Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 75


__ADS_3

Setelah Nico pergi dari rumah kost Aini, kini Rina nampaknya sudah selesai dengan pekerjaannya, dia hendak menghampiri Aini bagaimana pun tingkat ke kepoan Rina sangat tinggi,Rina ingin tahu kenapa Nico datang untuk menemui sahabatnya itu.


Baru dua langkah Rina beranjak dari tempatnya berada, tiba-tiba bahu rina ditepuk seseorang.


Pukk


"Rina... mau kemana ??" Rina yang kaget dapat tepukan dibahunya seketika menoleh kesamping,betapa kaget dirinya ketika melihat siapa yang berada disampingnya itu.


"A... Ai... ka kamu kok ada disini trus yang disana siapa??" dengan gagap Rina bertanya sambil menunjuk kedepan dimana tadi dia melihat Aini yang baru saja menemui tamunya Nico.


Jantung Rina berdegup sangat kencang tubuhnya gemetar, wajahnya pucat seperti tidak dialiri darah sama sekali. Aini melihat sahabatnya yang bertingkah sangat aneh apalagi melihat tubuh gemetar Rina kini tersenyum.


"Kamu kurang minum air putih Rin..." sambil menyodorkan sebotol air mineral Aini melihat kearah belakang tubuh rina, disana dia melihat nenek Rumpi sedang tersenyum jahil sambil mengerlingkan mata.


Aini yang melihat nenek Rumpi hanya menggeleng gelengkan kepalanya pelan, sementara Rina yang menerima air mineral kemasan botol dari Aini langsung menenggak minuman itu hingga tandas.


Entah mengapa tiba-tiba dia sudah baik baik saja tanpa mengingat kejadian barusan, "Sudah baikan??" Rina yang mendengar kan pertanyaan Aini mengangguk cepat .


"Aku mandi dulu Ai... gerah soalnya"


"Heemm.... " Aini mengangguk setuju.


Setelah Aini melihat punggung Rina yang sudah menjauh dari sana hanya tersenyum sambil menghampiri nenek Rumpi.


"Kenapa nenek jahil sama temanku nek...??" tanya Aini dengan bersuara lewat batinnya.


"Genduk ayu kui lucu... ( anak cantik itu lucu...)" sahut nenek Rumpi.


"Mpon sering digudo toh Mbah.. mesakke larene... ( jangan sering digoda lh Mbah... kasihan anaknya...)" tukas Aini lembut.

__ADS_1


" Nyoh rek ora lali nduk,.. ( Iyah kalau gak lupa nduk,.. )" jawab nenek Rumpi.


"Mau Ono dayoh nduk... cah bagus, tapi aku Reti maksud e medayoh menyang kene nyapo,. ( Tadi ada tamu nak... Laki laki tampan, tapi aku mengerti maksud bertamu kesini kenapa,. )" Aini mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


"Sinten toh Mbah... ( Siapa yah Mbah... )" tanya Aini penasaran.


"Cah bagus seng remen menyang koe nduk... Asmone Nico,. aku mau nyamar dadi koe nduk... mesakke aku cah bagus kui kepingin nemen menyang koe nduk,. Eman biyunge Ra geblek... ( laki-laki tampan yang suka kepada kamu nak... Namanya Nico,. aku tadi berpura-pura jadi kamu nak... kasian aku laki laki tampan itu terobsesi sekali kepada mu nak,. Sayang ibunya tidak becus... )" celoteh nenek Rumpi.


"Kulo singen nggeh remen Mbah kale mas Nico,. tapi... biyunge ngancem ora bisa nyidheki larene,. Amarga kastane beda kale kulo sing mlarat lan anak setan jarene... ( Saya dulu juga suka Mbah dengan kak Nico,. tapi... ibunya mengancam tidak boleh mendekati anaknya,. Karena kastanya berbeda dengan saya yang miskin dan anak setan katanya )" ucap Aini lirih.


"kulo boten pengin nambah masalah mbah, yen aku ora diijini cedhak karo dheweke, kulo nggeh ngasih to Mbah,.. nanging.. ibune Yoh ora kudu mateni kabeh kulawarga kulo sedanten kan mbah?.. ( Saya tidak ingin menambah masalah mbah, jika saya tidak diperbolehkan dekat dengan anaknya, saya menjauh, tapi.. ibunya tidak harus membunuh seluruh keluargaku juga kan Mbah? )" tiba-tiba air mata Aini menetes jika mengingat jerit tangisan seluruh keluarganya yang tewas dilahap api kala itu.


"Yo wes toh nduk Ra sah dieling eling neh... Mbah yakin koe wonge legowo due ati jembar segara... ( Yah sudahlah nak tidak usah diingat ingat lagi... mbah yakin kamu orangnya menerima segalanya dengan sabar punya hati seluas samudra ...)" Aini mengangguk pelan menerima petuah dari nenek Rumpi.


Setelah hari beberapa hari akhirnya tiba hari H dimana Aini dan Aditya melangsungkan akad nikah secara tertutup, dimana hari ini Aini duduk disebuah kamar yang sudah dipersiapkan oleh mama Rossa.


Yah sejak 3 hari yang lalu Aini dijemput mama Rossa dan dibawa kekediaman keluarga besarnya, meskipun Aini tinggal dikediaman Tuan Antoni Aditya tidak diperkenankan untuk melihat Aini.


Aini tinggal dipaviliun yang terletak di samping di kediaman utama, disana Aini bersama sahabat nya Rina agar gadis itu tidak merasa sendirian dan canggung karena berada disatu tempat.


