Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 88


__ADS_3

"Hahahaha.... Hahahaha.... Sekali tepuk dua pulau terlewati hahahaha.... dengan ini aku yakin laki laki bodoh itu akan membenci wanita pilihanku dan sudah bisa dipastikan wanita ku akan kehilangan fokus terhadap keluarga barunya" kini laki laki itu memainkan gelas yang berkaki dan berisi wiski ditangannya. nampak senyum smirk tersungging dibibirnya.


"Dan si Astri pasti akan mengambil cucu dari keluarga bodoh itu , sungguh pencapaian yang luar biasa...."


Ceklek


"Ada informasi apa Leo..."


"Maaf tuan nampaknya wanita paruh baya itu kemungkinan selamat hanya 30 persen saja.


"Hhmmm... bagus, lanjutkan pengintaian mu aku ingin kau mendapatkan berita terbaru dari keluarga bodoh itu.."


"Baik laksanakan..." setelah berpamitan Leo yaitu asisten dari pria itu segera keluar dan menjalankan perintah tuannya.


"Wanitaku pasti saat ini sedang tidak baik baik saja dan aku akan memanfaatkan ini untuk mendekati nya,,," gumam pria itu dengan senyuman manisnya yang penuh arti.


"Tunggu kedatangan ku cantik..." tanpa pria itu tahu akan apa yang akan terjadi kedepannya nanti,dia dengan sangat percaya diri dengan apa yang dia bayangkan nantinya pasti sesuai dengan ekspektasi nya.


Dengan senyum lebar pria itu menghubungi seseorang,..


"Kau lakukan rencana awal aku akan melakukan sesuatu agar semua berjalan dengan cepat,." setelah menutup panggilan seluler nya pria itu masih dengan bersandar dengan kedua mata terpejam dan tidak lupa senyum manisnya yang selalu bertengger dibibir tebalnya.


________


" Aaaahhhhh.... Aaaahhhhh.... Breng**k... siapa yang sudah melakukan ini bede**h dan kenapa aku tidak tahu apakah aku sudah sangat lemah sekarang??" kini tubuh Aini luruh ketanah,dia sudah berkali-kali mengelilingi area itu berulang kali tapi tidak menemukan jejak apapun dari sana.


Pukk


Aini tersentak kaget kala pundaknya ditepuk seseorang dia bergeming dan tanpa menoleh Aini pun memejamkan matanya dia mencoba menetralisir perasaan nya saat ini.


"Aku akan membantumu Ai..." terdengar suara berat dirungunya saat ini dan dia tahu milik suara siapa ini.


"Kak Nico...." tanpa bergerak sedikitpun Aini masih diam tak bergeming sama sekali.


Nico merasakan apa yang dirasakan Aini saat ini,hatinya sakit melihat air mata itu keluar dari mata indah gadis pujaannya.


"Kau tenanglah nduk... " kini suara tua dan serak terdengar ditelinga nya.


"Kakek Bimo..." orang yang dipanggil itu pun hanya tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Kakek memang tidak tahu siapa pelakunya tapi kakek yakin ini ada hubungannya dengan masa dimana para sekte itu berkumpul," Aini diam sebenarnya dia juga membenarkan apa yang dikatakan kakek Bimo, pasalnya banyak pengikut sekte sekte itu mempunyai kekuatan yang luar biasa hebat dan tak kalah hebat darinya yang mana dia merasa masih anak kemarin sore.


Hanya sebuah keberuntungan saja Aini diberikan anugrah yaitu sebuah kekuatan dan kemampuan yang melebihi dari batas normal atau melebihi dari manusia biasa.


"Mungkin setelah ini suamimu akan lebih membencimu nduk,.. saat ini dia juga ada sedikit kemasukan angin hitam ditelinga sebelah kanannya" apa yang kakek Bimo katakan itu ada benarnya menurut Aini.


"Tapi... kakek bagaimana kalau Aini tinggal di apartemen kita,.. "


"Tidak tidak kak biar Aini mencoba menjelaskan dulu kepada suamiku,kau tahu apa maksud ku kan kak..." Nico hanya bisa mengangguk pelan dan pasrah.


