Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 81


__ADS_3

Setelah kepulangan nya dari kediaman mantan suaminya kini Astri duduk dirumah yang baru saja dia beli, rumah yang sangat mewah bahkan lebih mewah dari kediaman nya yang dulu.


Astri Membeli rumah ini hasil dari pengabdiannya kepada junjungan nya yaitu Ratu ular digoa waktu pertemuan pertamanya dengan sang ratu usai menyelesaikan ritual Larung Sukmo nya,sungguh pikiran Astri sudah dibutakan akan kenikmatan dunia yang sesaat.


Astri membaringkan tubuh lelahnya sebentar kemudian dia teringat akan sesuatu, nampak senyum smirk dibibirnya tercetak sempurna.


"Aku akan sedikit bermain malam ini... nampaknya akan sangat menyenangkan..." gegas dia menggunakan jubah hitam miliknya.


"Kau jangan gegabah Astri... " terdengar suara lembut tapi dalam dengan penuh tekanan menyentak kan semangat Astri yang terlanjur membara.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan,. saat ini para orang orang terpilih sedang melakukan pengawasan nya jadi kau harus hati-hati jangan sembrono..." Astri sedikit geram dan kecewa tapi Astri hanya bisa menahannya.


"Tapi... ini hanya permainan kecil saja Ratu ijinkan saya bermain sebentar" ucap Astri.


Dia ingin sekali menguji kekuatan yang baru saja dia dapatkan,dia ingin menggoda laki laki dan menghangatkan tubuhnya saja, dia sudah lama tidak bersentuhan dengan laki laki.


"Kau lakukan dengan bersih setelah itu lenyapkan..."


"Baik" nampak binar bahagia tersungging dibibir merah kehitaman milik Astri.


Astri seperti Tante Tante girang yang haus akan belaian,setelah dirasa cukup dengan penampilannya yang tadinya hendak memakai jubah hitam dia beralih dengan memakai dres ketat 10 centi diatas lutut,Astri kini dengan percaya diri melajukan mobilnya menuju club' malam yang ada dikota tersebut.


"Waktunya berburu brondong ah... " seringai terbit diwajah Astri yang nampak kelihatan lebih muda 10 tahun dari umurnya.


Sementara dipentohouse milik Nico nampak kakek Bimo sedang asyik melakukan yoga,disaat kakek Bimo sedang fokus dan rileks tiba-tiba saja terdengar suara debuman pintu dari arah depan.


Brakk.... Dum


Tampak sesosok wajah tampan nan rupawan tercetak jelas dari pandangan kakek Bimo,kakek Bimo pun mencebik.


"Ckk ... dasar cucu laknat,. darimana saja kamu, pulang pulang dalam keadaan tidak jelas emosimu begini..." tukas kakek Bimo yang masih memejamkan kedua matanya.


"Berburu kek... " tanpa menghiraukan kakek Bimo disana Nico segera menuju kamarnya dan segera dia merebahkan tubuh lelahnya.


Kini kedua netranya menatap ke atap plafon kamarnya, pikiran nya menerawang jauh keatas.

__ADS_1


Hatinya galau dirundung pilu kedua mata Nico memejam beberapa saat.


"Apakah kau bahagia Ai..." gumam Nico pelan, kini tanpa dia sadari bening bening kristal sudah menggenang di pelupuk matanya yang siap meluncur kapan saja.


"Kenapa mencintaimu sesakit ini ai... apakah kita memang benar-benar tidak ditakdirkan untuk berjodoh ai... " masih dengan kedua tangan diatas kepalanya kini kedua mata Nico sudah basah karena air mata.


Kakek Bimo yang melihat cucunya dibalik pintu yang tidak tertutup sempurna pun menghela nafas panjang, bagaimana pun juga Nico adalah cucu satu satunya,dia bisa merasakan apa yang anak itu rasakan.


"Tanpa kau sadari kau juga menjadi orang terpilih le.... hanya saja kakek tidak bisa menjelaskan kepada mu temperamen mu sangat mendominasi hingga kakek urung untuk memberitahu siapa kamu di dunia spiritual saat ini,.." galau pikiran kakek Bimo dalam hatinya berkecamuk.


Tadinya dia akan membicarakan hal ini kepada sang cucu tapi, kembali lagi dia urungkan melihat situasi cucunya yang sedang dilanda emosi tak stabil.


"Katakan saja kek... apa maksud bahwa aku juga orang terpilih,..." sontak kakek Bimo tersentak kaget sejak kapan cucunya ini berada didepannya.


Yah tadi disaat Nico sedang asyik dengan pikirannya tentang Aini dia tanpa sengaja mendengar apa yang di gumamkan sang kakek, karena saat ini Nico benar benar sudah terlatih kepekaan semua indranya melalui pelatihan nya dengan berburu mahluk mahluk astral yang jahat dan sedikit... nakal.


Dan disinilah sekarang Nico berada didepan kakeknya, sedangkan kakek Bimo sendiri benar benar dibuat terkejut dengan perkembangan cucunya,benar benar dibuat terperangah akan kemajuan yang bisa dibilang sangat pesat.


Kakek Bimo sedikit mendesah kemudian diapun menjelaskan tentang siapa sebenarnya cucunya didunia spiritual.


"Lanjutkan..." pinta Nico,. bukan bukan meminta tapi justru cenderung memerintah tanpa ada bantahan itu yang tercetak jelas.


Drrrttt Drrrttt


Tiba-tiba ponsel Nico berdering disaat Nico tahu siapa yang menelepon dengan enggan dia mengangkat nya.


