
Pagi ini kakek Bimo berencana kembali lagi ketempat tinggalnya dilereng gunung Wilis, kakek Bimo sudah tidak berkepentingan lagi untuk berada dirumah putrinya lagi.
"Ayah mau kemana..." Tanya Neli ketika melihat kakek Bimo menenteng koper sedang.
"Pulang..." Neli mengernyit heran tidak biasa nya ayahnya cuma beberapa hari tinggal disini, biasanya satu bulan bahkan lebih.
" Ayah tidak mau tinggal lebih lama disini, selagi kau masih tidak menyadari letak kesalahanmu Neli..." ucap kakek Bimo sarkas.
"Ckk... hanya masalah sepele saja ayah,,, lagian itu sudah lama sekali aku yakin lambat laun Nico pasti lupa" yakin Neli.
Plakk
Plakk
Reflek kakek Bimo menampar kedua pipi kanan dan kiri Neli dengan sangat keras hingga Neli terhuyung hampir terjerembab kesamping.
Sangking kerasnya bahkan Jhon Meyer yang sedang berada didepan ruang kerjanya mendengar tamparan keras itu, tadinya Jhon Meyer hendak melanjutkan kerjaan nya yang belum tuntas.
Tatkala mendengar suara gaduh dia pun segera mencari sumber suara itu, John Meyer kaget melihat istrinya terhuyung hampir terjerembab dia segera menghampirinya, ketika dia sampai dan hendak menolong istrinya dia kaget melihat kakek Bimo ayah mertuanya dengan wajah merah dan mata merah menyala menandakan bahwa amarahnya sangatlah dahsyat.
Jhon Meyer tidak pernah melihat ayah mertuanya marah sampai seperti itu,tubuh tuanya yang masih sangat gagah meskipun diusia senja nampak bergetar bahunya naik turun menahan nafasnya yang memburu karena emosi yang tidak terkendali.
"Ayah diam bukan berarti ayah menutup mata Neli..." suaranya yang parau dan berat kakek Bimo menahan agar suaranya tidak menggelegar karena emosinya yang masih tidak stabil.
"Yang kau bilang masalah sepele itu menyangkut beberapa nyawa, apakah dalam otakmu nyawa manusia itu hal sepele dan sebuah mainan untuk mu hah.... " kini kakek Bimo kembali menaikkan suaranya satu oktaf.
Mengingat seorang gadis kecil yang syok melihat seluruh keluarganya tewas dibunuh bahkan dirinya tidak mampu berbuat apa-apa saat itu karena tubuhnya masih sangat kecil dan ringkih.
Hatinya tidak bisa tidak tercubit nyeri, sisi kemanusiaan nya terpanggil tapi egonya masih tetap ada di bagian hatinya yang lain,dia pikir dengan menolong gadis itu memberi semua yang dibutuhkan mulai dari tempat tinggal sekolah yang bagus dan tempat yang baru.
Tapi kakek Bimo ternyata salah gadis itu menolak pemberian kakek Bimo, gadis itu bahkan lebih dewasa dari anak anak seusia nya.
Melihat tangis gadis itu yang secara diam diam membuat hatinya terpukul,kakek Bimo ingat semua bagaimana gadis itu mencoba menyembuhkan dirinya sendiri dengan caranya sendiri.
Yang dia ingat kakek Bimo dari gadis kecil itu yaitu kata katanya yang mampu membunuh mentalnya saat itu,..
"Maaf kakek ... aku tidak membutuhkan semua yang kakek berikan apakah harta yang kakek punya bisa mengembalikan seluruh keluarga ku??" kata kata itu ringan tapi berbobot. gadis itu berhasil memporak porandakan suasana hatinya.
Dia seorang ayah tapi tidak bisa mendidik putrinya dia sangat malu bahkan sampai saat ini.
__ADS_1
"Aku malu mempunyai anak seperti mu yang mempunyai hati iblis... hanya karena putramu' menyukai dan terobsesi dengan nya kau rela mengotori tanganmu dengan nyawa.. cihh... aku jijik melihatmu.
Apa yang dikatakan Nico benar kau wanita berhati iblis,tidak ada sisi kemanusiaan dalam dirimu yang bisa kulihat bahkan gadis itu lebih berharga dari berlian, meskipun dia tahu kaulah pembunuh nya beserta suamimu yang membantu sisanya tapi dia tidak dendam sama sekali bahkan dia bersedia mendonorkan darahnya untuk cucuku..." kini pandangan kakek Bimo kosong kearah depan rumah
"Aku hanya ingin kedamaian diusia senjaku ini, mendapat maaf dari cucuku yang tidak bisa menjaga amanat nya untuk menjaga gadis yang dicintainya mustahil bagiku sekarang, karena dia mengira aku ikut terlibat dengan kelakuan mu..." setelah mengatakan semuanya yang menjadi beban bagi dirinya sekarang kakek Bimo pun segera berlalu dari rumah itu,dia tidak mau berada disana lebih lama lagi.
Lebih baik dia pulang dan menutup diri dari keramaian, beberapa hari yang lalu kakek Bimo juga mengirimkan pesan melalui surat kepada putranya agar dia segera pulang dan mengurus kasus yang terjadi beberapa tahun yang lalu yang melibatkan putrinya Neli. Hanya itu satu satunya jalan agar kakek Bimo bisa tenang dalam Nyepi nya nanti.
