
" Buang dulu yang ada digenggaman anda tuan...!!" seru Aini spontan.
Antoni yang tadinya ngeblank karena kedatangan Elena kini dia segera sadar akan apa yang Aini maksud.
Antoni diam beberapa saat matanya tak lepas dari pengamatannya menatap adiknya, yah... kini adiknya yang datang secara tiba-tiba kerumahnya.
Entah apa tujuannya kali ini Antoni tak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, dengan membiarkan adiknya itu semakin dibutakan akan nafsu duniawi yang ingin menguasai perusahaan yang dia kelola.
Nampak wajah datar Aditya yang menatap sang paman, Elena yang sedikit terselamatkan berkat kedatangan paman Aditya pun segera pamit undur diri.
Elena bingung dari mana gadis kampung itu tahu kalau dirinya saat ini tengah hamil, "brengsek merusak suasana hatiku saja" Tutuk Elena dalam hati.
"Sebenarnya siapa sih gadis itu dan apa istimewanya " kini batinnya bertanya tanya.
"Sudahlah bukan urusan ku sekarang yang pasti setelah aku melahirkan bayi laknat ini aku akan kembali mengejar Aditya apapun caranya " gumam Elena dengan suara pelan.
Memang manusia kalau sudah dikuasai amarah,dendam,dan rasa iri jiwa psikopat pasti meraja.
Elena pun menyetop taksi dan segera pulang ke apartemen, sementara didalam rumah Antoni nampak ketegangan masih terjadi.
Aditya tahu apa maksud kedatangan pamannya kerumah orang tuanya, sedangkan Dewi yang tidak tahu apapun hanya bingung tak mengerti kenapa tiba-tiba saja keluarganya tidak menerima dengan baik kedatangan pamannya.
Pasti telah terjadi sesuatu hingga terjadi hal seperti saat ini, Dewi berusaha menetralkan suasana sekarang.
"Paman... ada apa pagi pagi sekali paman datang??" tanya Dewi.
"Oh Dewi hanya kamu yang menerima kedatangan paman kemari,tidak seperti papa dan mamamu apalagi adik kesayangan kamu ini..." keluh paman Dewi seolah-olah dibuat buat.
Adik dari pak Antoni ini bernama Aston meskipun dia adik kandung nya satu ayah dan beda ibu pak Antoni juga sangat menyayanginya,tapi pak Antoni tidak menyangka kalau adiknya tega berbuat hal hal diluar nalar hanya demi uang dan kekuasaan.
"Oh iya Dewi... siapa gadis disebelah mamamu itu??" tanya Aston menyelidik.
"Owh... dia Aini paman tunangannya Aditya" jawab Dewi lugas.
"Tapi kok kayak beda level gitu yah dew. . apakah Aditya tahu latar belakang gadis itu??" kembali Aston mencecar Dewi.
"Sudahlah paman... ada apa pagi pagi kemari,??" kembali Dewi bertanya apa maksud kedatangan pamannya kemari, lantaran hatinya sangat tidak tenang dia merasa ada sesuatu dengan pamannya ini.
__ADS_1
Satt
Seperti ada angin yang melewati Dewi dan Aston.
Pukk
" Pulanglah... kembali kemari disaat kau sadar dan katakan apa tujuanmu" suara Aini lembut ditelinga Aston dan itupun tanpa ada seorangpun yang tahu karena gerakan Aini tak terbaca oleh beberapa orang didalam ruangan itu.
Dan tanpa ada yang menyadari apa yang sudah dilakukan Aini terhadap Aston, mereka merasa seperti ada angin yang melewati mereka tapi tidak tahu angin apa yang hanya sekilas saja.
Sedangkan Aston bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya langsung pergi tanpa pamit dengan pandangan kosong, sementara Dewi hanya melongo saja melihat tingkah pamannya.
Tidak ada yang menyadari apa yang terjadi dengan Aston tapi tidak dengan pak Antoni dan Aditya, mereka berdua tahu bahwa 8tu adalah ulah Aini.
"Sayang ayo kita keruang makan sarapan yukk...!! mama tadi masak banyak loh mubadzir nanti kalau gak dimakan" Aini mengikuti arah langkah mama Rossa yang masih setia menggamit tangan Aini.
"Ma... sebenarnya anak mama itu aku apa Aini sih,.. kok aku dicuekin disini..??" sungut Aditya sedikit cemburu.
Dewi yang melihat tingkah adiknya hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, dia tahu kalau Aditya hanya asal bicara.
"Kamu udah tiap hari mama cium mama peluk apakah masih kurang heum..." tukas mama Rossa menyeringai.
Dia melihat Aini yang masih memperhatikan interaksi istri dan putranya pun hanya tersenyum miris, pak Antoni tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan gadis ini semasa masih kanak kanak.
