Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 23


__ADS_3

Mulai saat ini dan detik ini keluar dari hidup kami Astri dan tunggu surat cerai dariku" setelah mengucapkan niatnya Harun pun berlalu pergi kekamarnya tanpa memperdulikan makan malamnya yang belum tuntas.


Sebelum Harun membuka kamarnya Diapun berhenti.


" Dan kemasi barang barangmu... Aku tidak Sudi melihat wajahmu lagi." dan Harun pun masuk kamar kemudian menguncinya dari dalam.


Duarr


Bagai disambar petir hati Safitri pun mencelos mendengar kata-kata Suaminya.


Tubuhnya gemetar air mata yang sedari tadi ingin keluar sekarang deras seperti air terjun tanpa dibendung lagi.


Nampak Andriana Putri bungsunya pun tak tega melihat Ibunya sementara Luci masih enggan keluar dari kamarnya semenjak pulang dari acara tersebut, hingga Diapun tak tahu apa yang terjadi barusan dirumahnya.


"Ibu... Ayo ke kamar dan istirahat lah, atau Ibu mau makan bareng Andriana ?? kan tadi Ibu belum sempat makan,,. Ayo Bu...!!" ajak Andriana dengan sedikit senyuman, Andriana iba melihat Ibunya menangis tersedu-sedu.


Bagaimana pun juga Dia tetap Ibunya, sejahat jahatnya Astri tetap Ibunya, sedangkan Astri mengindahkan ajakan Andriana tanpa peduli akan ajakan Putrinya Astri pun bergeming hingga akhirnya Andriana pun menyerah.


Tak lama kemudian Andriana pun masuk kedalam kamar dan kemudian merebahkan tubuh lelahnya.


Pikiran nya menerawang kembali Andriana mengingat kejadian di pesta hajatan teman kolega Papanya.


Masih teringat jelas bagaimana ibunya berusaha mendekati Nyonya Rossa dan mempromosikan ke dua Putrinya, betapa malunya saat Andriana mengingat kelakuan Ibunya.


Yang paling parah adalah dimana saat Ibunya mencoba memperlakukan Aini dengan sebegitu rupa hingga siapapun yang melihatnya pasti merasa bahwa Aini adalah pembawa sial karena fitnahan dari Ibunya.


Tanpa terasa Andriana pun akhirnya terlelap dalam tidurnya.


Sementara itu dikamar Hafiz Dia sedang memandangi foto Aini nampak jemarinya membingkai wajah Aini dalam foto tersebut.


" Ai.... I love u" hanya itu yang mampu keluar dari bibir Pria tampan tersebut.


Kemudian samar Hafiz merasakan beberapa bayangan kebersamaannya bersama Aini, ingatan ingatan kecil pun bermunculan.


Saat itu juga Hafiz merasakan sakit kepala luar biasa yang tak tertahankan, Hafiz pun memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


Aaarrrgggghhh


Suara erangan dari mulut Hafiz pun keluar begitu saja, dan hanya menggema didalam kamarnya saja tak akan bisa terdengar dari luar seberapa keras pun suara erangan Hafiz, karena kamarnya dilengkapi dengan peredam suara.


Tak lama kemudian Hafiz pun pingsan.


####


Kini Aini sudah berada ditempat Kost nya, Dia baru saja tiba dan diantarkan Aditya.

__ADS_1


Tok tok tok


Aini tak peduli dengan suara ketukan pintu dari luar tempat kost nya, Diapun tahu siapa yang datang.


Tanpa mempedulikan ketukan pintu yang beruntun Aini pun mencoba untuk tertidur dan segera dia memanggil penjaga nya.


" Kakek Aini minta bantuan mu sekarang, tolong redam suara ketukan pintu itu kek,.. Aini ingin tertidur lelap malam ini" pinta Aini pada penjaganya.


Dalam sekejap suasana pun kembali sunyi, tak terdengar lagi suara ketukan pintu, nampak Devan pun sudah menyerah dan Diapun akhirnya masuk kedalam mobilnya dan tertidur hingga pagi hari.


Dini hari menjelang subuh Aini pun bangun ada sedikit rasa lega dihatinya, nampaknya dengan tidur semalaman Aini sudah nampak fresh.


Dengan sedikit gontai dan menguap Aini pun beranjak dari tempat tidurnya, kemudian Aini pun menuju kamar mandi setidak nya dengan mandi menjadikan tubuh mungilnya bisa segar kembali.


Setelah selesai dengan ritual mandinya Aini pun menggelar sajadah dan menunaikan ibadah sholat subuh seperti biasanya.


Selesai sholat subuh Aini pun memasak sejenak Diapun teringat dengan Devan yang mengetuk pintu kamar kostnya semalam.


Yah Aini tahu siapa yang mengetuk pintunya semalam tapi ia abai karena lelah dan ingin tidur secepatnya.


Tak lama kemudian Aini pun keluar nampaklah Mobil Devan terparkir tak jauh dari pagar rumah tempat kostnya.


Tuk tuk tuk


" Sudah subuh Kak... Kak Devan sholat dulu gih takut hilang waktu sholatnya" pinta Aini tanpa merasa bersalah karena telah mengabaikan Devan semalaman.


