Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 11


__ADS_3

Aini sangat bahagia saat itu,ternyata masih ada segelintir orang yang begitu tulus menyayanginya, apalagi Aini tahu siapa Hafis yang mana notabene seorang CEO diperusahaan ternama yang ada di kotanya meskipun Dia sendiri tidak bekerja di perusahaan sang pujaan hati.


Aini sangat mengagumi sosok Hafiz Dia juga tak pernah membeda-beda kan status sosial hanya untuk sebuah pergaulan.


" Ai... Kenapa melamun.. Hemm... " tanya Hafiz seketika membuyarkan lamunan Aini.


" Eh... Maaf Kak hanya sedikit berhayal... hehe..." jawab Aini sekenanya.


" Heemmm.... Berhayal soal apa hayoo" tanya Hafiz dengan jenaka.


" Humm... Ada dehh.." sambil sedikit memanyunkan bibirnya Aini sambil mengedipkan sebelah matanya D


ia pun mengimbangi bertutur jenaka.


Tak ayal lagi sikap Aini membuat Hafiz gemas sendiri.


" jadi Ai... Kita jadian gak ?? " tanya Hafiz sedikit Takut takut sambil melirik kearah Aini.


Aini hanya memasang senyum manisnya kala itu. Sambil memandang kearah depan Aini menyatakan Uneg-uneg nya.


" Kak... Kalau kita jadian bagaimana dengan keluarga Kak Hafiz,. heum..." tanya Aini sambil menatap kosong arah depan.


" Mereka pasti mau menerima kok Ai.... " jawab Hafiz yakin.


" Tapi Kak... Aku tahu Mamahnya Kak Hafiz kayak gimana Adek Kak Hafiz juga kek gimana" lanjut Aini kemudian sambil menundukkan kepalanya.


" Kamu meragukan ku Ai..." tanya Hafiz hati hati.


" Tidak Kak... Aini tidak pernah meragukan Kak Hafiz justru Aini yakin sekali dengan Kak Hafiz..." jawab Aini tanpa memalingkan wajahnya dari pandangannya kearah depan kosong.


" Hanya saja ..." sambil menundukkan kepalanya Aini tak jadi meneruskan kalimatnya.


" Hhhhhhh.... Ai... Apapun yang akan terjadi nanti Kita hadapi berdua oke..." kembali Hafiz bertanya sambil meyakinkan Gadis itu.


" Hhmmm.... Ai... Mari kita buat perjanjian Mak... Maksudku Kita saling berjanji Apapun yang terjadi dengan hubungan Kita kedepannya nanti Kita harus saling mensupport,. Kita harus saling melengkapi kalaupun suatu saat nanti Kita memang tidak berjodoh Kita harus mengikhlaskan tanpa adanya dendam,.


Meskipun sulit kita harus mampu dan kuat" sesak dan tercekat di tenggorokan suara Hafiz seolah-olah tenggorokan nya kering saat itu juga hingga untuk menelan air ludahnya pun Hafiz pun tak mampu.


" Tapi tentu saja Aku berdoa semoga Kita berjodoh sampai ajal menjemput" kembali Hafiz bertutur.


Seketika itu juga Aini menoleh,. Sambil memandang lekat wajahnya Hafiz pun salah tingkah dibuatnya.


Ingin rasanya Aini membingkai wajah tampan sang pujaan hatinya itu sambil tersenyum tapi niat itu ia urungkan karena baginya itu sangat lah memalukan.


" Oke... Mari kita berjanji" jawab Aini sambil mengulurkan jari kelingkingnya agar bisa saling bertautan dengan jari kelingking Hafiz


Saat itu pun juga mereka berdua tertawa lepas.


" I LOVE U Ai..." sontak wajah Aini memerah kala mendengar pernyataan cinta singkat dari Hafiz barusan.

__ADS_1


" I Love u too Kak..." jawab Aini sambil merona merah karena malu.


Detik itu juga Hafiz pun memeluk tubuh mungil Aini, dan Aini pun kaget dengan perlakuan Hafiz tapi akhirnya Dia dengan sedikit Ragu ragu membalas pelukan Hafiz.


