Kau Yang Telah Pergi

Kau Yang Telah Pergi
Bab 65


__ADS_3

Disebuah apartemen mewah kini seorang gadis yang sudah lebih dari seminggu tidak keluar kini dia sudah akan memulai aktivitas nya kembali.


Setelah dia memeriksakan diri kerumah sakit,elena dikejutkan dengan hasil pemeriksaan dokter tersebut,yang mana menyatakan kalau dia hamil.


Elena sempat shock mendengar hasil pemeriksaan dokter, elena bertanya tanya anak siapa yang ada dalam rahimnya dia sendiri juga tidak tahu, pasalnya ada 3 orang laki-laki yang bercinta dengan nya.


Sudah 3 bulan lamanya dia dan Nico tidak berhubungan, sedangkan hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa usia kandungannya baru 5 Minggu.


Elena sedikit frustasi dengan keadaannya yang sekarang,tapi dia sendiri tidak punya jalan lain,dalam hati kalau saja Aditya tidak bersikap dingin padanya dia tidak akan berbuat nekat dan sejauh ini.


Sedangkan Nico dulu pria itu sangat perhatian dan penyayang jika saja dia bisa setia hanya dengan satu laki-laki saja.


Nasi sudah menjadi bubur elena berencana mencari seorang dokter yang mau menggugurkan kandungannya,dia tidak mau kalau sampai mamanya tahu,bisa bisa elena dibunuh mamanya kalau tahu dia hamil apalagi dia tidak tahu anak siapa yang ada di rahimnya ini. "Ckk... sebal..." bibirnya mencebik kesal.


Lama elena terpaut didepan meja rias miliknya, " hari ini aku akan berkunjung kerumah tante Rossa aku akan mencoba memulai pendekatan dari Tante Rossa " gumam Elena.


"Hhhh... kalau saja Nico bisa dengan mudah ku bohongi pasti gak kek gini ceritanya, pasti dia nggak mau lagi melihat ku... ckk bodoh bodoh bodoh,. sssshhhh " Elena menggerutu cemas .


_____________


Sementara itu ditempat kost Aini Rina yang ditinggal Aini pergi sampai menjelang subuh tidak menyadari kalau Aini sudah tidur disampingnya, dari wajahnya kelihatan sekali kalau dia sangat lelah.


Rina sengaja bangun lebih dulu dia tahu pasti Aini habis ngerjain sesuatu semalam, Rina tahu sedikit tentang Aini semenjak dia diganggu dan di goda hantu cilik yang bernama Gina beberapa waktu yang lalu, Aini sedikit bercerita tentang dirinya hanya poin poin penting saja yang perlu Rina tahu.


"Ternyata berat yah Ai... jadi kamu,Huft...!!" sedikit memaksa diri Rina mencoba membangunkan Aini dengan pelan.


"Ai... bangun Ai... udah agak siang nih"


"Emmppt... oke " Aini menggeliat sambil mengacungkan jari jempol nya " Hoaamm.." Aini mengerjap ngerjap kan matanya mencoba menyadarkan diri dari tidur lelapnya.


"Bau jigong anjirr... udah mandi sono, aku tadi udah beli bubur ayam tuh dimeja masih anget..." Rina yang masih mengoceh Dar A sampai Z kini terpaku melihat Aini.


"Gila nih cewek bangun tidur aja masih cantik, banget malah ... gue aja yang cewek demen apalagi yang cowok bisa bisa kelelep Ampe muncrat air liur kali yak..." Aini yang melihat tingkah Rina hanya geleng-geleng kepala.


"Ckk air liur tuh di lap jijik liatnya ,.. aku masih demen ma cowok tulen Rin... bukan jeruk makan jeruk..." Aini sedikit menggoda Rina ,tak ayal Rina membelalakkan matanya dengan mulut monyong satu Senti.


"Anjirr ... amit amit jabang bayik Ai... gue juga masih demen Ama cowok anjirr... aku liat kamu banyak beleknya tuh..." tukas Rina mengelak kalau dia sangat mengagumi Aini.


Aini hanya berlalu dan menuju kamar mandi, dia senyum senyum sendiri mengingat bagaimana dia menggoda Rina barusan,gayanya yang sok cool tapi sangat naif.


