Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 46


__ADS_3

Kini Hafiz yang berada dalam mobil benar benar hilang mood baiknya,tanpa dia sadari air matanya luruh sedikit terisak suara tangisnya tersendat sendat karena menahan agar suara tangisnya tidak keluar.


Hafiz tanpa tujuan mengendarai mobil dengan kecepatan penuh seluruh dunianya seakan hancur Hafiz akhirnya memberhentikan mobilnya ditepian pantai,tanpa dia sadari sudah satu jam perjalanan tanpa arah dan kini dia berhenti disebuah pantai yang tidak begitu ramai pengunjung mungkin karena bukan hari liburan jadi jarang orang dipantai ini.


Hafiz tidak tahu dimana dia sekarang dan pantai apa tapi dia sedikit familiar dengan tempat itu. Kini Hafiz duduk disebuah batu besar pandangan nya kosong kedepan.


Masih teringat jelas kenangan dia bersama Aini dan Candra juga Selly sahabat Aini waktu itu.


flashback on


" Ai... " panggil hafiz


" Hemm apa kak'" jawab Aini


"Bolehkah Aku bertanya sesuatu Ai.." ? tanya Hafiz dengan hati hati


" Gak tahu kak aku cuma merem aja setelah itu Aku ketiduran,tapi siapa sangka tidurku aneh " jawab Aini sekenanya, bagaimana mungkin Dia bilang yang sesungguhnya


" Gitu yah... Ternyata kamu asyik juga yah Ai.." kata Hafiz sambil terkekeh


" Ai... " kembali panggilan Hafiz terdengar


" Hhhmm ... Iya kak ada apa" jawab Aini sambil memejamkan matanya


" Bolehkah aku menenal mu lebih jauh Ai?? " tanya Hafiz pelan takut Aini tersinggung


Seketika itu juga Aini menoleh kearah Hafiz, sambil tersenyum Dia berkata " Boleh kak" cuma itu jawaban dari Aini


" Ai... " kembali Hafiz memanggil Aini tapi dia menatap wajah Aini dengan sendu dan penuh harap semoga apa yang akan dikatakan sebentar lagi tidak ada penolakan dari Aini.


" Iisshh... Apalagi sih kak..." Aini memutar bola mata malas kearah Hafiz.


" Bolehkah aku mencintaimu Ai... mungkin ini terdengar konyol dan kesannya terburu-buru, tapi ini beneran dari hati Ai... Aku jatuh cinta padamu saat pandangan pertama dengan mu,.. Entah kamu percaya atau tidak tapi itu yang kurasakan Ai... " Aini terkejut dengan pernyataan dari Hafiz barusan.


" Aku bukan orang yang suka basa basi Ai... Aku juga bukan tipe pria yang suka mempermainkan wanita kamu boleh selidiki itu,. Asal kamu tahu Ai .... Ini pertama kalinya aku menyatakan Cinta pada seorang wanita, apa yang kurasakan ini tak biasa Ai... Dan aku tahu ini Cinta" Kembali Hafiz menyatakan rasa yang berbeda pada Aini.


" I LOVE U...


Saat itu Aini sangat manis wajahnya imut wajah baby face nya membuat Hafiz gemas sendiri.


"Kak Hafiz yakin dengan perasaan kakak Aini gak mau yah kak kalau kak Hafiz hanya terobsesi atau hanya pingin dekat terus nyatain cinta,Aini paling gak suka dipermainkan" ada kilatan tajam Dimata Aini


Hafiz menelan salivanya kasar "apakah Aini curiga kalau aku ingin mempertahankan dia padahal aku serius dan tidak ada maksud yang seperti Aini sebutkan tadi... Ya Allah bagaimana cara jelasinnya " batin Hafiz.


" Hahahaha.... " Aini tertawa terbahak-bahak bahkan matanya berair.

__ADS_1


Aini gemas sendiri dengan Hafiz yang nampak cengo melihat Aini yang tiba-tiba tertawa.


"Ai .. jangan bikin kakak tahu Napa Ai... kamu baik baik saja kan Ai??" seketika tawa Aini berhenti mendengar cicitan Hafiz.


