
Disebuah apartemen mewah milik Elena terlihat sangat berantakan tidak seperti biasanya yang selalu nampak bersih dan rapi.
Kini elena duduk menopang dagu didepan cermin bahunya bergetar karena menangis kepalanya mendongak menatap wajahnya didepan kaca rias,nampak sekali wajahnya yang berantakan dan rambut yang acak acakan.
Lama dia menatap dirinya sendiri disana matanya yang berkilat merah karena marah,hatinya bergelayut kesedihan berkali kali dia mengumpat dalam hati mulutnya yang terkunci menyimpan sejuta umpatan demi umpatan.
Tak lama kemudian keluar suara dari mulutnya "Apa hebatnya wanita sialan itu? apa kelebihan sijala** itu sampai sampai dua pria sekaligus mengejarnya, kelebihan apa yang tak ku punya darinya Hah.... Apaa hebatnyaaaa diaaa... Aaaaahhhh...." kembali Elena berteriak histeris, yang elena tahu hanya 2 pria yang tertarik dengan Aini bagaimana kalau dia tahu bahwa ada lebih dari dua pria sekaligus kayaknya elena bakalan kejang kejang kali ya... hihi author jadi gemas sendiri dengan elena segitunya ingin dipuja laki-laki 🤭🤦🏻♀️
Pyarr
Elena melempar botol parfum mahal kesayangannya kearah kaca dan berhasil membuat kaca riasnya hancur berkeping-keping, nafasnya memburu elena memegangi kepalanya yang kini sangat pusing.
"Aaaaahhhh.... Dasar jala** sialaaan... huhu..." elena menepuk nepuk dadanya dengan keras dan kasar. terdengar isakan tangisannya yang pilu menyayat seolah-olah dia yang paling tersakiti.
Ting tong
Terdengar bel pintu apartemen nya berbunyi berulang ulang tak sabar,elena dengan enggan dan malas berjalan kearah pintu tanpa melihat siapa yang menekan bel berkali-kali dia membuka dengan wajah yang sangat sangat berantakan.
Ceklek,... Elena mendongak dan...
"Tidur..." seolah terhipnotis secara otomatis suara berat Nico memerintahkan Elena tidur lewat sugesti hipnotis. " Ckk... merepotkan" Nico mengangkat tubuh elena dan setelah itu menidurkannya diatas kasur yang berantakan.
Beberapa waktu yang lalu dia memeriksa cctv apartemen Elena, seperti nya sudah dia duga sebelumnya kalau elena sangat kacau dan disinilah dia berada sekarang.
Nico merogoh sakunya mengambil benda pipih pintar miliknya dan dengan segera menelepon seseorang.
" Datang ke apartemen yang akan aku kirimkan kepada mu alamatnya dan bersihkan apartemen ini tanpa mengatakan siapa yang menyuruhmu,Tutt..." perintah Nico pada seseorang diseberang sana.
Tanpa menunggu jawaban dari seberang sana Nico mematikan dengan sepihak,dia duduk di sofa kamar milik Elena.
Lama dia memandang elena yang tertidur lelap, Elena tampak menyedihkan Nico mencebik kesal padanya "kalau saja kau tidak berbuat ulah aku tidak akan mencampakkan mu.
Kau mengatakan kalau hanya diriku yang menjamah dirimu nyatanya di Australia kau juga tidur dengan beberapa orang pria," Nico memang yang mengambil keperawanan elena dia juga berjanji akan bertanggung jawab padanya kalau saja Elena bisa setia, setelah Nico mengetahui tingkah elena di Australia dia pun sedikit jijik padanya elena tidak sesuai ekspektasi Nico.
Nico paling tidak suka penghianatan dalam bentuk apapun jika Nico tahu ada seseorang yang berkhianat maka tak akan ada ampun bagi siapapun termasuk Elena.
__ADS_1
"Kau yang memulai jadi jangan salahkan aku berbuat demikian padamu,aku masih berbelas kasih padamu karena kamu seorang wanita yang sudah terjamah pertama kali olehku anggap saja ini sebagai bentuk pertanggung jawaban dariku untukmu" tak lama kemudian bel pintu apartemen Elena berbunyi.