Setelah 15 menit Aini sudah keluar dari kamar mandi dan dia nampaknya sudah selesai dan bersiap untuk berangkat kerja.


"Dimakan dulu Ai... ntar mubadzir kalau gak dimakan buang buang makanan aja,. " ujar Rina mengingatkan Aini.


"Heumm... makasih yah Rin... " ucap tulus Aini, Rina sedikit tersenyum sambil matanya tak lepas dari ponselnya.

__ADS_1


"Ya elah Ai... cuma bubur doang lagian aku disini masak gak tahu diri udah numpang eh maunya enak kan gak asyik... eh.. maksud nya gak tahu diri" ocehan Rina menjadi musik hiburan pagi hari ini.


"Oh iya Ai... semalam kamu pulang jam berapa kok aku gak tahu..?" tiba-tiba Rina bertanya tentang kepulangan Aini semalam yang dia tidak tahu. Rina sedikit penasaran soalnya dia nunggu sampai larut malam tapi Aini gak kunjung pulang tapi habis subuh tadi Aini sudah berada disampingnya.


"Gak tahu lupa jam berapa aku pulang..." jawab Aini mengendikkan bahu.


"Ckk...." Rina memutar bola matanya malas.


"Ai... sebenarnya aku pingin balik ke kostan tapi takut pasalnya tadi aku wa temen sebelah kamar kost suasana masih belum kondusif,jujur gue takut balik kesono..." Aini masih asyik menikmati bubur ayam yang dibeli Rina tadi.


"Ntar deh aku nginep dikost an kamu gimana?? aku penasaran aja soalnya..." ujar Aini mantab.


"Eh... yang bener ai...?? Tapi gue takut beneran..." dan hanya diangguki oleh Aini


"Tapi kopernya aku tinggal disini dulu yah Ai... ?? gue... Auu... Ai... Lo apa apaan sih maen jitak aja.." sungut Rina meringis kesakitan sambil mengusap jidatnya.


"Kan dah aku bilang jangan kasar kasar kalau ngomong..." Rina memutar bola mata malas.


"Ya elah Ai... sekali sekali napa lagian ini gue kalau sedang panik atau bad mood atau apa yah ?? Panik atau apalah... pokoknya kalau gue lagi gak nyambung otak yah kek gini cara bicara gue .. " Aini mencebik sebal.


"Serah kamu lah Rin ... yang jelas aku sudah ingetin kamu itu dimana saja kudu sopan meskipun kurang sedikit logat bahasa yang cocok, lagian Rin, bahasa kamu itu terlalu kasar." Rina mengerucut lucu.


"Hhmm... tapi kamu tahu kalau aku..."


"Iya iya iyaaa... gak usah dijelasin lagi aku ngerti,pokok entar malam aku ke kostan kamu dan kamu harus ikut ,.." tukas Aini sarkas.


"Heumm... yukk berangkat!!" ajak Aini agar Rina bergegas berangkat kerja karena waktunya udah mepet.


________


Malam harinya


Ditempat kost Rina sesuai apa yang sudah dijanjikan Aini, kini mereka berdua sudah berada didalam kamar kost Rina.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 malam, sementara diarea sekitar nya suasana nampak sangat sunyi, seperti tidak ada kehidupan disana.


Biasanya ada beberapa orang berjaga-jaga di pos ronda kini keadaan pos ronda pun lengang tanpa seorang pun disana,sejak kecelakaan yang menimpa Romi pemuda pendiam dikampung itu.


Romi bahkan terkesan sedikit culun dengan kaca mata tebal dan gaya yang terkesan kuno menurut pandangan orang orang kampung.


Romi pemuda yang baik tapi nasibnya yang tidak baik-baik saja, beberapa kali dia dibully oleh pemuda pemudi kampung sana.


Namun Romi selalu tersenyum dan tidak menunjukkan raut dendam sama sekali, pemuda itu tetap santun dengan logat yang khas yaitu sedikit gagap.


"mblung... kok kamu mau sih disuruh jaga ronda?? malah ajak ajak gue lagi!!" tanya seorang laki-laki yang berperawakan preman tapi sedikit penakut.