" I happy Ai.. I very happy.... I love u very love u..." kembali Hafiz mengucapkan Kata-kata indah ditelinga Aini.


* Flashback off*


" Kak Hafiz Aku disini untukmu bukankah Kita sudah saling berjanji untuk saling mensupport,." lirih Aini berucap sambil menitikkan air mata.


" Aku akan memasuki ruang dimensimu Kak agar kau cepat sadar..." bisik Aini singkat ditelinga Hafiz


Sementara itu di ruangan yang lain tampak dua orang yang tak pernah lepas memperhatikan Aini, yah... Mereka adalah Pak Harun dan Devan.


" Seharusnya dari dulu Om melakukan ini Nak Devan..." lirih Pak Harun mengutarakan ucapannya.


Sedangkan Devan hanya bisa diam sambil memperhatikan Aini, Devan bingung dengan apa yang dilakukan Aini didalam sana pada Hafiz.


" Jadi selama ini apa yang dikatakan Luci Adik dari Hafiz itu benar bahwa Aini itu orang aneh..." sekilas muncul pikiran buruk Devan terhadap Aini.


" Jangan berfikiran buruk pada gadis itu Devan,. Gadis itu adalah seorang Indigo ,. Dia mempunyai kelebihan yang Kita atau tidak sembarang orang punya" kata Pak Harun seolah-olah mengerti apa yang dipikirkan Devan saat ini.


Devan pun melongo dan membelalakkan mata dengan Kata-kata Pak Harun baru saja,,.


'Jadi Aini seorang Indigo' batin Devan sambil memperhatikan Aini didalam ruangan itu.


" Kamu lihat saja apa yang dilakukan Gadis itu,Dia mencoba dan berusaha memasuki ruang dimensi keAlam Sukma Hafiz..." kembali Pak Harun berkata sambil matanya tak lepas dari melihat kearah ruangan dimana Aini nampak memejamkan mata duduk bersila dibawah kasur tempat Hafiz berbaring.


Tanpa disuruh pun Devan sudah dari tadi memperhatikan apa yang dilakukan Aini dari tadi.


Setelah beberapa saat Aini pun tampak selesai dengan apa yang dilakukan dan diapun keluar ruangan,.


" Assalamualaikum Pak... Maaf Saya lancang meminta Kak Devan untuk menjenguk Kak Hafiz disini jadi Pak Harun jangan marahin Kak Devan." ucap Aini sambil menundukkan kepalanya,. Dia tahu kalau sejak tadi Pak Harun memperhatikannya dari tadi.


" Pak Harun jangan Khawatir sepuluh menit lagi Kak Hafiz pasti sadar dan jangan khawatir Kak Hafiz pasti tidak akan mengingat Saya, karena Saya sudah menghapus ingatannya tentang Kami dimasa lalu" ucap Aini serak Kata katanya seolah tak mampu untuk diucapkan tapi dia paksakan meskipun kerongkongannya sakit.


Bukan hanya kerongkongannya bahkan hatinya pun juga sakit manakala disaat sadar Hafiz takkan bisa mengenalinya lagi.


" Tidak Nak... Saya yang harus berterimakasih padamu, dan kenapa Kau hilangkan ingatan Dia nak? biarkan Dia... " belum selesai pak Harun meneruskan kalimatnya Aini pun pamit.


" Maaf Pak .. Saya rasa urusan Saya disini sudah selesai kalau begitu Saya pamit dulu" pamit Aini kepada Pak Harun.


" Kak Devan Aini pamit yah... " pamit Aini kemudian kepada Devan.


" Tidak Aini biarkan aku mengantar mu pulang" pinta Devan dan tanpa menunggu persetujuan dari Aini Devan pun menarik tangan Aini menuju keluar Ruangan itu.


" Maaf Pak Harun Saya tinggal dulu untuk mengantarkan Aini karena tadi Saya yang mengajak Aini kemari,. Dan untuk Hafiz Saya sudah meminta bantuan teman Saya Arimbi yang mengecek Devan sebentar lagi" Pamin Devan


"Iya Nak Devan silahkan dan terimakasih..." sahut Pak Harun sambil tersenyum. Dia tahu kalau Devan pun menyukai Gadis itu.

