
Kini Aini berada di suatu tempat dimana disana terdapat sebuah sungai kecil tepat dipinggiran perbatasan kota disana ada sebuah hutan kecil tak terlalu rimbun juga tak terlalu gersang yang jelas masih terlihat asri dan sejuk meskipun tidak sesejuk udara yang pernah dia singgahi beberapa hutan dan dibeberapa tempat.
Tubuh Aini bergetar sedari tadi dia menangis melihat Aditya dia begitu emosional,ingin sekali saat itu dia memeluk sang mantan suaminya ingin sekali dia berada dalam dekapan hangat tubuhnya tapi sekali lagi itu hanya bisa dia ungkapkan didalam hatinya saja.
Betapa Aini sangat merindukan nya kini tangan Aini meraba perutnya yang sedikit berisi hatinya gamang dia masih bingung bagaimana cara menyembunyikan bayi yang ada dikandungan nya pasalnya banyak sekali yang mengincarnya bukan hanya dirinya melainkan juga bayi yang ada didalam kandungannya.
"Maafkan ibu sayang... tidak seharusnya ibu memisahkan mu dengan ayahmu tapi... kondisinya yang tidak memungkinkan." usap lirih Aini untuk kedua janinnya yang masih sebiji wijen.
Puk
Aini terjingkat kala mendapati tepukan pelan dibahunya,sontak dia mendongak keatas kedua mata Aini membulat kala netranya menatap sesosok yang selama ini dia rindukan,kini kedua netra Aini melihat suaminya ralat mantan suaminya sudah berada didepannya.
Nampak kedua mata indahnya semakin mengalir bulir bulir bening dari kedua sudut matanya, tubuhnya bergetar jantung nya berdetak semakin tidak karuan hatinya bergemuruh antara sedih senang sekaligus bahagia dia rasakan.
Kerinduan yang selama ini dia pendam kini terobati dengan melihat wajah tampan suaminya.kedua mata dari dua insan yang berbeda gender kini nampak bersirobok mereka saling menatap kamu dan rindu tubuh Aini limbung sedangkan Aditya berusaha merengkuh tubuh Aini tidak peduli apapun lagi meskipun Aini menolak Aditya kekeuh mendekap nya tubuhnya juga tak kalah bergetar hebat dari Aini jantung nya juga tak kalah berdetak dengan riang dan kencang dari jantung Aini.
Penyesalan yang terus menghantuinya kini sedikit demi sedikit terkikis hanya dengan menyentuh tubuh mungil mantan istrinya,hatinya begitu sakit kala melihat sisi Aini yang begitu rapuh. Aini pun tak kalah erat mendekap tubuh Aditya,kini kedua insan itu pun saling mendekap saling melepaskan kerinduan dihati masing masing.
Lama sekali mereka berada diposisi seperti itu seolah-olah tidak akan sesuatu pun yang akan memisahkan mereka, Aditya merengkuh tubuh Aini dengan sangat posesif seakan akan tidak ingin dia lepaskan dan seakan akan Aditya takut Aini akan kembali pergi jauh darinya.
"Maafkan aku Ai... maafkan aku... maaf...!!" kini terdengar suara serak Aditya sebelah telinga Aini yang masih dalam rengkuhan pria itu.
"Hiks hiks... kenapa ... kak... kenapa... takdir tak mengizinkan kita untuk bersatu selamanya... ??" dalam isakan nya Aini mengungkap kan rasa yang selama ini menjadi beban pertanyaannya.
"Aku sangat mencintaimu Ai... aku tahu aku salah , seharusnya sedari awal aku jujur padamu tentang aku.. aku salah ,kau boleh memukul ku Ai... pukul aku jika itu memang perlu karena..."
"Tidak... tidak jangan berkata seperti itu kak...tidak ada yang bersalah dalam hal ini,. hanya saja jalannya yang berbeda,.." ucap Aini yang masih betah dipelukan Aditya,dia masih ingin berada didalam dekapan mantan suaminya dia merasa nyaman disana dia juga sangat merindukan bau harum tubuh mantan suaminya. Sungguh Aini tidak mau dan tidak menginginkan perpisahan ini tapi apalah daya takdir tidak bisa dipaksakan.
__ADS_1
"Kalau saja waktu itu aku tidak langsung menuduh mu Ai... mungkin saat ini..."
"Sssttt... kakak tidak salah jika aku berada diposisi kak Adit pasti aku akan melakukan hal yang sama... " sungguh Aditya terkejut dengan apa yang diucapkan Aini saat ini bagaimana bisa dia mengatakan hal itu.
"Hatimu terbuat dari apa Ai..." batin Aditya yang semakin membuatnya dirundung rasa bersalah dan rasa penyesalan yang teramat dalam dihatinya.
Entah siapa yang memulai kini pelukan mereka melonggar,Aini mendongak dia melihat air mata dan lihatlah mata elangnya yang sembab karena habis menangis,Aini merasa sangat bersalah dalam hal ini,kedua tangan Aini mengusap lembut sisa sisa air mata dipipi Aditya.
"Aku mencintaimu kak... sangat, jangan pernah merasa bersalah dan menyesal dengan apa yang sudah terjadi,aku tahu Tuhan sedang merencanakan sesuatu yang indah dibalik semuanya,.." ucap Aini pelan,jemari jemari lentik Aini masih tak lepas menangkup wajah tampan pria yang ada dihadapannya ini yang sekarang bergelar menjadi mantan suaminya.
