
Hafiz ingin sekali menghampiri Aini tapi Dia urungkan ketika melihat bagaimana Aini menggenggam tangan Adit Dengan eratnya.
Ada rasa tidak suka dihatinya ada rasa tidak rela yang mendominasi. Rahangnya tiba-tiba mengeras kedua tangannya pun mengepal.
Hafiz tetap memandang Aini dengan tatapan yang entah. Dia seperti merasakan rindu yah... Rindu yang teramat sangat. Tapi bagi Hafiz saat ini Aini sangat sulit untuk dijangkau karena keberadaan Aditya.
" Kak Adit kita pergi dari sini Aini ingin segera menjauh dari sini Kak" Ucap Aini sambil matanya pun tak lepas dari memandang Hafiz.
Sebenarnya ada rasa tak rela dihatinya dia begitu sangat merindu akan sosok Hafiz tapi takdir berkata lain. Dengan segera Aini pun mengalihkan pandangannya kearah lain dan mengajak Aditya segera meninggalkan tempat itu.
" Tante... Om... Maaf atas kejadian malam ini,. " Ucap Aini sambil membungkuk dan menangkupkan kedua tangan di dada.
" Tidak apa-apa Nak... Terimakasih sudah membantu keluarga Kami '" ucap Antoni dengan tenang dan tegas.
" Pergilah dan tenangkan hati dan segera selesaikan masalah mu setelah itu datang dan kunjungi Kami untuk membahas pernikahan kalian Saya tunggu" kembali Antoni mengucapkan Kata-kata yang tanpa disadari Aini menenangkan nya.
" Baik... Saya permisi dulu Assalamualaikum!!" pamit Aini dan kemudian segera berlalu dari tempat itu.
Sementara Hafiz hanya bisa memandang punggung Aini yang sudah menjauh dari pandangan nya.
" Maaf pak Antoni kami benar benar minta maaf dan..."
" Tidak apa-apa Pak Harun anggap saja live drama yang diperankan oleh Istri Anda" nampak sekali sindiran untuk seorang Harun,tapi memang kenyataannya semua yang dikatakan oleh Antoni sangat benar.
" Kami permisi dulu Assalamualaikum!!" ucap Salam Harun kemudian Diapun menarik tangan istrinya yang masih syok akan sikap Putranya.
Astri masih penasaran bagaimana Hafiz bisa mengetahui rahasianya.
Dengan terpaksa Astri pun mengikuti langkah lebar Suaminya.
Sementara Hafiz masih diam ditempat tanpa disadarinya dan tanpa Aba aba cairan bening pun nampak lolos dari kedua matanya.
Ada rasa yang tidak bisa Dia ungkapkan sama sekali, sambil memegang Dadanya Hafiz seperti seorang pengembara yang kehilangan arah kemana tujuannya dan apa yang dicarinya.
" Dev .. Aku tidak tahu mengapa Dadaku berasa sesakit ini" dengan suara serak dan berat Hafiz mengeluhkan Rasa dan asa kepada Devan sahabatnya.
Devan hanya bisa diam, tak bisa dipungkiri bahwa Diapun juga ikut merasakan sakit karena Cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Hatinya meragu kemana akan dikabulkan rasa Cinta yang kadung tumbuh secara subur dihatinya.
Pasalnya dengan Dia berusaha mendekati Aini meskipun Aini tidak menganggapnya sebagai seorang kekasih setidaknya Dia bisa jadi seorang Kakak buat Aini.
Tapi kenyataannya berbeda sekarang tak bisa dipungkiri bahwa Aini memnag sulit untuk dijangkau oleh tangannya.
" Devan... Sejak kapan Aini punya hubungan dengan Aditya??" tanya Hafiz Tiba tiba membuyarkan lamunannya.
Dengan cepat Devan pun dapat menguasai keadaan dan Diapun berusaha bersikap tenang dan sewajarnya juga senetral mungkin agar Hafiz tidak tahu bahwa Dirinya juga tertarik bahkan sangat mencintai seseorang yang pernah jadi kekasih Hafiz.
" Entahlah Fiz... Aku juga baru tahu hari ini bahkan ditempat ini pula" jawab Devan sekenanya dan meyakinkan Hafiz.
" Kita pulang..." titah Hafiz kemudian kepada Devan.
" Hhmm... Ok" Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Devan.
###
Sementara ditempat lain nampak Aini hanya diam tanpa ada suara pun yang keluar dari bibirnya.
Aditya masih setia dalam kediamannya, bukannya Dia tidak ingin bertanya tapi sulit sekali untuk keluar apa yang hendak ditanyakan pada Gadis disampingnya ini.
Aditya takut Aini tersinggung dengan pertanyaan nya dengan berusaha menahan Rasa Aditya pun menarik nafas pelan kemudian dengan perlahan pula Diapun menghembuskan nafasnya secara perlahan-lahan tapi pasti.
" Eehhmmm... Ai...." sedikit ragu Aditya berusaha untuk memulai suaranya.
