
'Aini aku akan berusaha untuk menjadi tempat mu berkeluh kesah dan bergantung padaku meskipun...' Aditya pun menghela nafasnya panjang.
" Ayo Kak... " ajak Aini dan Aditya pun tersadar dari lamunannya.
"Ok..." sambil berlalu mereka berdua menuju mobil yang terparkir di halaman tak lama kemudian mobil pun berlalu.
Tidak ada perbincangan didalam mobil itu, yang ada hanya kesunyian dan hanyut dalam pikiran masing-masing.
Setelah hampir empat puluh lima menit mobil Aditya sampai didepan rumah Pak Harun.
Dan setelah turun dari mobil Aditya dan Aini segera berjalan menuju teras dan depan pintu rumah itu .
Ting Tong Ting Tong Ting Tong
Tak lama kemudian pintu rumah terbuka dan muncullah dihadapan Aini dan Aditya sekarang sesosok wanita yang tak lain adalah ibu dari Hafiz.
" Dasar j***** beraninya kamu kemari hah .. Mau apa kamu datang kemari tidak puas kamu sudah mempermalukan saya didepan umum hah...." dengan setengah berteriak Astri mengumpat dan dengan nafas naik turun.
" Assalamualaikum Nyonya... Saya datang kemari hanya untuk menemui Kak Hafiz'. Dan aku yakin Nyonya Astri tak ada hak untuk melarang saya" Ucap salam Aini pada Astri, meskipun Astri masih bersikap arogan dan menyalahkannya Aini masih bisa dan mampu menguasai perasaan dan keadaan dengan tenang dan kesopanan.
" Kau...." tangan Astri pun hendak menampar Aini dan belum sempat mendarat di pipi Aini tangan Astri pun masih di udara dan membeku ditempat seolah-olah ada tangan yang mencegahnya.
Dan ternyata tangan Aditya lah yang mencegah akan hal itu.
" Kamu pikir dengan mudah kamu bisa menyakiti kekasihku." dengan tatapan mengintimidasi dan tajam Aditya kembali berkata tajam dan mengskak mat Astri.
Astri pun membola begitu juga dengan Aini, dia tak menyangka jika Aditya bisa berkata demikian.
" Jika seujung jaripun bagian dari tubuhmu menyentuh kekasihku aku anggap kamu juga menyentuh dan menyakitiku, dan kau tahu apa itu artinya nyonya...??"
" Aku tidak akan segan untuk menyerangmu balik meskipun kamu seorang wanita tua renta karena menurut pandangan ku kau tak ubahnya seperti seorang penyihir dan iblis dihadapanku, maka jangan salahkan aku jika aku pun tak segan padamu." terang Aditya pelan dengan panjang lebar.
Dengan sedikit gemetar dan rasa ragu dan ketakutan Astri pun menurunkan tangannya.
" A aku tidak akan mengizinkan kalian datang kerumahku dan a..."
" Siapa yang mengizinkanmu untuk mengusir tamuku, bukankah aku sudah mengusirmu dari sini kenapa kamu belum pergi juga dan kamu sudah bukan siapa siapa disini kamu tidak berhak apapun dengan yang ada dirumah ini." tiba tiba suara bariton memutus kalimat Astri yang hendak mengusir Aini dan Aditya.
" Astri Kusuma Ridwansyah.... Mulai detik ini Aku Harun Atmaja mentalakmu dengan talak tiga dan kamu juga bukan istriku lagi, dan jangan bertanya apapun lagi bersyukurlah kamu aku tidak menuntut mu dipenjara dengan segala perbuatan mu pada Hafiz dan juga temannya Candra".
Tak ayal lagi mata Aini dan Aditya pun membola, jika dipikiran Aditya sebenarnya jalan ceritanya seperti apa hingga sampai membuat Pak Harun marah hingga sedemikian rupa.
Berbeda dengan Aini dia hanya bisa tersenyum dan bersikap tenang karena Diapun juga tahu akan apa yang terjadi dengan Hafiz dan Candra teman sahabat sekaligus kakak baginya.
__ADS_1
Astri pun lunglai jatuh kebawah dengan Isak tangisnya tanpa pembelaan darinya Dia masih tidak menyangka bahwa suaminya akan semarah ini padanya.
Menyesal pun tidak berguna karena semua sudah terlanjur ibarat kata *Nasi sudah menjadi bubur* mungkin itu pribahasa yang tepat untuk Dia.
" Cepat angkat kaki dari sini dan kemasi barang mu jangan sampai aku menyuruh seseorang untuk menyeret mu keluar dari sini" Perintah Harun dingin dan datar tanpa memandang sedikit pun pada Astri.
"CEPATT KELUARR...." dengan sekali bentakan Astri pun kaget dan segera bangkit dengan setengah berlari pergi meninggalkan ruangan itu.
Belum sampai Astri dipintu ruangan dia melirik Aini dan hendak mengatakan atau bahkan mungkin hendak mengumpat tapi...
" Jangan coba coba kau menyalahkan dan mengkambinghitamkan seseorang atas perbuatanmu sendiri, aku sudah muak dengan dramamu" tanpa menoleh seolah olah Pak Harun tahu apa yang hendak Astri lakukan.
Seperti sebuah palu Godam yang menghantam berkali-kali pada tubuh Astri, Diapun gemetar dan dengan cepat diapun berlalu dengan sedikit tertatih Astri pun pergi dari situ.
Tak lama kemudian
" Nak Aini dan Nak Aditya maaf atas kejadian tadi,.. Mohon jangan dimasukkan hati atas sikap mantan istri saya" ucap Pak Harun dengan lembut pada tamunya.
