
"Bagaimana keadaan disana Ruth...?? aku tidak mau kau lengah dan ...."
"Iyaaa iya iya jangan khawatir semua aman tentram dan terkendali...!!!" sahut Ruth gemas,.
Yah mereka adalah sepasang sahabat Aini dan Ruth, mereka janji temu dicafe seperti biasanya lewat telepati yang jarang sekali mereka gunakan kalau tidak dalam keadaan terdesak.
"Oh iya Ai... nenek lampir itu sudah selesai dengan ritual nya..." ucap Ruth memecah keheningan.
"Aku tahu..." sahut Aini dengan ekspresi yang entah.
"Sudah berapa bulan kandungan mu Ai..." Aini terkesiap dengan pertanyaan temannya,oh... ayolah Aini lupa untuk menyembunyikan kehamilannya dengan menutup Cakra biru miliknya.
Setelah diam beberapa saat akhirnya Aini selesai menutupi kehamilannya,dan tanpa diminta Ruth juga ikut menyembunyikan kehamilan sahabat nya dengan Cakra yang dia punya yaitu ungu, bagaimana pun juga Ruth sangat menyayangi sahabat nya itu.
"Terima kasih Ruth..." Ruth hanya mengangguk pelan.
"Aku tahu ibu mertuamu sekarang tidak menyukai mu " Aini menoleh kearah Ruth kemudian dia beralih meminumkannya.
Aini memainkan gelas yang sudah tak berisi minuman lagi dia nampak asyik bergelung dengan Lamunan nya.
"Aku beberapa waktu yang lalu kesana untuk mengecek sesuatu tapi tanpa sengaja aku mendengar kedua mertuamu bertengkar karena mu" Aini mengangguk dengan menatap kosong kedepan.
"Ruth aku kembali tolong jaga keluarga kak Hafiz baik baik,.." Ruth mencebik sebal.
"Kau tidak merindukan ku Ai...." Aini memutar bola matanya malas.
"Bagaimana kalau hafiz menyukaiku apakah boleh Ai..." Ruth mencoba menggoda Aini dia penasaran jawaban apa yang akan diberikan sahabat nya itu padanya.
"Lakukan apa maumu itu tidak ada pengaruhnya buatku dan tidak ada hubungannya dengan ku karena sudah sangat lama kami putus jadi tak perlu risau kan aku,saat ini aku sudah tak memikirkan apapun lagi kecuali janinku ini,.. dialah prioritas utamaku saat ini." Aini sadar dengan ucapannya,dan Aini tahu jika kehamilannya adalah malapetaka bagi keselamatan nya tapi justru itu sebuah anugrah baginya,Aini tahu jika nantinya pasti akan ada banyak yang mengincar janinnya.
Seberapa bahayanya nanti kedepannya Aini akan menghadapi dengan sangat hati hati dan dengan kekuatan penuh dia akan menjaganya.
"Kau yakin..." kini tatapan Aini menajam kearah Ruth.
"iya iyaah... sensi amat bumil satu ini," Ruth yang mendapatkan tatapan intimidasi dari sahabat nya mencoba menetralkan suasana yang tegang.
"Aku balik..."
Slaaahhsss
Ruth menghela nafas panjang dia tahu siapa Aini meskipun dia kuat tapi Aini masih jauh diatasnya hanya saja Aini selalu menutupi dengan wajah polosnya.
Akhirnya Ruth pun kembali dimana selama ini dia tinggal tapi sebelum dia benar-benar pergi dari sana telepon seluler miliknya berdering keras.
__ADS_1
" Hallo Dad...!!" sedikit malas ruth mengangkat dan membalas sapaan dari seberang sana.
" (....)
" iyaaa kalau sudah tiba waktunya aku pulang,. Don't worry Daddy... I am okay..." Ruth memutar bola mata malas.
" (.... )
"if everything is done I will come home safely,... so Daddy just take it easy okay... ( jika semuanya sudah selesai aku akan pulang dengan selamat,... jadi Ayah tenang saja ya...)"
"(...)
