
Kini disebuah ruangan private milik seorang CEO nampak beberapa kali sang CEO mengumpat,dia sangat marah dan geram sorot matanya yang sendu tapi penuh dengan kilat amarah.
Bahkan sang asisten pun tidak berani menegur atau bahkan bicara sepatah dua patah saja baginya kemarahan Nico Rosberg adalah ibarat pintu kematian buatnya.
"Katakan" titah Nico
"Namanya Aditya Gaudi Pratama Putra dari Antoni Gaudi Pratama pemilik perusahaan terbesar kedua dinegara ini apalagi sepak terjangnya juga tidak main-main Tuan..."
"Cukup" Nico menginterupsi sambil mengangkat sebelah tangan nya.
Drrrttt Drrrttt
Sebelah alis Nico terangkat keatas dia melihat nama Elena di ponsel pintarnya, sebenarnya dia malas menerima panggilan dari wanita binal itu tapi firasat nya mengatakan bahwa dia bisa membantunya.
"Yes.. why you call me heumm??" tanpa basa-basi Nico berbicara dengan sedikit malas.
"Hhmm... you not Miss me..." kini senyum smirk Nico tercetak sempurna.
"Why... Kau butuh kehangatan nona Elena?? tapi maaf untuk sekarang aku sedang tidak berhasrat" Niko memulai menarik sebelah sudut bibirnya.
"Nico... aku butuh kamu saat ini tidakkah kau mau menghangatkan tubuhku?? Aku sangat.... bergairah sekarang" sahut elena diseberang telepon dengan suara serak.
"Aku akan mengirimkan gigolo yang sesuai dengan seleramu.. Tut" Nico mematikan sepihak
"Apa kau dengar itu Alby ?? Carikan wanita itu seorang pria bayaran " titah Nico tanpa ada bantahan.
"What the f*ck...." umpatan demi umpatan keluar dari bibir Elena
Di apartemen Elena mengumpat dengan keras dia merutuki Nico mengumpat kasar bagaimana pria itu bisa dengan mudahnya menilai dirinya serendah itu.
Elena tidak pernah tidur dengan sembarang pria kecuali dia dan Bram sewaktu disingapura dulu.
Ting tong
"Sssshhhh ,.. Sialan... siapa lagi sih..." Umpat Elena sebal.
Ceklek
"Siap pa..." elena terpukau melihat pria ganteng gagah dan terlihat begitu seksi dimatanya, sejenak dia cengo dan terpaku ditempat. OMG lihatlah perut sixpack nya Elena masih terpaku di tempat nya ,kini pikiran nya dipenuhi adegan adegan liar yang... ah pikiran liarnya sangat bahkan sangat liat,Damn....
tak tak
Terdengar jentikan jari dari si pria tampan nan gagah ditempatnya,"kau baik baik saja nona?" suara seksi pria tampan didepannya membuyarkan lamunan Elena. lihatlah mata elangnya yang menggoda dan jangan lupa bibir seksinya Shitt...
"Ah yah ... aku baik baik saja " Elena kembali sadar dengan segala pikiran kotornya, sedikit malu Elena berbicara sedikit salah tingkah.
"Apakah aku tidak disuruh masuk nona ,aku capek kalau berdiri terus disini" kata pria tampan itu sambil mengeringkan matanya.
__ADS_1
"Oh oke, silahkan masuk" tiba-tiba otak elena jadi ngeblank.
"Bisa kita langsung memulainya" tanya si pria to the poin tanpa membuang buang waktu.
Karena sebelum berangkat kesini dia sudah disuruh untuk meminum obat kuat, karena yang membayar pria itu mengatakan kalau si wanita hiper ***.
Tiba tiba saja pria itupun langsung menyerang elena tanpa aba-aba, Elena gelagapan dibuatnya dia kaget karena tiba-tiba saja diterjang dengan ciuman kasar penuh gairah dan ******* dengan rakus bibirnya.
