Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 74


__ADS_3

Kini dikediaman rumah besar keluarga pak Antoni disibukkan dengan persiapan pernikahan Aditya dan Aini.


Syarat yang Aini ajukan adalah syarat pernikahan sederhana dan hanya beberapa orang saja yang datang tidak kurang dan tidak lebih.


Hari yang ditentukan adalah hari yang sangat baik menurut Aini, atas saran dari Kakek penjaga nya Aini bisa mengetahui hari yang baik menurut Kakek penjaga nya.


Karena Aini benar benar anak yatim piatu kini yang jadi wali nikah Aini adalah wali hakim. Seingat Aini dia memang sudah tidak mempunyai keluarga lagi setelah pembantaian itu lewat kebakaran yang disengaja.


Sementara kakek Bimo yang mengetahui akan pernikahan Aini lewat orang suruhannya hanya menghela nafas panjang, bagaimana jika Nico mengetahui tentang hal ini.


Dia yang tahu bagaimana sifat cucu nya itu bagaimana, emosi yang tidak stabil dan suka meledak kapan saja.


Beberapa waktu lalu kakek Bimo bisa mengendalikan Nico agar bisa mengontrol emosinya,tapi karena kesalahan putrinya membuat Nico kembali menjadi sedia kala.


Tak tersentuh dan dingin jika jiwa psikopat nya tak terkendali dia bisa menghancurkan apa saja yang ada didekatnya.


"Aku harus mencegahnya sebelum Nico mengetahuinya..." gumam kakek Bimo pelan.


"Rojak.... !!! antarkan aku ketempat gadis itu.." titah kakek Bimo tak terbantahkan.


Sementara orang yang bernama Rojak tersebut terjengkit kaget juga heran,siapa gadis itu sebenarnya kenapa begitu penting untuk tuannya.


"Kenapa kau masih terdiam disitu Rojak atau kah kau sudah ingin pensiun dini..." perkataan kakek Bimo membuat lamunan Rojak menguar begitu saja.


"Ba baik Tuan... laksanakan maaf sa...."


"Jalan...." tidak kakek Bimo sarkas


___________


"Katakan... ??" sambil melihat dokumen hasil laporan dari asistennya Nico mengangkat sebelah alisnya " apa kau yakin dengan laporan mu ini...??"


"Yakin tuan... bahkan persiapan nya sudah 90 persen sekarang...." jawab sang asisten.


Prang


Bruakk


Sang asisten yang melihat kemarahan tuannya hanya bisa menunduk pasrah,dia TK berani mengumpat tuannya meskipun dalam hati.


"Kenapa...?? apakah harus secepat ini aku kehilanganmu Ai...." terdengar Geraman pelan tapi masih terdengar oleh asistennya.


"Siapkan mobil sekarang...."


"Baik..." setelah keluar dari ruangan bosnya asisten Nico mengelus dada dan bernafas lega, seolah olah dia baru saja terbebas dari himpitan batu yang sangat besar.


Sepuluh menit kemudian mobil pun sudah siap dan kini Nico sudah berada dibelakang kemudi mobilnya.

__ADS_1


"Kau urus semua meeting hari ini,. dan ingat semuanya harus memuaskan..."


"Baik laksanakan tuan..." setelah melihat mobil yang dikendarai Nico menjauh dari parkiran depan perusahaan Nico asistennya bernafas lega.


" Begini amat nasib bawahan yah...." gerutu Alby sang asisten.


Diperjalanan Nico menatap jalanan dengan wajah sangar dia ingin sekali segera sampai dimana Aini sekarang berada.


Nico ingin sekali melihat wajah gadis pribumi nan ayu tersebut,wajah kalem Aini,senyum khasnya dengan setitik lesung pipi yang semakin menambah kesan manis gadis itu.


Jika wajah Aini berwajah datar dan Dingin ditunjukkan apalagi dengan nada ketus bukannya seram melainkan imut menurut pandangan Nico.


Dia masih ingat misi terakhir dia membantu Aini ,bukan itu bukanlah sebuah misi melainkan memang Aini sering sekali melakukan hal hal ekstrim semacam menyingkirkan hama masyarakat yang menurut nya memang pantas untuk disingkirkan, tapi sangat biasa menurut pandangan nya.


Tanpa sadar mobil Nico pun sudah tiba didepan rumah kost Aini,dia melihat beberapa kesibukan yang nampak ditempat itu.


Nico membuka pintu mobilnya dan hendak keluar tapi sebelum itu terjadi pintu terbuka dari luar nampak kakek Bimo sudah duduk disampingnya.


"Ckk... mau apa kakek disini... jangan bilang kalau kakek membuntuti ku..." dengan wajah malas Nico menunjukkan ekspresi ketidak sukaannya terhadap kakeknya.


"Koe wes Reti le... ( Kau sudah tahu nak...)" jawab kakek Bimo dengan logat jawanya.


"Aku hanya ingin melihat nya saja dan ingin berbicara empat mata dengan nya..." ketus Nico masih dengan nada tak bersahabat.


