Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 47


__ADS_3

Noah yang sudah sedari siang sampai sore menunggu Hafiz kembali ke kantor gelisah pasalnya tidak ada kabar dari tuannya sementara tuan Harun berkali-kali menelepon nya menanyakan tentang Hafiz.


Entah kenapa Pak Harun sangat khawatir hari ini tentang putranya berkali-kali dia menghempaskan nafas guna mengusir kekhawatirannya.


Karena itulah pak Harun menelpon Noah ingin menanyakan tentang keadaan putranya, sementara Noah sendiri juga gelisah dia teringat kejadian siang tadi diam diam Noah memperhatikan Tuannya terlihat sangat tidak baik-baik saja.


Drrrttt Drrrttt


Terdengar bunyi ponsel disaku jasnya Noah buru mengambil ponselnya dan melihat bahwa disana tertulis nama CEO Hafiz,kini Noah sedikit bernafas lega karena orang yang ditunggu kabarnya menelepon.


" Hallo Tuan..." jawab Noah


"Noah... hari ini kau bawa saja berkas hasil meeting nya bersama berkas berkas yang lain,. " Hafiz diam beberapa saat kemudian " Besok siang aku akan kembali kekantor dan tolong kalau ayahku bertanya tentang keberadaan ku katakan aku sedang keluar kota oke.. Tutt..." Noah pun mencebik kasar.


" Ckk Dasar bucin... karena itulah aku tidak mau mengenal wanita,Huft... wanita itu sangat rumit dan menyusahkan" gumam Noah sedikit kesal.


"Untung Bos coba kalau orang lain sudah pasti tak pukul kepalanya biar gak bucin lagi... WANITA MEMANG RUMIT" Noah sedikit kesal.


Noah menghempaskan nafas kasar "memang apa hebatnya gadis yang bernama Aini itu?? bahkan pak Harun pun begitu hormat dan sungkan padanya " Noah bermonolog.


Setelah selesai dengan beberapa berkas Noah mengumpulkan jadi satu kemudian segera membawanya pulang biar besok bosnya yang memeriksa sekali lagi.


Sementara Elena kini sudah berada dikantor Nico entah kenapa dia ingin sekali mengunjungi Nico hari ini, Elena masuk begitu saja kedalam kantor Nico padahal sekretaris Nico sudah berkali-kali menahan agar elena jangan masuk dulu sebelum CEOnya itu kembali.


Tapi elena dengan angkuhnya tak menggubris apa yang sekretaris itu ucapkan dengan dalih elena mengatakan bahwa Nico adalah kekasihnya.


Kini asisten Nico yang bernama Alby sudah sampai kantor dari pertemuan bisnisnya bersama Hafiz tadi siang.


Ting


Pintu lift terbuka kemudian keluarlah Alby dengan pandangan dingin dan datar tanpa sebuah senyuman hendak menuju ruangan Nico.


"Tuan Alby tunggu..." ucap sekretaris Nico yang mencegah Alby yang akan memutar handle pintu ruangan Nico.


"Ada apa..." jawab Alby tanpa ekspresi melihat Hanim sekretaris Nico.


Glekk


Hanim yang melihat wajah datar Alby yang menjawab dengan suara dingin Hanim menelan salivanya kesusahan karena tercekat ditenggorokan nya.


"I itu diruangan tuan Nico ada nona Elena tu..."


" Kenapa kau tidak mencegahnya." kini Alby sedikit marah lancang sekali wanita itu masuk keruangan bosnya tanpa seijin bosnya.

__ADS_1


Karena selama ini tidak ada seorang pun yang berani masuk jika bukan tuan Nico sendiri yang menginginkannya.


"Su sudah tuan tapi nona Elena marah katanya dia adalah kekasih tuan Nico" kedua mata Alby pun mendelik rahang nya mengerat marah.


"Lancang..." tanpa menunggu lebih lama lagi Alby masuk dengan tergesa,berani sekali wanita jala** itu memasuki ruangan CEO nya.


Ceklek


"Apa yang kau lakukan disini nona... siapa yang menyuruhmu memasuki ruangan pribadi tuan Nico" sedikit menahan marah Alby berusaha menahan emosi.


"Heii... kau hanya kacung jangan berani berani kamu membentak ku" sorot mata elena meremehkan bibirnya tersenyum sinis melihat wajah Alby yang memerah.


