
Sementara itu disebuah lembah didalam hutan nampak seorang wanita yang sedang melakukan ritual Larung Sukmo,dimana yang menjalani akan melakukan semedi ditengah tengah telaga yang minim pencahayaan matahari karena rimbun lebatnya pohon pohon di hutan Randu Sewu didaerah terpencil yang jauh dari jalan keramaian.
Tempat itu disebelah lereng gunung Lawu yang sangat jarang bahkan hampir tidak ada satu manusia pun yang berani memasuki hutan itu.
Wanita itu adalah Astri sungguh hati wanita itu benar benar tertutup kabut hitam hanya karena rasa dendam yang berawal dari rasa benci Astri pada seseorang yang tak lain adalah Aini.
Entah alasan apa yang membuat Astri begitu sangat membenci Aini sedemikian rupa, sampai sampai dia rela mengorbankan putrinya untuk dijadikan tumbal.
Setelah kegagalan nya diwaktu lalu tak menjadikan Astri kapok atau jera justru dia semakin menjadi-jadi saja. Setelah selesai melayani nafsu bejatnya dukun yang bernama Cokro sesuai yang dijanjikan Cokro Astri diajak ke tempat dimana kakak seperguruan dukun Cokro itu berada.
Dan setelah Berjam jam lamanya perjalanan Astri dan Cokro sudah sampai ditempat kakak seperguruan Cokro tersebut.
" Ono opo koe Nyang kene Cokro... (Ada apa kau datang kesini Cokro...)" tatapan tajam dari Mbah Redjo mengarah ke adik seperguruan nya tersebut.
"Ckk ... Ra oleh ta aku dolan Rene kang, ( tidak boleh kah aku bermain kesini Kang...)" Mbah Redjo hanya menatap tajam Mbah Cokro, kemudian tatapan nya beralih kesamping Mbah Cokro.
"Hhmmm... Atimu peteng rupane,,, aku weruh tujuan mu Rene opo tapi... koe siap opo ora Karo resikone?? ( Hatimu gelap rupanya,,, aku tahu tujuan mu kesini kenapa tapi... kamu siap apa tidak dengan resikonya??)" cibir Mbah Redjo.
"sekarang aku yakin bahwa dukun ini hebat,aku belum menunjukkan niatku saja Mbah Redjo sudah tahu apa tujuanku " batin Astri bermonolog. Sementara Mbah Redjo yang Isa membaca pikiran Astri tersenyum menyeringai.
Kemudian Mbah Redjo pun menjelaskan apa saja yang harus dilakukan dan apa saja pantangan dan resikonya.
Hari ini adalah hari pertama bagi Astri untuk melakukan ritual Larung Sukmo, yang disesuaikan dengan hari bulan dan tanggal lahirnya.
Astri benar benar nekat dia ingin lebih dari Aini dia juga ingin kaya melebihi suaminya, Astri juga ingin dikenal sebagai seorang wanita yang tercantik meskipun umurnya sudah tidak lagi muda.
Sungguh Astri benar benar dibutakan dengan duniawi,dan sekarang Astri hanya mengenakan kain jarik dari bermotif batik.
Hari sudah menjelang sore dan sebentar lagi juga gelap menandakan bahwa malam akan segera tiba, Astri masih bergeming ini baru hari pertama dan sebentar lagi juga malam yang pertama dia melakukan ritual Larung Sukmo ini.
Awalnya hanya suara suara khas binatang hutan dan suara desiran angin yang terkadang menerpa kulitnya,rasa dingin yang menggerayangi kulitnya juga tak dihiraukan.
Sementara malam makin larut sejauh ini Astri masih mampu melewatinya tanpa halangan yang berarti,tapi tiba-tiba suasana menjadi sunyi senyap.
Astri bukannya tak menyadari akan kesunyian tersebut, karena tekadnya yang bulat Astri tak mempedulikan apapun yang akan terjadi pada dirinya nanti.
Dari kejauhan tampak terdengar suara desisan yang entah apa itu Astri tak berani menebak,semakin lama suara desisan itu semakin mendekat Astri pun masih kekeuh tak bergeming.
Kini ada bau wangi kembang setaman tercium di Indra penciuman nya sangat menyengat,Astri merasakan desiran aneh disekujur tubuhnya.
__ADS_1
Kini setelah bau wangi kembang setaman tak lama kemudian Astri mencium bau bangkai yang sangat menyengat, perutnya rasanya mual ingin memuntahkan seluruh isi perutnya tapi Astri tahan demi tujuannya.
Tubuh Astri seolah olah menyentuh sesuatu,Astri seperti terlilit sesuatu yang kenyal dan dia tahu apa itu selama dia yakin yang melilitnya itu tak akan menyakiti nya.
Sssshhhh
Sssshhhh
Terdengar suara desisan ditelinga Astri ada rasa sakit di kulitnya saat binatang melata itu merayap di kulit tubuhnya, nampaknya sisik sisik yang ular itu tempelkan lebih menyakitkan dari pada dicakar hewan atau apalah.
Astri merasa seperti dikuliti hidup hidup Astri masih bergeming tak menunjukkan bahwa dia akan menyerah,Astri teringat kata kata Mbah Redjo tadi "jika aku menyerah ditengah tengah jalan atau diawal baru dia mulai maka nyawamu lah yang jadi taruhannya " tentu Astri tidak akan pernah menyerah begitu saja sebelum tujuannya tercapai.
" He he he... Hatimu begitu hitam pekat sepekat malam tanpa jiwa aku harap setelah ini kau tidak akan menyesal wahai manusia" suara lirih nan serak entah itu dari mahluk yang serupa apa Astri tidak tahu yang jelas mendengar nya saja Astri sedikit merinding tapi dia abaikan saja hal itu.
