Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
bab 6


__ADS_3

POV Author


Teeett Teeett


Bel tanda pulang kerja berbunyi, semua karyawan bagian konveksi dan bagian finishing keluar barengan.


Dan tentu saja sambil berdesakan mereka keluar dari ruangan kerja, bagi karyawan biasa hal seperti ini adalah lumrah beda lagi kalau kerjanya di kantoran.


Seperti biasa Aini pulang paling belakangan karena Dia pun enggan untuk berdesak desakan,


Disaat Aini sudah sampai di halte tiba tiba ada Seseorang yang menyapanya


" Aini.... " sapa seseorang dengan suara lembut. seketika Aini menoleh kearah suara tersebut.


" Kak.... Devan," terkejut Aini sampai membulat sempurna matanya melotot karena saking kagetnya


" A ada apa kak nyamperin Aini disini dan darimana Kakak tahu tempat Aku kerja?" tanya Aini kemudian.


" Ada yang ingin Aku bicarakan Aini Aku serius..." kata Devan lembut tapi terkesan meminta.


Kembali Aini melihat wanita pucat yang selalu membuntuti Pria itu, " Hmm oke " jawab Aini kemudian.


" Kalau gitu ayo..." ajak Devan kemudian sambil menarik tangan Aini dengan antusiasme tinggi


Aini kaget atas perlakuan Devan padanya karena dengan berani dan tanpa ijin Dia menggandeng tangan Aini


Aini bergeming tanpa kata dan ekspresi Dia hanya diam, Dia mengerutkan dahi malas


" Kak... Bisa lepasin gak tangan Aini..??" pinta Aini pada Devan


" Owh... Astaghfirullah maaf Aini saya tak sengaja" sesal Devan


" Jangan dibiasakan Kak... Dan kalaupun sudah biasa bagi Kak Devan tapi tidak dengan Saya, Saya tak biasa maaf " kembali Aini berucap


" Sekali lagi maaf Aini Saya lupa dan tak sengaja" sambil menangkupkan kedua tangannya Devan terasa agak canggung setelahnya


' Ternyata apa yang dikatakan Hafiz benar Aini bukan wanita biasa seperti yang sering kutemui' batin Devan


" Baiklah Aini mari ikuti Saya ... Tuh... Mobil Saya disitu" sambil menujukkan dimana mobilnya Devan berjalan menuju mobilnya dan diikuti oleh Aini.


" Kita mau kemana Kak..." tanya Aini


" Kita ngobrol di cafe gak papa kan sambil makan juga!?"


" Baiklah" jawab Aini singkat


Sebentar kemudian mobil melaju pelan tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi mereka, yah... Siapa lagi kalau bukan Aditya.

__ADS_1


Tanpa bisa disembunyikan lagi mukanya memerah menahan amarah dan rasa cemburu yang merajai hati.


Kedua tangan Aditya mengepal, matanya memerah rahangnya mengeras, " Aini kenapa kau sangat akrab dengannya apakah dia kekasih mu?? tapi dari yang kulihat tadi tampaknya bukan,. Tapi siapa?? batin Aditya bermonolog.


Sementara itu didalam mobil tampak Aini dan Devan masih betah dalam kesunyian, mereka larut dalam pikiran masing-masing, meskipun Aini bisa membaca isi hati orang tapi Dia enggan melakukan itu meskipun hal itu terdengar jelas di gendang telinganya, Dia abai agar tak ada beban dipikirannya.


" Kita sudah sampai Ai...." kata Devan pelan.


" Hhmm... Yah Kak!!" jawab Aini datar


Saat mereka duduk ditempat yang diinginkan Devan mencoba membuka suara,


" Hhmm Aini... " Devan membuka suara


" Iya.." singkat jawaban Aini membuat Devan agak mengernyitkan dahi.


" Kamu mau pesan apa?? kamu baca buku menunya" tanya Devan pelan


" Apa aja Kak Aini ngikut Kak Devan" masih dengan wajah datar Aini menjawabnya


Tak lama kemudian pesanan pun dah terhidang dimeja,..


Mereka pun makan dalam diam, Devan melirik Aini tapi yang dilirik cuma diam dan cuek pura pura tak melihat padahal Aini tahu.


" Aini... apa kamu tak merindukan Hafiz?" tanya Devan hati hati.


" Maksud Kak Devan apa bertanya seperti itu??"


" Aku hanya ingin memastikan saja Aini,..


Dia sahabatku dan..." ucapan Devan menggantung tapi Aini cuma diam dan datar menanggapi


" Kak Devan tahu dimana Kak Hafiz Kak...?" Tanya Aini kemudian


Devan hanya mengangguk pelan tapi agak ragu, bukan hanya tahu tapi saat ini Devanlah yang merawat sahabatnya itu karena Dia pasiennya.


