Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 60


__ADS_3

"Sayang... kamu udah bilang Aini belum kalau mama ngajakin makan malam bersama keluarga heumm..." Ucapan mama Rossa mengagetkan Aditya,dia lupa kalau mamanya pernah mengatakan hal itu.


"Astaghfirullah mam... Adit lupa, beneran..." Tukas Aditya sambil menepuk jidatnya sedikit keras.


"Heumm... gapapa tapi kapanpun Aini bisa kasih tahu mama yah son.... " ujar mama Rossa dengan senyuman manisnya.


"Hari ini kamu gak kerumahnya nak..." kini pak Antoni yang bertanya.


"Enggak pa... hari ini Aditya banyak kerjaan dan aku juga udah bilang sama Aini ,.. sekarang dia lagi berdua sama sahabat nya Rina.." mama Rossa mengernyitkan dahi


"Siapa Rina..??" tanpa basa-basi mama Rossa pun bertanya


"Sahabatnya ma... satu kerjaan sama Aini bagian jahitan..." jawab Aditya singkat tanpa memandang mamanya karena Aditya masih fokus dengan laptopnya.


"Hemm... mama penasaran dengan masa kecilnya Aini nak... pasti sangat berat...!!" kini mama Rossa berkata dengan mimik wajah yang sedikit nanar.


Dia tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya seorang Aini diwaktu kecil, sementara Aditya yang mendengar kan mamanya kini menatap mamanya dengan rasa entah.


"Aditya tidak tahu ma... yang jelas semuanya tidak seindah kehidupan gadis gadis kecil pada umumnya,dan Aditya rasa kehidupan Aini dimasa kecilnya tidaklah baik baik saja... itu yang Adit tangkap , Aditya terkadang memergoki Aini menitikkan air mata tanpa sebab dengan wajah sedih..." jelas Adit sambil mengingat bagaimana sakit hatinya melihat Aini menitikkan air matanya.


"Yang jelas semuanya juga diluar nalar..." ujar Aditya kemudian.


Sementara pak Antoni yang sedari tadi diam saja diam diam ikut mendengarkan meskipun matanya fokus pada televisi didepannya.


"Lalu bagaimana hubungannya dengan Hafiz ... " mama Rossa masih penasaran dengan hubungan Aini dengan Hafiz.


"Itu hanyalah masa lalu dan gak perlu dibahas lagi" tukas Aditya sambil membereskan barang-barang nya kemudian berlalu masuk keruang kerjanya.


"Adit keruang kerja dulu ma pa..." pak Antoni dan Mama Rossa hanya mengangguk.


Setibanya diruang kerjanya Aditya kini merenung dadanya begitu sakit mengingat nama Hafiz disebutkan mamanya tadi,Aini begitu banyak berkorban untuk laki-laki itu tapi mamanya tega berbuat jahat padanya.


Aditya menghempaskan nafas panjang dan kasar,diam diam Aditya menyuruh anak buahnya menyelidiki secara detail tentang hafiz dan beberapa pria yang menyukai Aini.


Entah mengapa Aditya merasa semua saling berhubungan dengan masa lalu Aini, Aditya sangat mencintai gadis itu sehingga apapun akan dia lakukan untuk melindungi gadis itu meskipun Aini bisa melindungi dirinya tapi Aditya hanya ingin yang terbaik untuk gadisnya.


Tok tok tok


Beberapa ketukan pintu dirumah kost Aini terdengar,Rina yang merasa terganggu terbangun dan mengerjapkan matanya,dia mengusap usap matanya dengan jari jarinya karena banyak belek disana.

__ADS_1


"Siapa sih pagi pagi gini ketok ketok pintu gak tahu apa kalau aku nih baru tidur subuh tadi" gerutu Rina ,tapi tak urung jua dia bangun dan berjalan kearah pintu.


Ceklek


"Assalamualaikum... " Rina yang melihat ada seorang laki-laki tua berdiri didepan pintu mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam kek... maaf kakek siapa yah... ??" tanya Rina penasaran


"Oh... perkenalkan saya kakek Bimo ingin bertemu dengan Aini... apakah Aini nya ada nduk..." Rina yang tersadar mengerjapkan matanya nanar. ekspresi nya tak terbaca bibirnya melongo cengo.


Pikiran Rina sempat berpikir buruk pada pria tua didepannya ini yang memasang wajah senyum penuh wibawa.


"Tunggu tunggu... ada apa kakek mau ketemu sahabat saya..?" kembali Rina bertanya kepada kakek Bimo karena rasa penasaran yang tinggi, pasalnya Rina merasa Aini tidak pernah bercerita kalau punya kakek atau ada kerabat jauh , bahkan Aini bercerita kalau seluruh keluarga nya tewas terbakar.


"Tolong panggilkan saja nona saya benar benar ada perlu penting dengannya" Rina mengernyitkan dahinya.


"Tapi Aininya kagak ada kek... gak tahu kemana ... " sahut Rina


"Baiklah kalau begitu saya tunggu disini..." tukas kakek Bimo tak lama Kemudian kakek Bimo duduk dikursi teras rumah kost itu.


"Baiklah kalau begitu saya masuk yah kek..." meskipun Rina tipe orang yang suka kepo,suka konyol, apalagi melatah tapi dia sangat santun kalau sama yang tua.


