Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 90


__ADS_3

Sementara dipentohouse milik Nico nampak seorang wanita yang tertidur pulas dibawah selimut tebal masih enggan untuk membuka matanya,yah... wanita itu tak lain adalah Aini dia sudah tertidur selama dua hari seakan-akan dia enggan untuk membuka kedua matanya.


Nico yang sesekali melihat Aini hanya bisa menghela nafas pasrah tidak tahu harus berbuat apa,Nico menyewa pelayan khusus untuk Aini,Nico ingin Aini betah disana tanpa terganggu kehadirannya.


Tanpa Nico sadari kedua mata indah Aini terbuka secara perlahan,mata cantik itu mengerjap ngerjap kan kedua matanya mencoba menetralisir pandangan nya yang sedikit silau akan cahaya matahari yang masuk lewat jendela besar kamar itu.


"Euungghhh.... " terdengar suara lembut Aini dirungu Nico, Nico pun tersentak jantung nya berdetak sedikit cepat dia takut Aini tidak mau tinggal ditempat ini hanya itu yang Nico takutkan.


"Dimana aku..." Aini melihat sekeliling kamar itu merasa asing kemudian netranya melihat sesosok pria yang tak lain adalah Nico yang tengah menatapnya tanpa bergerak sedikitpun.


Nico hanya mampu terdiam tanpa satu pun suara, kalau boleh jujur dia sangat bahagia melihat Aini sudah membuka matanya tapi satu yang Nico takutkan adalah Aini tak mau tinggal disini di pentohouse miliknya.


"Kak Nico... " sapa Aini membuyarkan lamunan Nico. Aini mengerjap heran kenapa Nico seakan akan kosong pandangan nya.


Aini mencoba menyadarkan Nico dengan melempar bantal kecil kearah Nico.


Bruk


"Aduh... Ai..." Aini mencibir malas.


"Kak Nico tuh ngapain ngelamun gt,.. Aini takut kak Nico kesurupan jin bantal tuh,.. makanya aku lempar pake bantal juga biar kak Nico sadar..." sambil memanyunkan bibirnya Aini mencebik sebal.


"Maaf Ai.... " kakak tadi hanya melihatmu bangun kakak pikir kamu gak bakalan mau bangun lagi.." dalih Nico.


"Hhhhhh... bagaimana pun juga Aini harus terima semua yang sudah ditakdirkan kak,. mungkin kak Adit memang bukan jodohku,.. meskipun disini ada buah cinta kami,.." nampak Aini menunduk lesu ,kedua tangannya kini mengelus perutnya yang sedikit membuncit karena usia kehamilannya sudah hampi empat bulan.


Tiba-tiba saja rasa sesak menghampiri Aini tanpa dia sadari air matanya menetes dengan pasti dan tanpa permisi.


Sementara tangan kanannya menepuk dada sebelah kirinya " hiks hiks... kenapa sakit sekali kak... meskipun aku tahu separuh kak Adit dalam kuasa ilmu hitam tapi kak Adit juga masih ada kesadaran disana dan dengan mudah dia mengucapkan kata talak padaku, seharusnya kak Adit tidak mendahulukan egonya apakah memang aku tidak terlalu mengenal baik dirinya dan memang apakah itu sifat aslinya,... ??" kini Aini bangun dan bersandar di dipan dengan ukuran king size-nya.


"Kakak tahu ini pasti berat buatmu Ai... tapi kakak yakin kamu mampu melewati semuanya dengan baik seperti yang sudah sudah,..." tukas Nico pelan dia mencoba mensupport Aini agar bisa lebih kuat dari sebelumnya.


"Kakak juga minta maaf atas nama mommy Ai... kini mommy juga sudah menerima karmanya,dia sekarang ada dirumah sakit jiwa khusus,dan...." Aini membola dirinya tidak menyangka kalau ibu dari seorang Nico akan mengalami hal itu.


"Daddy pulang kenegaranya ,aku tidak mau menerima sepeserpun uang dan perusahaan yang diwariskan Daddy padaku, karena aku tahu Daddy punya anak lain selain aku dan itu dari wanita lain dinegara nya,itupun Daddy menikahi perempuan itu dengan diam diam,. karena itulah mommy sedikit syok dan stres berkepanjangan saat tahu kalau Daddy tak setia..." nampak gurat kesedihan dalam netra pria tampan itu.


Jujur Aini terkejut dengan cerita dari Nico ternyata dibalik semuanya ada sesuatu yang tidak sederhana.


Ceklek


" Maaf tuan muda ini makanan nya saya taruh dimana...??" ucap seorang pelayan khusus yang disewa Nico untuk melayani Aini.

__ADS_1


"Kau taruh dimeja nakas setelah itu keluarlah..." titah Nico kemudian.


"Baik..." setelah meletakkan makanan diatas nakas pelayan wanita itu segera keluar.


"Kak... bolehkan aku nginap sementara disini?? Aku ingin menjauh lebih dulu dari semuanya, setelah 2 hari kita keluar dan berburu yang perlu diburu dan dibasmi,. sudah lama tangan ini tak digunakan untuk sesuatu yang sangat baik,." Nico tersenyum mendengar kata-kata Aini, kemudian dia mengangguk setuju.


"Tentu kita berburu bareng kalau kau mau,.." Nico mengusap kepala Aini pelan kemudian dia pamit keluar karena Nico tak mau Aini jadi canggung kalau ada dirinya didalam satu ruangan.


Setelah Nico keluar dari kamarnya kembali Aini meneteskan air matanya, "ternyata apa yang terjadi bukanlah mimpi meskipun aku berharap itu hanya sebuah mimpi" gumam Aini.