__ADS_1


Setelah Devan dan Aini lenyap dari pandangan Pak Harun Dia pun masuk keruangan Anaknya Hafiz.


Dia memperhatikan Hafiz dengan wajah yang entah,,,, saat ini Pak Harun sangat dilema bagaimana kalau sadar nanti Hafiz benar benar sudah tidak mengingat Gadis itu, Diapun merasa bersalah dengan apa yang menimpa Putranya.


Ah ... Andai saja Istrinya tidak se egois itu yah Dia sangat tahu betul kalau Istrinya itu hanya memandang orang dari status sosial saja, sampai Putri kedua pun mengikuti gaya hidup Mamanya Diapun menghela Nafas panjang, Kasian Kamu Nak,.


Selang beberapa menit kemudian tampak ada pergerakan dari tubuh Hafiz... "Aini...." Hanya itu kata yang diucapkan Hafiz...


Dan seketika itu juga Pak Harun kaget sontak Diapun menghampiri Putranya, Dia melihat Hafiz mengerjap ngerjapkan matanya perlahan-lahan lalu tak lama Hafiz pun seperti berusaha membuka kedua matanya.


Pak Harun pun berlari keluar ruangan memanggil Suster dan Dokter yang berjaga disitu,.


Dan tak lama kemudian para Dokter dan Perawat pun memeriksa Hafiz dengan Hati hati dan mendetail. Tak lama kemudian keluarlah Dokter Arimbi seperti yang dikatakan Devan tadi bahwa Dokter Arimbi lah yang menggantikan Devan dan meminta tolong pada Dokter tersebut menggantikan dia sementara Dia mengantarkan Aini pulang.


" Alhamdulillah Pak.. Ini sebuah keajaiban pasien sudah sadar dan Dia meminta untuk bertemu Anda sekarang" kata Dokter Arimbi


" Te terimakasih Dokter Saya akan kesana" jawab Pak Harun gugup karena saking bahagianya.


" Tapi ingat yah Pak... Jangan terlalu diajak banyak bicara dulu takutnya Pasien lelah" kata Dokter Arimbi memperingatkan


" Baik Dokter..." jawab Pak Harun singkat.


" Hai Boy... " sapa Pak Harun pada Putranya.


" Assalamualaikum Papa..." Hafiz pun mengucap salam mengingatkan Papanya.


" Waalaikumsalam... Astaghfirullah... Maaf Son Papa lupa saking bahagianya." jawab Pak Harun sambil memeluk Putranya.


Tanpa terasa air matanya pun tumpah saking senangnya Akhirnya selama dua tahun koma Putranya bisa kembali bangun dari tidur panjangnya dan itu semua berkat Aini.


Tapi tunggu dulu tadi pas sadar Dia menyebutkan nama Aini apakah Dia masih mengingat Gadis itu?? Tanya Pak Harun dalam hati sambil mengerutkan dahinya.


Bukankah gadis itu tadi bilang bahwa Dia sudah menghapus ingatannya tentang Aini.


Kembali dahi Pak Harun mengkerut memikirkan ini.


" Hhmm Son.. Apa Kamu mengingat sesuatu sebuah nama mungkin.." Tanya Pak Harun Hati hati.


" Nama Siapa Pa... Yang Hafiz ingat hanya Papa Mama dan Dua Adek Hafiz saja dan Teman teman Hafiz." jawab Hafiz


" Papa ini aneh deh..." kata Hafiz kemudian


" Hemm yah sudahlah Son..." kata Pak Harun sambil masih memikirkan ini


Bagaimana mungkin bukankah pas Dia pertama kali sadar putranya menyebutkan nama Gadis itu semakin bingung Pak Harun memikirkan hal ini.


" Pa... Mama mana dan sudah berapa hari Saya tidur Pa..." tanya Hafiz pada Papanya.


" Mamamu sedang ada acara digrup sosialitanya Son... Kamu tahu sendiri gimana Mamamu..." jawab Pak Harun singkat.

__ADS_1


" Tidurlah Papa akan menghubungi Mamamu" perintah Pak Harun pada Hafiz.Dan dibalas dengan anggukan.


__ADS_2