut tak lama kemudian dia pun mengerti apa maksud Aini dengan perkataan nya barusan.


Kakek Bimo pun menggelengkan kepalanya kemudian melanjutkan kegiatan nya yang sempat tertunda tadi. Kakek Bimo kembali melirik cucunya yang tampak gelisah dan tak nyaman pun tersenyum dia hendak mengikuti alur permainan Aini agar dia terhibur meskipun sebentar saja.


"Apapun keputusan mu kakek mendukungmu nduk... lakukan apa yang menurutmu terbaik untukmu dan untuk bayi yang ada didalam kandungan mu,kakek juga tidak mau bayimu tidak mempunyai ayah dan ..." kakek Bimo sengaja menjeda kalimat nya dia ingin melihat reaksi Nico.


Brakk ..


"Aku keluar sebentar..." dengan nafas sedikit memburu Nico segera berlalu kupingnya panas mendengar apa yang dikatakan kakeknya kepada Aini barusan.


"Kak, mau kemana.... bolehkah aku ikut??" tanya Aini lembut.

__ADS_1


"Todak udah kamu disini saja istirahat untuk besok malam" ucap Nico kemudian berlalu dengan terburu-buru.


Brakk


Pintu ruangan tengah ditutup dengan keras oleh Nico selang beberapa menit kemudian Aini dan kakek Bimo tertawa keras menertawakan Nico.


Aini merasa perutnya sedikit kaku dan kram karena saking asyiknya mentertawakan Nico, apalagi kakek Bimo sampai sampai air matanya keluar saking terpingkal pingkalnya ketawanya barusan.


Baru kali ini kakek Bimo dan Aini bisa tertawa lepas setelah sekian lama,kini mood Aini dan kakek Bimo sedikit membaik setelah menggoda Nico.


Drrrttt Drrrttt


Aini sedikit terkesiap mendengar dering ponselnya,dan disana tertera sebuah nama 'Ruth my bestie ' Sebelah alis Aini sedikit terangkat tumben Ruth menelepon nya.


"Ya Ruth ... ada apa??" jawab Aini.


"(...)"


"Kek aku mau menemui Ruth dulu setelah itu aku beneran akan kerumah kak Aditya untuk yang terakhir kalinya" kakek Bimo hanya mengangguk kemudian menjawab " Hati hati nduk..." dan diangguki oleh Aini.


Kini Aini berada disebuah cafe bersama Ruth, meskipun sudah 15 menitan mereka sudah duduk berhadapan dan menunggu pesanan tiba mereka berdua masih asyik dengan pikiran masing-masing dan sunyi yang nampak.


Ruth yang merasa sedari tadi Aini tidak bertanya apalagi berkata apapun Ruth pun merasa sudah tidak tahan lagi akan kesunyian diantara mereka berdua.


Hhhhhhh


"Ai... " panggil Ruth memecahkan keheningan diantara mereka berdua.


"Hhmm... " hanya deheman yang keluar dari mulut Aini.


"Keluarga pak Harun dan kak Hafiz dalam bahaya besar.." kini Ruth mulai mengungkapkan apa yang menjadi tujuan nya kesini untuk bertemu Aini.


"Trus ..." tanya Aini masih dalam posisi yang sama acuh tak acuh sambil memainkan gelas yang ada didepannya.

__ADS_1


"Ini juga ada hubungannya dengan Luciana,kalau soal Andriana dia aman,.." ucap Ruth kembali, sedangkan Aini masih setia dengan apa yang jadi mainannya yaitu memainkan gelas yang ada ditangannya.


"Pak Harun sekarang kondisinya sudah tak baik baik saja, hatinya juga mulai sedikit goyah dan... " Ruth menjeda kalimat nya kemudian lanjut bicara " aku rasa pak Harun sedikit ada riwayat jantung Ai... aku takut beliau tidak akan kuat untuk kedepannya kek gimana." kini atensi Aini tertuju pada sahabatnya.


"Adriana sekarang ada dimana...??" bukannya menanggapi apa yang diucapkan Ruth padanya Aini malah balik bertanya tentang keadaan Adriana.


"Dia aman Ai... putri bungsu pak Harun masih aman dan..."


"Jangan remehkan sesuatu yang terlihat sepele dihadapan mu Ruth...." kini Aini menatap tajam sahabat nya.


Ruth terkesiap mendengar apa yang dikatakan Aini, dia yang selama ini berada dirumah itu dan dia juga mengawasi keluarga itu dua puluh empat jam kenapa Aini masih mempertanyakan nya?? batin Ruth sedikit tidak rela karena secara tidak langsung Aini meragukannya.


"Aku sama sekali tidak meragukan mu Ruth hanya saja kau sedikit lengah dengan keadaan,.. " ucap Aini kemudian.


Ruth menimbang-nimbang dan mengingat bagian mana yang terlewat kan dari pantauan nya, setelah beberapa menit kemudian " Shitt... aku kecolongan... Bang**t !!" maki Ruth kemudian Sete dia menyadari apa yang jadi masalahnya.


Aini hanya tersenyum miring dan sedikit menghempaskan nafasnya dalam dalam, kemudian dia melihat kearah ,sahabatnya yang nampak sedikit gusar dan frustasi.


"Disini bukan Luciana yang dan bayinya yang dalam keadaan bahaya melainkan Adriana Ruth ingat itu,.. bayi yang ada dalam kandungan Luciana itu hasil anak tidak sah coba kau cari tahu lagi kebenarannya,CK .. ataukah orang suruhan mu sudah sangat lemah akan kelebihannya dalam menjadi detektif?" cibir Aini , sedangkan Ruth menecih perlahan.


Bagaimana pun juga apa yang dikatakan Aini itu benar adanya bahwa disinilah kesalahan nya yang terlalu sombong dan kesannya meremehkan lawan, sial bagaimana bisa itu terjadi.


"Bawa Adriana bersamamu ke pentohouse nya kak Nico biar aku kakek Bimo dan Nico yang menjaganya,cukup dengan Poppy yang menjadi kesalahan ku,. " ucap Aini dengan nada perintah meskipun ada ketenangan disana.


Ruth mengerti kemudian mengangguk setuju,namun yang jadi pikiran nya sekarang adalah mencari pengganti Adriana disana, karena selama ini Adriana Ruth Kuring dalam kamar mewah dirumah itu meskipun segala nya ada disana tapi tak menjamin Adriana akan bosan bukan?, bisa saja karena kebosanannya dia sedikit nakal dan mencoba menghubungi Luciana.


"Kembalilah Ruth beberapa jam lagi Luciana akan segera sampai kerumah itu,. " Ruth terkesiap dengan ucapan Aini yang memperingatkan situasi nya sekarang.


"Oke aku Cabu,.. kau yang bayar semuanya yah.. next time aku yang bayar..." Aini mengernyitkan dahi kemudian mengangguk tanpa menjawab Ruth sama sekali.


Slass


Setelah kepergian Ruth kini Aini menuju meja kasir dan setelah itu dia hendak kerumah Aditya sesuai rencananya tadi,tapi sebelum itu dia ingin bertemu dengan Nico.

__ADS_1


__ADS_2