
Kini Aini tengah berada disebuah tempat yang dimana banyak sekali mahluk halus disetiap keberadaan nya, pandangan nya kosong kedepan tubuhnya seolah tidak berjiwa.
Air mata tak henti menetes dari kedua matanya tak ada kata kata umpatan atau kata kesedihan terucap yang ada hanya kediaman tanpa ada suara suara jiwanya.
Aini bagai mayat hidup dengan langkah gontai dia berjalan menyusuri hutan dulu pernah dia gunakan untuk mencari kekuatan baru untuk nya dan Ruth.
Sreg sreg
Langkahnya terhenti Aini terdiam dengan masih berdiri mematung seakan paku panjang menancap dikakinya, kepalanya mendongak keatas kedua matanya memejam kemudian secara perlahan membuka dengan sedikit terlapisi bening kristal yang menutup netranya Aini mencoba menembus pandangan nya ke atas.
"Aaaaaaaaaaahhhhhhh..... Hahahaha.... hahahah.... Terima kasih TUHAN TERNYATA KAU MASIH SAYANG PADAKU,.. SEKALI LAGI AKU MENERIMA KASIH SAYANG DARIMU TUHAN... hiks hiks hiks,.. sekali lagi aku tidak akan mengeluh padaMU... Terima kasih... Terima kasih... tapi... aku sakit sekali TUHAN sakit sekali... hiks hiks..." setelah bersuara sangat lantang diiringi dengan tertawa miris kini Aini menepuk dadanya menahan rasa sakit yang teramat sangat didadanya.
( Hiks hiks asli nulis ini author juga mewek...)
Brukk
"Kau jangan khawatir Ai... aku akan selalu melindungimu,kau aman bersamaku..." kemudian tubuh Aini yang sudah tidak sadarkan diri kini sudah berada didalam gendongan Nico.
Yah sedari tadi Nico mengikuti Aini entah kenapa perasaan nya sangat tidak nyaman melihat Aini saat itu dan ternyata filling nya benar bahwa Aini sedang tak baik baik saja.
Setelah semua yang dia lihat antara Aini dan suami nya apakah dia harus bahagia ataukah sedih karena Aditya telah menceraikan Aini keduanya sama-sama membuat hati Nico berdenyut nyeri kala melihat keadaan Aini saat ini.
Setelah dua hari Mama Rossa yang sudah sadar dari pasca operasi kini nampak pak Antoni dan Aditya masih tak bergeming dari ruang rawat inap mama Rossa.
Mama Rossa yang tidak diperbolehkan untuk bergerak membuat pak Antoni harus ekstra hati-hati memperlakukan istrinya,dia takut istrinya akan Anfal lagi setelah kejadian kemarin dimana dia melihat Aditya tengah duduk disofa dengan keadaan yang sangat menyedihkan.
Drrrttt Drrrttt
Drrrttt Drrrttt
"Yah hallo dew..." pak Antoni menjawab telepon dari Dewi putri sulungnya. Pak Antoni sedikit mengernyit heran kok tumben Dewi menelepon nya di jam sebelas malam bukankah dia juga barusan dari sini.
"Pa... hiks hiks..." pak Antoni yang mendengar suara isakan dari Putri sulung nya kini sedikit panik ' kenapa dengan nya' batin pak Antoni
__ADS_1
"Pa... Poppy hilang pa... " Pak Antoni membeku ditempat suaranya tercekat dia tak mampu mengeluarkan kata-kata, antara sadar dan tidak handphone nya juga sudah lepas dari tangan nya alias terjatuh dari genggaman nya.
Aditya yang menyadari papanya sedang tak baik-baik saja dia memungut handphone milik papa nya dan kemudian melihat sambungan telepon masih berlangsung.
"Kak... ini Adit ada apa... "
"Dit... Poppy menghilang kami tak tahu dimana sekarang putriku berada bahkan cctv pun tak menampakkan sesuatu, hiks hiks... Poppy hilang dit... " tak beda jauh dengan papanya Aditya juga berekspresi apa tapi Aditya masih mampu bersikap normal dia tidak mau mamanya ikut mendengar dan mengkhawatirkan tentang keadaan cucunya.
"Papa... akan ketempat mbakmu dit kau temani mama disini..." setelah sadar dari keterkejutannya pak Antoni mengucapkan hal tersebut lalu pak Antoni pun berjalan dengan cepat untuk meninggalkan tempat itu,pak Antoni ingin sekali segera sampai dikediaman Putri nya.
Aditya masih terdiam dia tidak bisa merespon apa yang sudah terjadi kali ini, kemudian Aditya pun mengusap wajahnya dengan kasar.
"Shitt..."
"Siapa yang telepon nak..." tiba-tiba suara mamanya terdengar hingga mampu membuyarkan lamunannya.
"Itu hanya urusan kantor ma..." dengan berusaha setenang mungkin Aditya menjawab mamanya.
Sedangkan mama Rossa tahu bahwa Aditya sedang menyembunyikan sesuatu darinya,dia mengingat Aini lalu mama Rossa memberanikan diri untuk bertanya dimana menantu nya tersebut dan kenapa selama ini dia tidak melihat keberadaan Aini.