Devan pun terdiam tapi sejenak kemudian Dia mengangguk dan hendak menuju musholla terdekat.


Tak lama kemudian Devan pun sudah keluar dari musholla, kemudian langsung menuju tempat kost Aini.


Tampak kopi dan teh manis sudah terhidang dimeja teras depan Kost nya Aini, tak lama kemudian Aini pun keluar dengan membawa dua piring nasi goreng.


" Ayo Kak kita sarapan" ajak Aini kemudian.


Masih dengan wajah tak bersalah Aini tersenyum sangat manis, lalu duduk disamping meja terasnya.


" Kak.... Kenapa ngelihatnya sampai segitunya!? Ayok... ntar kesiangan loh!! Hari ini kan Kak Devan ada jadwal kerja pagi"


Tanpa banyak kata Devan pun menuruti Aini dan menuju meja teras kemudian duduk dikursi samping meja itu.


" Berdoa dulu sebelum makan" ucap Aini


Dan akhirnya mereka pun sarapan pagi dalam diam hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar.


Tak lama kemudian mereka pun selesai dengan ritual sarapannya, kemudian gegas Aini mengambil piring bekasnya makan tadi dan juga piring Devan lalu membawanya kebelakang dan mencucinya dulu setelah itu baru Aini keluar lagi sambil membawa pisang goreng buatannya tadi.

__ADS_1


" Hhhmmm... Ai... Kak..." tanpa sengaja mereka pun saling memanggil dengan secara bersamaan.


Akhirnya tawa mereka pun pecah kemudian Devan pun meminta Aini agar lebih dulu bicara.


" Jika Kak Devan ada yang perlu ditanyakan silahkan Kak tanyakanlah Aini siap mejawabmu." ucap Aini kemudian.


" Sejak kapan kamu punya hubungan dengan Aditya Ai..." tanya Devan to the point.


Hhhhhhhhh


Aini pun menarik nafas panjang dan dalam kemudian menghembuskan nya secara perlahan melalui mulutnya.


Nampak senyum manis terukir dibibir nya itu saja sudah membuat Devan merasa terhipnotis.


Tak lepas Devan menatap Aini, ada rasa kagum dihati Devan pada sosok Gadis didepannya ini.


Aini begitu tenang dalam menyingkap setiap masalah meskipun terkadang yang Devan lihat Aini nampak butuh tempat bersandar juga membutuhkan seseorang dan ingin diperhatikan.


" Batu kemarin pagi Kak kami dekat karena sebelumnya Aini hanya menghindar tapi melihat ketulusan nya Aini menerima Kak Aditya" jawab Aini tenang.


" Apa Kau mencintai Aditya Ai..."


" Tidak,.. Tapi Aini yakin suatu saat Aini bisa mencintai Kak Aditya seiring berjalannya waktu"


" Lalu bagaimana dengan Hafiz Ai... Tidakkah Kamu memikirkan perasaan nya Dia sangat tersiksa Ai..." ungkap Devan


'Aku juga tersiksa Ai... karena cinta yang bertepuk sebelah tangan ini' Batin Devan.


" Maaf Kak... Mungkin kami tidak berjodoh..." Jawab Aini singkat.


" Bagaimana Kamu tahu jika kalian tidak berjodoh sementara Kamu tidak berusaha mencoba menjalani dan mencoba membuka lembaran baru antara Kau dan Hafiz Ai..." lirih Devan berbicara tanpa menatap Aini.


" Aku tahu karena Aku bisa melihat masa depan Kak... Kau tidak tahu Aku juga tersiksa dengan keadaan ini, terkadang apa yang kulihat sangat mengerikan tapi Aku hanya bisa diam dan mendoakan yang terbaik bagi semua." jawab Aini matanya pun lurus menatap kedepan.


"Tapi Ai... takdir juga bisa dirubah asalkan kita berusaha dan...."


" Aini hanya cukup melihat dan Aini tahu cepat atau lambat takdir itu datang menghampiri tanpa bisa dicegah" nampak bulir bulir bening berjatuhan dipipi mulus Aini.


"Kak... Apapun yang terjadi nanti Aini cukup tahu meskipun itu sangat menyakitkan bagi semua terutama padaku dan keluarganya. Aku sangat mencintai Kak Hafiz tapi Aku juga tak ingin melawan apa yang sudah ditakdirkan"


"Saat ini Kak Hafiz mungkin masih sedang dalam keadaan pingsan tolong Kak Devan rawat Kak Hafiz dengan baik Aku tak bisa berada disisinya disaat seperti ini karena Ibunya masih sangat membenciku, pergilah Kak dan tolonglah Kak Hafiz' sekarang semalaman Diapun juga berantakan dan menangis lalu kemudian pingsan hingga saat ini" ungkap Aini panjang lebar.


Devan pun melotot tak percaya Diapun meyakinkan apa yang didengarnya dengan menatap bola mata hitam Aini tajam menelisik jauh kedalaman nya, nampak sekali tidak ada kebohongan disana.


Sejurus kemudian Devan pun beranjak dari tempat duduknya. Kemudian tanpa kata Diapun melesat pergi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


__ADS_2