Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 51


__ADS_3

"Ai... apakah kamu benar benar tidak mengingat perjan...."


"Tidak , aku tidak ingat jika pun aku mengingat nya tidak akan bisa mengembalikan semuanya seperti semula bukan? jadi berhenti berkutat dengan masa lalu dan jangan berharap lebih aku benar benar tidak ingin punya hubungan apapun dengan mu" ucapan Aini mengejutkan Nico,entah mengapa seperti ada sebuah pisau berkarat yang ditancapkan tepat di ulu hatinya.


"Jadi kau benar benar membenciku Ai...." gumam Nico pelan


"Tidak aku tidak pernah bisa membenci seseorang sampai segitunya, maaf..." Aini menggeleng cepat dia memijit ruang diantara kedua alisnya.


"Lalu dengan sikapmu itu apa Ai..." sedikit menahan emosi tangan Nico terkepal kuat.


Mata Nico mulai berkaca-kaca wajahnya memerah karena marah dan kecewa serta rasa sakit secara bersamaan, hatinya berselimut kabut kesedihan dan kemarahan Nico terdiam beberapa saat kedua matanya tak lepas memandang Aini yang sedari tadi menunduk.


Nico tak bisa membaca pikiran Aini hanya saja dia juga merasakan bahwa Aini juga merasakan hal yang sama,Nico berusaha menetralkan amarahnya dia berusaha setenang mungkin agar bisa mengetahui ada apa dan kenapa Aini tidak mau bahkan tidak Sudi jika berada didekat ku.


Ingin rasanya Nico membunuh seseorang sekarang juga dia butuh pelampiasan yang lebih dari biasanya tapi dia tahan karena dia ingin mengorek lebih lama apa alasan Aini menjauh darinya.


"Kau tahu aku lebih dari siapapun Ai... tapi kumohon katakan padaku ada apa dan kenapa karena kau juga tahu aku bukan tipe orang yang suka berbasa basi,hatiku sakit melihat dirimu mengabaikan ku Ai... sakit.." kini tangan Nico memukul mukul dadanya dengan keras seakan-akan dia memukul lawan yang sangat tangguh hingga terdengar keras pukulan itu meskipun di dada Nico sendiri.


Bugh bugh


"Hentikan...!! jangan bertindak konyol seperti itu jangan menyakiti diri sendiri ,.." Aini yang tersentak dengan suara pukulan keras Nico ke dadanya sendiri membuat dia mau tidak mau menghentikan aksi Nico yang keterlaluan pada dirinya sendiri.


"Kalau kau mencoba mencari simpati padaku maka lupakan aku tidak minat " kini Aini memalingkan muka kearah samping dan melihat pemandangan pantai yang disuguhkan disana.


"Kenapa Ai... apa salahku?? kau tahu bertahun tahun aku menunggu pertemuan kita kembali tapi saat itu tiba aku melihat dirimu sudah bersama orang lain, Aku mencintai mu gadis kecilku I LOVE YOU....." Nico sangat emosional saat ini dia sudah tidak bisa berkata kata lagi menghadapi sikap Aini.


"Aku tahu kau paling tidak suka berbohong katakan padaku Ai... katakan apa yang membuat mu untuk menjauh dariku bahkan surat surat yang ku kirim untuk mu tak satupun kau balas" Nico masih bergelayut dengan kesedihan,dan kerinduan seolah-olah tidak ada hal lain yang lebih penting dari rasa yang dia tanam sedari bocah.


Kini rahang Nico mengeras kalau boleh jujur dia ingin sekali memaksa Aini agar dia mengatakan alasannya tapi urung dia lakukan karena dia sangat menghormati setiap tingkah laku Aini dia takut membuat gadis itu kecewa.


"Apa kau ingin tahu kenapa tuan Nico Rosberg??" kini Aini menatap tajam kearah Nico.

__ADS_1


"Kalau aku mengatakan yang sebenarnya apakah kau akan percaya padaku ??" Nico mengangguk sendu.


"Apakah setelah aku mengatakan padamu aku boleh pergi??" kini Nico memasang wajah tanpa ekspresi hatinya gamang bagaimana menyingkapi sikapnya sekarang.


"Kediaman mu aku anggap iya,.. jikau kau ingin tahu selengkapnya kau bisa tanyakan pada mama mu aku tidak ingin bercerita sekarang,jika kau menemui Mama ku tanyakan padanya tentang semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi, kalau boleh jujur aku muak dengan keluarga kalian..." kini Nico melihat wajah Aini yang penuh dengan luka dan kesedihan entah mengapa Nico merasakan sesuatu yang tidak biasa.


Ada yang janggal disini dia benci sebuah teka teki tapi kenapa Aini tidak menjawab saja langsung kenapa harus disuruh bertanya kepada mamanya Nico mengerutkan alisnya bertanya tanya.


"Jika mamamu berani jujur aku akui mamamu hebat tapi jika mamamu tidak bisa bersikap jujur itu lebih hebat lagi karena dia juga seorang ibu yang baik" Aini beranjak hendak pergi dari sana tapi pergelangan tangannya dicekal oleh Nico.


"Tidak Ai aku butuh jawaban langsung darimu dan..." Nico melihat tatapan nyalang Aini kearah nya kemudian dia seperti mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ransel kecilnya.


"Jika nanti kau tidak puas dengan jawaban mamamu kau bisa gunakan itu dan kau akan temukan kebenaran nya" Nampak sebuah cincin permata berwarna biru safir sudah ada ditangan Nico.


