Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 22


__ADS_3

Nampak dari kejauhan Dua pasang mata mengawasi dari jauh. Ada gelenyar aneh dan rasa yang sangat tidak terkondisikan.


Siapa lagi kalau bukan Hafiz dan juga Devan. Dua duanya sudah sangat suram melihat kedekatan Aini dan Aditya.


Tatapan Hafiz sangat sulit diartikan, wajahnya yang memerah menahan luapan amarah, rasa kecewa, rasa cemburu, rasa tak rela akan kehilangan Aini.


Meskipun Hafiz tak mengingat apapun tentang masa lalunya bersama Aini tapi Dia tahu betul bahwa apa yang Dia rasakan adalah real.


Ada rasa cinta yang begitu besar untuk Aini, hanya saja jika tidak ada campur tangan dari Ibunya mungkin Dia masih mengingat Aini dan menjalani hidup yang bahagia sekarang.


Hhhhhhhh.....


Rasa sesak yang begitu menghimpit membuatnya tak bisa berfikir jernih sekarang, apalagi saat ini Dia melihat bagaimana Aini berpelukan dengan orang lain selain dirinya.


Dari cerita Devan Aini sangat sulit disentuh oleh lawan jenisnya, bahkan cenderung sangat sulit dijangkau.


Tapi apa yang dilihatnya sekarang bahkan Aini tak menolak disaat Aditya memaksanya agar berada dalam pelukannya meskipun sekedar menguatkan Aini.


Sekarang yang nampak dipenglihatan Hafiz Aini sangat rapuh, Iyah ... Aini mungkin butuh penguat butuh tempat bersandar dan butuh perlindungan meskipun Aini mampu melindungi dirinya sendiri.


Bagaimana pun juga Aini seorang wanita Dia juga butuh perhatian, Dia juga butuh tempat bersandar meskipun hanya sekedar ingin didengar.


Hafiz tak rela sungguh tak rela dengan pemandangan itu, air matanya keluar begitu saja rasa cemburu yang menguasai, rasa cintanya yang begitu besar membuat Dia tak bisa berfikir jernih dan merasakan sesak yang menghimpit dadanya, berharap ada udara segar masuk ke rongga hidungnya dan menuju paru-paru.


Tanpa disadari oleh Hafiz kedua tangannya mengepal erat hingga menampakkan urat urat warna biru kehijauan begitu saja, Devan mengetahui hal itu dan Dia pun bisa merasakan apa yang dirasakan Hafiz.


Karena tak bisa dipungkiri bahwa Devan pun juga sangat mencintai Aini, bukan hanya sekedar kagum ataupun sekedar suka bahkan ini lebih dari sekedar suka.


'Ah.... Aini Kau sangat istimewa, sekarang kau jadi semakin sangat sulit untuk dijangkau'. gumam Devan dalam hati.


" Come on brow kita balik Aku akan selalu berada untuk mu jadi saksi jika sewaktu-waktu Ibumu mengelak". kata kata Devan berhasil membuyarkan lamunannya.


" Shitt .... Ok...!!" jawab Hafiz singkat.


#####


Sementara dikediaman Pak Harun Astri masih diam cemberut dan membisu Dia merasa bahwa Dialah yang diabaikan, karena suaminya pun enggan menjawab setiap pertanyaan nya.


"Seharusnya papa tidak mempermalukan ku didepan banyak orang seperti itu,apalagi didepan keluarga Antoni". gumam Astri pada Suaminya.

__ADS_1


Sementara Harun Al Rasyid Ridha masih setia dengan kebungkaman nya, Harun tidak ingin mengeluarkan suara sedikitpun ocehan Astri hanya dianggap angin lalu.


" Pa.... Kita makan yukk...!! ucap putri bungsunya.


" Papa masih belum lapar Nak... Kamu bisa makan duluan" jawab Harun singkat, matanya pun masih terpejam sambil dengan menyandarkan kepalanya diatas sofa.


" Tapi Papa belum makan dari tadi siang, apalagi malam ini Papa juga belum menyentuh makanan apapun pas dipesta hajatan tadi, makan yukk Pa...!?"


