Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 62


__ADS_3

Kini Aini sudah berada di rumah tempat kost nya, di dalam mobil tadi Aditya dan Aini sama sama saling bungkam tanpa mengeluarkan suara sama.


Aditya sangat pengertian meskipun Aini tidak berbicara sepatah dua kata Aditya tidak mencoba untuk bertanya kepada Aini bagaimana dia bisa berada disana.


Aditya menyewa pengawal bayangan untuk memantau dan menjaga Aini, sebenarnya apa yang dilakukan Aditya kepada nya Aini sudah mengetahui nya.


Aini tahu kalau Aditya sangat peduli padanya,Aini menganggap apa yang dilakukan Aini sebagai bentuk kepedulian dan rasa ingin melindungi yang dia sayangi.


Bagaimana Aini tidak merasa meleleh jika diperlakukan sangat manis menurut Aini, setelah Aini mengganti pakaian dia keluar sambil membawa nampan berisi minuman secangkir kopi dan teh.


" Kak... makasih atas semuanya" ucap setelah Aini menyuguhkan minuman dia duduk disamping Aditya tapi masih ada meja ditengah tengah mereka sebagai pembatas.


"terimakasih untuk....??" Aditya mengernyit tidak tahu.


"Terimakasih tadi udah mau jemput Aini,dan terimakasih juga untuk segalanya." Entah kenapa hari ini dia begitu emosional.


Aditya tersenyum manis dia mencoba meraih tangan Aini dan berkata " It's okay sayang... apapun yang kakak lakukan semua untukmu,kakak tidak mau kamu dalam bahaya..." terjeda Aditya mencoba menjelaskan dengan hati hati dan sedetail mungkin agar Aini tidak salah paham padanya.


"Kakak tahu dari kecil Aini tidak dianggap sebagai manusia..." Aini tersenyum miris matanya menerawang menatap kearah depan, tatapan nya kosong dia mengingat bagaimana dia menjalani kehidupannya dimasa dia masih berusia sangat dini.


"Entah dari umur berapa Aini waktu itu tatapan orang disekitar itu menatap aneh dan takut,.. tapi menurutku mereka seolah jijik dengan ku" Aditya mendengarkan cerita kekasih nya dengan seksama, Aditya tidak mau melewatkan sedikit pun apa yang Aini ceritakan.


Aini menarik nafas sedikit rakus kemudian menghembuskannya dengan perlahan,ada luka tak kasat disana " bukan hanya pandangan orang lain yang seperti itu padaku bahkan keluarga ku saja juga tidak memandangku secara normal meskipun diam diam mereka membicarakan buruk tentang ku dibelakang ku..." kini ekspresi dan senyum Aini semakin menunjukkan bahwa dia benar-benar terluka saat itu.


Aditya merasakan perubahan emosional dalam diri Aini semakin menggenggam jemari Aini dengan posesif sebagai bentuk bahwa dia juga merasakan apa yang gadis itu rasakan saat ini.


"Sebelum kakekku meninggal beliau mengatakan banyak hal padaku,aku hanya menangkap intinya saja bahwa suatu hari aku akan menjadi orang yang paling dibutuhkan banyak orang dan aku akan menjadi orang yang paling dihormati meskipun jalan yang ditempuh tidaklah berjalan dengan mulus, melainkan jalan terjal yang bergelombang dan berduri" Ada setitik air jernih yang merangsek keluar dari sudut matanya.


Aini tidak mencoba mengusapnya tapi Aini merasa tidak apa-apa mengeluarkan air mata sesekali agar dia menjadi lebih ringan lagi.


Aditya mencelos ada sedikit rasa nyeri dihatinya pujaan hatinya ternyata benar benar digembleng dengan sedemikian rupa oleh kehidupan,takdir nya sungguh luar biasa dan diluar nalar.

__ADS_1


Anak sekecil itu sudah mengalami ujian dari sang pencipta yang sedemikian rupa,dia saja sedari bayi sudah bergelimang kasih sayang dari kedua orang tuanya dan saudaranya apalagi dia juga dimanjakan dengan harta yang tidaklah sedikit.


Bahkan mungkin sampai tujuh turunan harta orang tuanya tidak akan habis, yang Aditya kagumi dari kedua orang tuanya adalah rasa peduli dan empati yang tinggi jangankan untuk saudara saudara nya untuk orang asing pun papa dan mamanya tidak tahu membantu meskipun tanpa diminta.


Sering papanya difitnah sering juga papanya juga ditipu oleh beberapa orang, sahabat bahkan oleh saudaranya sendiri, papanya hanya bisa berkata dengan tulus " tidak apa apa harta bisa dicari yang terpenting kita jangan mengotori tangan kita dengan tangan kita sendiri sebisa mungkin jangan cari musuh dan hindari perdebatan yang tidak berarti" kata kata itulah yang jadi motivasi untuk nya bahwa kita tidak perlu membalas mereka yang sudah berbuat tidak baik pada kita, yang jelas biarkan tangan Tuhan yang bekerja,kita hanya tinggal menonton saja.


"Kakak... kemarikan kedua tangan kakak... akan Aini tunjukkan semuanya pada kak Aditya" Aditya mengernyit dan hanya menuruti kata kata Aini tanpa mengatakan apapun padanya.