Ting tong
Ceklek
"Masuk... sebentar lagi akan ada makanan delivery datang setelah semua bersih kau siapkan makanan untuk wanita itu,,, dan ingat jangan pernah mengatakan siapa yang menyuruhmu jika dia bertanya,kau tahu konsekuensinya bukan?" tak menunggu jawaban dari orang yang disuruhnya Nico berjalan keluar apartemen Elena dengan wajah datar dan tanpa melihat lagi kebelakang
"Baik" hanya jawaban singkat dan menunduk meskipun Nico tidak melihatnya.
Pagi ini Aini berangkat kerja seperti biasanya, sedangkan diluar nampak Adit sudah bersiap didalam mobil dan menjemputnya seperti biasanya.
"Assalamualaikum... pagi kak Adit!!" Aini membuka pintu mobil yang Adit kendarai kemudian masuk dengan senyuman manis seperti biasanya.
"Waalaikumsalam Ai... pagi juga !!" Adit menjawab salam Aini dan tak lama kemudian mobil pun kini sudah meninggalkan pelataran rumah kost Aini.
"Kak kita jemput Rina yah kasian semalam kayaknya dia kurang tidur kali aja dengan kita menjemputnya dia jadi semangat karena menghemat ongkos hihi" Aini tertawa pelan dengan menutup mulutnya sebelah tangan.
"Baik sayang..." Blush, Aini menoleh kearah Aditya sebentar kemudian dengan cepat dia memalingkan wajahnya kesamping.
"Kak Adit nih suka lebay ternyata,, " Sebenarnya dada Aini berdebar kencang sedikit gugup Aini berusaha bersikap setenang mungkin, Adit sudah berhasil menggoda nya hanya dengan sebuah panggilan sederhana 'Sayang',ada gelenyar aneh dalam diri Aini dia sendiri tidak tahu itu apa.
Tiin tiin tiin
Setelah beberapa menit kemudian nampak sosok Rina dengan sedikit berlari menuju mobil yang mereka tumpangi.
"Hai Ai... Pak Adit... " sapa Rina kemudian membuka pintu belakang mobil setelah Rina masuk kedalam mobil Rina berceloteh ringan.
"Tahu gak Ai... aku pikir kamu tadi bercanda mau menjemput ku dengan naik mobil pak Adit jadi aku santai santai aja Ai, eeehhh... ternyata beneran dijemput hehe..." Aini memutar bola matanya malas dia gemas dengan tingkah absurd Rina.
"Kau tahu siapa aku Rin... pernahkah aku bercanda dalam setiap berkata??" interupsi Aini.
"Sorry Ai,. Ojo nesu oke..." Rina mengering mata kearah Aini.
Aditya yang melihat tingkah Rina hanya geleng-geleng kepala,tak lama kemudian mobil yang dikendarai Aditya sudah sampai didepan perusahaan tempat Aini bekerja.
__ADS_1
"Kak Aini kerja dulu yah hati hati dijalan " pamit Aini dan diangguki oleh Aditya.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang membuntuti mobil yang mereka tumpangi,didalam mobil itu nampak seorang pria yang menatap kedepan dengan tangan mengepal sedikit marah, kemudian orang itu memukul setir mobilnya.
"Apakah aku benar-benar sudah terlambat Ai...." pria itu yang tak lain adalah Nico, wajahnya memerah marah karena cemburu hatinya sungguh berselimut kabut cemburu kalau saja dulu dia tidak menuruti perintah mamanya untuk pergi dari kampung itu dan kuliah diluar negeri dia pasti sudah berhasil mengambil hati Aini.
Nico tidak tahu apa maksud mamanya dengan hengkang dari kampung dimana dia dan Aini merajuk masa masa kanak-kanak yang lain dari yang lain hingga berujung perpisahan dengan memaksa nya sekolah keluar negeri.