"Yes... I Miss you too Daddy...!!!" senyum manis terbit dibibir gadis blasteran itu.
"Okay... Let's play..." kini senyum smirk ditampilkan diwajah cantik Ruth.
Sett
Setibanya dikediaman Aini kembali kekamar yang ditempatinya bersama Aditya, Aini melihat sekeliling kamar kedua netranya memindai sekeliling kamar tak dia dapati nenekb Rumpi disana.
" Koe wes bali nduk... [ Kamu sudah kembali nak...]" Aini mengangguk tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
" Bagaimana keadaan sekitar nek...'
Kini Aini duduk bersandar didashboard dipan pikirannya kini melayang entah kemana apakah dia harus menyerah bukan menyerah karena tak mau menjalankan misi tapi menyerah untuk melepaskan suaminya dia tidak mau membuat hubungan antara suami dan mamanya retak karenanya,Aini sedikit khawatir kejadian yang lalu trulang lagi.
Tak lama kemudian dia tertidur dengan posisi duduk,kedua matanya terpejam menyelami alam mimpi,beberapa detik kemudian Aditya membuka matanya, sebenarnya sedari tadi Aditya tidak tidur sama sekali. Awalnya Aditya ingin menjaili istrinya tapi dia melihat istrinya tertidur sangat lelap, dia berpikir mungkin istrinya lelah karena perjalanan dan jarak tempuh yang sangat jauh,akhirnya dia pun ingin menyusul istrinya mengarungi mimpi, tapi tatkala Aditya hampir terlelap dia merasakan pergerakan disampingnya.
Ingin sekali dia membuka kedua matanya entah mengapa hatinya berkata lain,dia ingin tau apa yang akan dilakukan istrinya ditengah malam ini,lamat lamat Aditya mendengar Aini berbicara dengan seseorng tapi dia tidak bisa melihat dengan siapa istrinya berbicara ,akhirnya dengan terpaksa Aditya pun memutuskan berpura pura tertidur.
Dan tak lama kemudian suasana sepi Aditya mendengar suara kidungan yang sangat lembut dan merdu lambat laun diapun tertidur.
Nenek Rumpi melirik kearah dimana aditya berada senyum pun tersungging diwajahnya," Koe arep ngapusi aku toh le... hihi.... Apen apen turu, wes saiki turuo seng anteng,. ( Kamu mau menipuku yah nak... hihi.... pura pura tertidur, sudah sekarang tidurlah yang tenang..)"
Kini Aditya melihat istrinya tertidur dengan posisi duduk sambil kepalanya disandarkan didashboard dipan king size miliknya,aditya melihat istrinya dengan wajah sendu.
" Tidak bisakah kau berbagi semuanya denganku Ai... " Aditya bergumam lirih,Aditya bangun dari tempatnya dia ingin keluar untuk mendinginkan pikirannya.
Aditya berpikir kenapa mamanya tiba tiba saja berubah??. Ada apa dengan mamanya,,,, berbagai pikiran berkecamuk memenuhi kepalanya.
"Shitt.... Kenapa semua jadi kacau begini, sebnarnya ada apa dengan mama??" kini tanpa Aditya sadari dia sudah berada diruang tengah,sayup sayup dia mendengar seseorang berbicara tapi entah dimana.
Aditya berusaha mencari dari mana arah suara itu berasal,tepat didepan kamar yang ditempati oleh papa dan mamanya Aditya berusaha mencuri dengar karena kebetulan pintu kamar kedua orang tuanya tidak tertutup dengan sempurna.
__ADS_1
"Apa kau gila ma... Mereka baru saja menikah dan kau berusaha untuk memisahkan mereka?/ dimana letak otakmu berpikir Rossa...??" bentak Antoni kerass dengan suara menggelegar.
"Justru aku berpikir dengan sangat waras Pa... Aku tidak mau kehilangan putraku,apa kau lupa apa yang kakek Aini katakan huh....??" dengan dada naik turun Rossa berusaha mengatur nafasnya yang memburu,dalam ikirannya hanya satu yaitu memisahkan putranya dengan Aini secepatnya.