" Bertanya lah jangan dipendam Aku tahu apa yang hendak Kak Adit tanyakan. Tapi alangkah baiknya jika Kak Aditya sendiri yang menanyakan langsung ke Saya Kak..." ungkap Aini perlahan.
Kedua mata Aditya pun membola Bagaimana Dia bisa lupa akan Aini yang bisa dengan mudah membaca pikiran orang.
" Ai... Apakah Kamu masih mencintai Hafiz Ai... " akhirnya lolos juga pertanyaan itu dari mulut Aditya.
Meskipun dia merasa sesak akan pertanyaan nya tersebut.
" Iya Kak... Maaf..." Jawab Aini dengan tegas.
" Tapi Aku juga ingin melupakannya Kak... Bagaimana pun keadaan nya Kami sangat jauh berbeda dan selama nya tak akan bisa bersatu meskipun Kami memaksanya" sambil memejamkan matanya Aini pun sedikit bergetar dan tanpa aba-aba cairan bening pun berjatuhan dari muaranya.
__ADS_1
" Bahkan Rasa itu sampai saat ini masih sama, tapi... Aku hanya ingin satu hal Kak... Maukah Kak Aditya membantuku agar Aku bisa dengan segera melupakan Kak Hafiz'??? " Masih dalam keadaan terpejam Aini pun sedikit terisak.
Tak bisa dipungkiri bahwa ada sebuah sayatan tak kasat mata yang mengiris secara perlahan dihati Aditya. Ada rasa sakit yang tak biasa tatkala Aini mengungkapkan perasaannya bahwa sampai saat ini pun Aini masih mencintai Hafiz.
Kedua tangan Aditya pun mengepal secara tak sengaja. Tapi sesakit apapun yang Aditya rasakan saat ini bukanlah Apa-apa dibandingkan rasa Cintanya yang begitu besar terhadap Aini.
Sehingga Aditya pun mampu menguasai keadaan dan kondisi yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Dalam Hati pun Aditya bersumpah bahwa Dia ingin Aini segera melupakan Laki laki itu dan hanya mencintainya yah .. Hanya kepada Dirinya lah Cinta Aini berlabuh bukan Pada Hafiz ataupun Laki laki yang lain lagi.
" Aku pasti akan membuat mu lupa akan seseorang yang pernah singgah di hatimu Ai..." hanya itu yang mampu keluar dari mulut Aditya
" Kau bisa memegang Kata kata ku Ai... Bahkan bila perlu Aku bersumpah atas nama Tuhan." kembali Aditya berusaha meyakinkan Aini.
" Aku sangat mencintaimu Ai... Sangat" lanjut Aditya pun mengungkapkan rasa yang menumpuk didada meskipun hanya itu yang mampu keluar diri mulutnya setidaknya bisa mengeluarkan beribu-ribu tanya yang sudah disiapkan tapi sebagai perwakilan dari semua pertanyaan nya hanya sebuah ungkapan rasa yang mendasar dan berbobot Aditya pun merasa kelegaan dalam Dadanya seolah-olah bebannya sedikit berkurang.
Dengan lembut Aditya pun mengusap air mata Aini yang sedari tadi keluar seolah olah tidak mau berhenti dari muaranya.
" Astaghfirullah.... Astaghfirullah.... Astaghfirullah.... " Aini beristighfar lirih dan itu masih bisa didengar oleh Aditya.
" Apa Kak Aditya yakin dengan perasaan Kakak?? " tanya Aini tanpa sedikitpun membuka matanya.
Dengan memberanikan diri Aditya berusaha menenangkan Aini dengan mencoba dan sedikit memiliki keberanian dengan berusaha memeluk Aini.
" Ai... Kau bisa bersandar padaku dan ungkapkan segala keluh kesahmu padaku dan Aku bersedia dan berusaha menjadi sesuatu yang bisa Kau andalkan dan Aku janji tidak akan meminta sedikit pun balasan Darimu" ucap Aditya menenangkan dan sedikit takut jika Aini memukul nya nanti karena dengan berani Dia berusaha memeluknya.
Bagaimana pun juga Aditya tahu jika Aini sangat anti bersentuhan dengan lawan jenis. Tapi apa yang dilakukan Aditya saat ini Dia hanya berusaha membuat Aini tenang dan bisa jadi tempat Gadis itu bersandar.
Tanpa diduga Aini pun membalas pelukannya. Sambil terisak dan menangis dalam kondisi yang tidak bisa Dia gambarkan saat ini.
Aditya pun nampak tersenyum bahagia bahwa Aini sudah bisa mempercayai Dirinya. Semakin erat lah Aditya memeluk Gadis itu yang nampak kuat tapi rapuh Dimata Aditya.
###
Nampak dari kejauhan Dua pasang mata mengawasi dari jauh. Ada gelenyar aneh dan rasa yang sangat tidak terkondisikan.
Siapa lagi kalau bukan Hafiz dan juga Devan. Dua duanya sudah sangat suram melihat kedekatan Aini dan Aditya.
#Maaf baru bisa update...#
__ADS_1