Beberapa waktu yang lalu pak Antoni dan istrinya mendengar cerita tentang kisah Aini sewaktu kecil dari putranya, sangat trenyuh, hatinya juga sakit bagaimana anak sekecil itu menanggung hidup yang sangat keras.
Entahlah tiba tiba saja dadanya sedikit sesak hanya dengan mengingat dan membayangkan tentang Aini. diapun punya anak perempuan lalu tiba-tiba saja pak Antoni membayangkan posisi Aini dengan putrinya sungguh dia tak sanggup meskipun hanya dengan membayangkan nya saja, Lamunan pak Antoni menguar kala rungunya mendengar tawa anak dan istrinya.
"Dewi... kemana suami mu tadi bukankah kalian datang kesini bertiga lalu dimana suami dan cucuku..." pak Antoni yang sadar sejak tadi Dewi hanya seorang diri, padahal tadi dia melihat anak menantunya juga datang tapi tak nampak batang hidungnya.
"Astaghfirullah... Dewi lupa pa... suamiku tadi mengantarkan sikecil ketempat neneknya pasalnya dari kemarin sikecil merengek minta kesana" tukas Dewi sambil menepuk jidatnya.
Pak Antoni hanya manggut-manggut kembali netranya menangkap wajah cantik gadis yang dipuja putranya itu.
Sedikit mengulas senyuman pak Antoni segera menginstruksikan agar segera memulai sarapan paginya,selang tak berapa lama mereka pun selesai dengan ritual sarapan pagi ini yang nampak berbeda dari biasanya.
Sekarang mereka pun berkumpul diruang keluarga yang nampak sedikit luas dari ruangan lainnya, Aini sedikit menghangat dengan situasi saat ini.
__ADS_1
Dia yang tadinya tidak dalam mood yang baik karena kedatangan Nico didepan rumah kost yang dia tempati tadi kini berangsur membaik.
Hatinya tiba tiba menghangat nampak seulas senyum terbit dibibir cerry gadis itu, Aditya sesekali mencuri pandang kearah gadisnya.
Entah mengapa di pandangan Aditya saat ini Aini begitu berbeda,ada yang mengganjal tapi dia tidak tahu apa. Kini Aditya menghela nafas panjang wajahnya yang tadinya ceria kini berubah sendu.
Mama Rossa yang peka akan keadaan itu akhirnya buka suaranya.
"Sayang... maukah kamu menikah dengan putraku nak..." dengan lembut mama Rossa mengutarakan niatnya,agak was was sebenarnya dia takut gadis itu akan menolak.
Dengan tangan yang masih menggenggam lembut tangan Aini mama Rossa menatap lembut gadis yang ada disampingnya itu.
Aini yang masih terkejut dengan ungkapan mama Rossa hanya bisa melongo tanpa sadar, ini terlalu mendadak menurut nya, apakah dia siap?? itu yang jadi pertanyaan otaknya saat ini.
Sedangkan misinya masih belum selesai bahkan masih berjalan 60%, Aini Namak berfikir "Kakek..." Aini memanggil penjaganya lewat suara batinnya, dia ingin meminta solusi dari penjaganya yang selama ini selalu setia menemaninya.
Sett
"Hhmm..." terdengar gumaman kecil dari mulut kakek penjaga nya.
"Bagaimana menurut kakek...?? Aini bingung kek..." ucap Aini yang masih berbicara dengan suara batinnya.
Masih hening bukan hanya dari kakek penjaga nya bahkan dari sekeliling nya pun masih hening, sedangkan Aditya berharap cemas menunggu jawaban Aini.
Mama Rossa dan pak Antoni masih setia dengan kediamannya guna menunggu jawaban gadis yang ada di samping mama Rossa itu.
Nampak helaan nafas keluar dari Dewi, dia pun sedikit tak sabar menunggu jawaban Aini.
Dewi ingat bagaimana susahnya perjuangan adik nya untuk mendapatkan gadis ini,Dewi yang melihat raut wajah adiknya hanya bisa tersenyum kecut.
"kau harus menikah nduk... agar kau juga terhindar dari sedikit bahaya yang mengincarmu" interupsi kakek penjaga Aini sedikit memperingatkan.
Aini pun nampak berfikir dia juga masih enggan bersuara, keheningan pun masih tercipta di ruangan keluarga milik pak Antoni.
"Jangan berpikir terlalu keras nduk... kau tahu sendiri seberapa bahayanya tugas yang kau emban selanjutnya... hanya pemuda itu yang akan mampu mengimbanginya..." kembali suara kakek penjaga Aini keluar meskipun dengan suara berat dan dalam.
"Sayang... apakah kau perlu berpikir lagi?? kami tidak akan memaksa mu " seru Mama Rossa memecah keheningan.
__ADS_1
"Baiklah saya setuju..."