Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 86


__ADS_3

Sementara itu kakek Bimo yang sedang bangun dari tapa slira yaitu senam yoga atau dalam bahasa Jawa disebutkan dengan semedi kini sudah membuka matanya.


"Kakek sudah bangun..." Suara khas dari cucunya menyambut rungunya saat ini.


"Sudah berapa hari kakek tidak makan ?? saya sudah menyiapkan makanan untuk kakek, karena aku tahu hari ini kakek akan bangun dari tidurmu kek..." tukas Nico


Meskipun Nico cuek terhadap sekitar nya sebenarnya dia sangat perhatian terhadap orang terdekat nya apalagi dengan orang yang paling dia sayang.


Sebenarnya Nico tahu bahwa hari ini kakeknya akan bangun dari tapa slira nya, Nico hafal betul tentang sang kakek jik sudah melakukan tapa slira jangankan satu dua hari 40 hari pyn kakeknya ini kuat meskipun tak makan atau minum sama sekali.


"Hhmmm... bagaimana dengan kabar semuanya le....??" Nico bergeming tanpa menyahut ataupun menjawab sang kakek,kedua matanya terpejam nampak deru nafas teratur terdengar dari Nico.


" Kau sudah makan...." tanya kakek Bimo mengalihkan pembicaraan kala tak mendapatkan jawaban dari sang cucunya.


" Semuanya baik-baik saja kek... terutama wanitaku dia sangat baik dan semakin..... CANTIK..." sahut Nico sementara kakek Bimo hanya menggeleng kepalanya pelan melihat tingkah cucunya yang masih sama dengan sebelum sebelumnya.


"Saya sudah makan tadi kakek Makanlah agar sehat dan tidak merepotkan ku nanti..." gumam Nico


"Ckk... dasar cucu pintar..." dengan tersenyum manis kakek Bimo pun mulai memakan makanan yang sudah disiapkan oleh cucunya.


"Nampaknya sebagian dari sekte sekte sudah 70 persen sudah berkumpul dititik titik tertentu kek... aku harus menjaga wanitaku agar mereka tidak menyakiti nya,..." Nico diam tak melanjutkan kata kata nya, sedetik kemudian Nico mengambil nafas panjang dan berkata " meskipun Aini sudah menikah dan bukan gadis lagi yang mereka incar sekarang bukan hanya wanita ku tapi jiwa baru yang saat ini sedang bersemayam dirahimnya kek...!!" perih itu yang Nico rasakan saat ini hatinya sakit karena tak bisa mendekati Aini, juga ada rasa kekhawatiran yang teramat sangat dihatinya kala dia tahu bahwa saat ini yang mereka incar bukan hanya wanitanya tapi dua bayi yang saat ini dikandung Aini.


Kakek Bimo membelalakkan matanya dia yakin bahwa telinga nya masih berfungsi dengan baik,. 'apa katanya Aini mengandung' batin kakek Bimo bertanya tanya,


" Apa yang kau katakan itu benar??" tanya kakek Bimo dengan tidak sabar.


Nico mengangguk meskipun dalam keadaan kepala bersandar dengan mata tertutup,kini kakek Bimo sudah hilang nafsu makannya.


Kakek Bimo merasa bahwa ini semakin tidak sesederhana itu, skenario sang hyang agung memang penuh dengan teka teki,trik dan intrik kehidupan.


"Hhhhhhh.... " Nico menoleh kearah sang kakek kala dia mendengar suara helaan nafas panjang dari sang kakek.


"Makanlah kek... misi kit masih terlalu lama dan panjang aku gak mau nanti kakek menyerah sebelum berjuang ingatlah banyak yang harus kita perjuangkan banyak yang harus kita lindungi selain orang orang terkasih,. " kakek Bimo melihat kearah cucunya,kakek Bimo merasa kalau cucunya kini sudah semakin dewasa dalam berpikir.


Kini kakek Bimo merasakan sedikit kelegaan meskipun cuma sedikit, setidaknya cucunya itu bisa berubah tidak seperti dulu yang temperamental.


Perlahan tapi pasti beban yang selama ini setia bertengger cantik dipundaknya seakan melepaskan diri perlahan-lahan,setelah kakek Bimo tak melihat punggung lebar cucunya dengan sedikit enggan akhirnya dia pun melanjutkan makannya yang sempat tertunda tadi.


Tes


Tanpa kakek Bimo sadari bulir bulir bening yang sempat membuat kristal kaca Dimata tua kakek Bimo kini tanpa permisi turun membasahi pipi tuanya.

__ADS_1


Ceklek


"Nico pamit kek... mau nengokin sesuatu" belum sempat menjawab Nico sudah hilang dari pandangan nya,lagi lagi kakek Bimo mendesah nafas panjang,ada sedikit riak kebahagiaan disana meskipun samar,kakek Bimo tahu kemana tujuan nya kali ini.


"Terima kasih kau sudah memaafkan putriku le... meskipun sedikit terlambat,." setelah selesai dengan acara makannya kakek Bimo pun menyusul keluar entah kemana.


##


"Kak Adit sudah bangun??" melihat suaminya menggeliat dan mengerjakan kedua mata elang nya senyum pun terbit dibibir wanita itu.