"Aditya dan Aini sudah berpisah ma... Aditya menceraikan Aini dengan talak tiga langsung Adit pingin mama tidak kenapa kenapa..." lirih suara Aditya terdengar dirungu mama Rossa.
Mama Rossa yang mendengar hal itu langsung membelalakkan matanya 'apa berpisah oh tidak tidak...' batin mama Rossa.
"Dia berusaha untuk mencoba membunuh mama Adit tidak terima ma..." suara Aditya tercekat bibir nya bergetar dia tidak sanggup melanjutkan kata kata nya.
" Apa.... kau... apa yang kau lakukan Adit..." Aditya terkejut dengan reaksi mamanya dia tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan mamanya.
"Sesuai yang mama dengar ma... bukankah mama juga ingin Aditya lepas dari Aini ma..." jawab Aditya sendu,ada rasa sakit didada sebelah kirinya sakit sekali bagai dihujam sembilu tajam.
"Astaghfirullah... maafkan mama nak... ini tidak seperti yang kau bayangkan mama tidak pernah dicelakai Aini justru mama ingin menolong Aini dan ba..." Aditya terkesiap dan belum sempat mama Rossa melanjutkan kalimatnya Aditya menginterupsi
"Ma... jangan bercanda Aditya rela melakukan apapun demi mama dan Adit tidak menyangka kalau Aini bisa..."
__ADS_1
"Cukup Adit... mama tidak dicelakai oleh Aini justru mama berusaha menolong dengan tubuh mama disaat mama melihat ada siluet setitik cahaya dan yang mama yakini kalau itu adalah senjata api dengan suaranya redam disenjata itu, karena itulah tak terdengar suara tembakan bahkan Aini saat itu tengah menghibur mama karena mama sedih dengan sikap papamu..." mama Rossa terisak kala mengingat itu.
Aditya bungkam dia juga tak mampu mengeluarkan kata-kata,ada seribu silet yang menyayat jantung dan hatinya, sungguh sangat sakit dan tidak bisa dijabarkan dalam kata-kata.
Menyesal sudah pasti bukankah waktu itu pak Antoni sudah memperingatkan kepada nya saat itu tapi Aditya yang dirundung emosi dan amarah yang memuncak tak menghiraukan apa yang sudah diperingatkan oleh papanya.
Tes
Bulir-bulir bening berjatuhan dari kedua sudut matanya, telinga nya seakan tuli tak menghiraukan mamanya yang juga tengah terisak, berkali-kali Aditya mengusap wajahnya kasar dan beristighfar.
Andai waktu bisa diputar kembali mungkin Aditya akan melakukan yang terbaik,tapi .... dimana Aini saat ini bahkan kemarin pas dia pulang juga tak melihat mantan istrinya itu.
"Astaghfirullah... astaghfirullah... apa yang sudah kulakukan,aku benar benar telah melakukan kesalahan fatal " gumam Aditya.
Dengan susah payah dia mendapatkan gadis itu dan setelah dapat apa yang sudah dia lakukan, sungguh penyesalan bagi Aditya sudah tak berarti lagi. Dia mengenal baik Aini sekali dia tersakiti dan juga jika sekali dia tak mau memaafkan maka itu yang akan dilakukan Aini.
Meskipun kata maaf terucap gadis itu akan dengan santai mengatakan sudah memaafkan tapi tidak dengan melupakan.
"Shitt.... bastarrd kau Adit !! kau memang brengsek dan patut ditendang... " dia menyugar rambutnya kasar hingga acak acakan.
"Nak... kamu carilah menantuku mama tidak ingin kau berpisah dengan nya,.. ingat Adit saat ini Aini sedang me..."
"Akan aku cari ma..." dengan sedikit berlari Aditya meninggalkan mamanya entah menuju kemana.
Kini Aditya sudah berada dikamar nya rencananya setelah dia mandi dia akan kembali mencari Aini,tapi tiba-tiba saja matanya melihat kotak kecil yang berbungkus indah.
Perlahan Aditya membukanya 'Ini pasti hadiah kejutan yang dikatakan istrinya beberapa hari yang lalu' batin Aditya, nampaknya dia lupa kalau dia sudah menceraikan Aini.
Setelah membuka kado itu Aditya terkesiap melihat apa yang ada didalam bungkusan itu, secarik kertas hasil pemeriksaan dokter dan foto hasil USG serta test pack disana tertera bahwa saat ini Aini tengah mengandung dua anak kembar dan nampak difoto USG tersebut seperti sebuah kantong kecil dan ada setitik gambar yang menyerupai kecambah bukan... bukan setitik tapi ini dua titik dan bergantian dengan hasil test pack yang menunjukkan dua garis merah disana.
Brukk
Aditya luruh seketika tubuhnya ambruk dengan posisi berlutut dia menangis pilu mengingat kesalahan yang sudah dia lakukan,tangan kanannya memegang dadanya yang saat ini merasakan sakit yang luar biasa.
__ADS_1
"Maafkan aku Ai... maafkan aku... aku khilaf,bisakah kita kembali seperti dulu Ai....??"
Lama Aditya bergeming dengan posisi itu sampai akhirnya pak Antoni masuk dan melihat putranya benar benar kacau dan ....