"Katakan,.. ada apa...??" titah Nico dengan penuh tekanan hingga yang diseberang sana pun sedikit tergagap.


"Nic... Nico... a aku Pi pingin ditemani olehmu,. " dengan malas Nico menanggapi dengan sedikit marah,


Yah penelepon itu tak lain adalah Elena,Nico sungguh dibuat marah akan kemanjaan perempuan itu.


"Bukankah kau biasanya ditemani pelayan mu,.. dan dia juga jadi penghangat ranjang mu bukan... sudah kusiapkan semuanya jadi jangan melewati batasan mu aku sudah berbaik hati membiayai seluruh hidupmu smp anak itu lahir bedebah ..!!" kakek Bimo yang mendengar kata-kata cucunya hanya menggelengkan kepalanya.


"A aku ka...."

__ADS_1


"**** ...." umpat Nico " Tutt" setelah telepon dimatikan kini Nico pun melemparkan ponselnya ke sembarang arah.


"Damn..." kembali Nico mengumpat kasar, sedangkan kakek Bimo hanya diam sambil melihat bagaimana cucunya itu sedang dalam emosi.


"Kini kakek tahu kenapa nak Aini tidak bisa jatuh cinta kepadamu le..." Nico mengangkat sebelah alisnya dan melirik kakek Bimo malas.


"Kau terlalu temperamental, Aini tidak suka laki laki yang kasar dan bertemperamen tinggi seperti mu..." kakek Bimo berlalu tapi suara keras menghentikan langkah kakek Bimo.


"Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan kek... " kakek Bimo kembali duduk ditempatnya dengan sedikit malas.


"Baik.... baik kau bersabar lah,tapi sebelumnya kakek minta jangan menyela dan pikirkan apa yang kakek omongkan tadi rubahlah sikap dan sifat mu"


"Hhmm..." hanya itu yang keluar dari bibir seksi Nico." kembali kakek Bimo menghela nafas panjang.


"Dulu sewaktu kamu lahir kakek pikir kamu anak perempuan seperti hasil USG yang pernah ditunjukkan mommymu... sewaktu dalam kandungan berkali kali kedua orang tua mu memeriksakan kandungannya juga hasil USG nya selalu menunjukkan bahwa anak yang dikandung mommy mu itu adalah anak perempuan,tapi kakek merasakan filling yang lain yaitu bahwa anak yang dikandung mommy mu pasti adalah anak laki-laki.


Dan sampai lah tiba waktu kelahiran mu yang ternyata adalah benar apa yang kakek filling kan bahwa anak yang keluar pasti anak laki-laki,kau tahu betapa bahagia papimu saat itu,. bahwa apa yang diinginkannya menjadi kenyataan yaitu anak laki-laki, dengan tujuan bahwa kaulah pewaris satu satunya dikeluaganya nanti...." Nico mendengar kan dengan seksama,tak lama kemudian sebelah alisnya terangkat keatas.


"Lalu... apa yang aneh... aku rasa semua orang juga bisa mengalami apa yang wanita itu alami" Nico masih enggan menyebut mommy nya dengan sebutan 'mommy' melainkan 'wanita itu'.


"Disaat kakek melihatmu dan hendak mengadzankanmu papimu melarang kakek tapi kakek Bimo tetap melakukan nya,disitulah kakek melihat tanda lahir dibalik telinga sebelah kananmu yaitu bentuk bulan sabit disana sedangkan disebelah kirinya berbentuk matahari..." terjeda beberapa saat kemudian mata kakek Bimo menerawang jauh disana dan kembali menceritakan semuanya.


"Kakek sadar tanda apa itu,.. dan itu sama dengan apa yang Aini punya bedanya tanda lahir Aini diantara kedua matanya yang berbentuk bulan sabit dan bintang disana tapi sudah disamarkan semenjak dia lahir dengan tujuan agar gadis itu selamat dari ancaman,tapi ..


Kakek sangat salut dengan gadis itu segala ujian mampu dia lewati tanpa mengeluh meskipun rasa sakit menghujam nya berkali-kali."


"Jadi maksud kakek... a aku dan Aini ..." kakek Bimo mengangguk pelan.


"Iya kalian berdua sudah terikat sebenarnya semenjak kalian lahir tapi takdir berkata lain,. dan inilah bentuk ujianmu le..." kedua mata Nico membola jantungnya tiba-tiba berdetak dua kali lipat dari biasanya.


"Karena itulah kau harus memperbaiki sikap dan sifat mu kalau tidak kau akan semakin jauh dari gadis itu tanpa kau sengaja,.. tapi... kakek tidak bisa menjamin bahwa kau dan dia berjodoh karena sejatinya jodoh itu ada ditangan SANG PENGUASA HATI ,. Gusti Allah yang menciptakan kita semuanya,. ingat itu dan camkan....!!!" kemudian kakek Bimo berlalu dari sana.


Kini setelah sekian lama beban yang berada dipundak kakek Bimo seakan akan terangkat dan lepas begitu saja.


Sedangkan Nico masih tak beranjak dari tempatnya " apa kakek bilang barusan... Oh my God... did i hear right?? is it true if it's all real ?? I really, ... I don't know...!! ( Oh ya Tuhan... apa aku tidak salah dengar?? apakah benar jika semua itu nyata?? Aku benar-benar, ... aku tidak tahu...!! ) " tiba-tiba saja mood Nico perlahan membaik.

__ADS_1


__ADS_2