Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 30


__ADS_3

Tuk tuk tuk


Hi hi hi


Eehhmmm, suara Aini disaat matanya belum terbuka sepenuhnya,samar Aini mendengar ketukan diluar kamar dan suara tertawa bocah perempuan.


"Gina.." gumam Aini menebak


"Hai kakak ,... apakah kak Aini merindukan ku,.." dengan senyum manis dan sedikit tertawa nampak sesosok gadis kecil pucat menghampiri Aini.


"Heemm... kau sudah kembali, gimana kabar kedua orang tuamu?? kamu nyaman tidak tinggal disana heemm??" kini Aini hendak keluar untuk mandi.


"He ehmm..." Gadis berwajah pucat itupun mengangguk senang.


"Papa dan mama akan punya adik dan itu masih diperut mama,.." ujarnya senang tapi sedetik kemudian dia pun berwajah sendu.


"Waahh... bagus dong akhirnya kamu mempunyai adik juga selamat yah Gina yang cantik dan imut kesayangan kak Aini..." dengan semangat Aini memberi selamat pada gadis pucat itu.


"Kenapa.. kok kamu sedih heumm...?? apakah ada yang salah dari ucapan kakak??" Aini bingung saat melihat perubahan wajah gadis pucat itu dengan drastis.


"Hhmm,.. setelah punya adik aku hanya merasa mereka pasti akan segera melupakan ku,itu yang Gina takutkan kak,.. mereka hanya mampu mengenang ku tapi tidak bisa memelukku disaat aku kesepian" masih tertunduk sedih lambat laun Aini mendengar suara Isak tangis gadis berwajah pucat itu


Hhhhh


Aini pun menghela nafas pelan dia tidak tahu kalau Gina akan berfikir seperti itu,kalau boleh Aini jujur kemungkinan seperti itu pasti ada tapi Aini yakin bahwa kedua orang tua Gina gk bakalan bisa melupakan anak pertama mereka yang hilang.


" Apa yang kamu pikirkan gadis nakal heumm... tidak mungkin kedua orang tuamu bisa melupakan gadis yang cantik dan imut ini percayalah pada kakak..." sugesti Aini pada gadis pucat itu.


" Tapi Gina takut kak... hiks hiks" nampak Aini memutar matanya sendu.


"Baiklah katakan apa yang bisa kak Aini lakukan heumm..." Aini bertanya sambil ikut menunduk,tidak tapi mengintip wajah Gina dari bawah .


"Iiihhh... kak Aini jahil ah... masak orang nangis diintip" sambil menutupi wajahnya gadis pucat itupun berpindah tempat dan dalam sekejap sudah ada diatas lemari Aini.


" Ya udah kalau gak mau dibantuin kakak pura pura gak tahu aja kalau Gina ada disini." sedikit terkikik Aini berpura pura merajuk.


Syutt


"Eh... baik Gina mau kak Aini bantuin Gina..." dengan antusias Gina pun sekejap sudah ada didepan Aini.


Meskipun sedikit kaget tapi Aini senang akhirnya gadis itu menyerah.

__ADS_1


"Katakan... " sambil mengangkat sebelah alisnya Aini meminta Gina segera mengucapkan permintaan


"Bisakah kak Aini bicara sesuatu pada papa dan mama,.. Gina pingin tahu apa yang dirasakan papa dan mama disaat Gina gk ada disana apakah mereka masih merindukan ku dan ..."


"Cukup Gina ,.. jangan banyak banyak nanti kak Aini bingung ngomong nya gmn.


Sedikit berfikir Aini pun menyanggupi


"Oke ,.. nanti kak Aini bantu tapi nunggu waktu yang tepat oke sayang" senyum sumringah nampak jelas diwajah gadis berwajah pucat itu.


"Baik.. Gina tunggu dan sekarang Gina mau pulang dulu" setelah mengangguk cepat Gina pun segera menghilang dari hadapan Aini.


Wussss


Aini pun menggeleng geleng kan kepala gemas "Dasar" dengan langkah lebar Aini pun segera menuju kamar mandi sebelum subuh datang.


Pagi yang petang kini sudah terang benderang dan Aini pun bersiap hendak berangkat kerja tapi dia dikejutkan dengan ketukan pintu rumahnya.


Kedua mata Aini terbelalak kaget pasalnya yang datang adalah orang yang tidak ingin ditemuinya saat ini.


Aini benar benar ingin menghindari pertemuannya dengan pak Harun ayah dari Hafiz.


"Assalamualaikum nduk..." ucap salam pak Harun sedikit merasa canggung karena dia dengan sengaja mengingkari janjinya untuk tidak menemui gadis itu lagi


" Bolehkah saya masuk Aini...??" pinta pak Harun.


