
Pelajaran sudah usai, dan waktunya untuk pulang ke rumah masing-masing. Saat Wina dan Pricil akan beranjak dari bangku yang mereka tempati, Putri segera menginterupsi.
"Guys, kita rapat sebentar yuk!!" ajak Putri kepada kedua sahabatnya itu.
Seketika keduanya langsung mengurungkan niatnya untuk melangkah.
"Rapat apaan Put," tanya Pricil.
"Kalian tunggu sebentar." Putri mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
Kedua sahabat tersebut hanya memperhatikannya, setelah selesai berbicara dengan yang ditelepon, Putri kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Tak berapa lama, muncul lah Dua makhluk yang sangat menyebalkan bagi Pricil. Yaitu Angga dan Tio.
"Nah, sekarang mari kita mulai." Ucap Putri ke teman-temannya yang sudah duduk di masing-masing bangku, lalu melanjutkan. "Untuk acara dirumah bu Lisa kan hari Minggu, jadi kita harus mulai berberes-beres membantu bu Lisa di mulai dari hari Kamis. Karena bu Lisa berpesan, barang-barang beliau sangat banyak. Jadi harus segera di beresin" ucap Putri dengan panjang lebar dan jelas.
"Berarti setelah pulang sekolah kita langsung kesana Put?" tanya Pricil.
"Yaps betul sekali. Apakah ada yang keberatan?" jawab Putri.
"Kami siap kak," ucap kedua adik kelas mereka.
"Nah! Wina dan Pricil, apakah kalian ada usul?" Putri kembali memberi pertanyaan.
"Aku setuju," ucap Wina. Dan berikutnya Pricil pun menyetujui.
"Jadi, mulai besok sepulang sekolah kita langsung capcus ke alamat rumah bu Lisa" Putri kembali menegaskan ke teman temannya.
"Oke!!" jawaban secara serentak di terima oleh Putri. Setelahnya mereka membubarkan diri.
**
Suasana sekolah sudah sangat sepi, Pricil sedang berdiri menunggu angkot yang tak kunjung datang. Kedua sahabatnya sudah pulang karena dijemput oleh masing-masing orang tuanya. Hanya sesekali mereka naik angkot.
__ADS_1
Suara motor berhenti di samping Pricil, dan ia langsung menoleh ke sumber suara. Setelah sipemilik motor membuka kaca helm, Pricil langsung memutar bola matanya malas saat tahu siapa orang tersebut.
"Masih mau nungguin angkot?" tanya Tio sambil bersedekap dan tetap diatas motornya.
"Ya!" jawab Pricil dengan jutek tanpa menatap lawan bicaranya.
"Oh, ya udah!" Tio kembali menutup kaca helmnya dan menyalakan mesin motornya, "Mau sekalian nggak. Ayo naik!" ucap Tio yang sudah akan menginjak tuas gigi motornya.
"Nggak! makasih tawarannya." Pricil menolak mentah-mentah ajakan dari cowok yang udah bikin dia kesel sampe ke ubun-ubun itu.
"Ya udah." Jawabnya dengan cuek. Tio langsung tancap gas setelah mendapat jawaban penolakan dari Pricil.
Pricil hanya memandangi kepergian Tio dari hadapannya, ia menggerutu kesal karena angkot yang ditunggu tak kunjung datang.
Sementara dari ujung lorong, Angga yang baru selesai mengisi pulsa menatap ke arah jalan besar. Dan terlihatlah kakak kelasnya yang tadi pagi di tubruk oleh Tio sedang berdiri di pinggir trotoar.
Ingin dia menghampiri, tapi malas jalan kaki karena jalannya lumayan jauh. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang kerumahnya dan tak memperdulikan orang yang dilihatnya.
'Mana sih ni angkot! kok lama banget nggak nongol nongol' Pricil menggerutu dalam hati. Dan, ia menyesal ketika tadi menolak ajakan dari Tio untuk pulang bareng. 'Coba tadi ikut aja naik motornya Tio, pasti Aku udah sampai rumah sekarang' Pricil masih tetap menggerutu.
"Ke lorong siswi ya bang, berapa ongkosnya?" sambil naik ke jok belakang.
