Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 31


__ADS_3

Hari ini Aditya dalam mode bad mood, jujur saja dia sangat cemburu ingin sekali dia memukul kepala pak Harun yang sekali lagi meminta Aini untuk menemui putranya,


Tidak bisa Aditya bayangkan bagaimana kalau Aini dan Hafiz ketemu nanti? memikirkan nya saja Aditya begidik,di tidak mau Aini balik lagi kepada Hafiz, Aditya terlalu takut hal itu akan terjadi.


Lagi lagi Aditya menghela nafas kasar 'kenapa mencintaimu penuh dengan cobaan Ai... aku mohon jangan tinggalkan aku' lirih Aditya bergumam.


Aditya masih teringat bagaimana sulitnya perjuangan Aditya untuk mendapatkan gadis itu,masih setia dengan segudang tanya dalam lamunan Aditya sampai tidak sadar kalau papanya ada didepannya.


Tuan Antoni Gaudia Pratama menggeleng gelengkan kepalanya saat melihat sang putra melamun sampai sampai tidak mendengar bahkan tak melihat bahwa didepannya sudah ada seseorang "Dasar anak muda zaman sekarang" gumam pak Antoni.


"Ehemm... " suara deheman pak Antoni nampak sedikit keras tapi lagi lagi Aditya masih bergeming.


"Ehemm eheeemmm..." kini pak Antoni pun berdehem sangat keras hingga sadarlah Aditya dari lamunannya.


"Ckk... apa yang kau lakukan anak muda" sedikit naik keatas sebelah alis pak Antoni sementara bibirnya berkedut kaku melihat tingkah putranya.


"Isshhh... papa ngagetin aja ucap salam dulu kek huft" sindir Aditya


"Kau yang apa apaan Boy... papa sudah ketuk pintu bahkan meskipun kau tidak menjawab papa mencoba masuk kali aja putraku lagi serius bekerja hingga tak mendengar beberapa ketukan pintu ,tapi nyatanya pas masuk pun kau melamun dan masih tak bergeming dan seolah-olah tidak melihat papa,coba jelaskan...."


Sedikit emosi pak Antoni dibuatnya sedangkan Aditya garuk garuk kepalanya yang tak gatal sambil nyengir.


"Maaf pa... Adit lagi galau..." kini terjawab sudah kenapa putranya berlaku seperti itu ternyata lagi gelisah memikirkan pujaan hatinya.


Sedikit menarik nafas panjang kemudian dihembuskan dengan perlahan pak Antoni pun mencoba mengerti karena baru kali ini putranya jatuh cinta pada seorang wanita meskipun secara jujur pak Antoni kurang pas dengan pilihan sang putra.


Alasannya karena Aini terlalu misterius gadis itu juga tidak sesederhana itu,bukannya tidak suka ataupun tidak setuju dengan pilihan putranya tapi... ada sesuatu yang masih mengganjal dihati pak Antoni.


"Apa yang membuat mu gelisah seperti itu boy... apakah karena Aini??" kini Aditya terpaku dengan pertanyaan papanya. Masih bergeming Aditya bingung harus memulai ceritanya darimana.


"Kalau kau masih meragukannya lepaskan..." ucap pak Antoni sarkas.Dahi Aditya pun mengkerut


"Apa maksudnya pa... melepaskan Aini begitu??" dan diangguki pak Antoni.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin papa bicara seperti itu,dia cintaku pa... jangan pernah coba coba memisahkan aku dan Aini atau aku akan bertindak sesuatu yang tidak papa sukai" dengan naik satu oktaf Aditya memprotes apa yang ayahnya katakan.


"Lalu apa yang membuatmu meragukannya??" dengan berwajah dingin pak Antoni menanyakan keraguannya.


Sebenarnya pak Antoni hanya iseng saja mengatakan seperti itu bukan tanpa alasan kenapa pak Antoni melakukannya,dia ingin tahu sebesar apa rasa yang dimiliki oleh putranya terhadap gadis itu.


Pak Antoni hanya takut kalau ini hanya perasaan sementara saja tapi melihat reaksi dari putranya nampak jelas bahwa dia sangat mencintai gadis itu.


"Aku tidak meragukannya pa... hanya saja aku takut hafiz akan merebut Aini dariku,putra dari pak Harun itu sangat meresahkan bagaimana pun juga Hafiz adalah cinta pertama Aini" sedikit berwajah sendu Aditya menceritakan apa yang selama ini terjadi.


Disaat awal mulanya Hafiz koma lalu Aini berhasil menyadarkan Hafiz tak lupa bagaimana Devan yang selalu mencoba mendekati Aini dengan sedikit proaktif kemudian Aditya tak tahu bagaimana hafiz kembali koma dan lagi lagi Ainilah yang menolong hafiz sampai dia sadar.


