
" Wes kesirep kabeh... ( Sudah tertidur semuanya...)" ujar mahluk yang saat ini menghuni tubuh Aini sementara.
"Kulo titip riyen keluarga ne pak Harun njih Mbah... kulo Bade medal sekedap... ( saya titip dulu keluarga nya pak Harun yah Mbah... saya mau keluar sebentar )" ucap Aini yang meminta tolong kepada mahluk yang ada ditubuhnya sekarang.
" Yoh ati ati koe nduk... dukun kui luwih duwur tingkatane Tinimbang awakmu, tapi koe cah wadon ayu seng istimewa nduk... sehebat opo ae dukun kui luweh hebat cah wadon Ayuku kui... wes Ndang budal seng ndik kene serahno Nang aku... ( Iyah hati hati kamu nak... dukun itu lebih tinggi tingkatannya daripada dirimu,tapi kamu anak perempuan cantik yang istimewa nak... sehebat apapun dukun itu lebih hebat anak perempuan cantik ku ini... sudah cepat berangkat yang disini serahkan kepada ku...)" setelah pamitan kepada mahluk yang ditubuhnya itu Aini segera menghilang dari hadapan mahluk itu.
Setelah kepergian Aini kini mahluk penghuni Aini mendekati Hafiz, Dia menatap lekat pemuda dihadapan nya itu, nampak senyumnya menyeringai hampir tak nampak.
Perlahan mahluk itu mengusap pelan pelipis Hafiz yang tengah tertidur lelap.
"Koe cah bagus ,.. tapi nasibmu Ra bagus tresnamu luweh gede Nang nduk ayuku Tinimbang tresnamu Nang PENGERANmu, nyoh... tak rewangi Ben awakmu lali cukup gae sementara kui,aku mesakke Karo sliramu cah bagus ... nek wes jodohmu pasti cah wadon Ayuku bakal balek Nang awakmu.. ( Kamu anak tampan... tapi nasibmu tidak bagus cintamu lebih besar ke anak cantik ku daripada cintamu kepada TUHANmu, Sini ... kubantu kamu lupa cukup buat sementara saja,aku kasihan dengan wajahmu anak tampan,.. kalau sudah jodohmu pasti anak perempuan cantik ku akan kembali kepada mu...)" mahluk itu bergumam sambil mengusap ubun ubun hafiz perlahan tapi pasti. mahluk itu sedikit menghapus memori hafiz agar dia segera melupakan Aini meskipun ini tidak permanen.
...^^^Lingsir wengi sepi durung ^^^...
...biso nendro...
Kagodo mring wewayang
...kang ngerindu ati...
Kawitane mung sembrono
......njur kulino......
Ra ngiro Yen bakal
...nuwuhke treno...
Nanging duh tibane
...aku Dewe kang nemahi...
Nandang bronto kadung loro
...sambat sambat sopo...
Rino wengi seng tak puji
...Ojo lali...
Janjine mugo biso
__ADS_1
...Tak ugemi...
Terdengar suara tembang jawa Lingsir wengi sunan Kalijaga yang dilantunkan oleh mahluk penghuni Aini dengan suara merdunya.
Tanpa lelah tembangan jawa itu terdengar sampai hampir menjelang subuh.
Syuutt
"Koe wes bali nduk... ( kamu sudah kembali nak...)"
" Njih Mbah sampun monggo Mbah... ( Iyah Mbah sudah mari Mbah...)"
Kini setelah mahluk itu keluar dari tubuh Aini, Aini segera kembali ke raganya nampak wajah lelah Aini disana.
Sebelum Aini kembali ketempat kost nya dia menulis secarik kertas dan diletakkan dimeja nakas disamping tempat tidur Hafiz.
Yah tadi mahluk penghuni Ainilah yang mengangkat tubuh Hafiz kekamar nya dan ditidurkan dikasurnya. setelah selesai menulis pesan Aini pun memanggil kakek penjaganya.
"Kakek ... ayo kita kembali,.. nenek ... angkat aku capek.." rengek Aini kepada mahluk yang tadi berada ditubuh Aini.
Sebenarnya mahluk itu adalah penjaga Aini yang lain yang menyerupai seorang nenek berambut putih tapi digelung dan ada konde emas yang ditancapkan digelungan rambutnya yang putih itu.
