Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 100


__ADS_3

"Paman... semuanya udah clear belum??" tanya Ruth, sedangkan pak Harun mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.


"Adriana akan ikut denganku ,aku sudah menutupi tanda lahirnya dengan pasti tinggal menutupi nya dengan Cakra dari mana ku aja paman,.. dan aku sudah mempersiapkan kembarannya hasil kloning dari perusahaan Daddy ku" ucap Ruth pasti.


Hafiz yang mendengar kan percakapan antara Ruth dan papanya hanya diam dan memperhatikan saja. ' gila aku sampai menghabiskan uang dua ratus lima puluh juta hanya sebuah kloningan ini,. huffft ... rugi bandar aku kalau kek gini' sungut Ruth dalam hati.


"Nanti kau kirim rekeningnya kepadaku akan aku transfer uangnya,. aku tahu manusia kloning itu sangatlah mahal kau jangan khawatir soal itu" Ruth terkesiap mendengar ucapan Hafiz,tapi dengan cepat dia merubah raut keterkejutannya dengan bersikap biasa saja.


"Gak papa itu hanya masalah kecil kamu gak usah khawatir,demi kemanusiaan aja hehe..." kekeh Ruth padahal dalam hati merutuki mulut nya yang tidak singkron dengan pikirannya.


"Tidak apa apa kamu tetap kirimkan nomor rekening kamu aku gak mau terlalu banyak berhutang Budi padamu" sahut hafiz datar.


"Oke deh kalau kamu maksa..." Ruth lalu mengirimkan apa yang diminta hafiz.


Ting


"Sudah,.. oh iya aku akan bawa Adriana dari sini,. ingat, kloningan Adriana ini sama persis dengan yang asli bukan hanya sifat suara watak pokok semuanya seratus persen sama aku sudah kirim sampel DNA Adriana tanpa persetujuan kalian karena aku berpikir jika aku ijin pasti kalian tidak akan menyetujuinya"


Ting


"Sudah masuk..." Ruth melihat ponselnya seketika matanya membola melihat nominal rupiah yang dikirimkan hafiz padanya.


"Ini terlalu banyak aku kembalikan separuh nya..."


"Anggap saja itu upah selama kamu menjaga kami disini dan terimakasih atas semuanya" kembali hafiz berkata dengan suara datar dan Dingin.


Ruth hanya bisa menghela nafas kasar "Terserah kamulah,. oke aku pergi..." pamit Ruth kemudian.


"Tinggu..." panggil pak Harun menghentikan langkah Ruth sebelum Ruth menghilang dari sana.


"Sayang... papa janji semuanya akan baik baik saja setelah ini kita akan berkumpul lagi oke..." Adriana hanya mengangguk lemah, semenjak Adriana mengetahui kalau dirinya salah satu target dari persembahan itu Adriana jadi sangat pendiam apalagi mengingat ibunya juga bagian dari penganut aliran hitam itu membuat Adriana semakin mati rasa. Adriana hanya bicara seperlunya saja sedangkan kalau ditanya jawab nya juga singkat padat dan jelas.

__ADS_1


Pak Harun mencium pucuk kepala putri bungsunya itu, " Berangkat lah nak... papa selalu mendoakan mu " lagi lagi Adriana hanya mengangguk tanpa mengucapkan satu patah kata pun.


Hafiz hanya melihat kearah Ruth dan Adrian yang kini sudah bersiap untuk melesat pergi,entah mengapa hatinya tiba-tiba tidak tenang bukan karena Adriana akan pergi dari sana melainkan rasa yang entah , seperti akan ad sesuatu yang besar yang akan terjadi.


"Kurang dari sepuluh menit Luciana dan ketiga temannya akan tiba kemari,ingat... kalian harus bisa bersikap wajar dan biasa saja dalam diri manusia kloning ada kamera aku akan memantau kalian dari sana dan juga dari salah satu kamera cctv dari rumah ini yang sudah kupasang secara diam diam.


"Simbok juga sudah kuberikan arahan agar bersikap biasa saja agar tidak gugup nanti pas berhadapan dengan teman teman Luciana,. kami pamit"


Sett


Slasss


Seperti ada angin kilat yang menerpa wajah mereka yang ada disana kemudian lenyap dalam beberapa detik setelah bayangan Ruth dan Adriana hilang dari pandangan mereka.