Aditya juga baru tahu kalau Aini kehilangan sebagian kemampuannya dan kekuatan tenaga dalamnya demi menolong Hafiz sungguh Aditya tidak bisa menerima semua itu.


Pak Antoni mendengarkan dengan seksama cerita Aditya dia bisa menarik kesimpulan bahwa gadis yang bernama Aini itu ternyata bukan gadis biasa,dia juga mendengar dari putrinya Dewi bahwa dia sudah sembuh dari penyakitnya yang bertahun tahun tidak bisa disembuhkan secara medis tapi ternyata gadis itu bisa menyembuhkannya bahkan hanya dalam jarak waktu beberapa jam saja.


Ini semua diluar nalar manusia semakin kesini pak Antoni semakin yakin bahwa gadis yang mempunyai kemampuan istimewa seperti itu pasti punya banyak musuh dan ... ah... pak Antoni tidak bisa berkata kata lagi.


"No pa... bukan seperti itu hanya saja..." setelah terjeda beberapa detik Aditya pun melanjutkan isi hatinya.


" Aini terlalu baik hati itu yang membuat saya takut pa .. bahkan tadi pagi pak Harun memanfaatkan kebaikan Aini guna untuk mempertemukan Aini dengan Hafiz,ckk..." bibir Aditya berdecak sebal.


"Dengan alasan bahwa putranya sedang tidak baik baik saja" andai saja Aini tadi menyetujui langsung mungkin saat ini hatinya patah,tapi Aini dengan tegas menolak meskipun tadinya dia hendak menyetujui. Bibirnya berkedut mungkin jika posisi papanya berada diposisi pak Harun papanya akan melakukan hal yang sama.


Aaaaggghhh, Aditya mengerang frustasi


" Lalu bagaimana dengan Aini?? penasaran pak Harun menanyakan tentang sikap dan jawaban Aini saat itu.


"Tadinya Aini hanya menunduk lalu beberapa saat kemudian dia berkata dengan tegas menolak keinginan pak Harun,dia juga berkata harus berjalan sesuai dengan perjanjian, singkatnya seperti itu seh..." sedikit bersalah kepada Aini seharusnya tadi dia tidak meragukannya.


Padahal dimobil disaat Aditya mengantar Aini kerja dia sudah sangat berlapang dada 'lalu kenapa sekarang aku merisaukannya ' batin Aditya bingung


'Mungkinkah aku terlalu cemburu oh my God ' tidak ada yang salah jika kata cemburu tersemat dalam suatu hubungan bukankah cemburu itu menandakan betapa cinta dirinya terhadap Aini?? begitulah pikiran Aditya.

__ADS_1


Rasa takut kehilangan yang mendominasi membuat Aditya plin plan.


Cetak


"Aduhh.. pa... apa yang papa lakukan?? Iissshhh.. " Aditya meringis sambil mengusap kepalanya yang disentil oleh pak Antoni.


"Ckkk,.. sudah tahu jawabannya kan??" Aditya pun memutar bola matanya malas.


" Lalu ada apa papa kemari...!!" kini Aditya dalam mode on fokus ke pekerjaannya,dia ingin fokus ke pekerjaannya dan tidak mau memikirkan yang tidak tidak dengan Aini.


Pak Antoni pun menggelengkan kepalanya "Dasar bocil baru jatuh cinta saja sudah klepek-klepek" sambil tersenyum.


Untungnya Aditya tak bisa mendengar apa yang dipikirkan pak Antoni


Kini mereka berdua pun serius dengan pekerjaannya,hingga tanpa terasa waktu pun berlalu dengan cepat.


"Ai... Pulang yukk " Rina menepuk bahu Aini sembari mengajaknya pulang bareng.


"Ok... "


" Tumben pak Aditya gak ngajakin kamu pulang" tanya Rina penasaran


"Uhukk uhukk... " Aini terbatuk-batuk kala Rina menanyakan perihal Aditya.


"Isshhh... gak usah disembunyikan Ai... aku tahu kok kalau kamu juga udah jadian sam pak Aditya" sedikit tersenyum jahil Rina menoel noel lengan Aini.


Sebisa mungkin Aini tenang tak menanggapi ocehan Rina dia tahu siapa Rina kalau sudah dalam mode on kepo anak itu gak akan berhenti ditengah jalan.


"Pulang yukk..." kini Aini yang mengajak pulang, nampak bibir Rina mengerucut sebal dan akhirnya dia pun mengalah.


"Oke" dengan mengangguk cepat Rina pun menggandeng tangan Aini. Pas di halte bus mereka pun bersenda gurau sambil menunggu bus yang datang.


"Aini....." terdengar seseorang memanggil Aini dan...

__ADS_1


__ADS_2