"Si mbahmu Iki Reti rosomu le... mbahmu Yoh getun ora nyegah kekarepane ibumu,tapi koe Ra usah kuatir pakdemu wes teko arep ngusut tuntas kasus Iki...( si mbahmu ini mengerti perasaan mu nak... mbahmu juga menyesal tidak mencegah kemauan ibumu,tapi kamu tidak usah khawatir pakdemu sudah datang mau mengusut tuntas kasus ini...)" masih dalam logat Jawa kental kakek Bimo berbicara dengan nada pelan tapi pasti dengan aura ketegasan nya. dan itu lantas tidak menjadikan Nico takut akan aura yang sudah dikeluarkan oleh kakeknya tersebut.


"Trus ..." masih dengan ekspresi datar kakek Bimo bertanya kepada cucunya itu.


"Aku akan menculik Aini..." Sahut Nico sarkas.


"Tak saran no Ojo le... (Aku sarankan jangan nak...)"


"Pernikahan ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkan gadis itu dan juga satu keluarga yang lain, apalagi ini juga termasuk misi yang harus gadis itu jalankan..." sebelah alis Nico terangkat keatas,dia berjengkit heran apa maksud dari kakeknya ini.


"Gadis itu mengemban misi yang tak main main,. jika kau menggagalkan pernikahan yang sudah ditentukan hari dan tanggal nya maka kau secara tidak langsung membunuh nya..." peringat kakek Bimo pelan namun penuh dengan tekanan.


"Apa maksudmu kakek tua..." tanya Nico masih bersikap arogan terhadap kakeknya sendiri.


"nanti kau akan tahu sendiri le... Kakek hanya memperingatkanmu saja sebelum kau menyesal nantinya." setelah mengucap kan kata kata terakhir nya kakek Bimo pun keluar dari mobil Nico .


Nico semakin tidak mengerti "Sebenarnya ada apa ini.. apakah ada sesuatu yang kulewatkan??" batin Nico bermonolog.


Akhirnya Nico pun memutuskan keluar dari mobilnya dan hendak menemui Aini.


"Assalamualaikum..." ucap salam nico


"Waalaikumsalam..." jawab Rina yang nampak sibuk dengan beberapa kegiatan nya dalam membungkus sesuatu,entah apa itu.

__ADS_1


Aini yang melihat kedatangan Nico pun berdiri,lalu dengan senyum manisnya dia menyambut kedatangan Nico.


Nico terpaku ditempatnya melihat senyum manis Aini,dia terpana melihatnya.


"Andai saja senyum itu selalu untuk ku Ai..." batin Nico


"Ehemm... hayoo lagi melamun apa kak..." tanya Aini ramah.


"Ti tidak Ai... aku kemari hanya ingin melihatmu saja" Aini yang mendengar ungkapan kata Nico menatap pria itu intens.


"Maaf..?"


Nico yang keceplosan hanya bisa menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal,nampak cengiran dibibir Nico.


"Kak Nico bantu Aini yah... " pinta Aini.


"Kita lupakan masa lalu kak,aku sudah memaafkan semua orang yang sudah menyakiti ku,dan aku juga sudah bisa berdamai dengan keadaan.


Bagaimana pun menyimpan dendam terlalu lama itu tidak baik..." ucap Aini pelan.


"Kak Nico juga harus bisa berdamai dengan keadaan mulai dari sekarang,Aini akan bantu... kakak anggap Aini adik dan aku akan menganggap kak Nico kakak Aini, karena dari dulu kak Nico memang pantas jadi kakakku" senyum Aini mengembang sempurna,diapun mencoba meraih tangan Nico yang terkepal kuat.


"Tapi kakak tidak bisa Ai .. kakak sangat mencintai mu..." ungkap Nico pelan,tanpa disadari air mata menetes dari sudut matanya yang terpejam.


"Aini mengerti kak... anggap saja kita memang ditakdirkan nggak berjodoh" tukas Aini.


Nico menghela nafas panjang,ada sesak yang tiba-tiba bersarang di dadanya,kini hatinya seolah tak berbentuk lagi.


"Baiklah Ai... kakak akan bantu kamu sebisa mungkin dan akan melindungi mu dari apapun..." kini Nico yang sudah terbuka hatinya bertekad akan melindungi Gadis nya meskipun tak bisa memiliki.


Nico puas jika melihat gadis itu baik baik saja dan bahagia itu sudah cukup baginya.


Kini Aini bisa bernafas lega, " satu masalah sudah selesai" batin Aini


"Kak... jangan marah lagi yah... perbaiki semuanya, lupakan dan maafkan mommy mu dan juga Daddy mu kak,. kasihan mereka,. bagaimana pun mereka hanya ingin yang terbaik untuk mu hanya saja jalannya yang salah..." Nico mengangguk pelan.


"Kakak akan coba Ai... makasih yah..!!" dan diangguki oleh Aini.


"Kakak permisi pulang dulu Ai..."


"Baik,.. hati hati kak" pesan Aini


"Siap..." dengan langkah lebar Nico pergi dari sana setelah berpamitan pada Aini.


Kini setelah dia berada didalam mobil nampak senyum smirk diwajahnya yang kini kembali menampilkan wajah datarnya.


"Let's go play...." kemudian mobil pun melaju

__ADS_1


__ADS_2