Kembali hatinya berdenyut nyeri kala mendengar apa yang diucapkan Aini,dia semakin sadar bahwa kemungkinan besar Aini tidak akan bisa menjadi miliknya suatu saat nanti tapi , bisakah dia egois sedikit saja ?? Nico sangat ingin Aini perpaling dari suaminya dan beralih kepadanya suatu saat nanti.


"Kalau begitu saya keruang sakit sekarang"


Sett


Dalam sekejap tubuh Aini pun menghilang kakek Bimo hanya mendesah kasar sedangkan Nico menatap arah pandangan dengan kosong kedepan.


"Bagaimana keadaan mamamu dit...." suara pak Antoni membuyarkan lamunan Aditya.


"Masih belum ada kabar dari dokter pa..." tukas Aditya.


"Bagaimana ini bisa terjadi Adit?? bukankah tadi mamamu baik baik saja...?!" tanya pak Antoni dengan sedikit panik dan nampak gurat kecemasan diwajahnya.


"Papa yakin Aini tidak seperti itu..."


"Aku juga berusaha meyakinkan hal itu pa... tapi yang Adit lihat tadi mama merintih kesakitan dan Aini hanya diam saja tak ada inisiatif sedikit pun untuk membawa atau melakukan apa untuk membantu mama...


Aku tahu mama sudah sangat keterlaluan tapi apa yang dilakukan Aini sudah melewati batas pa...." mendengar Aditya menjelaskan apa yang dilihat putranya pak Antoni masih belum percaya begitu saja.


Meskipun dia beru mengenal Aini yang notabene Aditya lebih lama mengenal gadis itu tapi pak Antoni yakin bahwa Aini tidak mungkin melakukan hal itu.


Kini kedua pria berbeda generasi itu diam selama beberapa waktu mereka dengan wajah tak terbaca masih diam dan ada dari mereka yang mengeluarkan satu kata pun.


"Kak... " terdengar suara lembut dan atensi kedua laki laki itu pun melihat kearah dimana suara itu berasal.


"Mau apa kau kemari... tidak cukupkah apa yang sudah kau lakukan terhadap mamaku Ai... ?!" Aini tersentak dengan kata-kata suaminya dia ingin menjelaskan akan kejadian yang sebenarnya tapi Aini sadar saat ini Aditya sedikit dalam pengaruh angin hitam ditelinga nya.


Hhhhhh

__ADS_1


"Bagaimana pun juga dia adalah mamaku Ai... wanita yang sudah melahirkan ku, aku sangat mencintaimu tapi mama adalah cinta pertama kau tahu..." Aini bergeming dia mendengarkan kata-kata yang diucapkan oleh suaminya.


"Dan kau tahu Ai... aku sangat membenci seseorang yang sudah menyakiti mamaku termasuk orang yang sudah menjadi bagian dari hidupku meskipun aku sangat mencintaimu tapi rasa untuk mamaku tetap yang utama..." tenggorokan Aini tercekat dia tak mampu mengeluarkan kata-kata sama sekali entah karena apa yang jelas saat ini tidak ada niatan dari dirinya untuk mengurai kata perkata buat penjelasan secara rinci untuk suaminya.


Seperti ada kekuatan aneh dalam dirinya agar dia tidak bisa mengeluarkan satu patah katapun untuk dikeluarkan dari mulutnya.


"Aku juga tidak bisa hidup bersama dengan seseorang yang sudah mencelakai mamaku..."


"Apa yang sudah kau katakan Adit..." suara keras pak Antoni mengagetkan keduanya.


"Jangan pikirkan macam-macam dan jangan mudah mengeluarkan kata-kata yang nantinya akan membuatmu menyesal nak..." kini intonasi suara pak Antoni sedikit merendah.


