Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 85


__ADS_3

Pagi ini Aini bangun pagi pagi sekali, Dia membantu bibi untuk memasak setelah semuanya selesai Aini pamit sama bibi untuk segera mandi dan membangunkan suaminya.


Setelah Aini pergi nampak mama Rossa sudah berada diruang makan. " Loh tumben bi... masakannya khas banget macam macam lagi..." seru Mama Rossa sumringah.


"Iya Bu... tadi non Aini yang memasak dan kita hanya bantuin saja, gak nyangka selain cantik non Aini juga pintar memasak,.." wajah mama Rossa yang tadinya sumringah kini menjadi surut dan berekspresi Suram dalam sekejap.


Bukannya tidak suka tapi kini mama Rossa berpikiran yang tidak-tidak tentang Aini mengingat apa yang pernah dikatakan oleh Astri tempo lalu.


Berbagai pikiran bergelayut manja di otaknya lalu dia mengingat apa yang pernah diberikan Astri kepada nya,gegas mama Rossa kekamarnya hendak mengambil sesuatu.


Setibanya dikamar dengan segera Rossa merogoh tas nya setelah beberapa detik nampak seulas senyum terbit dibibirnya, " Semoga saja aku tidak salah langkah meskipun aku tidak yakin dengan perkataan Astri tapi... setidaknya aku sudah berusaha...." gumam Astri lirih takut kalau suaminya tiba-tiba muncul.


Kini mama Rossa sudah berada diruang makan ,nampak bibi sedang menuangkan minuman dibeberapa gelas kemudian setelah selesai bibi pun segera pergi ke dapur untuk mencuci peralatan yang tadi dipakai.


Nampak Rossa celingak celinguk guna memastikan bahwa tidak ada orang disekitarnya, setelah dia memastikan bahwa memang benar-benar tidak orang disekitarnya segera Mama Rossa membuka sebuah bungkusan lalu kemudian menuangkan serbuk bungkusan itu kedalam minuman yang memang sedang disediakan untuk putranya Aditya.


Senyum mama Rossa kini terbit tipis tipis seolah tak nampak, sebenarnya dia sangat gugup tapi demi sebuah misi yang menurut mama Rossa penting maka sebisa mungkin dia bersikap tenang dan biasa saja.


Tak lama kemudian pak Antoni muncul dari dan segera duduk ditempat biasanya dia berada,sedangkan mama Rossa senyum senyum sendiri yakin bahwa misinya pasti berhasil.


Mama Rossa berharap agar Aditya segera lepas dari Aini, sejujurnya disisi hatinya yang lain mama Rossa tidak yakin bahwa Aini seperti yang dikatakan oleh Astri tapi disisi lainnya lagi berkata bahwa dia harus melakukan itu bahkan lebih mendominasi lagi.


Sedikit gugup sebenarnya Apalagi suaminya yaitu pak Antoni melihatnya secara intens.


"Kau kenapa ma...." tanya pak Antoni sambil mengernyitkan dahinya.


"Yak..." sahut mama Rossa sedikit cengo.


"Kau kenapa dari tadi senyum senyum sendiri dan...."


"Ah... i itu sebentar lagi kan mama akan bertemu teman teman arisan mama pa... semoga aja nanti mama dapat arisan.." jawab mama Rossa sekenanya meskipun sedikit gagap.


Sebenarnya pak Antoni sedikit curiga dengan gelagat mama Rossa tapi kembali dia tepis untuk tidak terlalu mencurigai istrinya meskipun hatinya berkata lain, ' semoga saja kecurigaan ku salah dan ini hanya .... Ah sudahlah' batin pak Antoni bermonolog.


Sementara ditempat lain nampak Astri tertawa terbahak-bahak dengan suara yang melengking layaknya seperti tawa kuntilanak, yah... Astri bisa melihat aksi dari Rossa dari tempayan yang terbuat dari Kuningan sudah tersedia untuk nya melihat segala sesuatu yang dia intai.