Neli hanya menatap nanar kepergian kakek Bimo dia tidak terima hatinya benar-benar sudah tertutup dengan kabut hitam kebencian terhadap gadis itu.
"Sudahi aksimu Neli... aku bosan membersihkan sisanya.. benar apa yang ayah katakan kau tak ubahnya seperti iblis..." tukas Jhon Meyer terhadap istrinya.
Sontak kedua mata Neli membola mendengar kata-kata suaminya, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Sa..." sebelah tangan John terangkat menandakan bahwa cukup jangan bicara lagi.
"Aku akan membekukan semua akses yang kuberikan padamu tak terkecuali... ini sebagai hukuman buatmu agar kau menyadari letak kesalahanmu sebelum kakakmu Bagas kemari mengusut tuntas kasus yang lalu, karena aku tahu kakek Bimo sudah bicara dengan kakakmu..." kini wajah Neli berubah panik seketika dia tidak terima diperlakukan seperti ini.
Neli mengikuti langkah lebar Jhon Meyer tapi tetap saja dia tertinggal belum sempat Neli meraih punggung suaminya pintu tertutup dengan sangat keras.
Brakk
Tidak ada jalan lain dia harus pergi dari sini dan hendak merencanakan sesuatu yang lebih dari sebelumnya,tapi belum sempat Neli beranjak nampak beberapa pria berbadan tegap menghampiri nya.
"Maaf nyonya anda harus ikut dengan kami..." kedua mata Neli membola sempurna, sedikit bingung tapi sedetik kemudian dia menyadari bahwa ini pasti ulah suaminya.
"Tidak... kalian akan membawa ku kemana hah... aku tidak mau..." Neli berusaha menolak dan memberontak dia meraung Raung memanggil suaminya tapi tidak ada respon bahkan pintu ruang kerja suaminya masih tertutup rapat.
Neli menjerit-jerit tapi kedua bodyguard itu tak menghiraukan raungan dan jeritan Neli atas perintah bos-nya.
sementara diruang kerjanya Jhon Meyer nampak memijit ruang diantara alisnya, kepalanya sangat pusing, sebenarnya ada rasa penyesalan dihatinya tapi egonya lebih tinggi dari rasa penyesalan itu sendiri.
Kali ini dia pasti tidak akan bisa lepas kalau Bagas sudah turun tangan, mengingat dia dan Bagas tidak pernah akur sama sekali meskipun status mereka saudara ipar.
Tapi disisi lain dia tidak mau kehilangan putranya satu satunya Nico,siapa lagi yang akan mewarisi semua harta kekayaannya kalau bukan putranya.
Jhon Meyer menghempaskan nafas kasar,dia tidak menyangka semuanya akan terungkap secepat ini, ada yang tersentuh dihatinya yang jadi pertanyaan nya adalah darimana putranya itu tahu tentang kejadian yang menewaskan seluruh keluarga gadis itu??.
Kepala Jhon Meyer dipenuhi dengan pertanyaan pertanyaan yang dia sendiri tidak tahu apa jawaban nya.
__ADS_1
Dia tahu sifat Nico tanpa ada bukti dia tidak akan mudah percaya begitu saja.
Jhon Meyer mengernyitkan keningnya dia berpikir keras.
Jhon Meyer tidak tahu kalau putranya bisa hal hal diluar nalar dan akal sehat manusia, yang dia tahu hanya sebagian luarnya saja.
"Aku akan cari tahu .... aku harus menemuinya untuk berbicara dan meminta maaf padanya..." gumam Jhon dalam hati.
_______
Sementara itu ditempat Rina mereka nampak sibuk dengan sarapan paginya,Rina masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Aini.
Bagaimana mungkin nanti malam Aini akan menemui arwahnya si Romi apalagi Aini mengajak Rina ikut serta.
Rina ingin menolak tapi Aini mengatakan tidak ada penolakan, atau dia tidak akan menemani nya saat berkencan dengan Abang Jonas.
"Sebal..." Aini hanya tersenyum simpul melihat tingkah Rina.
"Gak usah menggerutu gitu Rina... entar bibir indahmu itu dicolok pocong mau...??" kedua mata Rina membelalak sebal
"Ckk... Ai... sekata kata lu ngomong Ai... masa teman sendiri disumpahi dicolok pocong yang bener napa Ai..." gerutu Rina.
"Ya udah diterima saja..." kini Aini benar benar tidak akan melepaskan Rina untuk menggodanya.
"Iya Iyah... puas Lo..." Aini masih dalam mode menggoda Rina terkikik geli.
"Ikhlas gak tuh...?? kalau gak ikhlas ya udah lupain aja.. entar malam kamu tidur sendiri aku yang keluar tapi.... "
"Iya Iyah aduh Ai.... ikhlas gue beneran ikhlaaas banget...."
"Senyum donk kalau ikhlas..." Rina menyunggingkan senyuman paksa dengan menunjukkan gigi putihnya yang gingsul manis.
Tok tok tok
"eh ****** ketok ketok toook toook took... assalamualaikum... eh assalamualaikum... waalaikumsalam!!" Latah Rina kumat tatkala ada yang mengetuk pintunya sedikit keras.
"Masih siang neng hantunya juga capek begadang semalaman..." seloroh Aini.
Ceklek
__ADS_1