"Lima ribu dek," ucap si kang ojek.
Pricil pun menyetujui tarif yang diberikan si kang ojek, dan motor langsung jalan lewat lorong depan ia menunggu angkot tadi. Hanya butuh waktu Sepuluh menit sudah sampai di alamat rumah, Pricil menyuruh abang ojeknya untuk menunggu sebentar karena ia harus mengambil uangnya didalam rumah.
Setelah selesai membayar, Pricil kembali kedalam rumah.
"Kok lama pulangnya Sil," tanya nenek Yana yang tiba-tiba muncul dari samping rumah. Pricil yang sudah selesai membuka kaos kakinya langsung menoleh kearah neneknya.
"Iya nek, tadi susah angkot jadi nunggu ojek lewat." Jawab Pricil apa adanya.
"Oh, ya sudah. Masuklah, ganti baju." Ucap nenek Yana setelah mendengar alasan dari Pricil, kemudian neneknya itu jalan kembali kerumahnya.
__ADS_1
Suasana rumah sedang sepi, karena bibi Cahyani sedang tidur siang. Pricil langsung masuk kekamar dan mengganti pakaiannya.
**
"Nih, buat kamu sama partner." Satria memberi selembar undangan kepada Chandra yang sudah tertulis namanya disana.
Chandra mengerutkan keningnya, kemudian ia raih undangan tersebut. Saat melihat nama Satria di kertas undangan tersebut, Chandra langsung menepuk bahu temannya itu.
"Ternyata cepet juga ya kamu lakunya," ucap Chandra dengan candaannya.
"Ya iya dong bro!, kamu nggak liat apa pesonaku ini sungguh sangat ampuh mengelem hati wanita." Ucap Satria dengan bangga sambil menaik turunkan alisnya.
"Heleh! paling juga kamu pergi ketempatnya mbah Parno," Chandra mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Satria yang membanggakan dirinya sendiri.
"Sembarangan kamu!" ucap Satria yang tak terima dikatai kalau ia pergi ke dukun. Karena mbah Parno sangat terkenal dengan ilmu pelet.
"Hahaha, ya ya. Aku percaya saja biar nggak lama" Chandra tertawa melihat ekspresi temannya yang terlihat kesal karena ulahnya.
"Halah, ya udah. Jan lupa dateng! awas kalau nggak." Ancam Satria sambil beranjak dari hadapan Chandra.
"Oke, Aman!!" ucap Chandra kemudian.
Chandra membuka kertas undangan tersebut dan membaca alamat tempat pestanya. Setelahnya ia manggut manggut tanda mengerti, dan menyimpan kertas undangan tersebut.
Setelah berada dirumah, Chandra memikirkan tentang undangan yang baru saja ia terima. Ia akan mengajak siapa ke pestanya Satria besok Minggu. Nggak mungkin dia mengajak Andi sang sahabat karibnya.
'Hah, nasib Jomblo mah ngenes mulu yak!' keluh Chandra pada dirinya sendiri seraya menyugar rambutnya. Dan ia kemudian pergi kerumah kakaknya untuk menemui Sisil, ia akan menjadikan keponakannya itu sebagai partnernya nanti.
"Kok sepi, pada kemana sih?." Ucap Chandra sambil masuk kedalam ruangan dan celingukan mencari keberadaan seseorang.
Dilihatnya pintu kamar kakaknya tertutup rapat, begitu juga pintu kamar Pricil. Semua tertutup dengan rapat.
'Pasti pada tidur nih.' Chandra berkata dalam hatinya karena memang tak ada suara dirumah tersebut. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali lagi kerumahnya. Niatnya ia urungkan hingga nanti malam saat bertemu dengan keponakannya nanti.
__ADS_1
Malamnya, Pricil sedang duduk di ruang depan sambil lesehan. Ia mengisi lembaran tugasnya dengan serius, hingga selesai ia menjawab soal soal pada bukunya. Setelahnya ia kembali memeriksa jawabannya dengan teliti. Setelah dirasa semuanya sudah benar, ia menutup buku dan akan beranjak ke kamarnya untuk menyimpan bukunya.
"Sisil, tunggu!!"