
"Kak hari ini kakak pulang kerumah orang tuanya kakak aja yah .. jangan di apartemen lagi" pinta Aini kini dengan wajah yang sedikit serius.
Aditya menoleh kearah Aini seolah-olah dia meminta penjelasan tentang apa yang dikatakan Aini barusan tapi, tenggorokannya sedikit tercekat.
Setelah mengantarkan Rina ketempat kost nya kini didalam mobil hanya ada Aditya dan Aini,hening sesaat tiba-tiba saja Aditya mengerem mendadak.
"Ai... kakak merasakan panas disekujur tubuh kakak,tidak tahu apa yang terjadi tapi kakak merasa tidak nyaman..." Aditya membuka kancing atas kemeja putihnya,dia merasa tidak nyaman karena tiba-tiba saja seluruh tubuhnya seperti ada sesuatu yang merayap.
Dadanya sesak ditelinga nya seperti mendengar sesuatu tapi Aditya tidak bisa mendeskripsikan apa itu,terlalu berisik hingga seolah-olah akan merusak gendang telinga nya.
"Ai... Ka... kakak sangat tersiksa..." ungkap Aditya dengan suara serak dan parau.
Aini sebenarnya sangat terkejut dengan serangan mendadak yang menimpa Aditya, ekspresi nya pun tak terbaca mencoba tenang tapi bagaimana pun juga kekuatan Aini belum pulih seutuhnya hanya 80 persen yang kembali.
Tidak ada jalan lain bagi Aini kemudian diapun menotok dibeberapa bagian titik titik syaraf di tubuh Adit, kemudian dia mencoba sebisa mungkin untuk menjalankan mesin mobil melalui pikirannya.
"Alhamdulillah berhasil... " kini nampak senyum Aini merasakan sedikit puas akhirnya dia bisa mengendalikan mobil Aditya dengan pikirannya.
Tak lama kemudian mobil yang ditumpangi Aditya dan Aini pun sampai dikediaman orang tuanya Aditya.
Nampak penjaga heran melihat yang ada didalam mobil tadi terlihat bahwa Aditya bersandar dengan mata terpejam dibelakang kemudi mobil dengan laju kendaraan yang... masih terpaku di tempat penjaga itupun tidak sadar kalau Aini beberapa kali berteriak meminta bantuan sang penjaga.
"Astaghfirullah... Pak bisakah bapak menolong kami?? Kak Aditya pingsan" pinta Aini sedikit tidak sabar,dia sudah sedikit kehilangan waktu.
Aini takut waktu untuk menolong Aditya terlambat, sedikit geram Aini menatap kedua penjaga itu dengan tajam.
Glek
"Jika kalian tidak becus bekerja kenapa tidak berhenti saja dari tempat ini saya juga tidak segan untuk berbicara dengan pemilik rumah ini untuk mengeluarkan kalian" sedikit emosi Aini sampai tidak sadar mengeluarkan kata-kata sarkas.
"Jo... ayokk Ojo ngelamun ae ta... itu tuan muda pingsan" hardik temannya kemudian kedua penjaga itupun membopong tubuh Aditya untuk masuk kedepan.
"Cepat pak... tidak ada waktu lagi... dimana kamar kak Aditya??" tanya Aini tidak sabar.
"Diatas nona..." jawab salah satu penjaga yang membopong Aditya.
"Hei... ada apa ini ??" nampak nyonya Rossa terkejut melihat putranya yang entah bagaimana nyonya Rossa mengatakan nya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan putraku..." kini pak Antoni ikut bertanya tak urung jua beliau juga nampak menunjukkan raut wajah khawatir akan keadaan putranya.
"Nanti saya jelaskan Om... tolong Om tunjukkan dimana letak kamar kak Aditya" jelas Aini
"Jo... ayo cepat ikuti saya.." titah pak Antoni.
"Sebenarnya ada apa dengan putraku Aini..." tanya nyonya Rossa khawatir akan keadaan putranya.
"Insya Allah semua akan baik-baik saja Tante..." Aini tidak mau memberi sedikit harapan apapun itu bentuknya karena dia pun tidak yakin akan keadaan Aditya.
Setelah sampai dikamar Aditya pun dibaringkan kemudian nampak rintihan dan racauan dari mulut Aditya.
Nampak raut wajah gelisah pak Aditya merasa bahwa ini tidaklah sesederhana itu masalahnya dia yakin ada sesuatu yang lain, sedangkan nyonya Rossa hanya bisa menangis dia bertanya tanya tapi apa yang ingin ditanyakan dia juga tidak tahu karena begitu keluar dari rumah ini putranya baik baik saja.
"Ehmm... Maaf Om Tante bisakah Om dan Tante keluar sebentar?? " pinta Aini tanpa menjelaskan lebih kepada kedua orang itu.
Pak Antoni yang sedikit mengerti meskipun tidak yakin akhirnya mengajak istrinya keluar,tapi nyonya Rossa kekeh tidak mau keluar dia ingin mendampingi putranya saja.
Aini mendengus kasar tapi sejenak kemudian Aini berpikir lalu berkata "Baiklah... Om dan Tante bisa disini untuk menemani kak Adit tapi dengan satu syarat... jangan mengganggu dengan apa yang akan saya kerjakan dan apapun yang terjadi jangan pernah mengosongkan pikiran lalu... bisakah Om dan Tante berdzikir..." kini nyonya Rossa dan pak Antoni sedikit cengo dengan apa yang Aini jelaskan,sedikit malu pak Antoni mengangguk ragu.