_______
Sementara dirumah sakit BINA AKSA nampak kakek Bimo sedang duduk disofa kamar tempat Nico dirawat, matanya terpejam menandakan bahwa kakek Bimo tertidur meskipun dalam keadaan duduk dan tanpa bersandar disofa tersebut.
Kalau dirumah kakek Bimo jika tertidur pasti dengan posisi duduk menyerupai posisi senam yoga entah ini kebiasaan ataukah memang kakek Bimo menyukai hal tersebut, berbeda dengan kebanyakan orang yang tidur dengan posisi terlentang,miring atau yang lainnya.
Kebiasaan tersebut sudah kakek Bimo terapkan sewaktu beliau masih muda dulu, mungkin kebanyakan orang ngilmu kejawen seperti itu meskipun tidak semuanya.
Dengan posisi tersebut kakek Bimo peka dalam segala hal pergerakan sekecil apapun dia pasti mendengar dari pendengaran nya, kini Nico terbangun tapi kakek Bimo ingin membiarkan saja biarkan cucunya itu mengira dia sudah tertidur lelap.
"Sssshhhh... sialan ini nyeri sekali" gerutu Nico pelan, dia melirik kearah dimana kakeknya duduk dengan mata terpejam. Nampak seulas senyum terbit dibibirnya, tapi ketika ingatannya kembali tentang masa lalu dia sedikit muram.
"Brengsek... seharusnya kakek tua itu tidak membiarkan wanita sialan itu membunuh seluruh keluarga Aini,.. bedebah... aku menyesal telah dilahirkan dari rahim wanita iblis itu" sungut Nico dengan suara tidak pelan juga tidak keras.
Hingga orang yang kini berada dibalik pintu itu bisa mendengar umpatan dari mulut Nico, nyonya Neli yang hendak masuk itupun urung dia lakukan.
Bibirnya kaku dan berkedut sebenci itukah putranya hanya demi seorang gadis kecil dan miskin itu??, apa hebatnya dia ?? Neli tidak bisa untuk tidak berpikir akan hal itu.
"Sebaiknya aku tidak bertemu wanita iblis itu lagi atau kalau tidak aku tidak bisa menjamin untuk tidak mencekiknya sampai mati... Aaahhh,,, brengsek...!!" Neli masih bisa mendengar segala umpatan Nico,dia tidak jadi masuk dia tahu saat ini putranya sangat membencinya tapi dikemudian hari pasti rasa bencinya akan hilang seiring dengan berjalannya waktu.
__ADS_1
Neli sangat membenci gadis itu entah karena apa, apakah karena dia miskin ataukah ada hal lainnya lagi, dia tak habis pikir bagaimana Nico bisa sangat menyukai gadis itu.
kalau diingat ingat lagi gadis itu sangat jelek dan dekil dari sudut pandang mana Nico mencintai gadis itu sampai segitunya, kini berbagai pikiran terus berkecamuk dikepala Neli, "sialan...!! " umpat Neli dalam hati.
Tapi pertemuan terakhir dengan gadis itu kemarin lusa dia tidak bisa tidak terpukau akan kecantikan natural seorang gadis kecil yang dulunya dekil kini menjelma menjadi gadis cantik meskipun tanpa make up.
"Tidak tidak tidak... pokoknya Nico tidak boleh tertarik dengan gadis itu aku sudah punya calon untuk putraku" hatinya berkecamuk Neli sedikit gelisah, dia melupakan fakta bahwa Nico sudah memutuskan tali kekeluargaan dengan nya dengan menusuk dirinya sendiri dengan pisau tepat didada sebelah kirinya.
Tak mau berpikir lebih jauh lagi akhirnya Neli pun beranjak dari tempat itu, hatinya berdenyut nyeri melihat kebencian putranya padanya. Neli sudah kehabisan kata kata dan juga tidak bisa berpikir jernih sekarang, akhirnya diapun memutuskan untuk pulang kerumah.
Sementara itu diruang rawat inap Nico memicing melihat kakeknya yang masih betah dengan posisi tidurnya yang seperti itu, " Ckk .. " mulutnya berdecak sebal akhirnya diapun bersuara " Hei... Kakek tua aku tahu kau tidak tidur buka saja matamu dan segeralah keluar dari ruangan ini aku tidak suka dengan kehadiran mu" tanpa ada saringan kata Nico dengan pongahnya ceplas ceplos mengungkapkan isi hatinya dengan ketidak sukaannya atas kehadiran kakek Bimo.