"Ibu... hiks hiks... aku kangen...!!!" lirih tangis Aini terdengar menyayat hati,


" Kenapa kak Adit tega melakukan ini padaku bukankah dia bilang sangat mencintai ku,.. apakah ini yang disebut dengan cinta?? Ah ... aku kembali tidak beruntung dalam hal percintaan ataukah ini takdir ku ya Allah.... Sakit... hiks hiks sakit sekali ya Allah.... "


Sementara Nico yang masih berada dibalik pintu kamar Aini juga merasakan hal yang sama sakit tapi tak berdarah yang terlihat.


Kedua mata Nico terpejam kala mendengar suara isakan tangis Aini yang menyayat hatinya, kedua tangannya mengepal kuat sampai buku bukunya memutih.


"Kakak janji pasti akan membahagiakan kamu Ai... apapun yang terjadi nantinya,..!!" gumam Nico lirih.


Drrrttt Drrrttt


"Katakan..."


"Kau tetap awasi semuanya dan sebar semua anak buahmu dan kau juga awasi keluarga pak Antoni aku yakin ini tidak sesederhana itu..." titah Nico.


(......)


"Apa yang kau Laporkan itu real??" kini kepala Nico berdenyut nyeri.


"Baiklah ... kau tetap awasi mereka aku ingin kau segera mencari tahu dimana letak para gadis itu disekap..."


Tutt


" Jadi masalah Aini dan Aditya ini hanya sebagai pengalihan agar Aini kehilangan fokus dan ... Shitt... kenapa aku baru menyadarinya...." gumam Nico geram.


" kenapa le... " tanya kakek Bimo yang tiba-tiba muncul dihadapan Nico.


"Masalah ini sangat tidak sederhana kek... ternyata keponakan Aditya mempunyai tanda lahir yang sama dengan Aini meskipun dia tidak mempunyai kelebihan seperti Aini..." kakek Bimo mendesah kuat.


Sementara itu ditempat dimana Dewi dan pak Antoni berada nampak suasana dirumah itu sangat mencekam dan penuh dengan suara tangisan Dewi.

__ADS_1


Berkali-kali Dewi pingsan kala tak mendapatkan kabar dari orang orang suruhan papanya yang ditugaskan untuk mencari keberadaan putrinya.


" Kalau saja ada Aini pasti semua tidak akan sulit,.. " sesal Dewi dalam hati.


" Kak Dewi ... " panggil Aditya dan nampak mama Rossa kini sudah berada dalam kursi roda.


"Mama kok pulang ... bukankah dokter menyarankan agar mama..."


"Mama baik baik saja pa.... bagaimana mungkin mama bisa tenang setelah mengetahui cucu mama hilang?? kalau saja Aini ada disini pasti dia akan membantu kita ..." nampak suara mama Rossa tercekat,dia sangat menyesal karena sempat curiga kepada menantunya itu.


Sedangkan Aditya menundukkan kepalanya bening bening kristal kembali bertengger Dimata elangnya, hatinya kembali dihujam ribuan pisau yang berkarat rasa penyesalan yang tak berujung membuat nya semakin tak berjiwa.


"Maafkan aku Ai... maafkan aku sayang... aku sangat mencintaimu Ai... sangat... " wajah Aditya kini suram dan memerah karena kesedihan yang meraja.


Pak Antoni yang melihat putranya kini menjadi ikut sesak dibuatnya,kalau saja saat itu putranya tidak dikuasai amarah tidak mungkin dia akan mengalami hal semacam ini.


"Maaf tuan ... Bu Dewi... diluar ada tamu ingin bertemu dengan tuan dan Bu Dewi serta den Adit...." ucap simbok dengan langkah sedikit tergesa-gesa.


"Siapa mbok..." tanya pak Antoni penasaran.


"Saya kurang tahu tuan, pas saya tanya katanya orang itu bernama Sony... " jawab simbok cepat.


"Hhmm ... kau buatkan minum dan antarkan keruang tamu." dan diangguki oleh simbok, setelah simbok pamit undur diri pak Antoni dan Dewi serta diikuti oleh Aditya lekas keruang tamu dimana orang yang bernama Soni kini berada.


"Ruka... tolong jaga mama..." pinta Dewi pada baby sitter putrinya.


Ruka mengangguk kemudian dia berjalan kearah mama Rossa " mari Bu.... " ucap Ruka sambil mendorong kursi roda mama Rossa menuju kamar yang sudah ditempatkan selama ini jika mama Rossa dan pak Antoni menginap.


Sedangkan diruang tamu nampak sedikit ketegangan terjadi disana, tanpa basa-basi dan to the poin Soni yang tak lain adalah suruhan dari Nico menyerahkan sebuah dokumen dan flashdisk kepada pak Antoni.


"Saya tidak ada niatan apapun kepada anda sekeluarga tapi saya diperintahkan oleh tuan saya menyerahkan semua itu kepada anda pak Antoni... " ujar Soni tegas.


"Apa ini...??" tukas pak Antoni penasaran,sebelah alisnya terangkat kemudian dia meminta Aditya mengambil laptop guna melihat apa yang tertera di flashdisk pemberian Soni itu.


"Dan ini untuk pak Aditya,.. ini dari Bu Aini ... " ucap Soni sambil menyerahkan sebuah map coklat kehadapan Aditya.


Deg


Dengan tangan gemetar Aditya menerima amplop coklat itu dari tangan Soni, pikiran buruk Aditya sudah melanglang buana kemana mana.


Kalau boleh jujur dia saat ini tidak siap menerima berita buruk apapun yang berhubungan dengan Aini.

__ADS_1


"Tugas saya sudah selesai dan saya mohon ijin permisi..." seperti diawal tanpa basa-basi Soni pun bergegas pergi.


__ADS_2