"Tidak usah keras keras cukup dalam hati saja agar tidak kosong pikiran om dan Tante,oh yah... apapun yang terjadi jangan berhenti berdoa dan berdzikir" peringat Aini.
"Kakek... "
Syut
Kini berdiri disamping Aini yang duduk bersila seorang kakek kakek berjubah putih lengkap dengan sorban dikepalanya,tanpa disuruh apapun kakek itupun melangkah maju kearah tempat tidur yang Aditya tempati.
Kini disusul Aini yang juga sudah berada disamping ranjang Aditya.
"Aku tidak menyangka secepat ini Tuanmu ingin menghabisi saudara sedarahnya..." Dengan wajah tanpa ekspresi Aini pun tersenyum sinis.
"DIAM KAMU BOCAH... kamu jangan ikut campur!!" Terdengar suara berat dan menggelegar dari salah satu mahluk itu.
"Oh iyakah... bagaimana kalau saya maunya ikut campur?? "Kini Aini sedikit tidak sabar.
Nampak bau bangkai dan wangi dupa yang entah darimana tercium di penciuman pak Antoni dan nyonya Rossa, mereka pun merinding dan begidik sebenarnya apa yang terjadi dan suara siapa itu sangat menyeramkan.
__ADS_1
Kini nyonya Rossa pun mendekat kearah pak Antoni tubuhnya kaku dan gemetaran, begitupun yang dirasakan pak Antoni tapi dia berusaha setenang mungkin untuk menutupi rasa takut nya.
"Bagaimana kalau bocah ini ingin membinasakan mu..??" masih tenang dan tanpa ekspresi pandangan Aini tak lepas menatap sesosok mahluk yang lebih berani diantara ketiga sosok mahluk astral tersebut.
"OH... KAU MENANTANG KAMI." Suara berat dan dengan dengusan nafas yang memburu nampak kilat Maya merah itu mulai maju hendak menyerang Aini.
"Kakek saya akan mengalihkan perhatian ketiga sosok ini kakek tolong kak Adit bisa!?" Pinta Aini kepada kakek tua berjubah putih itu.
"Hhmm.." kakek tua itupun mengangguk sambil mengawasi situasi.
Tiba tiba saja suasana didalam kamar Aditya pun berubah tak mengenakkan bau bangkai bercampur bau dupa khusus sungguh sangat menyengat.
Tak ingin buang buang waktu Aini pun bergerak sesuai dengan apa yang dikehendaki nya,kini posisi Aini yang masih dalam keadaan duduk bersila itupun mengeluarkan keringat sebesar biji jagung.
Sedikit sedikit mengkerut nampak darah kental keluar dari hidung dan mulut Aini, Nyonya Rossa yang melihat Aini pun sontak membelalak kan kedua matanya,dia sangat ngeri melihatnya juga ketakutan ingin menolong gadis itu tapi dia takut untuk mendekat.
Sementara dua penjaga yang tadi ikut membantu mengangkat Aditya kedalam kamarnya kini ikut melihat kedalam kamar tapi hanya sebatas berdiri didepan pintu kamar Aditya,tadi Paijo dan Barjo mendengar suara seperti teriakan yang sangat keras dari luar karena itulah mereka berdua khawatir akan tuan rumahnya,dan disinilah mereka berada didepan kamar tuan mudanya tanpa berani masuk mereka hanya bisa melihat tanpa berani mendekat.
Saling berbisik Paijo dan Barjo pun mengangguk angguk tapi tak ayal sedikit ada rasa takut untuk menolong majikan nya karena sedikit banyak mereka pun mengerti tentang hal hal ghaib seperti guna guna dan tenung.
"Apakah tuan muda terkena tenung Jo..." tanya Barjo gugup
"Kayaknya Bar.. soalnya tadi pas mobil masuk aku melihat tuan muda Aditya itu duduk dibalik kemudi dengan mata terpejam tapi mobil berjalan dengan sendirinya..." ucap Paijo sambil mengingat ingat kembali karena sangat tidak masuk akal kalau mobilnya bisa jalan sendiri menurut nya.
"Ah... mosok Jo... ora percoyo aku lawong..." belum sempat melanjutkan kalimatnya tiba-tiba tangan Paijo membekap mulut Barjo.
"Sssttt... diem o ojok ngomong wae " peringat Paijo sambil menaruh jari telunjuk nya dimulutnya sendiri.
"Aaaaahhhh... sakiiiiitt... BEDE**H AKAN AKU HABISI KAU BOCAH..." terdengar suara berat yang menggema didalam kamar Aditya.
Tak ayal membuat beberapa orang disana bergetar ketakutan tak terkecuali pak Antoni yang tadi berusaha tenang.
"Ya Allah apa yang terjadi dengan putraku tolong bantulah kami ya Allah" doa pak Antoni dalam hati sambil mulutnya komat-kamit melafalkan dzikir yang dia hafal.
Sementara nyonya Rossa tersentak kaget karena suara itu kemudian pingsan disamping pak Antoni sontak pak Antoni pun segera mengangkat tubuh nyonya Rossa dan digendongnya ala bridal style menuju kamar pribadi nya.
"Sabar ma... setelah ini Asti akan baik baik saja" sambil mencium puncak rambut nyonya Rossa pak Antoni pun memanggil mbok Muna untuk menemani istrinya, sedangkan dia sendiri menuju kamar Aini.
__ADS_1
"Uhukk uhukk uhukk..." Aini terbatuk darah tubuhnya lemas dia merasa sedikit lega, kemudian diapun menoleh kearah ranjang dimana Aditya tertidur.
"Kakek... terimakasih banyak, hehe... Aini lemas sekali kakek" usai berkata demikian Aini pun pingsan.