
Sementara dikediaman keluarga pak Antoni mama Rossa yang sedang menonton televisi benar benar tidak bisa fokus akan apa yang ditayangkan di televisi tersebut,mama Rossa rindu akan putranya yang kini sedang berada jauh dan itu tidak dia ketahui dimana putranya berada.
"Sudah tidak usah dipikirkan lagi kurang 60 hari lagi dia bakal pulang ma.... " ujar pak Antoni meyakinkan mama Rossa.
"Hhhhhh... itu masih sangat lama pa... mama sangat kangen dengan putraku ,kalau saja mama tahu resiko Aditya menikahi gadis itu mama dari awal tidak akan setuju,.." entah kenapa mama Rossa jadi berubah haluan seolah olah dia tidak menyukai Aini.
Padahal sebelumnya mama Rossa sangat menyayangi gadis itu apalagi dialah penyelamat kedua anaknya,tapi saat ini mama Rossa benar benar lupa akan kedua hal itu.
Kini yang ada hanyalah rasa menyesal dan sedikit emosi,pak Antoni yang melihat istrinya begitu cemas berusaha menenangkannya tapi mama Rossa justru semakin uring uringan gak jelas.
Drrrttt Drrrttt
"Hallo dew...." jawab pak Antoni
"Kakek aku rindu nenek dan kakek..." kini pak Antoni tersenyum cerah mendengar celotehan cucunya, tampaknya malaikat penyelamat sudah datang iya cucunya lah yang bisa menyelamatkan istrinya dari kegalauan karena merindukan putranya.
"Waaahhh... cucu kesayangan kakek ternyata,. nih ada mau bicara sama nenek kan...??"
"He um... " dan kini akhirnya pak Antoni bisa bernafas lega ketika mendapati istrinya kembali ceria,.
Tiba-tiba saja hati pak Antoni menjadi resah tidak jelas karena apa, firasat nya mengatakan bahwa akan ada sesuatu yang besar yang akan terjadi tapi dia tidak tahu apa itu.
Pak Antoni hanya mendesah kasar mengingat saat ini hatinya tiba-tiba merasakan sesak yang entah karena apa.
Sementara ditempat dua pasang manusia yang saat ini sedang bergelung dibawah selimut yang sama.
Nampak sang pria duduk bersandar didipan kayu sedangkan sang wanita sedang tertidur pulas akibat pergulatan panas yang baru saja ditunaikan oleh sepasang suami istri itu.
Yah mereka adalah tak lain Aditya dan Aini,kini Aditya memandangi wajah cantik istrinya, dibelainya rambut sang istri dengan lembut, sedangkan Aini nampak tak terusik sama sekali mungkin karena kelelahan.
Senyum tersungging diwajah tampan Aditya,kini kebahagiaan nya sempurna bagi Aditya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya setelah kembali dari sini.
"Kau cantik ai... sangat cantik,... aku sangat mencintaimu dari awal kita bertemu dulu..." gumam Aditya pelan hingga seperti sedang berbisik lembut.
"Aku sangat beruntung bisa mendapatkan mu Ai...." senyum Aditya tak pernah lepas dari bibirnya.
"Aku harap benihku segera tumbuh disini" sambil mengelus perut istrinya yang masih rata ,Aini sedikit pun tak terusik tidurnya.
Kini Aditya ikut berbaring disamping istrinya,dia memeluk dengan posesif seperti takut ditinggalkan sang istri,entah mengapa perasaan nya mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu dengan nya dan juga sang istri.
__ADS_1
"Semoga tak pernah terjadi sesuatu denganmu dan diriku Ai..." Aditya pun memejamkan kedua matanya dan kini nampak pulas dengan berbalut buaian mimpi.
Dua bulan lewat 14 hari kini Aditya dan Aini sudah dalam perjalanan pulang kekediaman keluarga Aditya, mereka berdua memang sengaja tidak memberitahu kan kabar kepulangan mereka.
Mereka berdua ingin memberikan surprise kepada seluruh keluarganya,Aini nampak terdiam dari awal perjalanan bahkan sampai mereka sudah tiba dikediaman Aditya dan keluarganya.
Aditya tak memaksa Aini untuk berbicara, Aditya tahu dan berpikir mungkin istrinya sangat capek, Aditya mengacak rambut Aini dengan gemas.
"Sayang kita sudah sampai,.. " Aini yang kedua matanya yang sedari tadi terpejam bukan karena tertidur melainkan dia melihat apa yang akan terjadi nanti.
Mereka berdua pun berjalan beriringan tak lupa senyum selalu dia tampilkan dibibir mereka berdua.
"Assalamualaikum.... " ucap salam Aini dan Aditya bersama an.
"Waalaikumsalam... " mama Rossa yang melihat kedatangan putranya pun terlonjak kegirangan dan dengan langkah lebar segera memeluk sang putra dengan rindu.
"Sayang... kamu pulang nak... apa kabarmu" entah lupa ataukah pura pura lupa mama Rossa tak mengindahkan keberadaan Aini disana.
Aini masih bergeming namun wajahnya masih memasang wajah senyuman manisnya, seolah-olah yang ada didepannya tak mempengaruhi sama sekali.