"Hhmm... sudah berapa lama aku tertidur Ai... ??" sedikit malas Aditya bersender dibahu dipan king size-nya.


" Dua hari... " tanpa menyembunyikan apapun dari suaminya Aini bicara jujur bahwa Aditya tertidur selama 2 hari lamanya.


"Whatt... selama itu sayang... kok bisa??" dengan membelalakkan kedua matanya Aditya tersentak kaget mendengar jawaban istrinya.


"Yah bisa lah... kan kak Adit kalau tidur ngebo..." kekeh Aini sambil menyodorkan air minum agar diminum suaminya itu,dan juga makanan pokok beserta lauk pauknya.


"Tapi Ai.... "


"Udah dimakan dulu nanti aja tanyanya dan bercerita nya say janji akan menceritakan semuanya kepada suamiku yang tampan ini,." sambil menyuapi suaminya Aini tersenyum melihat suami tampannya ini.


" Masuk..." suara Aini menginterupsi.


Ceklek


"Ehhmmm... Bo boleh ma mama masuk ??" ternyata yang tak lain adalah mama Rossa sedikit canggung dan takut kalau kalau Aditya sudah tahu ceritanya lewat menantunya.


"Masuk ma... kak Aditya nampaknya kangen dengan mama..." dengan menampilkan senyum manisnya Aini mempersilahkan mama Rossa untuk masuk sambil tak berhenti menyuapi suaminya.


"Papa juga barusan dari sini ma..." kembali Aini bersuara.


Nampak mama Rossa sedikit gemetar karena takut takut kalau suaminya juga mengatakan yang sebenarnya kepada putranya,mama Rossa hanya tidak ingin Aditya membencinya.


Flashback on


"Aku tidak menyangka kau tega melakukan itu semua kepada putramu ma... dimana letak akal sehat dan pikiran warasmu hah..." mama Rossa terjingkat kaget dengan suara keras sang suami nampak terlihat jelas kemarahan disana.


Yah sedari tadi pak Antoni memang curiga kalau mama Rossa sudah melakukan sesuatu yang pak Antoni sendiri tidak tahu apa yang sudah direncanakan oleh istrinya itu.


Plak

__ADS_1


Mama Rossa tersungkur kala tangan besar suaminya mendarat sempurna dipipi mulusnya.


"Pa... " mama Rossa tercekat kini kedua matanya sudah berjatuhan bulir bulir bening kepipinya.


"Aku kecewa sama kamu Rossa...!!" nampak nafas pak Antoni memburu naik turun wajahnya yang memerah karena amarah yang tertahan.


"Jika terjadi sesuatu dengan putraku bersiaplah kau enyah dari sini..." tak pernah pak Antoni semarah ini, karena menurut pak Antoni kali ini mama Rossa benar-benar keterlaluan.


Mama Rossa pun terduduk dan menangis terisak dia menyesal kenapa mudah sekali dia termakan omongan dari rivalnya dulu yaitu Astri.


Flashback off


"Diminum dulu kak... " Aini menyodorkan susu coklat untuk suaminya.


" No... aku gak mau Ai... susu membuatku eneg dan bikin mual kau tahu kakak gak bisa meminumnya..." Aini dengan lembut menyodorkan kembali minuman itu.


"Sekali ini aja kak... rasanya kayak jus buah yang kakak suka,cobain rasakan heumm...." dengan sedikit ragu Aditya pun mengambil gelas susu dari istrinya, kemudian mendekatkan gelas susu itu kebibir nya.


Setelah beberapa detik kemudian Aditya pun berhasil meminumnya dan setelah rasa minuman itu menyentuh Indra pengecapnya Aditya mau tidak mau harus menghabiskan minuman itu karena rasanya tak jauh berbeda dengan rasa jus kesukaan nya.


"Waahh... ini enak sayang apakah ini susu buatanmu..." Aini hanya mengangguk dan tersenyum.


Setelah selesai dengan acara menyuapi suaminya Aini kemudian beranjak hendak menaruh bekas makan suaminya kedapur sekalian mencucinya.


"Saya tinggal dulu ma..." dengan lembut Aini pamit kepada mama mertuanya. dan diangguki oleh mama Rossa meskipun mama Rossa sedikit canggung dan tidak berani menatap langsung sang menantu.


"Sa... sayang apa kau sudah baik baik saja...??" tanya mama Rossa nampak terlihat dengan jelas gurat wajah kecemasan diraut wajahnya.


_____________


"Ai... "


"Heumm... iya kak...!!"


"Maafkan mama yah...??" Aini mengangkat sebelah alisnya.


"memang mama salah apa kok kak Adit meminta maaf atas nama mama...??" Aini berpura-pura tak mengerti,dia tidak mau suaminya berpikir yang aneh-aneh cukup kejadian kemarin yang membuat dia sedikit tegang takut terlambat menyelamatkan suaminya.


"Terbuat dari apa sebenarnya hatimu Ai..." batin Aditya


"Tidur yukk... besok kan kita akan jalan jalan pagi..." bisik Aini dan diangguki oleh Aditya.

__ADS_1


__ADS_2