"Kau apa ya... eemmmpp.." tanpa diberi kesempatan untuk berbicara pria itupun ******* dengan lembut dengan tangan yang tidak berhenti menjelajah kedalam kaos yang Elena pakai.
Dengan kasar sang pria itupun merobek kaos Elena,kemudian dia menjilati leher Elena tiap inci sementara tangan si pria meremas buah dada yang besar dan kenyal sambil memilin ujung buah dada elena dengan sedikit lembut,kemudian dengan lembut ciuman pria itu pun semakin turun.
Elena yang sudah terbuai dengan permainan pria itupun sudah lupa akan segalanya pikiran nya sudah tidak bisa bekerja lagi karena kabut gairah yang menggebu-gebu, kenikmatan demi kenikmatan dia sesapi dengan suka cita.
Kini suara ******* pun sudah tidak bisa ditahan lagi,suara lenguhan kepuasan lagi dan lagi seperti tidak ada capeknya dua manusia itu menikmati dosa terindah.
**
Sementara itu
"Dasar murah**n..." Senyum sinis Nico melihat adegan ranjang elena melalui cctv yang diam diam dia pasang di beberapa ruangan apartemen Elena.
"Alby... siapkan mobil untuk ku aku ingin keluar tanpa sopir" titah Nico.
"Tapi Tuan anda setengah jam lagi akan ada meeting penting dan..."
"Baik" sambil menunduk Alby pun keluar segera mempersiapkan apa yang tuannya minta.
"Huh... dasar psikopat" batin Alby ngedumel.
"Jangan mengumpat aku bisa mendengarkan nya atau kau sudah bosan hidup" Alby pun melotot berkali-kali dia memukul jidatnya.
"Ma maaf tuan... saya khilaf segara saya laksanakan" setelah agak jauh Alby pun bernafas lega.
'Bagaimana dia bisa tahu kalau aku mengumpat nya dalam hati apakah dia punya Indra keenam? waduh gawat kalau emang iya ,wes kudu ati ati aku nih' gumam Alby.
"Ai... kamu tadi bikin aku sama pak Aditya khawatir setengah mati tahu gak ai... jantung kayak mau copot pas kamu dibangunkan gak ada respon sama sekali." Aini memutar bola matanya malas.
"Ckk kalian terlalu mendramatisir keadaan" cibir Aini tapi sedetik kemudian tersenyum manis
"Tapi makasih sudah mengkhawatirkan aku..." kedua mata Aini membentuk binar binar kaca transparan yang indah sehingga membuat Rina tidak tega memarahinya lagi.
"Emang berapa lama Rin,aku tertidur aku hanya merasa bahwa tidurku hanya sebentar saja." tanya Aini tanpa melihat Rina yang sedikit cemberut.
"Astagaaa... kamu merasa sebentar Ai... padahal 2 jam loh aku sama pak Aditya bangunin kamu,eh... tapi kamu tahu Ai... pak Aditya memanggil kamu apa ?? Ai... bangun sayang jangan bikin aku khawatir..." ucap Rina sambil mempraktekkan bagaimana Aditya yang begitu mengkhawatirkan dengan gayanya yang dibuat buat.
Aini melongok kearah Rina sambil melebarkan matanya diapun mengerjab ngerjabkan matanya lucu,tak lama kemudian Aini tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Rina yang lebay.
__ADS_1
Tak terasa air mata Aini pun keluar saking tak bisa menahan tawanya,Aini merasa Rina sangat lucu apalagi pas menirukan gaya lebaynya.
"Ckk... Gak lucu tahu gak Ai.. " bibir Rina pun manyun sebal,tapi nampak lucu Dimata Aini.
"Eh... tapi beneran Ai serius pak Aditya sampai meneteskan air matanya loh..." Kini Aini pun terdiam memandang Rina yang masih setia dengan ceritanya.
