
Kini Astri dan para pengikutnya sangat puas dengan hasil buruannya,Astri mengamati gadis kecil yang sekarang sedang dalam kondisi tertidur atau lebih tepatnya pingsan.
"Cih... hanya segitu kemampuan wanita sialan itu,.. tapi... aku sangat puas dengan hasilnya, akhirnya wanita itu bercerai dari laki laki bodoh itu" Astri mencibir melihat kearah seorang wanita yang kini tengah hamil sekitar 6 atau 7 bulan usia kandungannya.
"Ini juga wanita gob**k mau saja diperalat,. Hahahaha..." derai tawa Astri menggema di seluruh ruangan tertutup itu hingga membuat penghuni rumah milik Astri begidik ketakutan.
"Coba kalau bayarannya ora mahal aku gak bakalan mau juga tinggal disini,. " gerutu salah satu penjaga rumah mewah milik Astri.
"Euungghhh... " terdengar lenguhan dari salah satu tahanan wanita yang sudah berhasil disekap oleh Astri.
"Di dimana aku...??" tanya wanita itu yang entah ditujukan untuk siapa.
Astri yang melihat itu tersenyum licik sambil menaikkan sebelah alisnya,bibir Dengan warna merah tua itupun menyunggingkan senyum sinis.
"Kau sudah bangun rupanya,.." wanita itupun tersentak kaget kala mendengar sebuah suara yang sedikit familiar menurut nya.
"Kau... " ucap wanita itu.
"Bagaimana kau suka berada disini...??" tanya Astri
"Apa yang kau lakukan padaku hah..." marah wanita itu kala mengingat apa yang terjadi padanya.
"Tidak ada... aku hanya butuh mahluk yang sekarang bersemayam didalam rahimmu,.. " jawab Astri mencebik malas
"Apa yang akan kau lakukan pada bayiku hah....??" emosi wanita itu kian membuncah kala Astri mengatakan sesuatu yang menurut nya sangat berbahaya buat bayinya.
"Bodoh... aku tahu kau tak menginginkan bayi haram yang ada didalam perutmu itu, jadi berbahagialah karena sebentar lagi aku akan mengambilnya untuk mu,." ungkap Astri panjang lebar.
Wanita itu hanya menggeleng gelengkan kepalanya sambil terisak,entah mengapa hatinya seperti diremas kala mendengar bahwa akan ada seseorang yang mengambil paksa bayinya.
"Tidak tidak jangan lakukan hal ini padaku aku tidak mau,." ucap wanita itu lirih.
"Kau tidak berhak menentukan disini ,kau hanya harus menyiapkan mental mu kala melihat anak haram itu lepas dari tubuhmu..."
"Tidaaakk... jangan lakukan itu kumohon lepaskan aku nyonya,.. bukankah aku sudah membantumu,." pinta wanita itu lemah .
Plakk
__ADS_1
"Ingat perjanjian yang sudah kau tanda tangani bodoh..." ujar Astri meremehkan, kedua mata wanita itu membola terkejut.
"Perjanjian apa.?? sejak kapan ada perjanjian,..." sahut wanita itu menimpali.
"Jangan pura-pura lupa,.. makan itu dan jangan sampai anak haram itu mati sebelum waktunya,.. " Setelah menyodorkan makanan kearah wanita itu kini Astri melenggang pergi dari tempat wanita itu berada.
"Sial... kenapa jadi begini siihh..." rutuk wanita itu.
"Nico... hiks hiks ... aku lelah jemput aku... hiks hiks" yah wanita itu yang tak lain adalah Elena , dia menyesal kenapa ikut membantu Astri untuk melakukan sesuatu ke Aditya dengan memberikan serbuk minuman yang sudah diberikan Astri kepada nya agar Aditya mudah berubah yang mengakibatkan delusi parah, yang membuat Aditya seketika uring-uringan dengan emosi tak terkontrol.
Kruukk
Elena mengelus perutnya yang kini nampak membuncit seketika bayi itu menendang perutnya menandakan respon sang janin yang dikandungnya.
"Hiks hiks mama menyesal sayang,. tapi jangan khawatir mama akan berusaha menyelamatkan mu,.." ucap lirih elena kepada bayinya sambil mengelus manja perutnya. sementara makanan yang ada didepan elena pun dibiarkan saja teronggok didepannya tanpa ada minat tuk memakannya.
Elena takut Astri memasukkan sesuatu di makanannya,elena tahu seberapa liciknya dan sadisnya wanita itu. buat antisipasi dia tak ingin memakan makanan yang diberikan wanita itu kepada nya,dia takut terjadi sesuatu kepada janinnya.
***
Sementara Nico yang kini berada didalam sebuah ruangan yang sedikit kecil nampak memperhatikan sesuatu dilayar komputer nya dari tadi.
"Sony... " panggil Nico kepada orang kepercayaan nya.
"Yah tuan ada yang bisa saya bantu..." tunduk Sony tanpa berani melihat langsung sang tuan.
"Katakan padaku bagaimana wanita itu bisa berada disana,..." tanya Nico sambil menunjuk kearah komputer.
