
Weekend ini dilalui Hafiz dengan berolahraga kecil diarea sekitar tempat tinggalnya,dia jogging demi menghilangkan rasa penat akan masalah yang bertubi-tubi menghampirinya.
Satu jam lamanya Hafiz jogging tanpa henti,dulu dia terbiasa melakukan semua itu karena sudah kebiasaan jika weekend Hafiz menyempatkan melakukan olah raga kecil seperti jogging.
"Sayang..." nampak sebuah suara seorang wanita dari arah samping membuat Hafiz menoleh secara langsung, setelah mengetahui siapa yang memanggil dengan sebutan sayang kalau bukan mamanya.
"Mau apa anda kemari,aku tidak ingin melihat anda meskipun anda adalah ibuku" kini wajah Hafiz yang semula sedikit cerah mendadak menjadi gelap dan muram.
Tentu saja penyebabnya adalah wanita disebelahnya,
"Apakah kau masih sakit hati dengan mamamu nak...?? maafkan mama yang sudah keterlaluan " terisak kecil Astri dia bersikap menyedihkan tentu saja itu hanya pura-pura demi mendapatkan simpati putranya.
"Apa masih tidak puas anda menghancurkan hidupku ??" kini mata Hafiz memerah karena marah,hatinya berselimut kabut.
Nafasnya memburu dan dadanya kembang kempis mengingat bagaimana dirinya hampir meregang nyawa saat kecelakaan itu terjadi dan bagaimana dia melihat sahabatnya meregang nyawa setelah dia berhasil membantu dirinya membuka selt bet pintu mobilnya yang waktu itu tiba tiba macet.
Flashback on
"Astaghfirullah Dra... ini mobil kenapa tiba-tiba gini,...." Hafiz panik dengan mobilnya yang tiba-tiba rem blong,karena setahunya tidak ada masalah dengan mobil yang dia pakai.
Rem mobil yang tiba-tiba blong membuat keduanya panik dan ketakutan 'Bagaimana ini bisa terjadi' dengan panik Candra yang waktu itu sigap membantu Hafiz sampai lolos dan keluar dari mobilnya dengan cara melompat sedangkan sahabatnya sendiri tidak berkesempatan menyelamatkan dirinya sendiri,Hafiz masih bisa melihat dan mendengar "Brow kalau hari ini aku tidak bisa selamat lindungi adikku Aini tepati itu" lalu dengan cepat mobil pun meluncur kebawah dengan senyuman diwajah sahabat nya Candra sebelum akhirnya mobil itu meledak.
Tapi disaat itu kesadarannya pun tiba-tiba menghilang tapi belum sempat dia kehilangan kesadarannya Lamat Lamat hafiz mendengar seseorang "bertahanlah dan tepati janjimu" kemudian terpejamlah mata Hafiz dengan sempurna.
Flashback off
"Pergilah sebelum aku mengusir anda,. sungguh aku muak melihat wajahmu" geram Hafiz kemudian diapun berlalu dari situ.
"Nak... sungguh ibu sangat menyesal mama ingin memperbaiki semuanya mama memang salah dan..." Hafiz memutar tubuhnya malas.
"Anda punya akting yang bagus nyonya siapa pun pasti percaya dengan anda tapi tidak denganku" kemudian diapun berlalu tanpa menoleh kebelakang.Persetan dengan pandangan orang orang dia sudah tidak peduli lagi.
Banyak yang mencibir dirinya dan menyebutnya durhaka lah anak tidak tahu berterima kasih lah dia sungguh sudah tidak mempedulikan semua itu, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah menjauh dari wanita laknat pemuja setan ini.
__ADS_1
Sungguh Saat ini Hafiz dalam mood yang kurang baik hatinya berkabut begitu juga dengan wajahnya,dia tidak habis pikir bagaimana bisa seorang ibu tega mengorbankan dirinya dengan sebagai... Ah... lama lama dia bisa menjadi gila karena memikirkan semua itu.
Tak lama kemudian dia sudah sampai dikediaman rumahnya dia sedikit bingung dengan mobil sport yang terparkir didepan rumah nya.
Belum berhenti keterkejutan nya dia lebih dikejutkan lagi dengan kehadiran sahabat nya selain Candra yang selama ini selalu setia ada untuk nya siapa lagi kalau bukan Devan.
"Assalamualaikum ... " dengan langkah gontai hafiz mengucapkan salam sambil melangkah maju kedalam ruangan tamu setelah membuka pintu.
"Hai brow... aku ada kabar baik untukmu tapi kamu harus ikhlas yah...?" Hafiz penasaran dengan apa yang akan diberitakan sahabat nya ini.
***
Tok tok tok
"Assalamualaikum..." hening tidak ada jawaban dari dalam rumah kecil milik Aini.
