Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 57


__ADS_3

Sementara dibelahan negara lain nampak seorang pria dengan memakai seragam kedokteran tengah duduk santai diruangan nya setelah memeriksa beberapa pasien nya.


Yah ... dia adalah Devan tubuh lelahnya nampak sedikit lemas, semalam dia melakukan operasi untuk pasien nya.


Selain dia bekerja dirumah sakit salah satu di kota new York Devan juga menyelesaikan studinya disana.


Devan meraih ponselnya dia membuka galery foto dan membuka beberapa file foto Aini disana, nampaknya pria itu merindukan seorang Aini bibirnya tersungging senyuman manis wajahnya yang tadinya lesu kini semangat seakan akan terisi kembali tenaganya.


Devan mensecrol kebawah file file foto di galery nya sedikit melamun tanpa sadar bibirnya bergumam pelan "Sedang apa sekarang kau Ai... kakak rindu" Devan memejamkan mata lelahnya sekejap.


Tok tok tok


"Masuk..."


Ceklek


"Hai Dev... !! " tampak seorang gadis masuk dan menyapa Devan dengan semangat.


"Hai..." hanya itu yang keluar dari mulut Devan dia rasanya malas bertemu dengan gadis ini, Devan masih asyik melihat ponselnya tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari ponsel itu.


Stefani Germanotta nama gadis itu dia sedikit kecewa melihat respon Devan acuh tak acuh, tapi dia tak patah semangat dia segera mengalihkan pandangan nya kearah sebuah map hijau yang ada didepan Devan.


"Kau menangani kasus pasien itu Dev...?? bukankah itu kasus yang rumit...??" kini Stefani mencoba serius dengan perkataan nya.


"Hhmm yah,kenapa....??" sebelah alis devan terangkat,dia melihat Stefani nampak sedikit aneh hari ini.


"Tidak apa-apa,hanya saja aku takut kamu akan gagal... pasalnya beberapa dokter sudah menyerah dengan pasien yang satu ini" sedikit mengernyit Devan tersenyum miring.


"Kau meragukan ku nona Stefani..." Gadis itu menggeleng cepat.


"Tidak tidak hanya saja aku takut kamu...."


"Gagal... itu kan maksudmu..." Stefani menggigit bibir bawahnya sambil menggeleng gelengkan kepalanya pelan.


"Aku tahu semuanya,,, tapi .... Ah sudahlah kalau sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi mohon keluar nona Stefani ,.. saya ingin beristirahat sebentar" Sedikit tidak nyaman Devan dengan apa yang dilakukan Stefani saat ini dengan datang keruangannya hanya untuk sekedar basa basi saja sementara dirinya dan gadis itu tidak mempunyai hubungan spesial.


Stefani Germanotta keluar dengan bibir mengerucut serta meracau tidak jelas dalam hatinya selalu bertanya "apakah dia tidak tertarik denganku?? ku cantik,aku seksi,dan aku juga... Ah tipe gadis seperti apa sih yang disukai Devan??" batin elena penasaran.


"Stefani... " terdengar suara orang memanggil namanya dan dia adalah salah satu dosen pembimbing Stefani, Stefani maju dengan enggan ingin sekali dia menghindari laki-laki mesum didepannya ini tapi apa daya dia tidak mau tidak dapat nilai.

__ADS_1


" Iya pak... Ada yang bisa saya bantu??" tanya Stefani basa basi.


"Keruangan ku ada yang ingin ku bicarakan dengan mu..." tanpa menunggu jawaban dari gadis itu dosen paruh baya itu berlalu begitu saja keruangan nya,dan Stefani mengikuti dari belakang.


Stefani tahu apa yang dimaksud dengan " Ada yang ingin dibicarakan katanya... cihh ... yang ada otak mesumnya yang berjalan,dasar tua Bangka..." gerutu stefani kalau saja dia punya dukungan keluarga yang kuat tidak perlu dia susah susah untuk melayani dosen bejat ini dan dia juga tidak akan takut dengan semua ancamannya yang tidak akan meloloskan nilai nya. Bibir Stefani mencebik hatinya sakit diperlakukan tidak senonoh oleh dosennya, tapi apa daya 'benar benar yah dosen ini perlu diberi pelajaran' batin Stefani yang diam diam tersenyum smirk.


Drrrttt Drrrttt


"Ya hallo ... aku ingin bertemu denganmu bisa?? " tanya seseorang diseberang sana.


"Oke ... temui aku ditempatku seperti biasanya." Randy orton mengerut kedua alisnya seperti tersambung sempurna.


"Ada apa dengan teman yang satu ini?? jangan bilang dia ingin mencari mangsa..." batinnya bermonolog gusar.


"Haiisshhh... ada apa lagi denganmu sobat..." kini Randi mengeluarkan seputung rokok dari tempatnya, kemudian menyalakan nya setelah menyalah barulah dia menghisap dengan dalam lalu mengeluarkan kepulan kepulan asap yang merambat naik keatas kemudian menguar begitu saja dan hilang lenyap tanpa sisa dan begitulah seterusnya.


Kedua matanya terpejam pikiran nya menerawang jauh kedepan "kita menyukai gadis yang sama bro tapi... kita juga sama sama tidak bisa memiliki baik cinta dan jiwanya,dia terlalu jauh untuk dijangkau baik itu kau maupun aku..." kembali kepulan kepulan asap itu dihembuskan melalui hidung dan mulutnya dan kepulan asap itu kembali menguar dan hilang ditelan udara.