Setelah melakukan ritual siraman dengan mandi kembang tujuh rupa sesuai adat Jawa,itulah yang di minta perwakilan Aini yaitu, kakek penjaganya dan nenek Rumpi yang kini berwujud sebagai manusia yang bisa dilihat secara kasat mata.


Sebenarnya Aini ingin memberitahu kan orang tua angkat Aini, tapi urung dia lakukan karena dari berita yang Aini dengar mereka sekeluarga orang tua angkat Aini berpindah tempat entah mengapa mereka tidak memberitahu kan kepada Aini.


Sehari sebelumnya Aini kedatangan tamu yaitu guru sekaligus kakek angkat nya yang dari dunia ghaib beserta kakek Bimo, entah ada hubungan apa antara kakek gurunya dengan kakek Bimo,Aini tidak tahu dan tidak mau tahu.


Kalau pun nanti kakek gurunya mengatakan perihal kedekatannya dengan kakek Bimo Aini biasa saja.karena Aini tipe cuek dan tidak mau tahu urusan orang lain kecuali orang yang benar-benar membutuhkan.


"Kau sudah siap nduk... " Aini bergeming tidak menjawab pertanyaan kakek gurunya.

__ADS_1


"Kau tahu bukan apa yang kau lihat pasti akan terjadi..., meskipun kau berusaha mencegah agar tidak terjadi tapi.... untuk meminimalisir dampak nya sangat minim nduk...!!" Aini masih setia dengan kebungkamannya.


"Kakek akan membantu mu..." Aini melirik kearah kakek Bimo sebentar kemudian dia menghela nafas panjang.


"Bukankah jika dengan menikah dengan kak Aditya dan melepaskan keperawanan saya itu sudah jadi solusinya kek... !!" Aini nampak berfikir.


"Karena syarat dari ritual itu adalah darah perawan dariku..." Aini menatap kosong kedepan dia menimbang nimbang bakal terjadi apa kedepan nya nanti jika mereka tidak berhasil, tentunya nyawanya sendiri lah sebagai taruhannya.


"Kau salah perhitungan nduk... kau lupa kalau adik dari hafiz juga mempunyai hari lahir dan weton yang sama denganmu meskipun beda tahun dan beda secara spiritual karena gadis itu bukan gadis istimewa seperti dirimu,tapi setidaknya dia sudah bisa menjadi syarat mutlak akan ritual tersebut..." Aini membelalakkan kedua matanya, bagaimana mungkin dirinya bisa lupa.


Itulah yang ada dalam pikiran Aini selanjutnya, "Astaghfirullah!!" berkali-kali Aini istighfar dia seakan-akan menemui jalan buntu.


"Kakek akan membantumu nduk... kakek akan kesana kerumah keluarga Harun untuk melakukan ritual memberi pagar ghaib pada rumahnya dan pada gadis itu..." kakek Bimo nampak sendu dan berpikir untuk meminta bantuan Nico cucunya.


Aini melihat keseriusan yang nampak diwajah kakek Bimo, sedangkan kakek gurunya masih tak lepas dari memandang cucu angkat nya.


Sebenarnya Aini bukanlah cucu angkat nya melainkan buyutnya, setelah pernikahan nya dengan wanita dari dunia manusia dan setelah itu istrinya melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan dan beberapa tahun kemudian lahir kembali bayi perempuan yang sangat cantik, tapi sayang karena pernikahan nya dengan manusia biasa diketahui keluarga nya kakek buyutnya dipaksa untuk meninggalkan istrinya.


Sebenarnya kakek buyutnya berstatus seorang pangeran mahkota dikerajaan dunia ghaib tapi karena satu kesalahan akhirnya kakek buyutnya dihukum dan dari hukuman tersebut akhirnya kakek Bimo bertemu dengan seorang wanita dari dunia manusia.


Kini terjawab sudah siapa Aini sebenarnya dan kenapa salah satu keluarganya tak ada yang mewarisi kesaktian dari kakek buyutnya selain sang kakek yang sudah lebih dulu menghadap Sang Pencipta.


"Kakek... Aini harus apa??" kakek buyut Aini tersentak kaget kala ini memanggil nya.


"Tindakan mu benar nduk... tapi kamu harus melindungi suamimu karena setelah kalian menikah maka secara otomatis suamimu yang akan menjadi target berikutnya..." Aini sedikit terkejut tapi dia sebenarnya tahu akan hal itu,tapi kalau Aini tidak segera menikah maka korban akan semakin banyak.


"Suatu saat nanti kau harus siap kehilangan nduk..." Aini menunduk dia seperti sedang dalam keadaan buntu.


"Baiklah kakek pulang jaga dirimu baik-baik besok kakek akan datang lagi kesini sebagai wali nikah mu...." Aini tersentak tapi beberapa detik kemudian dia tersenyum penuh arti. kemudian diapun mengangguk

__ADS_1


Setelah berpamitan duo kakek itupun menghilang dari hadapan Aini dalam satu kedipan mata,tapi sebelum benar benar menghilang kakek guru Aini atau kakek buyut Aini berpesan kepada kakek penjaga buyut nya yang hanya bisa didengar oleh penjaga Aini saja " Kau harus selalu berada didekat cucuku apapun yang terjadi lindungi lah cucuku dengan taruhan kehidupan mu aku tahu kau sangat menjaganya" kakek penjaga Aini yang berwajah datar pun mengangguk kecil tanpa ada seorangpun yang melihatnya.


Pagi ini setelah pihak MUA sudah selesai menghias wajah Aini mereka pun pamit kekediaman utama untuk memberitahukan pihak keluarga mempelai pria.


__ADS_2