
Pagi ini wajah Aini sedikit cerah dia dalam mood baik sekali, semalam Aditya mengantarkan dia pulang dengan sedikit bersenda gurau.
Dia bersyukur dengan adanya Aditya disampingnya,dulu Hafiz lah yang ada dalam pikirannya tapi sekarang Aditya lah yang sedikit merajai hatinya.
Hari ini hari Minggu nampaknya Aini sudah bersiap-siap dengan baju santai dan sederhana, gadis ini tidak suka sesuatu yang mewah dan glamor sedari kecil dia sudah sangat tahu akan arti sebuah kesederhanaan.
Pengalaman hidup mengajarkan segalanya,dulu Aini kecil lebih suka berkelana sebelum dia dipertemukan dengan keluarga angkatnya setelah hengkang dari kediaman kakek Bimo.
Meskipun Aini tahu rumah yang ditempati Aini setelah kebakaran yang merenggut jiwa seluruh keluarga nya dibelikan oleh kakek Bimo atas namanya,tapi Aini enggan untuk menempati rumah tersebut.
Bukan karena kakek Bimo keluarga dari seseorang yang sudah membunuh seluruh keluarganya tapi Aini yang sudah terbiasa hidup serba kekurangan tak membuat gadis itu tamak akan kemewahan.
Justru Aini lebih cenderung menjauh dari segala kemewahan yang ditawarkan kakek Bimo kepada nya.
Aini tahu perjuangan kakek Bimo dalam rangka mencoba menembus kesalahan yang dilakukan oleh putrinya, meskipun setulus apapun kakek Bimo kepada nya Aini masih tak bergeming sama sekali.
Justru Aini lebih suka berkelana dan berpetualang,dia mang masih tinggal dikediaman kakek Bimo tapi dia lebih sering keluar malam untuk mencari kesenangannya sendiri.
Dengan berburu hantu dan mencari sensasi untuk menguji seberapa kuatnya dia dan seberapa kuatnya ilmu yang dipelajari dari guru dari mahluk ghaib yang selama ini mengajarkan segala hal terhadap gadis itu.
Semakin Aini mendalaminya semakin dia mengerti pula perbedaan antara dunia ghaib dan dunia kasar mata.
Tin tin
Terdengar suara klakson mobil yang berhasil membuyarkan lamunannya, dengan senyum ceria Aini pun segera menghampiri mobil yang sudah terparkir didepan rumah kost nya.
" Hai Ai..." senyum yang tadi terpampang dibibir Aini ,kini senyum itu pudar dan menguar begitu saja kala dia mendapati bahwa bukan Aditya yang datang melainkan Nico.
Seketika Aini menampakkan wajah datar tanpa ekspresi,tapi berbeda dengan Nico dia malah tersenyum sangat manis didepan gadis itu.
"Ada apa kak Nico pagi pagi kemari..." tanya Aini to the poin tanpa basa-basi lagi.
"Aku kemari ingin bertemu dengan mu..." ucap lembut Nico.
"Maaf kak ... tapi saya akan pergi dengan tunangan saya" tukas Aini datar
Seketika senyum Nico pun lenyap dari bibirnya,tapi sedetik kemudian senyum itu kembali dibibir Nico.
"Aku kemari ingin mengembalikan ini" Nico menunjukkan sebuah cincin yang dulu pernah diberikan Aini kepada Nico hanya untuk memberitahu kan kebenaran tentang mengapa Aini sangat ingin menjauh darinya.
" itu bukan milikku kak, itu milikmu dari kakek Bimo jadi kukembalikan padamu" tukas Aini yang masih setia dengan wajah datarnya.
Tin tin
Nampak sebuah mobil berhenti tepat dibelakang mobil Nico, tak lama kemudian keluarlah seorang pria dengan wajah rupawan keluar dari mobil itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum Ai... " ucap salam Aditya lembut kepada Aini.
"Waalaikumsalam kak... " jawab Aini dengan senyuman manisnya berbeda saat Aini berbicara dan berhadapan dengan Nico yang hanya menampakkan wajah datarnya saja.
Hati Nico mencelos seketika segitu tidak sukanya Aini terhadap nya, begitulah batin Nico bermonolog.
Dengan bersusah payah Nico menelan nafas berat ada sesak yang menghimpit dadanya, seperti ribuan jarum yang menusuk nusuk dadanya yang sebelah kiri.
"Kau sudah siap sayang..." tanya Aditya yang masih dengan nada lembut. dan diangguki oleh Aini.
"Ayo kita berangkat mama sudah tidak sabar menunggu mu Ai..." ucap Aditya kemudian sambil menarik lembut tangan Aini.
"Assalamualaikum kak Nico... maaf yah mungkin lain kali kita bisa berbincang insya Allah..." pamit Aini basa basi.
Sebenarnya Aini tidak bermaksud mengatakan itu tapi bukan sifat Aini yang selalu bisa berbicara ketua terhadap seseorang.
Aini paling tidak betah kalau terus berwajah datar dan berbicara dengan sedikit keras dan kasar atau dengan kata lain ketus.
Nico hanya menganggukkan kepalanya pandangan nya sayu,melihat tangan Aini digandeng Aditya dengan lembut dan penuh kasih membuat hati Nico lebih sakit lagi.
Hatinya hancur kecewa ingin marah karena rasa cemburu yang merajai hati dan pikirannya,Nico meninjukan tangan nya kearah kosong didepannya.
"Shitt... kalau saja wanita gila itu tidak berbuat hal hal yang diluar nalar terhadap gadis tersebut mungkin akulah yang menggandeng tangan Aini sekarang." gumam Nico marah.