"Kakak pikir Aini kesurupan gitu??" Aini mengernyitkan dahinya bibirnya pun mencebik kesal.


"Ckk bisa bisanya kakak berpikir demikian sama Aini" kini bibirnya mengerucut sebal.


"Ma maaf Ai... kakak pikir kamu kesuru... ka karena kamu tiba tiba saja tertawa sampai segitunya " sedikit gugup Hafiz mengolah kata perkata agar Aini tidak tersinggung.


Plakk


Aini menepuk pelan lengan Hafiz masih dengan bibir yang mengerut kini tatapan Hafiz menghangat melihat Aini sangat natural dan tidak dibuat buat.


"Aini bukan tertawa karena hal seperti yang kakak khawatirkan Aini tertawa karena kak Hafiz lucu aja... pas Aini mengajukan pertanyaan tadi bukannya Aini marah atau gimana melihat wajah kak Hafiz yang sedikit agak gimana yah...hihi" Aini menutup mulutnya menahan tawanya.


"Dan perlu kak Hafiz tahu Aini bukan orang yang suka berpura-pura baik pada semua orang terutama dengan orang yang Aini sayang...i " kedua mata Aini membola dia keceplosan dengan mengatakan orang yang disayangi.


Tiba-tiba saja wajahnya berubah merah Semerah tomat masak Aini mencoba memalingkan wajahnya.


"Ai... katakan sekali lagi pa benar yang Aini katakan heum..." Hafiz tidak sabar menunggu Aini menjawab tapi Hafiz sangat sangat bahagia mendengar kalau Aini juga menyayanginya ' apakah itu berarti kau mencintai kakak Ai...' batin Hafiz bermonolog.


"Udah ah... balik yuk kak!? kak Candra dan Selly pasti nyariin kita yukk" kini Aini mencoba mengalihkan pembicaraan dan mengajak Hafiz untuk kembali.


"Ai.. tunggu kakak .. jawab dulu pertanyaan kakak Ai.... pliiisss" pinta Hafiz memelas.


Flashback off


" I LOVE YOU Ai.... I LOVE YOU.... I LOVE YOU..." bahunya bergetar hebat karena tangis pilu Hafiz.


"Sakit Ai... sakit... kenapa sesakit ini mencintaimu... kakak yakin kamu masih mencintai ku tapi,,,, tidak adakah kesempatan kedua untuk kakak Ai... kakak sangat tersiksa... huhu" terdengar sangat pilu tangisan Hafiz dia tidak peduli dengan orang lewat yang melihatnya menangis seperti anak kecil hatinya sungguh tidak bisa diajak kompromi saat ini,dia benar benar sangat emosional.


Lama Hafiz tergugu kini matanya memerah karena lamanya dia menangis kedua matanya bahkan seperti disengat lebah kini dia sedikit lelah dan agak sedikit lega karena sudah mengeluarkan isi hatinya meskipun tidak ada pendengar setia untuk nya.


Tanpa dia sadari hari sudah menjelang sore hari sinar senja sungguh indah saat ini suasana yang sangat sejuk tak bisa menghangatkan hatinya yang terpuruk dan terluka.


Hafiz tersenyum miris nasib cintanya tak seindah senja disore hari kini hatinya masih berselimut kabut,dia mencoba baik baik saja saat ini biarlah mungkin Aini bukan jodoh nya.


Itu yang disugestikan oleh hatinya agar tidak terlalu terpuruk dan sakit meskipun pada nyatanya memang seperti itu.


Setelah beberapa saat Hafiz merogoh kantongnya dia mencoba menghubungi Noah asisten nya agar tidak menunggu nya dikantor.


"Noah... hari ini kau bawa saja berkas hasil meeting nya bersama berkas berkas yang lain,. " Hafiz diam beberapa saat kemudian " Besok siang aku akan kembali kekantor dan tolong kalau ayahku bertanya tentang keberadaan ku katakan aku sedang keluar kota oke.. Tutt..." telepon pun diputus sepihak olehnya.


Sedikit bernafas lega Hafiz tidak akan pulang malam ini sebab dia tidak akan mau menunjukkan matanya yang bengkak pada ayahnya dan tidak mau membuat orang tua itu khawatir padanya.