Ting tong


Ting tong


Ting tong


Klek


"Kakak... " nampak seorang wanita dengan perut yang membuncit karena kehamilan yang sudah akan menuju kelahiran.


"Luci... " sahut hafiz seolah olah terkejut dengan kehadiran nya.


"Jadi ini rumah elo Lucy... "Luciana hanya mengangguk tanpa memalingkan wajahnya dari sang kakak.


"Apa aku tidak diperbolehkan masuk kak...??" Hafiz terkesiap mendengar pertanyaan Luciana,dengan sedikit wajah canggung hafiz pun menyuruh Luciana dan ketiga temannya untuk masuk.


"Pap mana kak..."

__ADS_1


"Duduklah dulu kau pasti lelah ..." ucap hafiz dengan lembut.


Luciana mengangguk dan tanpa sadar kedua matanya berkaca-kaca,sudah lama sekali Luciana tidak merasakan kehangatan keluarga, apalagi dengan perhatian dari kakak pertama nya dengan selembut ini, hatinya tiba-tiba menghangat ada secercah harapan disana.


"Kau dan temanmu disini dulu aku akan meminta simbok untuk membuatkan minuman" hafiz sedikit melirik kearah ketiga temannya kemudian mengangguk dengan ramah setelah itu dengan langkah lebar hafiz meninggalkan ruang tamu.


Dalam langkah menuju dapur kedua tangan hafiz mengepal, tiba-tiba saja amarah sudah tak terbendung lagi, nampak wajah hafiz yang memerah menahan emosinya.


Susah payah hafiz menahan emosinya tadi saat berhadapan dengan ketiga teman Luciana, sementara diruang tamu nampak ketiga teman Luciana heboh ketika hafiz meninggalkan ruangan tersebut.


"Lucy.. gue gak nyangka yah kakak elo ganteng banget anjirr..." ucap Rossy salah satu teman Luci yang berpenampilan paling bar bar disana dengan bibir berwarna hitam pekat sedangkan kedua matanya nampak eye shadow yang melingkari kedua matanya seperti tampang celak macam kuntilanak kalau dideskripsi kan.


"Iya bener juga apa yang Rossy katakan Lucy... kakakmu sangat tampan apalagi bodynya pasti sispack banget bet..." Luciana hanya diam saja sambil tersenyum.


Sementara teman Luciana yang satunya nampak diam saja tanpa mengucapkan satu kata pun, seolah-olah dia sedang mengamati sekitar nya. Jika kedua temannya begitu heboh melihat kakak dari temannya Luciana sedangkan dia hanya diam sambil mengamati.


Wajah gadis itu sangat datar tanpa adanya senyuman sedikit pun sepanjang dia mengamati kakak dari Luciana ada yang aneh menurut nya.


Sikapnya memang alami sangat menyayangi Luciana tapi menurut nya kakak dari Luciana itu sangat misterius seperti menyimpan sesuatu " Hhmm akan aku cari tahu nanti" batin Nicola.


"Sayang... kamu pulang nak... " tiba-tiba suara pak Harun menggema diruangan tersebut.


"Papa... hiks hiks Luciana kangen papa dan mama... dimana mama pa..." pak Harun yang tiba-tiba saja dipeluk putrinya dengan erat hatinya kini menghangat. bagaimana pun juga Luciana juga putrinya,sebesar apapun kesalahannya pak Harun pasti akan merasa terpukul jika putrinya dalam keadaan tidak baik baik saja.


"Papa baik nak... kalau mamamu dia sudah memiliki kehidupan sendiri,. oh iya siapa nih yang kamu bawa sayang apakah papa pernah mengenalnya...??" ucap pak Harun mengalihkan pertanyaan Luciana.


"iya pa ini adalah ketiga temanku yang setia menemaniku sampai kemari." pak Harun mengangguk mengerti.


"Kamu tahu darimana sayang rumah baru papa ini heumm..." Luciana gelagapan mendengar pertanyaan dari papanya


"Ayo neng diminum... ini simbok bikinin minuman hangat untuk neng Lucy dan teman temannya" tiba-tiba simbok muncul dari pintu ruangan dalam sambil membawa nampan berisikan minuman hangat disana

__ADS_1


"Makasih mbok..." ucap Luciana tulus.


"Oh iya kalian teman Luciana kerja atau sekolah...??"


__ADS_2