Aditya pun melakukan hal yang sama jari jari besar Aditya menangkup wajah mungil Aini dengan sayang ada sejuta bahkan ribuan atau bahkan jutaan kerinduan disana, dihatinya tersemat rasa yang sangat indah untuk wanita yang sekarang sudah menjadi mantan istrinya.
Mengingat hal itu Aditya semakin muram dan dirundung rasa penyesalan yang teramat sangat, seandainya waktu bisa diputar kembali Aditya pasti tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
"Bolehkah aku menyentuh kedua bayi kita Ai..." pinta Aditya sedikit takut Aini tidak mengijinkannya.
Ada kehangatan disana yang dirasakan kedua insan tersebut Aini memejamkan kedua matanya hatinya merasa hangat dan sejuk secara bersamaan sedangkan Aditya merasa bahwa dia begitu sangat emosional saat ini.
Hatinya menghangat tapi berbalut kesedihan karena kedepannya nanti mungkin dia tak akan bisa menyentuh mereka kembali,entah mengapa Aditya merasa bahwa ini adalah pertemuan terakhir mereka Aditya merasakan sesuatu yang tidak bisa dijabarkan secara bersamaan.
Lama mereka dalam posisi seperti itu kalau boleh egois Aditya ingin sekali membawa Aini pergi menjauh dari sini lalu ingin sekali dia menguncinya karena dia merasa bahwa Aini hanya akan menjadi miliknya seutuhnya.
Tapi lagi lagi kesadaran bertumpu diotaknya sehingga pikiran waras Aditya kembali bekerja,Ai... aku ingin melindungi mereka,ikutlah dengan ku,lupakan dengan ritual aneh itu lepaskan bebanmu hidupmu bukan untuk banyak orang hidupmu hanya untuk dirimu sendiri kita, maksud nya kau dan aku bisa bebas lepas tanpa ..." belum sempat Aditya melanjutkan kata katanya tiba-tiba sebuah tamparan keras mendarat dipipi Aditya
Plakk
"Apa kau bilang kak .. " nafas Aini memburu kupingnya panas mendengar kata-kata Aditya yang tak masuk akal bagaimana bisa dia berkata seperti itu sungguh Aini kecewa dengan pemikiran Aditya saat ini.
__ADS_1
"Apakah nyawa keponakan mu tidak berharga bagimu kak..." kedua mata Aditya membola bagaimana dia lupa akan hal itu.
"Bagaimana dengan nyawa gadis gadis yang diculik dan akan dijadikan persembahan untuk ritual laknat besok, kalau aku dan yang lain tidak menghentikannya lalu siapa hah... jika ritual persembahan ini berhasil tanpa ada halangan apapun apakah kamu bisa menjamin bahwa dunia kita akan aman lalu bagaimana dengan kehidupan orang orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini?? mereka pun akan terkena imbas dari ritual persembahan ini. bukan hanya mereka saja bahkan mungkin keluarga mu juga akan terkena selain mengorbankan gadis gadis mereka juga mengorbankan banyak bayi yang tidak bersalah lainnya kak,lalu apakah kamu tega melihat semua itu dengan hanya berpangku tangan saja." suara Aini yang tadi keras lambat laun menjadi lirih.
Aditya tersadar dari semuanya dia melihat tubuh bergetar Aini pun dia ikut merasakan betapa apa yang sudah dilakukan Aini bukanlah semata mata demi dirinya sendiri melainkan demi banyak orang banyak nyawa yang menjadi taruhannya.
"Maaf... " Aditya berdiri kaku dan tertunduk lemas, matanya memejam rapat bagaimana dia bisa se egois ini entah apakah karena rasa cinta yang teramat besar untuk Aini ataukah hanya sebuah keobsesian saja tapi yang jelas Aditya tidak mau Aini berjuang sendirian.
"Apakah sudah selesai drama romantis nya..." terdengar suara bariton yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka berdua, pemilik suara itu tak lain adalah milik Nico.
Nico yang sedari tadi menyaksikan keduanya menahan gejolak amarah yang tertahan melihat Aini menangis hatinya bagai disayat sembilu, sebenarnya Nico sudah berada tidak jauh dari Aini semenjak Aini menginjak kan kakinya dihutan ini.
Dia memang membiarkan Aini untuk menumpahkan segala kesedihan Nico tahu Aini butuh waktu untuk sendiri meskipun hanya beberapa saat.
tapi disaat Nico ingin mendekati Aini tiba-tiba saja dia melihat mantan suami Aini sudah berada ditempat yang sama dengan Aini bagaimana dia bisa tahu kalau Aini sedang berada ditempat ini.
"Ayo kita pulang Ai... kakek sudah cemas dan menunggu kita..." Aditya sontak terkejut dengan kata kata Nico.
"Tinggu tunggu,.. kau tinggal dimana Ai... jangan katakan kalau kau tinggal bersama laki-laki ini..." ucap tanya Aditya sedikit keras.
"Maaf kak aku harus pergi ada sesuatu yang harus aku kerjakan..." pamit Aini tanpa menjawab pertanyaan dari Aditya.
"Tidak Ai..."
Sett
Slaaahhsss
__ADS_1
"Damn.... Aaaahhhhh sial*n..."