Mereka berdua pun hanya mengangguk dan sedikit tersenyum.
" Saya kemari ingin mengetahui keadaan Kak Hafiz Om..." ucap Aini to the point.
" Oh iya Nak Aini mari ikuti Saya..." ajak Pak Harun kemudian dan meminta Aini dan Aditya untuk mengikuti langkahnya.
Pintu kamar itupun terbuka dan nampaklah sekarang Hafiz terbaring di ranjang pesakitan nya dengan dipenuhi selang dibeberapa bagian tubuhnya dan seperti nya kali ini lebih parah dari sebelumnya.
" Terima kasih Nak Aini karena sudah membantu Saya lewat Dokter Devan karena sudah memberitahu nya tentang anak saya, terlambat sedikit saja mungkin anak saya sudah tidak tertolong lagi" ucap Pak Harun sedikit bersuara parau
" Sama sama Om... Saya hanya melakukan nya atas dasar kemanusiaan" ucap Aini tegas dan tenang
Meskipun mulut dan tubuhnya bersikap tenang dan biasa tapi tidak dengan hatinya.
Seperti ada ribuan pisau berkarat yang tajam menghujam tepat di jantung nya, dan Aini mampu menutup jiwa rapuhnya dengan bersikap tenang dan biasa saja.
Flashback on.
Dengan cepat Devan pun menelepon beberapa Dokter yang dulu menangani Hafiz sebelumnya.
Tidak berapa lama kemudian Mobil Ambulans dan beberapa dokter pun sudah ada ditempat itu.
Setelah semua selesai hanya dalam waktu beberapa menit saja kamar Hafiz pun seolah disulap menjadi sebuah ruangan seperti dirumah sakit.
Banyak alat terpasang dan beberapa selang pun menempel ditubuh Hafiz.
__ADS_1
" Om... Saya permisi dulu kami akan melakukan rapat penting perihal yang dialami Hafiz setelah melakukan beberapa pemeriksaan dan beberapa langkah kedepannya kayak gimana dan seperti apa kami akan berusaha yang terbaik untuk Hafiz Om..." dengan susah payah Devan menjelaskan meskipun agak kurang jelas Harun hanya bisa menganggukkan kepalanya.
" Baik Om kami permisi dulu..." pamit Devan dan segera berlalu dengan beberapa tim Dokter tadi yang sudah selesai melakukan beberapa pemeriksaan terhadap Hafiz.
Flashback off.
" Nak Aini a... Ap apakah Nak Aini bisa melakukan hal yang sama seperti yang Nak Aini lakukan seperti dirumah sakit waktu itu agar Putraku kembali sadar?? Mohon maaf sebelumnya jika permintaan saya agak berlebihan" pinta Harun sendu sambil pandangan nya tak lepas dari menatap Putranya.
" Ap... " Aditya hendak protes tapi sebelum itu terjadi Aini sudah mencegahnya dengan menggenggam erat tangan Aditya.
Detik itu juga Aditya pun terpaku kala tangan lembut Aini menyentuh dan menggenggam nya.
Saat Aditya menoleh kearah Aini nampaklah Aini dengan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mencegah Aditya agar tak melakukan apapun.
Dengan sedikit bernafas berat Aditya pun urung dan hanya bisa diam.
Bagaimana mungkin ada seorang yang tidak tahu malunya meminta kekasihnya melakukan dan meminta sesuatu yang dia sendiri pun tidak tahu apa itu.
Yang jelas Aditya tahu tapi dia tidak bisa menjabarkan nya, dan itu akan membuat Aini akan kehilangan sedikit kesadaran.
Aditya sudah membaca artikel tentang seorang yang seperti Aini, yaitu seorang INDIGO dari sanalah Aditya tahu banyak hal meskipun itu dirasa kurang cukup bagi Aditya.
" Maaf Om... Bukannya Saya tidak mau tapi itu hanya bisa dilakukan sekali saja, kalaupun itu bisa dilakukan untuk yang kedua kalinya takutnya Kak Hafiz akan sadar dan dalam keadaan gila" jawab Aini
" Kalau Saya melakukannya lagi dan Kak Hafiz sadar kalau tidak gila tapi tidak akan lama Kak Hafiz bisa bertahan." kembali Aini menjelaskan.
" Maksud Nak Aini apa..?" kembali Pak Harun mengajukan pertanyaan
Pak Harun sedikit mengernyitkan dahinya, sedangkan Aini hanya tersenyum penuh arti.
" Bisa dilakukan Om tapi...." Aini terdiam dan sambil tak lepas pandangan nya menatap Hafiz Diapun menghela nafas panjang.
Hhhhhhh
" Salah satu dari kami yang akan selamat kalau Kak Hafiz mampu bertahan tapi saya yang akan tidak selamat dalam kata lain *Mati* itulah yang akan terjadi Om" jelas Aini.
" Tidak Ai... Jangan lakukan itu bagaimana denganku Ai..." Aditya menyela bagaimana mungkin dia rela Aini melakukan itu tidak itu tidak boleh terjadi.
" Ai... pikirkan sekali lagi aku mohon" pinta Aditya memelas.
Aini hanya diam terpaku pikiran nya pun menerawang jauh dari lubuk hatinya bagaimana dia bisa tega melihat pujaan hatinya terbaring tak berdaya.
" Kak Adit ini bisa kita bicarakan nanti setelah dari sini Saya akan jelaskan semuanya pada Kak Adit." pinta Aini lembut.
__ADS_1