__ADS_1


Sudah cukup selama ini dia sudah membuat ayahnya khawatir dan susah kali ini dia mencoba merefresh kan otak dan hatinya.


Hafiz beranjak dari tempatnya saat ini dia hendak mencari tempat penginapan atau hotel didaerah sekitar sini,dia sangat lelah ingin sekali mengistirahatkan tubuhnya.


Beda Hafiz beda pula dengan Nico,saat ini dia dalam mood sad dan tidak baik baik saja mobil dia kendarai dengan kecepatan penuh dia tidak peduli dengan umpatan umpatan yang keluar dari Ara pengguna jalan.


Dia juga sangat uring uringan berkali kali dia memukul setir mobilnya, matanya berkilat merah karena amarah rahangnya mengeras dan seperti demon dia seperti mengeluarkan asap ditelinga dan ubun ubunnya itu menurut versi author yah... hihi.


"Aku haru bertindak cepat,aku tidak mau Aini dimiliki siapapun kecuali aku,Shitt .. ****... what the hell " berkali-kali bibirnya mengumpat "Damn...."


Cekiiitttt


Kini Nico berhenti ditempat yang dia sendiri tidak tahu kemana nafasnya memburu dari kejauhan dia melihat sesosok bayangan hitam tinggi besar.


"Kebetulan ada mangsa buat pelampiasan.." dengan senyum smirk Nico melonggarkan dasinya kemudian keluar dari mobilnya dengan kedua tangan mengepal.


Kini dia akan melampiaskan amarahnya kepada mahluk tinggi hitam bermata merah menyala, mahluk itu menyadari bahwa ada manusia yang menghampirinya dia merasakan tekanan yang luar biasa dan dia merasa terancam.


Grrrrhhh grrrrhhh


Terdengar suara Geraman dari mahluk itu mereka pun beradu tatap Dimata mahluk hitam tinggi besar itu Nico seperti seorang iblis bukan manusia karena dia merasakan aura yang dahsyat jiwa psikopat keluar dari jiwa pemuda dihadapan nya.


Nico tersenyum smirk dengan mata berkilat merah menyala " Habis kau dihadapan ku .... Haaaaaggg" Nico berlari dengan sangat kencang dengan tanpa perhitungan tapi mampu membuat mahluk itu gelagapan.


Seperti adegan pemburu iblis kini yang nampak dimata kasar hanya kilatan kilatan dengan kecepatan yang diluar nalar Nico yang sudah kesetanan tidak akan berbelas kasih kepada mahluk tak bersalah yang dijumpai itu.


Nasib mahluk itu yang bertemu Nico kini nasibnya diujung tanduk " Aaaarrrgggg...." terdengar suara erangan kesakitan dari mahluk itu dia sangat bernasib sial hari ini kenapa dia harus bertemu dengan manusia dengan amarah tidak jelas menurut nya.


"Ampuuun..." ringis mahluk itu memelas


pilu.


Bugh Bruakk


terdengar suara hantaman dan hempasan yang bertubi-tubi dan tiada ampun.


"Tidak ada kata ampun untuk mahluk seperti mu" masih terus menyerang dengan membabi buta Nico bahkan tidak memberi kesempatan mahluk itu untuk berkeluh kesah karena kesaktiannya.


Banyak mahluk mahluk lain juga disana mereka bahkan tidak ada yang berani menampakkan diri takut akan bernasib sama dengan temannya, mereka begidik ngeri mendengar raungan dan ringisan mahluk hitam itu.


Drrrttt Drrrttt Drrrttt


Terdengar suara benda pipih di sakunya Nico pun menghentikan serangannya, kesempatan itupun tidak disia siakan oleh mahluk hitam itu untuk kabur meskipun seluruh tubuhnya kesakitan dia dengan sisa tenaganya secepat mungkin hengkang dari situ sebelum manusia iblis itu menyerangnya kembali.


Syutt Wuushh

__ADS_1


"Hhhh... yah ada apa Jordan"


"Hemm.." Nico yang merasa sudah terlampiaskan amarah nya kini bernafas lega dengan senyum sinis dibibirnya, Nico pun menuju mobil untuk kembali ke kantornya.


__ADS_2