
Sementara itu ditempat Hafiz dirawat nampak seorang pria paruh baya menatap lurus kearah sang putra yang tak kunjung membaik.
Wajah tua itu nampak sendu melihat putra sulungnya yang tidak kunjung sadar dari tidur panjangnya,maafkan papa nak seharusnya papa bertindak tegas sedari dulu agar mamamu tidak bertindak sesuka hatinya.
Hhhhhhh
Sang papa pun menghela nafas panjang tanda bahwa jiwa dan raganya teramat lelah dengan semua yang dialami keluarganya terutama putra sulungnya.
Drrrttt Drrrttt Drrrttt
"Ya hallo... "
"Hhmm oke aku segera kesana ,.. " setelah mengakhiri panggilan seluler nya pak Harun pun gegas keluar.
Tok. Tok. Tok
"Ana...!! kau didalam nak " panggil pak Harun pada putri bungsunya.
ceklek
"Ada yang bisa Ana bantu pa... " sedikit menguap Ana mencoba menahan kantuk nya yang masih setia.
"Kau baru bangun tidur rupanya... " nampak Ana mengerjapkan matanya sayu .
"Maaf pa... semalam Ana gak bisa tidur dengan nyenyak, A ana memikirkan mama pa..." dengan menunduk kebawah Ana sedikit takut papanya marah .
"Hhmm... hari ini papa akan kekantor lebih awal karena ada meeting penting kamu jaga kakakmu jangan biarkan wanita yang kau panggil mamamu itu mendekati putraku ingat,..!! aku juga sudah memasang cctv dikamar dan jangan coba-coba membantah papa, mengerti....!? " dengan cepat Ana pun mengangguk anggukkan kepalanya cepat.
"Ana cuci muka dulu pa... " gegas Ana masuk kekamar mandinya gosok gigi dan cuci muka dengan kilat khawatir papanya akan marah padanya.
"papa berangkat dulu,ingat hati hati "
"Ehmm ..." seperti seorang bocah kepala Ana mengangguk cepat.
Tak lama kemudian terdengar suara deru mobil menjauh dari pekarangan rumah. Sementara Luciana putri kedua Pak Harun tidak ada dirumah sejak pertengkaran ayah dan ibunya diapun pergi tak mau terlibat padahal sedikit banyak dia juga ikut andil,tapi pak Harun tak mempedulikan dan semua itu asal dia tidak mengganggu putranya.
Ting tong
Ting tong
Terdengar suara bel pintu berbunyi dengan keras,gegas Ana pun berlari
Ceklek
"Assalamualaikum Ana..." nampak berdiri seorang gadis cantik siapa lagi kalau bukan Aini.
"Waalaikumsalam kak Aini... masuk yukk..."
"Baik... bagaimana keadaan kak Hafiz Ana...??" tanya Aini to the poin
"Masih sama kak gak ada perubahan" dengan wajah sedih Ana menjawab dengan mimik sendu
"Ana aku butuh bantuan mu,tapi...." kalimat Aini terjeda
__ADS_1
"Yak... " Ana pun menjawab sedikit melongo kira kira bantuan apa yang Aini perlukan darinya
"Tapi apa kak... " penasaran kembali Ana bertanya
"Hhmm... ini rahasia antara kita,apa kau mau Ana..?? tanya Aini penuh harap agar gadis itu tak banyak bertanya dan segera mengiyakan permintaannya.
"Eehhmmm.... A apa rahasianya kak" tanya Ana polos.
Hhhhhhh
nampak Aini ragu tapi dia ingin mencobanya, kemudian Aini pun membisikkan sesuatu ditelinga Ana.
Nampak kedua mata Ana pun membola sempurna tidak menyangka kalau Aini akan meminta bantuan seperti itu padanya.
"Ta tapi kak Ana takut.."
" Sssttt... ada kakak disini jangan takut, kakak akan melindungi mu,,, gimana apa kau setuju??"
Masih bergeming nampaknya gadis itu memikirkan sesuatu , dia takut kalau resikonya akan berimbas pada kakaknya nanti.Tapi... apa salahnya jika dia mencobanya.
Bukankah kita tidak akan tahu sebelum kita mencobanya,gumam Ana mengangguk angguk pelan kepalanya,.
Baiklah dia akan menyetujui apa yang dipinta Aini.
"Jangan berpikir terlalu lama Ana ini semuanya demi kak Hafiz, kak Aini sudah berupaya segala cara dan memikirkan dan hanya inilah jalan satu-satunya" tak ayal ucapan Aini pun membuat gadis itu tak punya pilihan lain selain menyetujui nya.
" Baik ayo kita lakukan kak..." tanpa menunggu lama lagi Ana pun menyeret Aini menuju kamar Hafiz.
"Kak Aini... dikamar kak Hafiz terpasang cctv kak Ana takut nanti dimarahi papa,."
Masih dengan senyum manisnya Aini menenangkan gadis itu
"Jangan khawatir itu jadi urusan kakak" jawab Aini meyakinkan.
"Kakek... bisakah kakek melakukan agar kita tidak ketahuan"
Grrrrhhh
Nampak terdengar suara Geraman seperti suara bintang Ana pun begidik bulu kuduknya meremang.
