Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Cari baju


__ADS_3

Sore harinya setelah selesai mereka berberesan dirumah bu Lisa, mereka langsung berpamitan untuk pulang kerumah masing-masing.


"Bu, kita pulang dulu ya. Besok setelah pulang dari Jum'atan kita kesini lagi," ucap Putri sambil berpamitan kepada gurunya itu.


"Iya, besok ibu tunggu. Kalian hati-hati ya pulangnya" ucap bu Lisa sambil mengantarkan mereka diteras depan.


Mereka pergi menuju motor yang mereka parkirkan dibawah pohon tadi. Sementara itu, bu Lisa kembali menutup pintu rumahnya.


"Put, kamu anterin aku pulang kerumah dulu ya" pinta Pricil kepada Putri sambil naik keboncengan belakang.


"Anterin Pricil rame-rame ya," ucap Putri kesemua temannya.


"Ogah kak, aku mau langsung pulang!" ucap Tio sambil memasang helmnya kekepalanya.


"Ya udah sana pulang!! siapa juga yang minta anterin sama kamu" ucap Pricil sewot.


"Ya udah, kita aja yang anterin kak. Biarin aja dia pulang duluan" ucap Angga sambil memasang helm miliknya.


"Yuk, kita berangkaaatt!" ucap Putri sambil menjalankan pelan motornya meninggalkan halaman rumah tersebut dan diikuti oleh Angga dibelakangnya.


Sementara Pricil memberi arahan jalan yang mereka lewati agar cepat sampai di rumah Pricil.


Setelah agak jauh, Tio mengikuti jejak mereka secara diam-diam. Tiba-tiba timbul rasa penasaran dalam dirinya untuk mengetahui rumah kakak kelasnya yang jutek terhadap dirinya itu. Padahal dirinya lah yang menyebabkan kejutekan sang kakak kelasnya.


Dilihatnya dari jarak jauh, motor Putri dan Angga berhenti di depan rumah bercat Putih dan ada pohon Belimbing di depan rumah tersebut.


Tio menghentikan motornya sejenak untuk memastikan bahwa Pricil memasuki rumah yang ia lihat. Dan benar saja, Pricil masuk kedalam rumah tersebut setelah melambaikan tangannya kepada teman temannya.


Dengan gerakan cepat Tio memutar balik motornya dan tancap gas sebelum terlihat oleh temannya yang mengantar Pricil tadi.


Putri yang sendirian membawa motornya jalan di posisi depan, Angga dan Wina mengikuti dari belakang.


Setelah sudah sampai di persimpangan, mereka berpisah. Angga mengantarkan Wina kerumahnya, sekalian untuk mengetahui rumah kakak kelasnya yang sedang ia taksir ini.


***


"Sil, jadi kan kita pergi malam ini" ucap Chandra disisi Pricil yang sedang berdiri di depan pintu depan. Pricil langsung menoleh kearah suara Chandra.


Chandra masuk kerumah kakaknya lewat pintu samping, kebetulan kedua kakaknya itu sedang ngopi dan ngeteh disana.

__ADS_1


Ia melihat Pricil sedang berdiri didepan pintu ruang depan menghadap kejalanan. Langsung saja ia mengajak Pricil untuk pergi malam ini.


"Paman tuh ya! sukanya ngagetin kalau ngomong. Untung aku nggak latah!" ucap Pricil sambil memutar bola matanya.


"Heheh, yuk gerak sekarang!" ajaknya sambil mengeluarkan kunci motor dari dalam kantong celananya.


"Tunggu bentar, aku pamit dulu sama bibi." Pricil pergi kebelakang menemui paman dan bibinya untuk berpamitan.


Setelah itu mereka pergi menuju toko baju yang jaraknya tidak terlalu jauh dari daerah rumah mereka.


Sampailah mereka di toko baju Annass Fashion, dan langsung saja mereka memilih model baju dan ukuran yang pas setelah masuk kedalam toko tersebut.


"Kok, bajunya couple sih paman!" Pricil memprotes hasil pilihan pamannya.


"Nggak apa lah Sil, biar serasi." Ucap Chandra sambil menyerahkan baju pilihannya ke penjaga toko untuk dibawa ke meja kasir.


"Paman ini aneh deh. Kayak orang pacaran aja, baju harus couple, kita kan kayak bapak dan anak." Celetuk Pricil sambil jalan melenggang mendahului Chandra.