"Aku ingat Rossaa...." tidak ada panggilan ˋMaˋataupun sayang dibibir Antoni,dia sangat jengkel dengan pemilkiran istrinya sependek itu dia berpikir padahal belaum tentu uyang -kakek Aini maksud adalah Aditya Antoni yakin kan hal itu.
" Lalu kenapa kau masih mencegahku untuk memisahkan mereka hah...??" kini amarah antoni kembali memuncak setelah dia berhasil sedikit meredamnya.
"Kau sangat susah untuk diingatkan Rossa,.. Kakek Ainib hanya mengatakan kalau suatu saat salah satu yang terdekat dengan kita terutama Aini akan jadi incaran para kaum sekte atau dukun hitam dan beliau juga tidak mengatakan bahwa aditya yang jadi incaran, jadi berhentilah berpikiran kotor dan sok tahu Rossa..." tak lama kemudian Antoni berlalu dari tempatnya dan hendak keluar kamar.
Tapi disaat dia membuka pintu yang tidak tertutup sempurna betapa kagetnya Antoni dengan apa yang ada didepannya nampak berdiri sosok Aditya sedang berdiri tegak didepannya dengan sorot mata yang sarat akan pertanyaan dan pernyataan.
Rosa yang melihat putranya pun sontak menjadi gugup tubuhnya sedikit gemetar pasalnya dia takut akan fakta bahwa dia sedang berusaha memisahkan dirinya dengan istrinya.
" Katakan apa yang kudengar ini tidaklah benar??" pertanyaan Aditya sangat dalam dn penuh penekanan.
" Papa tidak pewrnah ada maksud untuk memisahkanmu dengan istrimu,apa yang kau dengar itu memang benar kalau mamamu lah yang punya niat untuk memisahkan kalian berdua,.. Dan aku rasa kau pun tau apa alasanya" Aditrya masih tak bergeming dari tempatnya.
"Apakah mama benar benar mau memisahkan aku dan Aini ma...??" Rossa bungkam dia tidak berani menjawab pertanyaan putranya.
" Apa salah istriku Ma...??" suara bergetar aditya memenuhi gendang telinga Rossa dan Antoni.
Tubuh Rossa gemetar berbagai pikiran berkecamuk dikepalanya,sebenarnya dia juga tidak menginginkan mereka berdua berpish tapi kata kata kakek Aini massih terngiang ditelinga Rossa.
"Sayang... Mungkin ini jalan yang terbaik menurut mama.."
"Terbaik menurut mama tapi tidak menurutku,. Justru yang menurut mama yang terbaik itulah yang akan membunuhku secara perlahan Ma..."
Rossa tersentak dengan kata kata keras yang dikeluarkan oleh putranya,. Seumur umur baru kali ini putranya berkata kasar dan keras padanya dan itu semua demi wanita itu wanita yang bernama Aini.
Kedua tangan Rossa terekepal wajahnya memerah karena menahan amarah yang tertahan,dadanya sesak menahan agar dia tak lepas kendali.
"Jangan pernah menco..."
"Kak...!!" tiba tiba suara lembut melerai pertikaian antara ibu dan anak tersebut.
" Jangan pernah meninggikan suaramu didepan mama kak... Itu tidak baik heumm..." kini tangan lembut Aini menyentuh pergelangan tangan Aditya.
" Tapi Ai..."
" Sssttt..." jari telunjuk Aini menutup bibir Aditya berusaha mencegah agar Aditya tak blagi berkata kata kasar kepada mama Rossa.
" Maaf Ma... Kak Aditya mungkin capek maafkan kata kata suamiku yang kasar padamu,saya berusaha agar tidak akan terulang untuk yang kedua kalinya, Insya Allah" Mama Rossa diam seribu bahasa bibirnya kelu tak mampu berucap.
__ADS_1
" Kau lihat bagaimana sikap lembut menantumu? Bahkan sedikitpun tak terlihat raut wajah permusuhan padamu mekipun dia sudah tahu kalau kau sekarang tak menyukainya lagi seprti dulu" bungkam kini mulut mama Rossa benar benar bungkam.