"Ma... Aditya baik baik saja, kenapa kau tak menanyakan menantumu..." mama Rossa terkesiap seakan-akan lupa tapi kembali ekspresi wajahnya dibuat seolah-olah dia lupa.
"Sayang maaf kan mama yah... mama sedikit lupa kalau sudah punya menantu " Aini tersenyum dan mengangguk.
"Iya gak papa ma... Aini maklum kok" seolah olah sudah terbiasa Aini hanya bisa bersikap tenang dan senyuman manisnya.
Aditya yang tahu akan perubahan mamanya nampak tidak enak hati dengan aini.entah apa yang membuat Mama nya berubah haluan seperti itu Aditya akan mencari tahu sendiri.
"Kalian beristirahat dulu yah ... " Aini hanya mengangguk sedangkan Aditya menggandeng pergelangan Aini dengan mesra.
Mama Rossa yang melihat hal itu sedikit tidak suka,dalam hati dia berkata 'semoga putranya tidak berjodoh lama dengan gadis pembawa sial ini' seperti itulah kata hati mama Rossa terhadap kedua pasangan tersebut.
Mama Rossa seakan lupa bahwa siapa yang dulu menyelamatkan kedua anaknya tapi yang ada justru kebencian yang lebih mendominasi.
Aini yang bisa mendengarkan suara hati mama Rossa pun sedikit terkesiap dan sedih secara bersamaan, dia tak pernah menyalahkan takdir hanya saja semua akan berjalan sampai kapan Aini tidak tahu.
Tadinya Aini berpikir untuk memberikan sebuah kejutan bahwa saat ini dia tengah mengandung anak dari Aditya, sekarang urung dia lakukan karena perubahan sikap mama Rossa terhadap nya.
"Sayang... maaf kan atas sikap mamaku terhadap mu tadi yah..." ucap Aditya disela sela keheningan yang tercipta diantara mereka berdua.
__ADS_1
"Jangan khawatir kak saya baik baik saja..." Aditya yang melihat istrinya masih menampilkan senyum manisnya dia merasa lega meskipun dalam hati dia tahu bahwa istrinya sedang menahan rasa sakit tapi tak kasat mata.
"Tidur yukk..." Aini mengangguk kemudian segera berbaring disamping suaminya dan memeluknya dengan sayang.
Kini pikiran Aditya jadi gelisah perubahan yang ditunjukkan oleh Mama nya membuatnya tak tenang,ada apa dengan mamanya Aditya akan mencari tahu nanti.
Sementara Aini yang sudah terpejam kini kembali membuka kedua matanya,sedari tadi Aini memang tidak tidur dia menunggu suaminya tertidur lelap baru dia akan beranjak dari sana.
"Nenek... " suara lembut Aini memanggil nenek Rumpi.
"Nyoh.. lapo kui kok nyeluk Mbah e, ( iya... ada apa kamu kok memanggil Simbah,)" suara serak nenek Rumpi terdengar seperti berbisik tapi sangat jelas,kalau orang lain yang mendengarkan mungkin akan kabur mendengar suara nenek Rumpi.
"Gantikan aku disini aku mau keluar menemui temanku..."
"Wes Ndang budal Selak kesuwen mengko kawanen... ( sudah cepat berangkat nanti keburu kesiangan...)" sambil mengibaskan tangannya nenek Rumpi dalam sekejap berubah wujud menjadi sosok Aini.
"Aku berangkat"
Slaaahhsss
Dalam sekejap bayangan Aini sudah hilang dari pandangan mata,kini nenek Rumpi menatap tajam kearah pintu.
"MANUNGSO kui pancen panggonane salah Yoh panggonane dosa, hhhhhhh... aku Reti nyapo kui genting Nang nduk ayuku tapi rek wes kelewat batese aku seng maju,. ( manusia itu memang tempatnya salah juga tempatnya dosa, hhhhhhh... aku ngerti kenapa kamu tidak suka dengan gadis cantikku tapi kalau sudah melewati batas nya aku yang maju...)" kini wajah datar nenek Rumpi tercetak jelas.
"Koe cah bagus wes untung oleh genduk ayuku Ojo disio sio putuku,...( Kamu anak ganteng sudah beruntung dapat gadis cantikku jangan disia siakan cucuku,...)" kini nenek Rumpi duduk dikursi balkon kamar Aditya dan Aini tempati sekarang.
"Pa... aku lupa bilang kalau putra kita sudah pulang dan kini sedang beristirahat dikamar bersama istrinya " pak Antoni bergeming.
"Iya papa sudah tahu..." mama Rossa mencebik darimana suaminya tahu kini wajah Mama Rossa tak sedap dipandang.
"Pa... kita paksa mereka berdua bercerai saja ,.. mama gak ikhlas deng..."
"Berhenti bicara omong kosong ma atau setidaknya tutup mulutmu biar tidak terjadi kesalahpahaman nantinya." mama Rossa yang dibentak suaminya pun kini mengerucut sebal.
"Semuanya berubah semenjak kedatangan perempuan sial itu" batin mama Rossa.
"Berhenti mengutuk ma,.. meskipun dalam hatimu..." mama Rossa pun terkesiap dengan ucapan suaminya barusan.
Dengan perasaan sebal dan umpatan dalam hati sudah tidak bisa dibendung lagi kalau saja pak Antoni tidak menatap tajam kearah mama Rossa
__ADS_1