" Hhmm... Oke ayo Nak kita makan berdua Papa juga tahu Kamu juga belum makan." sambil berlalu dari duduknya Harun mengajak Putri bungsunya menuju keruang makan.


" Pa.... Jangan mengabaikanku,,," dengan melotot Astri bersungut-sungut hendak menarik tangan Suaminya tapi bertepatan dengan itu Harun pun menampik kasar tangan Safitri.


" Janga menyentuhku dengan tangan kotormu sejujurnya aku mual dan jijik dengan mu." tanpa menoleh Harun berlalu begitu saja dari hadapan Astri.


Astri pun mencelos mendengar ucapan Suaminya, ada gelenyar rasa yang menusuk diujung ulu hatinya.


Tiba tiba saja kedua wajah Astri pun berubah jadi muram ada rasa amarah dan sedih disitu, dimana dulu suaminya selalu mendengarkan dan selalu menuruti tidak bukan menuruti tapi Patih terhadap Astri kini berubah bak singa yang lepas dari jerat tali tak kasat mata miliknya.


Tanpa disadari air matanya pun jatuh tak terhindarkan, apa yang harus dilakukan sekarang agar suaminya kembali seperti semula ? hanya itu yang ada dibenak pikiran Astri.


Kemudian Diapun duduk dan bersandar disofa, Astri pun terisak pelan tubuhnya sedikit gemetar.


Ceklek


Yah... Astri memang punya otak encer dalam mengendalikan sesuatu dengan dan sekarang di otaknya pun sudah ada rencana baru agar Putranya kembali luluh padanya.


" Waalaikumsalam Nak... Kamu kok baru pulang tadi mampir kemana saja heummm" tanya Safitri dibuat selembut mungkin.


Hafiz hanya diam sambil berlalu Diapun tak menghiraukan Ibunya seperti yang dilakukan Ayahnya tadi, Astri pun tak kehilangan akal.


Dengan sedikit berjalan cepat mendahului Putranya Diapun ingin meraih lengan Putranya dan ingin berbicara tapi Hafiz justru semakin cepat berjalan.


" Hafiz... Nak... Eeehhhmmm... Ibu ingin berbicara dan ingin...." belum selesai Astri mengutarakan niatnya Hafiz pun menyela


" Ingin bicara apalagi dan ingin tahu soal apa Huh ..." Hafiz berhenti lalu kemudian membalikkan badannya dan melihat Ibunya dengan tatapan yang tajam dan entah.


" Katakan padaku apa yang ingin Anda tanyakan dan ingin Anda ketahui nyonya" Hafiz pun menekan Ibunya dengan sebutan Nyonya agar Ibunya sadar akan kesalahannya meskipun Hafiz tahu mungkin Ibunya tak akan pernah bisa berubah.


Dengan susah payah Astri pun menelan Salivan ya yang seakan tertahan di kerongkongannya, melihat tatapan Hafiz yang begitu tajam dan menusuk membuat Safitri beringsut mundur.

__ADS_1


Dengan tersenyum miris dan samar Hafiz pun mentertawakan dirinya 'inikah sosok Ibunya yang sebenarnya?? Ibu yang selama ini Dia hormati dan Dia sayangi?? Sangat licik dan Sadis menurutnya.


Tak butuh waktu lama bagi seorang Hafiz untuk menyelidiki tentang kecelakaan nya dan apa yang dilakukan Ibunya selama ini pada Aini. Sungguh Hafiz masih tidak ingin mempercayai nya tapi faktanya Ibunya memang mempunyai jiwa psikopat tersembunyi dengan Rapi.


Shittt


Dalam hati Hafiz mengumpat, dan masih dalam posisi menghadap Ibunya dan menatapnya dengan intens dan seolah-olah membunuh Hafiz tak lepas melakukan itu.


" Aku sungguh jijik dengan kelakuan mu Ibu... Kau adalah sosok yang paling Ku hormati selain Ayah tapi Kau mempunyai jiwa psikopat tersembunyi.