Sssshhhh
Sssshhhh
Hi hi hi hi ...
Ha ha ha ha ...
Telinga Astri seakan berdengung sakit tiba-tiba keluar darah dari kedua kupingnya, dan Astri masih tetap bergeming.
Nampak binatang yang serupa ular tapi berkepala manusia itu menyeringai kembali mahluk itu mendekati Astri dan menjilati darah kental yang keluar dari telinga dan hidung Astri.
Ada bau amis dan anyir khas darah dan liur binatang melata " Masih terlalu dini mengatakan kau lulus wahai manusia masih 39 hari lagi yang harus kau jalani" seiring dengan berjalannya waktu dan pekat nya malam kini kembali suara khas binatang malam dihutan terdengar.
Tanpa sadar Astri bernafas lega tapi tidak ada keraguan sama sekali dari wajah Astri, meskipun mata terpejam tapi Astri seolah olah bisa melihat alam sekitarnya.
Astri harus menjalani ritual ini 40 hari 40 malam tanpa makan dan minum entah bagaimana dia bertahan selama ini tapi jika sesuatu sudah menimpuk entah benda apa itu yang menyerupai batu kerikil kecil jika sudah mengenai tubuh Astri tubuhnya kembali segar, ajaib bukan.
Ternyata yang melakukan itu adalah Mbah Redjo yang sekarang mengawasi Astri dari atas telaga tempat Astri melarung.
Sementara itu di UGD Bina Aksa nampak keluarga dari Nico sudah berkumpul, sementara Aini diruangan operasi untuk donor darah langsung disamping Nico yang tengah tidak sadarkan diri.
Dulu sewaktu dia masih bermain bersama Nico senyum ceria Aini dan sikap jail Nico selalu membuat beberapa orang resah lantaran Nico tak akan membiarkan siapapun yang menghina dan meng olok Aini.
Aini ingat dulu Nico juga sangat posesif siapa pun yang membulinya Nico selalu berada didepan untuk membela dan melindunginya.
__ADS_1
Aini yang mengingat masa masa itu tersenyum sendiri, sebenarnya Aini tidak pernah membenci Nico dia hanya tidak mau Nico jadi membenci Mama nya.
Lagi lagi rasa nyeri di ulu hatinya berdenyut,sakit nya sungguh tidak bisa diraba tapi hanya bisa dirasakan.
Aini teringat akan Aditya kembali dia tersenyum,kini kedua matanya terpejam mengingat bagaimana Aditya memperlakukannya dengan begitu manis padanya.
Aini merogoh saku celananya kemudian dia menghubungi Aditya untuk menjemputnya dari sini setelah donor darah selesai.
Setelah setengah jam kemudian Aini keluar dari ruangan operasi, tapi operasi masih berjalan.
Nampak kakek Bimo menghampiri Aini, dia menuntun Aini untuk segera duduk disampingnya.
Sebenarnya matanya sedikit berkunang-kunang karena banyak darah yang diambil darinya, pandangan Aini tidak sengaja tertuju pada sosok yang dia kenal siapa lagi kalau bukan nyonya Neli.
Aini mengangguk sopan tapi itu tidak dianggap oleh nyonya Neli , wanita itu memalingkan muka kearah lain.
Aini yang melihat tingkah nyonya Neli hanya tersenyum menggelengkan kepala,kakek Bimo yang tahu akan kelakuan putrinya tidak terima.
Aini tahu kalau kakek Bimo hendak menegur nyonya Neli tapi dicegah oleh Aini,dia menggelengkan kepalanya Aini hanya tidak mau terjadi keributan disini apalagi ini dirumah sakit.
Tuan John Mayer Rosberg yang melihat Aini tersenyum ramah,dia merasa familiar dengan gadis itu,tapi dimana dia pernah bertemu.
Tuan John Mayer masih terpaku dengan Aini , nyonya Neli yang mengetahui tatapan tuan John Mayer langsung mencubit lengan suaminya.
Kakek Bimo sangat malu dengan kelakuan putrinya yang tidak layak untuk ditunjukkan hanya menghela nafas perlahan.
"Kakek sebentar lagi Aini ada yang menjemput, Aini tidak meminta apapun kecuali satu..." nyonya Neli yang mendengar Aini berbicara pada kakeknya hanya mencebik ' paling juga minta imbalan uang , dasar miskin...' sungut nyonya Neli pelan dan itu bisa didengar oleh tuan John Mayer.
"Apapun itu katakan nduk .. " jawab kakek Bimo.
"Jangan katakan kalau Aini yang sudah mendonorkan darah oke... tidak ada penolakan..." pinta Aini sedikit ia tekankan dengan kata tanpa ada penolakan pada kakek Bimo.
Semua orang yang berada didepan UGD tersebut tercengang dengan ucapan Aini. hening beberapa saat sementara Randy yang sedari tadi duduk dipojokkan diam saja sambil mengamati.
" Assalamualaikum... sayang.." tiba tiba sebuah suara mengucapkan salam dan tertuju pada Aini.
"Waalaikumsalam kak... Aini siap yukk..." Aini kini beralih pada kakek Bimo dan kemudian berpamitan padanya juga pada semua yang ada disana kecuali nyonya Neli.
Kakek Bimo yang melihat kedekatan Aini dan pemuda itu tidak bisa tidak iri, seandainya cucunya berada diposisi itu alangkah bahagianya cucunya begitu juga dirinya,tapi itu semua hanya angan saja.
__ADS_1