"Oh iya... wanita itu yang sudah membantu wanita itu untuk memisahkan nona Aini tuan,.. dengan memasukkan sebuah serbuk mantra yang ditujukan kepada suaminya,maaf ralat mantan suaminya." Nico hanya terdiam dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
Tapi ada sedikit amarah dihati Nico karena elena sudah berani melakukan sesuatu tanpa ijinnya,Nico sudah menyuruh elena berdiam diri diapartemen yang sudah Nico persiapkan untuk elena,lalu bagaimana wanita itu bisa ke indonesia tanpa sepengetahuan nya.
Pikiran Nico terus berkecamuk tak menentu, disisi lain dia sangat kecewa dan marah tapi disisi lain dia juga kasihan pada wanita itu.
"Kau hubungi orang kita yang sudah kutugaskan untuk menjaga elena diNew Zealand bagaimana bisa kecolongan dengan membiarkan wanita itu kembali kesini.." titah Nico kepada Sony tanpa ada bantahan.
"Baik... " setelah pamit undur diri Sony dengan cepat melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.
__ADS_1
"Apakah bayi yang ada dikandungan elena adalah anakmu kak..." Nico tersentak kaget tiba-tiba sebuah suara menanyakan sesuatu yang absurd menurut nya.
"Kau mengagetkanku Ai..." ucap Nico sambil mengelus dadanya.
Aini hanya diam tanpa membalas apa yang Nico keluh kan akan kekagetannya, matanya menatap tajam kearah Nico menuntut jawaban dari pria yang ada didepannya ini.
Nico salah tingkah ditatap Aini dengan sebegitu tajamnya dan penuh intimidasi,Nico takut Aini salah paham dan tidak akan bisa mendapatkan wanita ini nanti kedepannya.
"Bu bukan Ai... itu bukan anakku,." ungkap Nico sambil menunduk.
"Tapi kau juga pernah menikmati tubuhnya kan...??" pertanyaan Aini membuat Nico mati kutu.
Jantung nya seakan akan hendak lari dari dadanya,degup jantung yang saat ini sudah bisa dipastikan Qoit kalau kalau Aini membencinya nanti.
" Ai..." Nico seakan tercekat ditenggorokan tanpa bisa meneruskan kalimat lebih panjang lagi.
"Jawab..." ucap pelan Aini tapi penuh tekanan intimidasi, sedangkan Nico tersentak meskipun pelan tapi ucapan tanya Aini seakan akan suara bom yang siap meluluh lantakkan nyalinya.
"Hhhhhh... kediaman mu menunjukkan jawaban nyata darimu bahwa kalian pernah berbagi peluh bersama,.. cih..." Aini pun berlalu meninggalkan Nico yang kini sedang cengo, otaknya seketika ngeblank tak bisa berpikir lebih berat lagi.
Mendengar pergerakan Aini yang hendak menjauh seketika loading Nico dengan cepat tanggap,hingga tangannya berhasil mencekal pergelangan tangan Aini.
"Dengarkan dulu penjelasan ku Ai..." Aini hanya mengernyitkan dahinya malas, sebenarnya dia tidak ada maksud apa-apa,dia hanya penasaran tentang masa lalu yang tanpa dia lihat seperti apa perjalanan Nico selama ini.
"Ehhmm... aku capek mau istirahat,. " Aini menepis tangan Nico pelan dia sebenarnya sudah sangat lelah tapi pas melihat isi pikiran dan ingatan Nico akhirnya Aini tahu kebenarannya.
Setiap orang tidak ada yang sempurna bahkan kekhilafan selalu menjadi pendamping perjalanan hidup seseorang baik itu tua muda ataupun masa udzur diusia senja semua tak luput dari dosa.
Hanya saja Aini sedikit kecewa dengan pergaulan bebas Nico dahulunya,tapi Aini bisa apa toh itu semua terjadi juga saling berhubungan dengan nya meskipun tanpa disadari oleh siapapun.
"Aku tidak punya hak atas hidupmu kak,.. dan juga hidup siapa pun aku hanya puas dengan keadaan ku sekarang, begitu juga dirimu kak , aku yakin kau bisa dan memou mengatasi kehidupan masa lalumu dan masa depan mu," setelah mengucapkan kalimat itu Aini pun berlalu tanpa pamit, seketika itu juga Nico terpaku dia juga tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah Aini .
Dia ingin sekali menjelaskan tentang elena dikehidupan terdahulu, ada sedikit perasaan menyesal dihatinya dan kini sepertinya sudah terlambat menurut Nico.
Nico hanya tidak mau Aini berpikiran buruk dan negatif tentangnya,sungguh Nico lupa akan dirinya saat ini dia lupa bahwa Aini juga sama seperti dirinya yg mampu membaca isi hati dan pikiran orang lain.
Hanya karena gugup dan takut akan penilaian Aini dia jadi sudah loading dan lemot dalam berpikir, bahkan sampai pintu ruangan itu tertutup juga Nico tak menyadari saking lemotnya dia saat ini.
__ADS_1
"maaf tuan semua laporan yang anda minta sudah saya kirimkan melalui email anda,. " tiba-tiba suara Sony membuyarkan lamunan Nico yang tak terkoneksi