"Aku rasa kau Thu cara memakai itu selain digunakan dicincin ?? aku tidak akan mengambil kembali barang itu karena itu punya kakekmu yang diberikan padaku beliau berkata jika suatu saat aku dalam kesulitan aku bisa menggunakan itu, dan aku rasa itu berguna untuk mu" Nico masih melihat cincin itu dan ketika dia mendongak dia sudah tak mendapati keberadaan Aini disana.


Kini rasa penasarannya lebih mendominasi pikirannya daripada rasa amarah dan rasa sedihnya tak ingin mengulur waktu lebih lama Nico pergi dari restoran itu setelah membayar pesanannya.


Tujuan utamanya adalah rumah orang tuanya dia sudah tak sabar segera sampai kekediaman orang tuanya,Nico menyetir mobil dengan kecepatan tinggi tidak peduli dengan lalu lintas yang sedikit padat.


"Waw... siapa nih yang datang putra kesayangan ku..." sambut Neli mama Nico.


"Aku ingin bicara pada mama, bisakah??" mama Neli yang kaget akan pertanyaan putranya mengangguk.


Dengan senyuman manis mama Neli berusaha untuk selalu tersenyum didepan putranya,dia tahu mungkin ini saatnya Nico bertanya padanya tentang gadis kampung itu, Neli menghela nafas berat 'gadis kampung itu benar benar menyusahkan ' sungut Neli dalam hati.


"Apa yang ingin kamu tanyakan sayang...??" tanya mama Neli


"Apakah surat surat yang dikirim kan untuk gadis kecil itu sampai ketanga nya ma...??" mama Neli mengernyit sebentar kemudian dia tersenyum.


"Heum... sampai, kenapa nak??" jawab mama Neli santai agar tidak menimbulkan kecurigaan putranya.

__ADS_1


"Coba ku tebal apakah dia tidak pernah membalasnya sayang?? kalau iya Asti dia tidak punya uang untuk mengirimkan suratnya kekantor pos sayang tampaknya dia tidak begitu menyukai mama soalnya pas mama tawari bantuan dia enggak mau" kebohongan demi kebohongan keluar begitu saja dari mulut mama Neli.


Nico yang tadinya bersikap tenang kini maju selangkah demi selangkah kearah mamanya kemudian dia mendekati mamanya lalu tiba tiba Nico memeluk mama Neli dengan hati hati dan..... puzzle puzzle gambaran bak layar film yang diputar secara berkala mulai dari awal sampai akhir berputar dikepalanya.


Nico yang sedari awal sudah menahan amarah yang meledak-ledak kini semakin meledak seperti sebuah bom atom. rasa amarah yang membuncah semakin menyesakkan dadanya,kini Nico menangis dia berteriak dengan sangat kencang


Aaaaahhhh


Tubuhnya bergetar hatinya kacau sangat kacau bagaimana mungkin mama yang selama ini dicintainya dihormatinya dan sangat dia percayai tega melakukan itu padanya.


"Bangsaaaattt.... bede**h.... , seperti inikah mamaku itu ?? yang tak lebih dari seorang pembunuh dan ... kau sudah berhasil membunuhku nyonya beli yang terhormat, hah....!! " nafas Nico memburu matanya berkilat merah kedua tangannya terkepal kuat tak lama kemudian dia membanting apa saja disekitarnya, sedangkan mama Neli yang sadar dan melihat kemarahan putranya ketakutan setengah mati dia tidak pernah melihat putranya marah sampai seperti ini sebelumnya.


"Sayang... apa yang ter..."


"CUKUP...!! kau iblis nyonya aku MEMBENCIMU ..." kini tatapan Nico berkilat tajam dan nyalang kearah mama Neli.


Mama Neli berusaha tenang dan maju untuk menenangkan putranya tapi urung dia lakukan melihat putranya seperti bukan putranya dia seperti orang lain,tak lama kemudian diapun memberanikan diri mendekati putranya.


"Jangan coba-coba mendekat dan menyentuh ku... aku jijik dengan sentuhan iblis macam kamu" tangan Nico menyetop mama Neli agar tidak mendekati nya dia takut tidak bisa mengendalikan dirinya agar tidak memukul dan menghajar wanita didepannya itu.


Sementara beberapa maid ketakutan melihat apa yang terjadi dengan nyonya mereka diam diam salah satu maid menelpon Tuan besar dan menceritakan kronologi nya meskipun tidak lengkap.


"Mulai saat ini aku bukan anakmu..." setelah mengatakan itu Nico berlalu dan segera keluar dari kediaman keluarga nya, rahang nya mengeras pikiran dan hatinya kacau benar benar kacau.


Pantas saja Aini tidak ingin bahkan tidak Sudi melihat ku, mobil yang dikendarai Nico pun berhenti disebuah jalan yang sepi dia menoleh kekanan dan kekiri tapi dia tak menemukan apapun untuk pelampiasannya.


Kemudian Nico berjalan kekanan yang nampak disana seperti hutan kecil yang cukup rimbun disana tapi dia membalikkan badannya masuk kembali kedalam mobilnya tak lama kemudian mobil yang dikendarai Nico membobol pagar pembatas jalan dan masuk kehutan itu.


Setelah cukup jauh dan merasa berada ditengah hutan Nico berhenti dan keluar dari mobilnya.


Brakk

__ADS_1


Aaaaahhhh.... bangsaaaattt....


Huhuhh... hiks hiks Nico menangis dengan isakan keras dengan pilu dan tergugu "Sakit ... sakit sekali ai... lalu bagaimana dengan mu yang mengalami semua itu apakah lebih sakit dariku Ai... maafkan aku...Hiks hiks" kali ini Nico tidak ingin melampiaskan amarahnya dia hanya ingin menangis menangis dan menangis saja tidak apa apa tidak ada yang melihat.


__ADS_2