__ADS_1


"Kan lumayan uangnya brow,,, buat ngopi besok,lagian cuma jaga pos ronda doang..." ujar pria dengan wajah bulat dan perut buncit karena itulah dia dipanggil gemblung.


"Ckk... gue sebenernya ogah mblung... takut gue beneran??" sedikit menggigil pria yang bersama gemblung menutup kepala dengan sarungnya.


"Badan aja digedein tapi nyali ciut... dasar..." ejek gemblung kepada parno.


" Lo sendiri berani gaakk... pake ngatain gue nyali ciut, kalau berani ngapain ajak ajak gue ngeronda malam..." sungut parno sebal.


" Kan tadi udah tak bilangin sayang duitnya,ini lumayan gede loh No... ongkosnya..." kilah gemblung


"Ya udah kamu aja sendiri yang jaga, kan kamu yang menerima duitnya demen ongkosnya yang kamu kata besar ntuh... ya udah gue pulang daripada ntar gue kagak bisa tidur...." baru beberapa langkah parno udah dicegat gemblung.


" Eit eitt eitt.... Ojo ngunu ta No... gak setia kawan banget sih Lo... Nih uangnya ,satu buatku satu lagi buatmu lumayan kan but beli rokok ma kopi ..." sambil mengeluarkan dua lembar dan dibagi bersama parno agar tidak beranjak dari situ dan mau menemaninya ngeronda malam ini.


" Ogah gue... kamu simpan aja sendiri gue beneran mau meriang kalau suasana kek gini hiiii.... " )Arno makin tidak mau berlama lama ditempat itu sungguh dirinya sangat takut apalagi atmosfer disekitar tiba tiba sangat dingin tidak seperti biasanya.


" Jangan gitu dong No... oke deh gue juga ngaku gue emang juga takut tapi kita harus bisa melawan ketakutan itu sendiri karena itulah gue Nerima aja tawaran itu apalagi ongkos ngeronda nya lumayan ,kata pak RT lagi Besok ditambahin " ujar gemblung panjang kali lebar.


Sementara parno memutar bola matanya malas ogah menanggapi gemblung yang penting dia pulang apalagi mengingat dia dulu juga pernah ngeledekin Romi pernah mengejek juga.


Parno takut dia disamperin sekarang,ketika kaki langkah parno sudah mau beranjak dari situ tiba-tiba saja ada sebuah suara merintih.


Hu.... hu.... hu....


Suara tangisan pria berat kalau dideskripsikan seperti suara pria remaja.


Sebentar sebentar samar sebentar sebentar pelan kemudian terdengar jelas mengalun mendayu dayu mengikuti arah angin disekitarnya.


" M mblung... Lo denger gak suara barusan..." kini tubuh Parno gemetar tak terkendali,tubuhnya berkeringat dingin.


"Enggak... eh iya aduh... gue juga takut No... Yo wes ayok pulang..." dengan bergandengan dan saling merangkul gemblung dan parno berjalan beriringan mereka saling memberi kode agar lari setelah hitungan ke 3.


"Satu... Du..."


"A a awas ke keli keliru ba baang ..." terdengar suara pelan dari belakang mereka.


Brukk


Parno pun pingsan ditempat sementara gemblung sudah tidak bisa berlari apalagi berjalan kakinya seakan akan terpaku dengan paku sepanjang 20senti meter dan menancap tepat ditengah tengah dua duanya kakinya.


"Ja ja jangan pe pergi b b baang... hiks hiks hiks..." tidak salah lagi itu suara arwah Romi dengan logat khas gagapnya.


"Ckk lu udah mati aja neror kita kenapa masih idup Lo dibully diam aja Rom... lihat nih basah kan..." sambil menunjuk kebawah gemblung sudah tidak bisa menahan rasa takutnya lagi hingga rasa hangat dibawah karena cairannya sudah merembes dicelana pendeknya.


"Aku kesepian bang blung...." kini suara Romi tanpa logat khasnya bersuara berat tapi menyeramkan ditelinga gemblung

__ADS_1


Brukk....


__ADS_2