Kini Nico dalam keadaan mood tidak baik sama sekali,sangat buruk lebih buruk dari wajah genderuwo kali yah... hihi.
Dalam hati dia bertekad akan merebut gadis pujaannya itu apapun caranya,Aini harus menjadi miliknya hanya itulah yang ada dalam pikirannya.
Sementara itu kini Aini dan Aditya sudah sampai dirumah Aditya,nampak mama Rossa sudah menunggu kedatangan putranya bersama dengan Aini.
Terpampang jelas betapa bahagia dan antusiasnya mama Rossa dalam menyambut kedatangan gadis itu, melihat Aini mama Rossa langsung memeluk gadis tersebut.
"Assalamualaikum Tante... bagaimana kabar Tante dan om... " ucap salam Aini dan tak lupa pula menanyakan kabar pada wanita paruh baya didepannya ini.
"Waalaikumsalam nak... Tante baik baik saja dan kami sekeluarga dalam keadaan baik-baik saja..." jawab Mama Rossa yang masih memeluk Aini.
Aini terharu dengan sikap lembut mama Rossa kepada nya yang tulus, meskipun dia yang sedari kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu kini Aini dapat kan dari mama Rossa dan keluarganya selain ibu dan ayah angkatnya.
"Heemm... kau melupakan ku Ai... " terdengar suara yang sangat familiar ditelinga Aini.
Yah kini nampak sosok Dewi sudah berdiri disamping mama Rossa,dan disebelah kirinya nampak papa Antoni papanya Aditya tersenyum manis melihat kedekatan mereka.
Setelah selesai berpelukan dan melepas rindu pak Antoni segera menginstruksikan kepada mama Rossa dan semuanya agar segera masuk kedalam rumah.
Aditya sangat bahagia melihat kedekatan mama dan kakak nya terhadap kekasihnya,diapun mengikuti mereka memasuki rumahnya.
__ADS_1
Nampak sebuah mobil diseberang jalan yang mengawasi kegiatan mereka barusan,yah siapa'lagi kalau bukan Nico.
Ada gelenyar aneh dalam dirinya dia merasa bahwa Aini semakin sulit untuk dijangkau tapi Nico tidak mempedulikan hal itu, yang dia rasakan saat ini hanya rasa cemburu yang maha dahsyat yang siap dia ledakkan di kepalanya.
dia tidak terima dengan semua yang dia lihat barusan, hatinya sangat iri akan kedekatan Aini dengan keluarga tersebut.diapun bertekad akan merebut Aini dari mereka apapun caranya.
kedua tangan Nico terkepal erat sampai buku buku jarinya memutih sempurna, rahangnya mengeras wajahnya memerah karena menahan amarahnya.
" Bedebah... kenapa aku dilahirkan dari wanita iblis seperti dia... Fu**... Fu** ... Fu**.." Nico memukul stir mobilnya.
tangannya gemetar karena rasa amarah yang tak terbendung lagi.
Dan lagi lagi dia membutuhkan tempat pelampiasan dia ingin membunuh seseorang tapi siapa...
Akhirnya setelah beberapa saat Nico pun berlalu dari tempat itu, satpam yang berjaga yang sedari tadi sedikit curiga kini sedikit bernafas lega karena mobil yang mereka curigai sudah pergi dari sana.
"Kamu kok sedikit kurusan Ai..." tanya Dewi kepada Aini.
"Iyakah kak .. kek nya biasa aja deh..." jawab Aini sambil tersenyum manis.
"Iya nak... kamu sedikit kurusan" Aini masih tersenyum mendengar ungkapan dari mama Rossa.
"Aini sedikit puasa kak... Tante..." sementara tuan Antoni hanya diam sambil melihat dan mendengarkan obrolan mereka.
" permisi tuan nyonya ada tamu diluar..." ucap bibi pembantu dirumah Aditya.
"Pagi Tante... pagi semuanya..." ujar Elena dengan wajah cerianya dan sedikit tidak tahu malu.
Tak ada yang menjawab sapaan dari gadis itu, mereka masih bergeming melihat penampilan dari Elena mama Rossa sedikit curiga.
"Maaf Tan ... Om... sedikit tidak sopan, Elena hanya ingin mengucapkan selamat tinggal karena sebentar lagi saya akan berangkat ke new Zealand karena ada pemotretan disana" ucap Elena menjelaskan.
Meskipun tak ada yang mau tahu dengan penjelasan gadis itu mereka semua nampak dengan enggan menanggapi ocehan gadis itu.
"Kamu hamil berapa bulan mbak..." sontak semua orang yang berada diruangan tersebut melongo mendengar pertanyaan Aini kepada Elena.
Elena pun mencelos mendengar pertanyaan Aini,dalam hati Elena merutuki gadis tersebut,tapi dia tahan demi menjaga imegnya saja.
dengan wajah memerah dan gemetar elena menjawab " kau jangan asal ngomong gadis kampung" peringat Elena terhadap Aini.
" Maaf..." Hanya itu yang keluar dari mulut Elena.
Kini suasana didalam ruang tengah itu sedikit menurun drastis menjadi dingin, mama Rossa pun percaya apa yang dikatakan Aini.
"Waahh... pada kumpul semua disini yah..." serempak mereka yang ada diruangan ini pun menoleh.
__ADS_1
"Hei... kak Toni apa kabarnya??" tanya seorang pria yang tak lain adalah adik dari pak Antoni.
"Stop ... jangan mendekat"