Tawa yang tadi berderai dibibir Aini kini berubah menjadi senyum manis.
"Hai Aini...." sapa seorang pria yang Aini merasa tak mengenalnya.
Aini mengkerut dia mencoba mengingat-ingat dimana dia pernah melihat pria yang menyapanya ini, apalagi dengan seenaknya duduk didepannya.
"Maaf sebelumnya aku belum memperkenalkan diri,namaku Andre temannya Devan temanmu atau kekasihmu??" ucap Andre memperkenalkan diri.
Sebelah alis Aini terangkat kembali dia mengingat dan mencoba menelusuri penglihatan dan pikiran Andre,setelah selesai dan tahu siapa Andre Aini pun diam dan bersikap biasa saja.
"Kau memang tidak tahu aku Ai... tapi kau dan Devan pernah ke cafe milikku,dan kau tahu baru kali itu Devan membawa seorang gadis selama aku mengenal nya sepanjang kami berteman" jelas Andre sambil matanya tak lepas dari menatap Aini.
"Lalu" tanya Aini cuek.
"Waw... hahaha... Kau sangat manis Aini dan cantik aku suka" sungguh Andre sangat menyukai wanita ini, biasanya jika Andre melihat wanita dengan tatapan tajam nan menggoda wanita itu pasti akan malu dan tersipu tapi, tidak dengan gadis yang satu ini.
"Aku rasa kita tidak mengenal terlalu dekat apalagi berbicara panjang lebar..." dengan sinis Aini menginterupsi.
"Maaf Ai lama,.. aku tadi di telepon papa biau mengajak kita untuk berlibur kepantai besok apakah kamu mau...??" Tiba-tiba Aditya datang dan tanpa pria itu sadari bahwa ada seorang pria lain disana.
"Maaf kak bisakah lain kali soalnya besok Aini mau kemakam kedua orang tuaku dan saudara ku" Aini menolak dengan halus.
"It's okay Ai... kakak mengerti kok" tak bisa dipungkiri Aditya sedikit kecewa tapi mau bagaimana lagi dia juga harus mengerti situasi kekasihnya.
"Waw... apakah dia kekasih mu Aini... wuaahh... saingan Devan berat juga yah.." Dengan nada bercanda Andre bertanya sambil tak lepas memandang gadis yang ada didepannya ini.
Rina yang sedari tadi risih dengan kehadiran Andre kini mulai terganggu dan ingin sekali gadis itu mengusir nya tapi dia mencoba bertahan dengan diam selagi Aini dan Aditya tidak terganggu.
Aditya pun menoleh kearah suara laki laki tersebut dia merasa familiar tapi dia juga tak mengenal pria disampingnya ini.
"Kau dari tadi ngerocos gak berhenti seolah aku tidak ada disini dan kau juga mencoba merayu temanku kau pikir dirimu siapa hah..." geram Rina membentak Andre .
"Sorry aku pikir tadi kamu pembantunya" dengan cuek Andre menjawab Rina dengan nada mengejek santai.Rina pun membelalakkan matanya marah kini wajah Rina sudah nampak muram dan gelap.
"Sialan nih orang.. pingin tak penyet kamu jadi pecel manusia laknat.." mendengus kasar Rina pun berdiri dan menghampiri Andre hendak memukul.
"Maaf mbak mas... ini pesanannya " tiba tiba seorang waiters menyajikan pesanan yang dipesan Aini dan Aditya beserta Rina.
"Pergi sono enek gue liat muka lu yang pas Pasan itu." Rina menggeserkan duduknya kearah Andre agar laki laki itu berdiri dan segera pergi dari sana.
"Kami tidak mengenalmu dan jangan mengusik ketenangan kami" peringat Aditya.
__ADS_1
Aini menatap tajam Andre entah apa yang dilakukan Aini terhadap Andre sehingga tanpa sepatah kata Andre pun pergi dari sana.