"Hhmm..." Kakek Bimo mengangguk


"Masak Aini mau dijadikan sugar baby yak... dasar kakek kakek mesum... eh eh eh... kayaknya enggak deh.. kalau dilihat dari raut wajahnya tuh kakek kayaknya emang ada perlu kepentingan yang mendesak deh kayaknya..." Rina mengangguk angguk sambil jari telunjuk nya ditaruh di dagu dia berpikir keras akan maksud kedatangan kakek bimo.


Tak lama kemudian Rina keluar membawa nampan berisi minuman secangkir kopi pahit panas dan secangkir teh melati, dengan tangkas Rina menyuguhkan minuman itu didepan kakek Bimo.


"Ini kek monggo diminum... maaf kek seadanya saja maklum saya baru bangun tidur belum masak... hehe" sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal Rina cengengesan gak jelas.


"Tahu saja kamu nduk kalau kakek tua ini doyan kopi pahit..." seloroh kakek Bimo.


"Assalamualaikum..." nampak Aini sudah berada di terasnya dia sedikit terkejut melihat kakek Bimo berada disini.


"Waalaikumsalam..." jawab Rina dan kakek Bima secara bersamaan.


"Kakek ... ada apa kakek datang kemari??" tanya Aini tiba tiba.


Rina terkejut dengan sikap Aini yang seolah olah sudah sangat akrab pada kakek tua itu,tak lama kemudian Rina permisi masuk kedalam rumah bagaimana pun juga itu bukan urusan nya.

__ADS_1


Meskipun Rina yang super kepo itu ingin mengetahui secara detail dia gak mau menguping pembicaraan antara Aini dan laki-laki tua itu.


"Beginilah caramu bersikap kala bertemu dengan kakekmu nduk...?? bukannya bertanya kabar lah kok malah ditanya pertanyaan" sedikit mencibir kakek Bimo menyindir Aini.


"Maaf kek... Aini hanya kaget karena tiba-tiba saja kakek ada disini... apa kabar kakek Bimo??" tukas Aini dengan tersenyum manis.


"Kakek baik baik saja nduk... Kakek minta maaf atas segalanya yang terjadi padamu dan semuanya yang kau alami itu karena kakek kurang tegas terhadap putri kakek..." Aini yang melihat kakek Bimo berkaca kaca Aini tidak bisa tidak peduli.


"Gak apa apa kek... Aini sudah ikhlas kok, Aini juga menepati janji Aini pada nyonya Neli,. " kini Aini melihat bahu kakek tua itu bergetar,Aini tidak berusaha untuk mencari tahu dengan membaca pikiran kakek Bimo tapi Aini hanya ingin kakek Bimo mengatakan sendiri apa tujuannya datang kemari.


"Apakah selemah ini sekarang seorang kakek Bimo?? " cibir Aini tapi sejujurnya Aini sangat kasihan dengan kakek tua itu,entah apa yang membuat Aini bersikap seperti itu.


"Nduk.... " terjeda kakek Bimo kemudian menatap wajah Aini sendu.


"Iya kek ... katakan ada apa??" Aini mencoba untuk tersenyum semanis mungkin meskipun nantinya apa yang akan dikatakan kakek Bimo bukanlah kabar atau berita baik.


Aini seakan siap akan hal itu, melihat mimik wajah kakek Bimo saja Aini sudah bisa menebak kalau ada sesuatu yang genting terjadi.


"Bolehkah kakek meminta bantuan mu ??" tanya kakek Bimo dengan ekspresi yang sedikit menyedihkan walaupun kakek Bimo sedikit tersenyum.


"Heumm..." Aini mengangguk meyakinkan.


"Tolong kakek..." kemudian kakek Bimo menceritakan perihal yang terjadi dengan Nico, yang mulai dari kedatangannya kekediaman keluarga orang tuanya,kakek Bimo juga menceritakan bagaimana pertengkaran Nico dengan mamanya, bagaimana murkanya Nico saat dia mengetahui tentang Aini.


Aini melihat kilas balik dari cerita kakek Bimo melalui tatapan mata dan pikiran kakek Bimo, sampai berakhir dengan sumpahnya yang memutuskan hubungan darah antara keluarga nya.


Kakek Bimo juga menceritakan betapa Nico sangat menyayangi dan mencintai gadis itu bahkan sampai dewasa pun Nico masih menyimpan kenangan masa kecilnya dengan Aini.


Cinta yang tumbuh semasa kecil bahkan kini Nico bertumbuh dewasa, bahkan dia sangat dingin jika berhadapan dengan gadis gadis yang menawarkan diri untuk menjadi istri atau wanita simpanannya.


Nico menolak mentah mentah.


"Saat ini Nico membutuhkan sangat banyak darah nduk dan kebetulan darah Nico sangat langkah kakek rasa kamu punya darah yang sama dengan Nico..." Kakek Bimo sedikit ragu kemudian diapun memberanikan diri untuk meminta bantuan kepada Aini.


"Nduk..."


"Baiklah ayo kita kerumah sakit kek... kasihan kak Nico..." ajak Aini yang memotong apa yang hendak kakek Bimo pinta kepada gadis itu.


Kakek Bimo menatap Aini dengan ekspresi yang entah,tapi yang jelas kakek Bimo meras takjub dengan gadis yang ada dihadapannya ini.

__ADS_1


"Terbuat dari apa hatimu nduk..." batin kakek Bimo bermonolog,tak lama kemudian seperti ada udara yang masuk ke telinga kakek Bimo kemudian


"Dari segumpal darah kek..."


__ADS_2