Dari usia dini sampai dewasa Nico berada di negeri orang sendiri tanpa ada keluarga nya yang menemani padahal ada banyak sekali yang ingin dipelajari nya dari kakeknya.
Beruntung ada tekhnologi modern yang canggih dengan berbekal handphone canggih setiap hari dia video call dengan kakeknya dari situlah dia menerima pelajaran dari kakeknya.
Satu pesan yang kakeknya katakan waktu itu "Ingat Yoh le... Ojo membenci mamamu apapun yang mamamu lakukan semua demi kebaikanmu jika suatu saat kau mengetahui sesuatu" hatinya bertanya-tanya,Nico memijit ruang diantara alisnya kepalanya berdenyut nyeri.
"Apa arti dari kata kata kakek apakah ini ada hubungannya dengan Aini ?? jika memang benar itu ada hubungannya dengan Aini aku akan berusaha mencari tahu apa itu" batin Nico bermonolog.
Rencana Nico hari ini setelah dia membuntuti Aini dan Aditya dia akan pergi ke kantor setelah itu dia akan kembali lagi kemari untuk menemui Aini ada yang ingin dia pastikan.
Setelah Aditya mengantar Aini ketempat dia bekerja dia menuju perusahaan nya sudah dua hari ini Aditya mangkir dari kerjaan nya.
Setelah sampai Aditya nampak kaget dengan seorang wanita yang duduk ditempat dimana sekretaris nya berada.
Nampaknya asisten Aditya mengerti dengan kebingungan CEO nya "Dia sekretaris baru bos dan baru kemarin dia memulai bekerja disini" dengan tanpa ekspresi Aditya tidak menjawab sama sekali ucapan asisten nya, Aditya melihat sekretaris baru tersebut sambil memicingkan matanya sejenak kemudian asisten nya kembali menjelaskan kenapa sekretaris lamanya cuti hamil dan akan kembali bekerja setelah melahirkan.
Aditya hanya merespon dengan anggukan kepala kemudian dia berjalan menuju ruangan nya, langkahnya terhenti lalu berbalik tanpa melihat lawan bicaranya dan berkata " suruh sekretaris baru itu pulang dan berganti dengan pakaian yang kayak disini bukan ajang untuk pamer tubuh dan menjadi jala** murahan, jika tidak memenuhi syarat itu suruh mengundurkan diri atau aku akan mem blacklist akses agar dia tidak ada kesempatan untuk bekerja di perusahaan manapun,camkan itu!!" Jody nama asistennya itu pun membola dia tidak begitu memperhatikan cara berpakaian sekretaris barunya bodohnya dia hanya melihat bagaimana kinerjanya selama dia bekerja di perusahaan tempat temannya bekerja. Sepertinya dia lupa aturan perusahaan tentang cara berpakaian yang sopan tak terkecuali meskipun dia seorang sekretaris.
"Baik..." Jody menunduk mengiyakan,tak lama kemudian setelah Aditya ke ruangannya, Jody pun menghampiri sekretaris baru itu.
"Kau pulanglah sekarang dan...." sekretaris itupun terlonjak kaget kedua matanya membola sempurna.
"Ke kenapa?? apakah saya melakukan kesalahan-kesalahan?" belum sempat Jody melanjutkan sekretaris itu dengan tidak sabar bertanya pada Tuan Jody.
"Iya,.." jawab Jody datar.
"Aku tidak tahu ada niat terselubung apa kamu melamar menjadi sekretaris disini yang jelas kau dipecat." tanpa basa-basi basi Jody langsung memecat sekalian daripada dia harus pusing dengan sekretaris barunya.
__ADS_1
"Ini tidak adil ,... " nafas sekretaris itu memburu " ingat tuan jika kau memecatku sepihak maka aku minta kompensasi dan..."
"Baik, segera keruangan HRD sekarang dia akan menjelaskan poin poin kesalahan mu dan aku jamin kompensasi itu sepadan dengan semuanya" setelah menginterupsi sekretaris itu Jody pun berlalu dengan wajah tanpa senyum,cukup sekali dia berbuat kesalahan dan tidak untuk yang kedua kalinya.