
Devan pun melotot tak percaya Diapun meyakinkan apa yang didengarnya dengan menatap bola mata hitam Aini tajam menelisik jauh kedalaman nya, nampak sekali tidak ada kebohongan disana.
Sejurus kemudian Devan pun beranjak dari tempat duduknya. Kemudian tanpa kata Diapun melesat pergi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Setibanya dirumah Pak Harun Devan pun turun dengan tergesa-gesa. Dengan terburu buru Devan pun memencet tombol bel rumah itu dengan cepat.
Ting Tong Ting Tong Ting Tong
Tak lama kemudian pintu pun terbuka, dan nampaklah sosok Andriana adik bungsunya Hafiz.
" Kak Devan... A ada apa Kak ?? Kok pagi pagi main ke sini nyari Kak Hafiz' yah...!?" ucap Andriana.
"Assalamualaikum Ana... Mana Hafiz ??" sambil menelisik kedalam rumah Devan menanyakan tentang Hafiz pada Andriana.
" Kak Hafiz' belum keluar kamar dari semalam Kak... Sehabis bertengkar dengan Ibu Kak Hafiz' belum keluar sama sekali sampai sekarang." Jawab Andriana dengan menunduk dan berwajah sendu.
" Astaghfirullah... Ayo cepat bawa Aku kesana Ana... " dengan cepat Devan melesak masuk tanpa permisi pada yang empunya rumah.
Andriana pun melongo sekaligus bingung tak urung jua Dia pun mengikuti langkah Devan, Andriana pun masih kebingungan, ada apa sebenarnya hatinya bertanya tanya.
" Ana... Jangan bengong aja tunjukkan padaku dimana kamar Kakakmu Hafiz !!"
Andriana pun tersadar dari lamunannya dan segera menunjukkan dimana kamar Hafiz, kemudian Devan pun mengetok pintu kamar Hafiz perlahan.
Hingga sekian lama tak ada jawaban Devan pun panik.
" Ana... Apakah kamar ini punya kunci cadangan??" tanya Devan pada Andriana.
" Ana gak tahu Kak... Sebentar Ana tanyakan dulu sama Papa". jawab Andriana, belum sempat beranjak dari tempatnya berdiri nampak Pak Harun pun menghampiri.
" Ada apa ini Ana.... Loh Nak Devan ada apa tumben pagi pagi sudah ada disini apakah ada perlu dengan Hafiz!?" Tanya Pak Harun pada Devan.
" Iya Om tapi .... Maaf sebelumnya Om Harun Saya benar benar khawatir dengan keadaan Hafiz sekarang, apakah pintu kamar Hafiz ada kunci cadangan nya Om..." Tanya Devan
" Apa maksudmu Devan.?? Hafiz kenapa ? Ada apa dengan Hafiz ?? " Panik sudah pasti bagai disambar petir Pak Harun pun sempat memegang dadanya.
" Om... Om... Maaf Om... Apakah pintu kamarnya Hafiz ada kunci cadangannya Om...??" Devan pun ikut panik melihat Pak Harun memegang dada sebelah kirinya.
" Om... Apakah Om Harun baik baik saja??." melihat Pak Harun diam saja alhasil membuat Devan pun khawatir.
" I iya Nak ada sebentar Saya ambilkan," dengan segera Pak Harun menuju Bufet yang ada di dapur, dengan tangan gemetar Pak Harun pun membuka laci bufet didapur saking paniknya Pak Harun juga kesulitan mencari kunci itu padahal sudah nampak didepan nya, 'Astaghfruiiah...' batin Pak Harun.
Setelah menemukan apa yang dicari Pak Harun pun segera berlalu dan menghampiri Devan yang sedang menunggunya.
" Nak Devan ini kuncinya,.. " masih dengan tangan gemetar Pak Harun pun memberikan kunci kamar Hafiz.
__ADS_1
" Makasih Om..." setelah mengambil kunci itu lalu Devan pun mencoba untuk membuka.
Ctakk Ctakk
Dua kali putaran anak kunci itu dan kemudian terbukalah pintu kamar itu, dengan segera Devan pun masuk dan mencari keberadaan Hafiz.
Alangkah terkejutnya Devan melihat Hafiz tertidur dilantai, bukan,, Hafiz seperti bukan tertidur melainkan Dia pingsan itu sudah jelas dari posisinya yang terbaring dan ada darah kering dihidungnya.
" Astaghfirullah Hafiz... "
" Kak Hafiz'..."
" Putraku ...."
Berbarengan mereka memanggil Hafiz dengan panggilan yang berbeda.
Dengan sigap Devan pun mengangkat Hafiz tanpa bantuan dari siapapun keatas ranjang.
Beratnya tubuh Hafiz Devan tak merasakan, yang pasti Devan berusaha yang terbaik agar Hafiz segera dapat penanganan.
Setelah selesai Devan pun mengambil gawainya dan meraba saku celananya, dan hendak menghubungi seseorang.
" Ai... Assalamualaikum Aini...!!" ucap salam Devan kepada seseorang diseberang sana dan siapa lagi kalau bukan Aini, sebab dari Dialah Devan tahu jika Hafiz sedang dalam bahaya.