Yah.. Devan adalah seorang Dokter, Devanlah tempat curhat Hafiz selama ini jadi Devan tahu cerita yang sebenarnya tentang hubungan mereka.


' Maafkan atas sikap keluarganya Hafiz yah Ai..." Kata Devan kemudian.


" Sikap yang mana Kak?? Saya sama sekali gak ada bersinggungan dengan mereka toh kami hanya orang Asing" Jawab Aini datar


" Aku tahu kamu masih sakit hati atas sikap mama dan Adeknya Hafiz Ai...." ucap Devan dengan hati hati


" Hhmm... itu sudah lama berlalu Kak Aini sudah lupa" ucap Aini kali ini dengan senyuman.


" Astaghfirullah... Senyumnya manis sekali pantas saja Hafiz klepek-klepek sama kamu Ai... Aku aja lihatnya sangat... Ah... Kenapa Aku ini iiissshhh?" Batin Devan bergumam

__ADS_1


" Lalu masihkah ada rasa untuk Hafiz Ai..." Tanya Devan lagi


" Kalaupun masih ada Aku harus ngapain Kak dan kalaupun sudah gak ada trus Aku juga musti ngapain? semua sudah tak berarti lagi bagiku Kak.. Mereka benar Aku cuma Anak yatim pembawa sial Kak, jadi mending Kak Devan Jauh jauh dari Aini takut kena sial nantinya..." kembali Aini mengungkapkan uneg unegnya.


Hhhhhhhhh....


Dengan kasar ia hembuskan nafasnya terpaksa sebisa mungkin Aini bersikap wajar meskipun dada bergemuruh hebat didalamnya, ada rasa sakit yang masih menjalar di ulu hatinya.


Masih teringat jelas bagaimana Mama dan Adiknya Hafiz memperlakukannya, bisa dibilang sangat tak manusiawi meskipun tak main fisik, meskipun hanya lewat makian celaan hinaan yang tiada henti hanya karena dia seorang Anak yatim.


Masih teringat jelas bagaimana pertemuan pertamanya dengan hafiz


Flashback on


" Hai Aini... Lancar aja nih hari ini ?" Sapa Candra pada Aini, yang waktu itu jam istirahat kerja bersama kawan kawan sejawatnya.


" Hai juga Kak... Alhamdulillah lancar semuanya." Jawab Aini sumringah


" Wah tampaknya ada yang lagi cerah nie" Sahut Selly sahabat Aini waktu itu.


" Gak juga ih... Mood lagi baik aja kali ..."


" Oh ya kalian nanti sore pulang kerja mau pulang bareng gak?? Kebetulan hari ini kan weekend, sekali kali kita jalan jalan keliling" Ajak Candra sambil kedip kedipkan matanya nakal


" Isshh... Lihat entar aja yah Kak soalnya hari ini kan habis gajian Aini mau belanja harian dulu buat dirumah" sahut Aini sambil tersenyum manis.


" Hhmm... Sekalian aja kita anterin Ai... Mumpung lagi free nih kita, Kamu itu sekali kali mikirin kesenangan diri jangan yang lain mulu biar gak cepet tua" timpal Candra cengengesan.


" Bener nih gak papa ntar ngerepoti lagi kak.." selidik Aini


" Beneran Ai.. justru aku malah senang kalau kamu ikut," pinta Candra memelas


" Hhmm oke deh " kata Aini sambil acungkan jempol nya


" Siip... Ntar aku tunggu disana yah Ai..." kata Candra kemudian sambil menunjukkan tempatnya dengan jari telunjuknya.


" Kok dari tadi cuma Aini aja Aku emang gak diajak gitu" Seloroh Selly manyun


" Isshh.. kamu mah meskipun gak diajak yoh ikut sendiri" timpal Candra sambil noyor kepala Selly


" Iisshh... Apaan sih tapi kan kalau gak seperti itu jelas ketinggalan lah aku." jawab Selly sewot


" Pokoknya nanti kalian kesana yah" sambil menunjukkan tempatnya, dan keduanya pun mengangguk


" Oke Kak kami masuk dulu yah udah waktunya masuk kerja nie..." ucap Aini sambil berlalu


Candra masih diam terpaku disana, bagaimana pun juga dia salut dengan Aini, dan Candra adalah tetangga Aini. Kali ini dia punya misi sendiri, sambil tersenyum Candra kemudian berlalu.

__ADS_1


* Semoga kau selalu bahagia Ai....*


__ADS_2