Aditya pun mendesah kasar berulang kali diketuk pintunya masih belum ada jawaban, tiba tiba pikiran Aditya sedikit horor 'apakah Aini masih marah padanya??' batin Aditya.
Lama Aditya menunggu di teras rumah Aini hingga tanpa sadar perutnya perih tapi tak dirasakannya dia masih kekeh dengan menunggu Aini.
"Wa waalaikumsalam Ai .. kamu darimana heum...?? " Sedikit berkerut dahi Aditya.
"Aini dari jogging kak... Aini pikir kak Adit gak kesini,Aini pikir kak Adit pasti capek dari perjalanan bisnisnya hemm...??" masih dengan senyum manisnya Aini menjawab pertanyaan Aditya.
Adit terkejab terkesiap dengan kata kata Aini dia merasa bersalah karena sudah membohongi gadisnya, ada gelenyar aneh yang merasuki hatinya berkali-kali dia merutuki dirinya karena kebodohannya.
"Ai... kakak sebenarnya..." Aditya meragu untuk meneruskan kata kata nya,melihat ketenangan Aini dia rasanya sedikit sakit dan merasa berdosa.
"Kak Adit belum makan...?? perutnya bunyi keras bnget hihi..." sambil terkikik Aini segera menyiapkan makanannya untuk mereka berdua.
Nampak semburat merah terpampang jelas diwajah tampannya,dia sangat malu suara perutnya didengar oleh Aini.
"Ayo dimakan kak, maaf Aini hanya bisa menyiapkan menu sederhana..." dengan menyiapkan sepiring nasi goreng buatannya Aini melayani Adit dengan senang hati.
__ADS_1
" baik.." Adit mengangguk dan tersenyum senang.
"makasih ai...." sebelum melahap makanannya Aditya kembali berucap.
"Hhmm .." jawab Aini sambil mengacungkan jempolnya.
Mereka pun akhirnya makan dalam keheningan beberapa menit pun mereka selesai dengan ritual makannya. Dan kini mereka pun duduk diteras tak lupa segelas kopi beserta teh juga cemilan yang Aini siapkan untuk mereka berdua.
"Kak... semalam Aini kepantai bareng kak Devan," Hening sesaat kemudian
"Disana kak Devan banyak bertanya kak Adit mau tahu gak apa yang ditanyakan kak Devan padaku??" sedikit melirik kearah Aditya diapun penasaran dengan perubahan sikap Aditya sedetik kemudian diapun tersenyum.
Aditya nampak tenang seolah tidak mengetahui apapun jadi dia berusaha berpura-pura biasa aja.
"Ai .. bisa gak jangan bahas pria lain ?? kakak hanya ingin tahu ceritamu sewaktu kamu masih masa kanak-kanak hingga Segede ini,pasti kamu lucu banget deh..." Aditya menerawang dia mengalihkan pikirannya agar Aini tidak membahas tentang dirinya bersama Devan tadi malam.
Aditya hanya tidak mau Aini tahu bahwa sebenarnya dia menyuruh anak buahnya karena saking cemburu nya. Aditya juga takut kalau Aini tanpa sepengetahuan dia sudah bisa melihat atau bahkan membaca isi hati dan pikirannya.
Sungguh Aditya ingin mengantisipasi soal itu,tak etis rasanya kalau Aini tahu bahwa dia menyuruh beberapa bodyguard bayangan yang menjaga Aini meskipun tak terlihat.
Tidak apa-apa dia sedikit merogoh kocek yang sangat banyak yang penting Aini aman,tapi kalau gadis itu tahu apakah dia akan membencinya 'oh my Gosh... jangan sampai Aini tahu kalau aku bisa mengetahui seberapa habisnya kekuatan magic nya untuk menolong Hafiz.
Cemburu jujur dia sangat cemburu pasalnya Aini sudah jadi tunangan nya tapi dia masih peduli dengan mantan kekasih nya,sakit tak berdarah yang tertusuk tanpa sengaja dijantungnya.
Tiba-tiba saja wajahnya muram hatinya menggelap mengingat itu semua tapi sebisa mungkin dia menutupi kerisauan hatinya dari Aini.
Sementara Aini sudah bisa mengetahui apa yang dipikirkan pria disampingnya ini,dia tersenyum manis saat mendengar semuanya, hatinya sedikit pilu tapi dia juga mengerti akan kekhawatiran pria yang disebut kekasihnya.
"Tidak ada yang istimewa dari cerita Aini sewaktu masih kanak-kanak kak" hatinya berkabut mengingat masa kecilnya yang pilu.
Sontak Aditya menoleh kearah Aini, pikiran nya sudah tak tentu arah 'apa maksud Aini?? apakah dari kecil dia ...' berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Aditya.
"Assalamualaikum... " tiba-tiba sebuah suara mengucap salam
__ADS_1
Mereka berdua pun menoleh bersamaan.