Pak Harun pun mengernyitkan dahi heran bukannya menelepon pihak rumah sakit tapi malah menelepon Aini, 'ada apa ini sebenarnya?' batin Pak Harun.
" Astaghfirullah... Putraku kenapa Kamu Nak ya Allah??" panik Pak Harun dan khawatir itu yang Pak Harun rasakan, Dia tidak mau terjadi apapun untuk yang kedua kalinya pada Putranya kali ini.
Sambil memandangi Putranya Pak Harun pun, menangis sesenggukan lirih sekali tanpa ada suara.
" Ai... Kamu benar Ai Hafiz sekarang dalam keadaan pingsan, Aku bingung Ai... Apa yang terjadi sebenarnya katakan padaku Ai...." Devan berbicara tanpa jeda pada Aini melalui telepon celuler miliknya.
" Cepat periksa Kak... Kenapa diam saja" jawab Aini diseberang sana.
" Astaghfirullah Ai... Bagaimana Aku bisa lupa bahwasanya aku juga seorang Dokter,. Shitt...." tanpa menutup panggilannya Devan meletakkan begitu saja Gawainya di meja nakas milik Hafiz.
Dengan sedikit berlari Devan keluar dan tak lama kemudian Dia pun kembali mengambil tas kerjanya.
Perlahan tapi past ini Devan pun memeriksa Hafiz, sedikit mengernyitkan dahinya Devan mengulang kembali pemeriksaan nya.
" Astaghfirullah.... Saya minta maaf Om,. Hafiz harus segera dibawa kerumah sakit kembali." sedikit menunduk Devan mengatakan perihal tentang Hafiz pada Pak Harun.
" Apa maksudmu Nak Devan...?? Kenapa dengan Putraku ada apa? Kenapa harus dibawa kerumah sakit lagi??" dengan sedikit terbata bata Pak Harun bertanya
" A ada kemungkinan Hafiz akan kembali mengalami koma karena shock yang tiba-tiba kejadian demi kejadian yang dialami Hafiz jiwanya sudah enggan untuk kembali melanjutkan hidup" panjang lebar Hafiz menjelaskan.
__ADS_1
" Ingatan yang dihapus Aini Hafiz mencoba mengingat paksa karena Hafiz sering merasakan Dejavu dan mimpi hal yang sama, mungkin Hafiz sebelumnya maksud saya sebelum mengalami kecelakaan dan koma cinta pertama dan terakhirnya hanya Aini Om... Saya bisa mengatakan ini sebab Hafiz dulu sering curhat sama Saya, maaf ini hanya kesimpulan saya saja". lanjut Hafiz.
" Astaghfirullah.... Kenapa... Kenapa harus Putraku,.. Ini semua gara gara Astri, aku tak akan pernah memaafkan Dia jika terjadi sesuatu yang fatal pada Putraku" gumam Pak Harun
" Om... Izinkan Saya membawa Hafiz kerumah sakit"
" Tidak.. Aku ingin Hafiz dirawat dirumah saja, dan aku akan membeli semua peralatan yang diperlukan untuk itu semua"
" Baiklah jika itu kemauan Om Harun, saya akan menghubungi seseorang untuk membantu semuanya."
Andriana yang sedari tadi terdiam pun hanya mematung ditempat semula tanpa berpindah sedikit pun dari tempatnya.
Dengan tergesa-gesa Devan pun keluar setelah berpamitan pada Pak Harun, agar segera bisa melakukan tindakan yang diperlukan, Devan pun menelepon Dokter Dokter yang dulu telah merawat Hafiz agar kerumah Pak Harun.
###
Sementara itu Aini sedari tadi hanya merenung dan melamun setelah Devan meneleponnya tadi Aini masih enggan berpindah dari tempatnya duduk.
"Hhhhhhhh..."
'Jika ini mang sudah jadi kehendakMU Saya bisa apa ya Allah' Batin Aini
' Maafkan Aini Kak Hafiz.... Aku pun juga masih mencintaimu' tanpa terasa air matanya pun luruh.
Tin Tin Tin
Suara klakson mobil mengagetkan Aini, Diapun menoleh kearah sumber suara.
" Kak Adit..." dengan senyuman manisnya Aini memanggil Aditya lirih.
" Hai Aini... Gimana kabar mu hari ini apakah kamu sudah baikan??"
" Alhamdulillah Aini baik Kak..."
" Heemm... Aini hari ini kamu ada rencana gak mau kemana??" Tanya Aditya
" Ehhmm... Kak... Maukah Kak Aditya mengantarkan saya kerumah Kak Hafiz? saya ada perlu disana.." pinta Aini agak sedikit ragu.
" Oke Aini sesuai keinginan mu". Jawab Aditya lembut sambil tersenyum.
" Alhamdulillah... Makasih Kak, Aini bersiap dulu yah...!?" sambil berlalu Aini pun beranjak dari tempatnya.
' Aini aku akan berusaha untuk menjadi tempat mu berkeluh kesah dan bergantung padaku meskipun...' Aditya pun menghela nafasnya panjang.
" Ayo Kak... " ajak Aini dan Aditya pun tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Ok..." sambil berlalu mereka pun menuju mobil yang terparkir di halaman tak lama kemudian mobil pun berlalu.