Jangan tanya Aku tahu darimana semua kelakuan mu selama ini, dengan hanya menjentikkan satu jari Hafiz anakmu ini lebih smart darimu.


Bagaimana mungkin seorang Ibu tega mencelakai Putranya sendiri dengan membuat Rem blong hingga mengakibatkan Aku koma selama bertahun tahun." dengan mengambil nafas dalam-dalam Hafiz pun menjeda kalimat nya, tak bisa dipungkiri rasa sesak kini sudah setia didadanya.


"Dan tentang apa yang Kau lakukan terhadap Aini,, yah Aini kekasih Putramu Bu... Kau membayar orang untuk mencelakai dan menyuruh orang bayaran mu untuk memperkosanya, apakah Kau pantas disebut sebagai seorang Ibu....???" Napak nafas Hafiz pun tersengal-sengal dengan menahan dirinya agar tidak memukul Ibunya.


" Kau seorang wanita Bu... Dimana hati nuranimu ?? Lalu bagaimana jika kedua Anak ibu yang diperlakukan seperti itu apakah Kamu rela Jawab.....!!!" suara Hafiz naik satu oktaf hingga terdengar sampai diruang makan dimana Harun dan Putri bungsunya berada.


Gemetar itu yang dirasakan Safitri sekarang, hatinya sakit tanpa luka dan berdarah dikala Putranya mencap Dirinya sebagai seorang psikopat.


" Katakan padaku Ibu....?" dengan tersenyum smirk Hafiz pun mendekati Ibunya perlahan.


" A aku ti tidak mengerti apa 6kamu ucapkan Nak... I ibu juga ti tidak tahu ap apa maksudmu.." ketakutan itu yang Astri rasakan saat ini.


" Ha ha ha ha .... " Kau memang Good dalam berakting Nyonya Astri bahkan dalam keadaan terdesak pun Kau masih enggan untuk mengakui perbuatan mu" tertawa sumbang Hafiz sambil bertepuk tangan tanpa terasa air matanya pun jatuh tak terelakkan lagi.


" Kau tahu apa yang kurasakan saat ini Ibu?? Heummm.... Kau tahu...?? sambil menepuk dada sebelah kirinya dan tak berhenti pula Hafiz menangis dan tergugu.


" Sakit.... Sakit... Yang teramat sangat saat tahu orang yang dicintai hampir celaka ditangan Ibunya sendiri, meskipun aku tidak mengingat semua tapi apa yang kurasakan Nyata Ibu Aku sangat mencintainya karena Aini adalah cinta pertama dan terakhirku" dengan memegang bahu Ibunya Hafiz pun berlutut didepan Ibunya.


" Bahkan sekarang Aini Kekasihku sangat sulit untuk kembali ku jangkau karena sudah orang lain mendampinginya, hatiku sakit melihat orang yang kucintai berada di pelukan laki laki lain selain diriku" masih terisak tergugu Hafiz meluapkan segala emosi dan uneg unegnya.


" Katakan Ayah apa yang harus aku lakukan agar Aku kembali mendapatkan cintaku" masih setia dengan Isak tangisnya Hafiz pun berhenti dan berdiri kemudian tanpa sepatah katapun Dia meninggalkan ruangan itu.


" Sudah puas Kau sekarang Astri..." tanya Harun dengan sikap datar dan dingin.


" Kau sudah menyakiti Putraku darah dagingku meskipun Aku enggan mengakui bahwa Putra terbaikku lahir dari rahimmu"


" Mulai saat ini dan detik ini keluar dari hidup kami Safitri dan tunggu surat cerai dariku" setelah mengucapkan niatnya Harun pun berlalu pergi kekamarnya tanpa memperdulikan makan malamnya yang belum tuntas.

__ADS_1


Sebelum Harun membuka kamarnya Diapun berhenti.


" Dan kemasi barang barangmu... Aku tidak Sudi melihat wajahmu lagi." dan Harun pun masuk kamar kemudian menguncinya dari dalam.


__ADS_2