Di Tempayan yang terbuat dari Kuningan itu Astri bisa melihat semua yang dia inginkan terutama tentang Rossa, " Kau sudah dalam kuasaku Rossa,.. dulu kau bisa sombong padaku tapi sekarang lihatlah... kau sangat tunduk dihadapan ku meskipun itu tak kau sadari,.. HAHAHAHA...." kembali suara tawa menggelegar didalam ruangan khusus yang ditempati Astri sekarang.

__ADS_1


"Oh... aku lupa ,.. bagaimana dengan sikecil yang imut dan menggemaskan heumm..." kini senyum smirk ditampakkan Astri kala melihat sesosok gadis kecil yang sedang bermain disana.


"Meskipun aku tidak mendapatkan putri bungsuku tapi aku mendapatkan yang lebih wah... HAHAHAHA.... Hahahaha...." suara tertawa dari bibir merah kehitaman Astri kembali menggelegar dan kali ini lebih mengerikan dari yang tadi terdengar.


Apalagi suara itu terdengar bahkan sampai paviliun belakang tempat dimana para pembantu ditempatkan.


"Las .. aku kok merinding yah kalau lihat nyonya Astri ,.. " ucap Lasih salah satu pembantu Astri.


"Emang merinding kenapa to Las..." sahut Erin penasaran.


"Ckk .. kau barusan dengar kan suara ketawa barusan,.. jangan bilang kau tak mendengarnya..." Kini Erin membola dalam sekejap juga dia merasa merinding juga seperti yang dikatakan Lasih barusan.


"Wes .. ayo Ndang turu Ojo ngedumel kae .. " tukas bibi Antin menengahi.


Kini suasana pun kembali hening meskipun mereka sedikit takut sebenarnya mereka juga tidak betah bekerja dengan Astri lantaran Astri suka kasar ,tapi bagi mereka tak ada jalan keluar lain lagi selain kerja disini yang mana bayarnya setiap nya juga sedikit mahal menurut mereka.


_______________


"Bagaimana... apakah tugas yang kuberikan sudah selesai..." ucap pria dengan suara berat dan khas.


"Sudah Ketua... "Sahut salah satu anak buahnya.


Glek


Dengan susah payah semua anggota disana menelan salivanya dan kesusahan, pasalnya sang ketua tidak akan pernah main main dengan semua apa yang diucapkannya.


"Lalu... dari sekte mana saja mereka dan berapa sekte yang akan mengikuti ritual kali ini..." kembali suara berat pria itu menanyakan informasi apa yang sudah berhasil anak buahnya dapatkan.


"Lapor ketua... sekitar 35 sekte itu sudah dari beberapa negara juga,karena menurut informasi yang saya dapatkan menurut garis lintang arah barat daerah yang paling tepat untuk ritual adalah pulau Jawa seperti yang sudah direncanakan sebelumnya" kini laporan salah satu anak buahnya berhasil membuatnya sedikit tersenyum.


"Lalu sudah berapa tumbal yang sudah terkumpul... " pria yang dipanggil ketua itu kembali bertanya kepada salah satu anak buahnya.


"Sudah terkumpul 5 Tuan tinggal 2 lagi karena gadis yang menurut apa yang sudah tertulis secara tanggal lahir dan hari pasaran itu sangat sulit didapatkan,"


" Ckk... Bodoh sekali mereka... bukankah sudah ada ciri cirinya tentang gadis tersebut,.."


"Iya anda benar tuan gadis utama yang jadi pilihan semua sekte sudah menikah tuan dan kini ada yang sama persis seperti gadis itu meskipun dia masih sangat dibawah umur"

__ADS_1


" Hhmm... kau pantai saja terus dan tak perlu turun tangan,aku yakin wanita serakah dan bodoh itu sudah merencanakan sesuatu yang besar dan itu sangat menguntungkan kita semuanya." nampak senyum smirk terpampang jelas dibibir tebal laki laki itu


"Kalian boleh keluar dan jangan lupa perintahku tadi ..." titah sang ketua.