Elena duduk dikurai kebesaran Nico dengan menyilangkan kakinya dan dengan angkuh melirik Alby yang berusaha menahan emosinya.


"Terserah apa yang kau katakan nona segera pergi dari ruangan ini atau saya akan menyeret anda keluar dari sini" Alby masih berusaha keras menahan emosinya tangannya juga mengepal kuat, sebenarnya dia sungguh sudah tidak sabar lagi untuk menyeret wanita ini keluar dan menghempaskan nya dijalan.


"Cihh... kacung aja belagu" hilang sudah kesabaran Alby dengan langkah lebar dia maju kearah dimana Elena berada dan dengan tangan besarnya diapun menarik pergelangan tangan Elena dengan kasar kemudian tanpa belas kasih Alby menyeret wanita itu kasar,hilang sudah kesabaran Alby sedari tadi dia berusaha dengan sabar menahan agar tidak tersulut emosinya tapi dengan entengnya wanita itu memprovokasi nya dan sekarang habislah sudah kesabarannya.


Bugh


"Auw... sakit " Alby menghempaskan tubuh elena keluar ruangan Nico dan sebelum elena bangkit dari jatuhnya Alby segera mengunci pintu ruangan Nico agar wanita itu tidak bisa masuk kembali setelah itu kuncinya dia masukkan ke saku bagian dalam jasnya.


"Heii dasar anj** kau itu cuma pesuruh berani beraninya kau melemparkan keluar hah..." sedikit tertatih elena bangkit untuk berdiri kemudian dia hendak menyerang Alby tapi urung dia lakukan dia merasakan pinggang nya sakit sekali karena jatuhnya tidak elegan sama sekali.


"Sudah saya katakan untuk keluar tapi anda berkali-kali memprovokasi saya,anda tahu... selama ini tidak ada seorang pun yang berani memasuki ruangan CEO tanpa ijin dari tuan apalagi anda WANITA jala** yang hanya tinggal ngangkang untuk mendapatkan kehangatan" tanpa ampun dan saringan kata Alby langsung menohok kata kata umpatan untuk Elena,


Kalau boleh jujur Alby sangat tidak menyukai elena bukan hanya binal dia juga suka minta ini dan itu kepada CEO nya untuk kesenangan pribadinya,'cihh... benar benar Mura***' batin Alby masih berusaha menahan segala umpatannya.


"Pergilah anda dari sini sebelum kesabaran saya habis nona..." ucap Alby sedikit mengancam.


Bukan tanpa alasan dia melarang wanita itu masuk ruangan CEO itu semua juga atas perintah langsung CEO nya, alasannya adalah karena Nico paling tidak suka sembarang wanita masuk kecuali ibu adik perempuan nya dan sekretaris nya selain itu tidak diijinkan.


"Tidak... aku tidak akan mau pergi sebelum Nico datang kesini dasar anj** beraninya kamu dengan wanita..." dan segala umpatan umpatannya wanita itu tidak berhenti mengacau sampai disitu.


Alby pun yang sudah tidak ingin meladeni elena pergi keruangan nya hendak menelepon Nico.


Setelah beberapa saat telepon pun diangkat " Tuan anda kedatangan tamu tak diundang yang menyebalkan namanya nona Elena tadi dia sudah berani memasuki kantor anda dan duduk dikursi anda dengan angkuh mengatakan bahwa anda adalah kekasihnya dia juga mengatakan hal ini pada sekretaris anda sehingga Hanim tidak berani melarang dia masuk dan sekarang dia berteriak teriak mengacaukan seisi kantor tanpa malu segeralah kembali kekantor atau saya tidak akan punya kesabaran lagi" kini nafas alby terengah engah dia juga mengatakan semuanya dengan sedikit bernafsu ingin membunuh.


Sedari tadi dia sudah menahan emosinya agar tidak menghajar wanita itu karena itulah dia segera pergi keruangan nya.


"Baik saya tunggu secepatnya..." Alby memijit ruang diantara alisnya kepalanya pusing mendengar umpatan umpatan Elena yang tidak ada capeknya sedari tadi.


Setengah jam kemudian Nico pun sampai didepan perusahaan nya,dia juga enggan untuk bertemu Elena wanita itu lama kelamaan jadi sangat menyebalkan.