"Jangan khawatir beliau teman kakekku juga penjagaku beliau yang akan mengurus semuanya nanti" sambil menepuk bahu Ana Aini pun meyakinkan gadis itu agar tidak terlalu khawatir.
"Ehhmm..." gadis itupun menganggukkan kepala cepat kemudian tak lama pun mereka sudah berada dikamar Hafiz.
"ingat janjimu Ana jangan sampai satu orang pun tahu akan hal ini terutama kedatangan ku disini kamu mengerti ...!! peringat Aini mengingatkan.
"Jika kamu mengingkari kau tahu konsekuensinya kan??" sedikit ancaman agar gadis itu menurut.
Dengan sedikit takut Ana pun mengangguk tanda mengerti, sesungguhnya itu hanya sebuah ancaman bodong agar kedepannya tidak ada masalah dan tidak ada yang tahu kalau dialah yang menyelamatkan Hafiz.
"Setelah ini kuharap semuanya akan baik baik saja,. Kau... berjaga lah didepan agar tak ada seorang pun yang masuk dan menggangguku"
"Baik..." dengan cepat Ana keluar dari kamar Hafiz menuju ruang tamu.
__ADS_1
Tak lama kemudian Aini pun memulai duduk bersila....
_____________
Tiga hari sudah berlalu Aini pun juga sudah beraktivitas seperti biasanya,dan malam ini dia hanya malas rebahan dikamar sambil membaca novel kesukaannya.
Tok
Tok
Tok
Aini penasaran siapa yang bertamu malam malam begini,gegas dia menuju pintu depan
Ceklek
" Assalamualaikum Ai..." nampak seorang pemuda tampan tak lain adalah Aditya.
"Waalaikumsalam kak... " tanpa basa-basi Aini pun menyuruh duduk di teras depan kosannya.
"Apa kabar Ai... kakak kangen " tak lepas Aditya memandang wajah cantik Aini karena sudah tiga hari dia tak bertemu kekasih hatinya.
"Beneran...??" sambil mengerutkan dahinya Aini sedikit menggoda Aditya.
"Jadi kamu gak kangen sama sekali padaku yah Ai..." sedikit kecewa ternyata Aini masih belum sepenuhnya punya rasa yang sama padanya.
Nampak mimik wajahnya yang sendu tapi tak lama kemudian dia tersenyum,tidak apa-apa dia mengerti cinta pasti tumbuh dengan seiring berjalannya waktu.
Aini senyum senyum sendiri dia gemas melihat wajah Aditya yang sendu karena kecewa,diapun terkikik geli.
"Kamu senyum senyum sendiri kenapa Ai... ada yang lucu yah" melihat Aini tertawa pelan dengan menampilkan wajah cantiknya Aini menepuk pelan lengan Aditya gemas.
"Aini juga kangen sama kak Aditya,.. kangeeen banget " sedikit menutup mulutnya dengan satu tangannya lalu kembali mengucapkan kalimat
"Kangen lesung pipinya kak Aditya... gemes pingin nyubit tapi takut nanti pipinya jebol,hahaha...." tak sanggup menahan tawanya Aini tertawa dengan puas.
"Dasar yah... bikin jantung kakak jadi pindah ke kanan aja..." gemas Aditya pun menangkup kedua pipi Aini.
Keduanya pun sama sama terdiam keduanya juga larut dan terkunci dalam tatapan sedikit memuja,sunyi beberapa saat sadar akan apa yang Aditya lakukan dengan cepat diapun melepaskan kedua tangannya dari wajah Aini.
Kini keduanya tampak canggung setelah apa yang barusan terjadi meskipun tidak ada ciuman hanya sebuah tatapan keduanya pun sama sama canggung.
Bagaimana pun bagi Aditya ini yang pertama kalinya dia menyentuh seorang wanita sedekat ini begitu juga dengan Aini, setelah dengan Hafiz meskipun tidak ada adegan saling menatap saling berpegangan tangan tapi hati keduanya terikat satu sama lain,tapi dikarenakan keluarga Hafiz yang terlalu membenci Aini membuat gadis itupun menjauh dengan perlahan tapi pasti .
Dia tak mau disebut sebagai pembuat onar seperti yang dirumorkan banyak orang beberapa waktu yang lalu dan itu dilakukan oleh keluarga Hafiz sendiri yakni mama dan adiknya yang begitu membencinya dikarenakan status sosial.
Nampak dari kejauhan sepasang mata mengawasi interaksi kedua sejoli tersebut kedua tangannya mengepal kuat hingga buku bukunya memutih dengan sempurna,kedua matanya pun memerah karena marah cemburu sedih dan kecewa jadi satu.
Bulir-bulir bening pun jatuh dari muaranya,tanpa suara diapun terisak sambil kepalanya tertunduk dan ber bantal setir mobil,kedua bahunya bergetar hebat.
Sakit yah sakit tapi tak berdarah yah itulah yang dirasakan Hafiz setelah dia sadar dari komanya yang dicarinya hanya Aini. Cinta yang tumbuh dengan subur kini layu tatkala mendengar sang pujaan hati sudah bertunangan dengan orang lain.
Tangan kanannya pun memukul dada kirinya dengan sedikit keras menandakan betapa sakit hatinya lama dia berdiam diri didalam mobil sampai dia tak sadar sudah berapa lama dia berada disitu.
__ADS_1