"Baik ketua...." ucap mereka serempak.


"Hhmm... meskipun gadis utama sudah menikah tapi... didalam dirinya sudah ada dua jiwa baru dan itu sangat menguntungkan..." gumam pria itu pelan.


_____________


Sementara itu dikediaman pak Antoni nampak mereka berkumpul diruang tengah, Aditya yang tadinya bergelut dengan laptopnya kini pria itu berkali-kali memijit pelipisnya.


Aini yang melihat suaminya yang tidak seperti biasanya pun segera mengambilkan segelas air putih untuk suaminya.


"Kak... minum dulu gih, wajah kak Adit pucet banget, udahan dulu yah kerjanya nanti aja dilanjut kalau udah gak pusing" Aditya hanya mengangguk nampaknya dia pasrah dan menurut apa yang istrinya katakan, apa yang dikatakan istrinya memang benar kepalanya saat ini benar benar pusing dan sakit luar biasa.


"Aku tidak tahu kenapa tiba tiba kepalaku sakit banget Ai...." ucap Aditya lirih sembari membaringkan tubuhnya diatas kasur.


" Mungkin kak Adit sedang kecapean..." setelah itu Aini menyentuh dahi Aditya tak lama kemudian Aditya pun tertidur lelap.


Aini kini mengibaskan sebelah tangan nya, Aini melakukan itu guna menutup akses agar Astri tidak bisa melihat apa yang terjadi disekitar rumah ini dan Aini segera memanipulasi penglihatan Astri ditempayan yang biasanya dibuat Astri untuk melihat.


"Mama... " Kini kilat mata tajam Aini terlihat sangat jelas,tak lama kemudian Aini pun keluar dari kamarnya.


Disaat Aini membuka pintu kamarnya tiba-tiba saja Aini dikejutkan dengan suara benda jatuh yang tak alin adalah ibu mertuanya yang sedang berusaha menguping.


Brugh


"Apa yang mama lakukan disini...??" suara Aini datar dan dingin.nampak kilat tajam kedua mata Aini yang mana berhasil membuat mama Rossa merinding ketakutan.


"A... a nu ma mama sedang lewat Kom nak..." gugup mama Rossa mencoba menjawab dengan tenang meskipun nampak kegugupan disana.


Aini tersenyum miring menatap ibu mertuanya. " aku tidak tahu kesalahan apa yang sudah kubuat padamu ma... tapi satu hal yang harus mama ingat ,. mama salah sedang berurusan dengan siapa dan lawannya siapa... jangan mudah terkecoh hanya dari sebuah omongan yang tak berdasar,satu hal yang harus mama ingat juga,. jangan usik suamiku meskipun itu anakmu tapi kau juga salah ma... dengan memasukkan serbuk racun pelambat otak dengan dosis tinggi kau sudah secara tidak langsung sedang berusaha membunuh putra anda sendiri,.." kedua mata mama Rossa membola dia terkesiap dan sangat takut sekarang.


"Beruntung aku melihat apa yang mama lakukan,kalau saja aku terlambat aku yakin dalam jangka waktu 1 bulan mama akan kehilangan putra mu ma..." kini tenggorokan mama Rossa tercekat lidahnya kelu tak mampu berkata kata.


"Kali ini mama aku maafkan tapi tidak dengan lain kali...." Aini pun berlalu meninggalkan mama Rossa yang tidak bergeming sama sekali dari tempatnya,tubuh mama Rossa bergetar hebat dia takut apa yang dikatakan Aini adalah sebuah kebenaran.

__ADS_1


Kemudian dia teringat dengan Astri kini kedua tangan mama Rossa mengepal kuat,giginya bergemelatuk rahang nya mengerat dia tak terima karena sudah dibohongi oleh Astri.


"Bang**t kamu Astri...."


__ADS_2