"Monggo pak,.. " setelah mempersilahkan duduk Aini pun hendak menyiapkan minuman hangat untuk pak Harun tapi dengan cepat pak Harun menolak agar tidak usah repot-repot karena tujuannya hanya sebentar.


Aini pun mengernyitkan dahinya dia penasaran 'ada apa gerangan dengan laki laki ini apakah ada sesuatu yang terjadi dengan kak Hafiz' batin Aini.


"Apakah terjadi sesuatu dengan kak Hafiz' Om...??" tanya Aini tidak sabar.


Diapun berfikir bagaimana mungkin Hafiz tidak baik baik saja karena dia berfikir sudah melakukannya dengan benar dan tidak ada kesalahan sedikitpun.


Mengerti akan kegundahan gadis itu pak Harun pun menginterupsi bahwa hafiz baik baik saja hanya saja pak Harun ingin agar Aini mau menemui putranya sebentar saja.


Aini yang mengerti maksud kedatangan pak Harun pun jadi merasa wahh... bagaimana pak Harun bisa mengingkari apa yang sudah dijanjikan.


Kedua alis Aini pun mengkerut ,tidak dia tidak mau menemui hafiz dia takut hatinya kembali lemah meskipun sekarang sudah ada Aditya tapi tidak menutup kemungkinan bahwa Aini tidak luluh.


Bagaimana pun juga dia cinta pertama Aini nampak Aini menggelen 'tidak aku tidak mau' batin Aini.

__ADS_1


" Maaf om... Aini tidak bisa apa yang sudah Aini katakan tidak mungkin Aini jilat kembali, tolong jangan paksa saya" sedikit menunduk Aini mencoba untuk menutupi matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Om sudah janji kan... tepati janji Om saya tidak suka dengan orang yang sudah mengingkari janjinya,.. atau... om mau kak Hafiz kembali koma?? Aini bisa melakukan itu!!" tegas Aini,


Yah,dia harus tegas kalau dia tidak melakukan itu justru pak Harun makan memanfaatkan kebaikan Aini yang tidak ingin melihat orang lain kesusahan apapun itu bentuknya.


Kelemahan Aini hanya satu terlalu perasa terlalu peka dan terlalu baik pada semua orang dan pak Harun tahu itu.


"setidaknya lihatlah dia dari jauh nak... hati om sakit melihat putra om seperti kehilangan separuh jiwanya" tergugu pak Harun bergetar tubuhnya nampak kedua bahunya naik turun tanda bahwa laki laki itu memang menangis.


"Astaghfirullah..." Aini pun semakin tidak tega,apa yang harus dia lakukan sekarang Aini bingung.


"Pulanglah Om... Aini tidak bisa berjanji tapi... Ah... lihat nanti saja om... maaf Aini harus kerja takut telat om" Aini pun berdiri agar laki laki itu juga ikut berdiri kemudian berlalu dari tempatnya.


Sesuai perkiraan Aini akhirnya pak Harun pun pergi dari tempat itu, kemudian diapun berlalu tapi beberapa detik kemudian


"Assalamualaikum Ai... mau berangkat kerja kan ayo..." Aditya Nampak dengan senyum manisnya,dan Aini kaget pasalnya Aditya datang dengan tiba-tiba.


'Apakah Aditya tahu pak Harun kesini dan mendengar semuanya astaghfirullah... ' Aini membatin was was.


" Ai... kok malah melamun ayo .." sambil mengibas ngibaskan tangannya Aditya membuyarkan lamunan Aini.


Sedikit cengiran Aini pun mengangguk kemudian diapun masuk kedalam mobil yang sudah dibukakan pintu nya oleh Aditya.


" Kak Adit melihat dan mendengar semuanya kan??" tanpa basa basi Aini pun ti the poin bertanya.


"Iya.." masih dengan senyumannya yang manis.


" Jangan khawatir kakak mengerti kok Ai..." sambil mengedipkan sebelah matanya Aditya masih setia dengan senyuman manisnya.


"Jangan terlalu baik padaku kak..."


Kini dahi Aditya pun mengkerut dan menoleh kearah Aini.


"Aini takut menyakiti kak Aditya.." masih dengan pandangan kosong.


"Apapun itu aku mencintaimu Ai.. dan cinta ini tak beralasan dan tanpa alasan kenapa dan bagaimana yang jelas cinta yang kumiliki untuk mu adalah nyata"


Sontak Aini pun terkesima dengan pernyataan Aditya.


"Sudah jangan terlalu banyak berfikir..." sambil mengacak rambut Aini gemas.

__ADS_1


"Kau terlalu baik kak..."


__ADS_2