Setelah Aditya memberikan kedua tangannya,dia memejamkan kedua matanya sesuai yang diminta oleh aini.


Kini tubuh Aditya merasakan sensasi hangat menjalar keseluruh tubuhnya, tak lama kemudian ada sesuatu yang masuk sensasi hangat yang tadi sempat ia rasakan, kini Aditya mulai merasakan sensasi sejuk mulai dari ujung kepala sampai kakinya.


Kini Aditya merasakan sesuatu yang menarik dalam penglihatannya, Aditya bertanya tanya seperti sebuah film yang ditayangkan bedanya kali ini hanya dia yang bisa melihatnya.


Yah itu adalah kilasan masa lalu Aini mulai dari dia masih berumur 1 tahun bagaimana kehidupan Aini saat itu yang awalnya manis lalu berubah 180 derajat menjadi anak yang sangat dibenci dan dikucilkan, sesekali Aditya terisak kala dia melihat bagaimana perlakuan yang menyedihkan yang Aini kecil rasakan saat itu.


Aditya juga melihat bagaimana pertemuan nya dengan Nico bahkan sampai seluruh keluarganya meninggal dalam kebakaran yang disengaja tapi orang orang disekitar mengatakan bahwa Ainilah penyebab meninggalnya seluruh keluarganya.


Bagaimana kisahnya dengan hafiz semua Aditya juga melihat kisahnya, Aditya merasa kasihan dengan Aditya bagaimana mungkin ada seorang ibu yang tega melakukan itu pada anaknya.


Tanpa sadar kedua tangannya mengepal kuat nafasnya sedikit memburu Aditya sadar apa yang dilakukan ibunya hafiz sungguh diluar nalar dimana hati nuraninya sebagai seorang ibu.


Dalam hati Aditya berkali kali istighfar, beruntung dia mempunyai keluarga yang saling menyayangi.


Aini menjentikkan jarinya 3kali didepan wajah Aditya yang masih syok atas apa yang dia lihat.


Aditya segera membuka kedua matanya,dia melihat Aini masih setia dengan senyuman manisnya.


Aditya tidak tahu itu apa yang jelas dia merasakan ada gelenyar aneh dalam dirinya saat melihat senyum manis Aini.


"Jangan melihatku seperti itu kak... " Aditya melihat wajah Aini merona tak lama kemudian terbit lah senyum dibibir Aditya.

__ADS_1


"Kakak merasa bahwa kakak sangat kecil dihadapan mu Ai... selama ini kakak sangat beruntung ternyata bahkan lebih beruntung" Aditya menyandarkan kepalanya di kursi.


"Hidup akan terus berjalan kak... meskipun dengan atau tanpa persetujuan kita,. " Aini menghela nafas pelan hatinya kini lega sekarang dia bisa berbagi dengan seseorang yang Aini harap orang itu bisa melihat sisi baik dan buruknya kehidupan.


"Kita hanya wayang dari sang Dalang,,," Aditya mengangguk setuju apa yang dikatakan Aini benar adanya.


"Assalamualaikum Ai..." tiba-tiba saja mereka berdua dikejutkan dengan suara cempreng Rina yang sedang menenteng tas ransel dan juga ada koper disana.


"Rina ... kamu mau pindahan??" Rina mengangguk antusias.


"Iyah Ai... ditempat kost ku sekarang gak aman .." jawab Rina setelah tanpa permisi menandaskan segelas teh dimeja terasnya.


"Gak aman gimana?? trus kamu mau pindah kemana??" tanya Aini penasaran.


"Ditempat kost ku ... eh bukan didaerah tempat kost sekarang banyak kejadian aneh Ai... seluruh warga disana resah karena dihantui bukan hanya dihantui tapi diteror arwah penasaran " cerita Rina dengan semangat tapi terlihat dia gemetar merinding.


Hhhhhhh


Aini hanya menghembuskan nafas pelan kemudian dia mengernyitkan dahinya tatapannya masih lekat kearah Rina " lah kamu mau pindah kemana Rin..." sebenarnya Aini tahu Rina ingin tinggal kemana tapi dia hanya sedikit memastikan saja.


"Dimari.... hehe" jawab Rina sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal sama sekali.


"Ya udah kamu masuk gih... kamu boleh tinggal disini asal jangan berisik oke..." Rina mengangguk cepat kemudian melangkah hendak masuk tapi belum sempat masuk Rina berbalik dan berkata " Ai... kita satu kamar yah ?? Aku takut kalau sendiri an sekarang" sedikit menunduk Rina berharap Aini mengiyakan permintaannya.


"Iyah..." jawab Aini singkat.


Aditya yang sejak tadi diam melihat tingkah Rina hanya mampu geleng-geleng kepala, setidaknya Aini sudah ada teman sekarang dan tidak sendirian.


Aditya sedikit lega sekarang tak lama kemudian dia berpamitan pulang " I LOVE YOU AINI..." satu kalimat yang mampu membuat warna merah diwajah Aini.


setelah tak melihat mobil Aditya lagi Aini tersentak... dia melihat sebuah kilasan peristiwa...

__ADS_1


"Astaghfirullah kak Hafiz...."


__ADS_2