__ADS_1


Kalau saja bukan karena Alby yang menelepon nya yang memberitahukan tentang elena yang mengamuk dikantor nya dia tidak akan kembali kekantor,Nico tahu sifat Alby yang tidak punya kesabaran ekstra apalagi jika soal wanita Alby bahkan tidak punya belas kasihan sama sekali tanpa memandang gender Alby juga sedikit punya jiwa psikopat.


Pernah suatu kali dia tidak sengaja menabrak seorang wanita tanpa lecet dan tanpa ***** bengek lainnya wanita itu dengan marah meminta ganti rugi tapi Alby tahu kalau wanita itu hanya modus akhirnya Alby pun menghajar wanita itu sampai babak belur barulah dia memberi beberapa uang untuk ganti rugi.


Apalagi ini soal elena sedikit banyak Nico tahu kalau Alby tidak menyukai wanita itu. Terdengar sebuah suara keras dan Nico tahu siapa itu.


"Hei... kamu ambilkan aku minum tidak tahukah kamu kalau aku ini haus ??" perintah Elena pada Hanim sekretaris Nico.


"Ckk... lagian siapa suruh berteriak teriak gak jelas anda sangat merepotkan nona..." elena mendelik marah.


"Lancang sekali mulutmu,awas kamu yah kalau Nico datang aku akan mengadukan mu dan menyuruh nya memecatmu" Hanim yang melihat keberadaan Nico yang diam dipinta sudah tidak berani menjawab perkataan elena dia takut apa yang dikatakan elena akan terjadi


"Hhhh... baiklah saya ambilkan anda minum tunggulah disini"


"Tidak usah..." Elena dan Hanim tersentak dan menoleh kearah dimana suara itu berada.


"Nic .. Nico... kau darimana saja lihatlah sekretaris mu berani kurang ajar padaku apalagi asisten mu sangat kurang ajar sekali kau harus memecat mereka untuk ku" Nico mengangkat sebelah alisnya.


"Memecat mereka untuk mu? memang siapa kamu berani menyuruh ku memecat mereka untuk mu?? " dengan suara datar dan pelan wajah Nico yang tidak bersahabat apalagi suaranya yang terkesan dingin membuat elena memikirkan ulang kata kata nya.


Hanim menunduk sambil terkikik geli ingin sekali dia tertawa untuk mentertawakan Elena yang dengan percaya diri sekali mengaku kekasih CEO.


"Keluar dari sini... atau kau kulempar kejalanan " tanpa memandang elena Nico lebih tidak berbelas kasih lagi.


Kini wajah elena memerah karena malu dengan pedenya tadi dia mengaku bahwa dia adalah kekasih CEO tapi sekarang CEO itu sendiri yang mengusir nya.


"Nic... kamu gak boleh gini Nico... A aku sangat"


"Sangat apa heh... kita sudah tidak ada urusan lagi,karena perjanjian kita hanya sebatas partner diatas ranjang selain itu kita tidak ada hubungan lebih lagi" ucap Nico sarkastik.


"Tapi kita kan sahabat.." cicit Elena sedikit manja


"Sahabat diwaktu kita masih kuliah dulu tapi selain itu juga hubungan kita hanya antara penjual dan pembeli tidak lebih ,kau menjual tubuhmu dan aku membayar mu" sebelah alis Nico terangkat sebelah dia sudah sangat enggan berurusan dengan wanita itu.


"Baik... aku tahu pasti ini juga ada hubungan nya dengan gadis kampung itu kan, jangan salahkan aku jika berbuat lebih padanya" Nico tersenyum smirk


"Kau mengancamku dengan menyebut gadis yang tidak ada hubungannya kau benar benar wanita jala** yang haus akan belaian " kini wajah Nico memerah menahan marah bagaimana mungkin elena berani mengancamnya dengan ingin menyakiti gadis pujaannya.


"Cobalah jika kau bisa dan asal kau tahu gadis itu lebih baik darimu dia lebih suci darimu juga lebih cantik..." Nico berlalu dari tempatnya hendak pulang dia tak menggubris teriakan elena.


"Kau camkan kata kataku Nico aku akan membayar..." Nico berhenti mendengar kata-kata ancaman elena


"Berani kau sentuh dia kujamin nafasmu berhenti saat itu juga" tanpa menoleh Nico berlalu.

__ADS_1


Elena yang sudah terlanjur malu dan marah menjadi satu diapun bergegas pergi dari situ dengan menghentak hentakkan kakinya segera dia berlalu.


__ADS_2