"Dasar cucu laknat...!! kalau saja aku tidak ada kamu pasti sudah mati sekarang" tukas kakek Bimo masih dengan mata terpejam.
"Lebih baik aku mati daripada aku dilahirkan dalam keluarga iblis seperti kalian..." kini Nico tak kalah tajam kata kata nya yang tak henti dia menatap kakek Bimo.
"Kalau kau tidak dilahirkan dari keluarga ku kau tidak akan bertemu dengan gadis itu... dasar manusia kurang bersyukur..!!" ucapan kakek Bimo membuat Nico makin kehilangan kesabaran.
"Itu lebih baik daripada aku terlahir dengan semua kebusukan putri kesayangan mu itu... aku lebih memilih tidak dilahirkan olehnya, pembunuh tetaplah pembunuh... kalau kau tidak bisa memasukkan dia ke penjara atau rumah sakit jiwa jangan menemuiku..." Nico semakin kalap.
Kakek Bimo terkejut dengan kata kata sarkas cucunya itu, bibirnya berkedut dia kehilangan kata kata.
"Kenapa ... tidak mampu?? ataukah kau tidak tega... sekarang bayangkan kau berada diposisi gadis kecil itu yang melihat dengan mata dan kepalanya sendiri seluruh keluarganya dibakar hidup hidup ?? dimana letak perikemanusiaan kalian sebagai manusia sejati .. ataukah kalian itu benar-benar iblis...??"
"NICO....!!" kini kakek Bimo sudah berwajah gelap dan suram dia tidak suka dengan semua ucapan cucunya itu meskipun ada kebenaran didalamnya,tapi tidak semuanya benar waktu itu dia sudah pergi ke kantor polisi tapi dia melihat Menantunya Jhon Meyer sudah berada disana lebih dulu dan membayar beberapa polisi dengan beberapa gepok uang agar tidak melanjutkan penyelidikan terhadap kebakaran yang menimpa seluruh keluarga gadis kecil itu.
Akhirnya kakek Bimo berjalan lemas menuju parkiran mobil dan kembali pulang,tidak ada jalan lain selain merawat gadis kecil itu.
Tapi diluar dugaan ternyata gadis kecil itu menolak tinggal dirumah yang sudah diberikan kepadanya, setelah beberapa tahun tinggal disana gadis kecil itu memutuskan untuk pergi dari sana , kakek Bimo tidak bisa berbuat apa-apa waktu itu karena gadis kecil itu juga punya alasan kuat untuk pergi dari sana.
"Pergilah dari sini kita sudah bukan keluarga lagi..." dengan suara serak tertahan Nico mengusir kakek Bimo.
Dia tidak ingin kehilangan kendali atas dirinya bila sudah dikuasai amarah yang berlebih, Nico masih menatap kakek Bimo nyalang kemudian berkata " uruslah putri kesayangan mu itu sebelum aku kehilangan kesabaran,,, " nafas Nico naik turun dengan memburu " tidak peduli dia wanita yang sudah melahirkan ku atau bukan aku tidak Sudi melihat nya dan cepat atau lambat aku akan pergi jauh dari kalian,.. aku masih bisa mengontrol emosiku sekarang tapi tidak dengan lain kali... sebelum aku mencekik wanita iblis itu sebaiknya jauhkan dia dari pandangan ku sejauh mungkin" kini tatapan Nico terarah kepojok atas ruangan itu,dia tahu kalau ada kamera kecil disana " kau ingin mengawasi ku hah...!!" dengan menampilkan senyum smirknya Nico mengacungkan jari tengahnya kearah kamera tersebut.
Kakek Bimo tahu apa yang Nico lakukan kemudian dia kembali berkata " kau salah membenciku nak, tapi Kakek menyayangi mu lakukan jika itu yang akan membuat mu puas " kakek Bimo pun berlalu dengan cepat tanpa melihat kebelakang lagi.
Hatinya sakit melihat cucunya ikut membenci nya, biarkan waktu yang akan berbicara.
Sedangkan disebuah ruangan kerja nampak Jhon Meyer yang sedari tadi melihat melalui layar monitor terkejut dengan tingkah Nico yang mengacungkan jari tengahnya dengan sinis, ternyata sebenci itu anaknya dengan dirinya dan istrinya.
Lagi lagi dia dibuat bingung dan tidak berdaya kini dia menyesali perbuatannya dengan menutup fakta masa lalu dari putranya.
__ADS_1