"Aku sadar dengan apapun yang kukatakan pa... secinta cintanya ku kepada wanita itu tapi kalau dia sama sekali tak bisa menyayangi dan mencintai mamaku maka dia juga tidak pantas menjadi pendamping ku dan dia juga tidak pantas berada di sisiku...!!" dengan sedikit tersengal Aditya memegang dada sebelah kirinya kemudian dengan lantang dia mengucapkan kata-kata sakral bagi Aini dan pak Antoni.


"AINI... AKU MENTALAKMU DENGAN TALAK TIGA DAN MULAI HARI INI KAU BUKA ISTRIKU LAGI..." ucapan lantang Aditya sangat mengejutkan Aini dan pak Antoni.


Plakk


"Kau.... aku harap kau tidak akan menyesali keputusan mu ini nak... dan sebelum kau tahu kebenarannya seharusnya kau meminta penjelasan terlbih dahulu dan mencari tahu semuanya.." Aditya tersentak dengan ucapan pak Antoni dia sadar sudah melakukan kesalahan besar kemudian dia melihat kearah Aini yang masih diam membeku dan menatap dirinya dengan sendu dan putus asa.


Tes


Tanpa Aditya sadari air mata keluar begitu saja dari sudut matanya kala melihat Aini yang diam saja meskipun ada bulir bulir air jernih yang luruh dari muaranya. Ada sedikit rasa penyesalan dihatinya tapi nasi sudah menjadi bubur dia tak bisa menarik kembali ucapannya.


Aini pun segera keluar meskipun dengan tak mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya, hatinya sakit dia merasakan sesak luar biasa didadanya.meskipun dia tahu kalau Aditya sedikit ada terpengaruh dengan angin hitam tapi dia juga tahu kalau Aditya juga masih ada kesadaran dan kewarasan meskipun Fifty-Fifty,dan sadar atau tidak kata kata sakral itu sudah keluar dari bibir suaminya atau sekarang sudah menjadi mantan suaminya.


Aditya yang melihat istrinya maksudnya mantan istrinya perlahan menghilang dia berusaha menguatkan hatinya kedua tangannya juga terulur berusaha mencegah tapi dia urungkan, sungguh rasa sesal yang luar biasa bersemayam didada nya.


"Damn... bagaimana dia dengan mudah mengeluarkan kata-kata sakral yang akan memisahkan antara dirinya dan juga Aini,. hanya karena tertutup rasa emosi dan amarah Aditya sudah berbuat sesuatu yang sangat dibencinya itu.


"Astaghfirullah... Ai... " kemudian dia pun berlari untuk mengejar aini dengan sekuat tenaga dan dengan rasa sesal yang luar biasa Aditya berusaha mencari keberadaan Aini, tapi nihil dia tak menemukan sosok wanita yang sangat dia cintai saat ini.


"Maafkan kakak Ai... hiks hiks hiks ... Astaghfirullah apa yang sudah kulakukan... maafkan kakak Ai...." kini tubuh Aditya luruh dan bersimpuh ditanah tempat taman rumah sakit itu.


Tangis Aditya pecah benar apa yang sudah diucapkan papanya penyesalan memang datang diakhir, Aditya terisak dia mencoba untuk mengurai rasa sesal tapi rasa sakit di dada membuat dia tak bisa berbuat apa-apa saat ini.


Sementara ditempat tersembunyi nampak sesosok pria dan wanita tersenyum licik.


"Bagaimana... apakah kau sudah puas nyonya... aku sudah membantu mu untuk memisahkan mereka dan kau jangan lupakan dengan janjimu kepada kami..." ucap seorang pria yang tak lain adalah Leo

__ADS_1


"Tentu aku tidak lupa... nanti malam aku akan bergerak dan kita kan bertemu ditempat yang sudah kita sepakati sebelumnya" nampak senyum sumringah dibibir dan wajah wanita itu yang tak lain adalah Astri.


"Aku tunggu janjimu atau kau kehilangan seluruh kehidupan mu" terdengar suara dari Leo seiring dengan menghilangnya sosok tersebut seperti sebuah debu yang berterbangan menghilang.


__ADS_2