Tok tok tok


"Masuk... "


Ceklek


"Kau mulai merokok lagi??" suara berat dan serak terdengar dirungu Randy.


Randy pun membuka kedua matanya dan beralih memandang seseorang didepannya yang tidak lain adalah Nico.


"Aku lelah... ingin kembali ke masa lalu tapi tidak akan ada waktu yang bisa diputar kembali" pandangannya lurus kedepan tatapannya pun kosong.


"Nic... apakah kau sudah menyerah pada gadis itu...??" Nico menggeleng entah kenapa ada gelenyar aneh yang membuat seorang Nico tersenyum.


"Kau tahu apa yang terjadi... tapi kau menyembunyikan keberadaan nya dariku..." suara berat Nico yang terdengar parau tapi tidak menurunkan atensi tekanan pada sahabat nya ini.


"Aku terikat dengan janji pada gadis itu,..." kalimat Randy terjeda, dia ingat pada waktu Aini meminta Randy untuk bersumpah agar dia tidak boleh mengatakan keberadaan dirinya kepada Nico.


"Berjanjilah padaku kalau kakak akan merahasiakan dimana aku berada dan jangan katakan insiden tentang keluarga ku padanya, biarkan dia mencari tahu sendiri..." Randy diam tak menjawab ucapan yang menyerupai permintaan padanya.


" Tapi Ai..... "

__ADS_1


"Aku ingin kakak berjanji dan bersumpah padaku seperti yang kulakukan dengan nyonya Neli " kedua mata Randy membola jujur dia sedikit takut dengan apa yang diucapkan gadis itu padanya.


Randy tahu sumpah apa yang diucapkan pada nyonya Neli saat itu,sumpah darah dan tidak akan terbantahkan kalau darah sudah dikeluarkan dari daging dan kulit kita.


"Sial..." batin Randy merutuk,dia merasa Aini menjebaknya gadis itu tahu kalau dirinya mempunyai perasaan lebih padanya dan dia memanfaatkan kelemahannya. Damn...


Hati Randy melemah jika Aini meminta sesuatu padanya apalagi Ainilah yang menolong keluarganya yang baru saja dia temukan saat itu.


Aini entah bagaimana ceritanya menjadi anak angkat dari kedua orang tuanya, hingga kedua orang tuanya sangat menyayangi Aini.


Aini bahkan sampai saat ini sering mengirim uang bulanan kepada kedua orang tuanya,pernah Randy bertanya kenapa dia melakukan itu...


Jawabannya hanya beberapa kalimat "Hanya orang tua kakak yang memperlakukan saya sebagai manusia dan menyayangi saya sebagai seorang anak gadis meskipun tidak ada hubungan darah sama sekali" pernyataan Aini mampu membuat Randy tersentuh.


Kehidupan macam apa yang sudah dijalani gadis ini,..


Dan kini sahabat nya berusaha menyalahkan dan memojokkan dirinya setelah dia selesai menceritakan semuanya kepada Nico.


Randy terkejut melihat bahu Nico bergetar naik turun,dia tidak pernah melihat Nico serapuh ini.


Muncul rasa iba dihati Randy melihat Nico terisak pilu hatinya juga ikut merasakan perih,dia juga mempunyai kisah cinta yang tidak usai dan tidak sampai dalam akhir cerita yang bahagia.


Randy menghampiri Nico yang masih tergugu dalam Isak pilu, dalam suara seraknya Nico berkata"Aku sungguh tidak punya muka dihadapan Aini,.. mengingat apa yang sudah dilakukan mama aku sungguh tidak berani menampakkan wajahku padanya, padahal hati ini merindunya bahkan sangat merindu... hu hu" Randy bergeming disamping Nico.


"Katakan Ran... apa yang harus aku lakukan sekarang??" tanya Nico serak.


Randy hanya mengendikkan bahunya meskipun Nico tidak melihatnya tapi Randy yakin bahwa Nico tahu akan hal itu.


Hening beberapa saat hingga menit kelima bahkan sampai menit kesepuluh Randy membiarkan Nico untuk diam beberapa saat, Randy tidak tahu kalau Nico saat ini pingsan setelah tiga puluh menit kemudian Randy yang melihat Nico tidak bergerak sama sekali akhirnya panik.


Randy berusaha membalikkan badan sahabat nya,Randy cukup terkejut dengan apa yang Randy rasakan disaat tangannya menyentuh tubuh Nico.


Ternyata saat ini Nico demam pas Randy berhasil membalikkan badan sahabat nya itu dia merasakan bau anyir darah.


Kedua mata Randy membelalak sempurna melihat dada sebelah kiri Nico penuh dengan darah.


"Astaga Nico... Boy... Boy... cepat bantu aku!!" teriak Randy terhadap anak buahnya.


"Siap bos.. " anak buah Randy yang merangkap sebagai bodyguard itu mengangkat tubuh kekar Nico menuju mobilnya.

__ADS_1


"Kita bawa kerumah sakit,,, kamu teman lukanya agar darahnya berhenti..." titah Randy pada anak buahnya.


"Baik bos jangan khawatir..."


__ADS_2