"Apa Sil, kamu bilang apa tadi. Aku kok nggak dengar ya!" tanya Chandra sambil menyamai langkah Pricil.


"Nggak ada tuh!" ucap Pricil yang cuek dengan pertanyaan pamannya.


Setelah selesai, Chandra membawa bungkusan pakaiannya dan menggantungnya di tempat gantungan motornya.


"Kita makan dulu ya Sil," ajak Chandra sambil melajukan motornya.


"Makan apa" tanya Pricil.


"Kamu maunya makan apa," Chandra balik bertanya.


"Ramen aja yuk" kata Pricil memberi ide.


"Boleh, dimana tempat yang mau kamu pilih."


"Kita ke Okkittaa Ramen, cuss!" ucap Pricil sambil menunjuk arah jalan yang ia maksud.


Dalam perjalanan menuju posisi yang akan dikunjungi, mereka mengobrol. Walaupun suara bising dari kendaraan lain yang lebih mendominasi suara mereka.


Pricil yang kurang jelas mendengar omongan Chandra, ia memajukan wajahnya hingga kesisi kepala Chandra. Tubuhnya pun menempel di punggung Chandra, walaupun tidak terlalu nempel lekat. Tetapi itu cukup terasa di punggung Chandra.

__ADS_1


Benda kenyal yang bentuknya kembar itu, terasa begitu lembut menekan punggungnya dari belakang.


"Apa paman, kurang jelas suaranya" teriak Pricil di samping kepala Chandra.


Chandra menelan salivanya dengan susah payah. Benda pusakanya malah merespon sesuatu dibelakang sana.


"Ap, apa Sil. Kurang jelas suaranya" tanya Chandra dengan tergagap.


Pricil kembali menekan tubuhnya dan lebih mendekatkan wajahnya, suaranya pun lebih ia keraskan supaya tersengar jelas oleh pamannya.


"Paman tadi nanya apa, suaranya kurang jelas" teriak Pricil di samping telinga Chandra.


"Udah, nanti aja lagi kita ngomongnya. Ini jalan rame banget, jadi nggak kedengaran." ucap Chandra yang mulai menambah laju kecepatan motornya. Ia sangat tegang saat ini.


Kini, sampailah mereka di tempat yang diinginkan oleh Pricil. Mereka masuk setelah pintu kaca tersebut dibuka oleh penjaga di tempat itu.


Mereka duduk berhadapan dan memesan Ramen yang diinginkan Pricil tadi, menu yang mereka pilih disamain. Untuk pedasnya yang sedang. Karena Pricil tidak begitu kuat untuk makan makanan yang terlalu pedas.


"Paman tadi nanya apa," ulang Pricil yang masih penasaran dengan pertanyaan pamannya ketika diperjalanan tadi.


"Itu soal sore tadi, kamu pulang dianterin siapa?"


"Ohh, itu sahabat aku disekolah paman. Kenapa? cantik ya mereka?" tanya Pricil dengan nada menggoda.


"Nggak ah, cuma pengen tahu aja. Lebih cantik yang sedang duduk disini." Ucap Chandra sambil mengalihkan tatapannya dari Pricil.


"Mana? siapa yang cantik!" tanya Pricil sambil mengamati orang yang ada disekitarnya. Tapi ia tidak menemukan seorang gadis, yang ada hanya pelayan laki laki yang berjaga di samping pintu masuk. Sedangkan pengunjungnya banyak laki laki, dan ada sekumpulan keluarga. Itu hanya ibu ibu yang sudah berumur.


Chandra langsung menatap manik mata Pricil yang kecoklatan itu, dan mengatakan yang ia maksud tadi.


"Kamu" ucap Chandra dengan menampilkan senyum tampannya, dan memperlihatkan lesung pipinya.


Pricil memicingkan matanya kearah pamannya ini. Kenapa pamannya ini suka sekali mengatakan bahwa dirinya ini cantik. Padahal, ia merasa biasa biasa saja. Cowok disekolahnyapun tak ada yang melirik dirinya apalagi mengatakan bahwa ia cantik.


Hanya kedua sahabatnya yang sering mengatakan seperti itu. Akhirnya, ia menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya.


"Paman kenapa suka sekali bilang aku cantik," ucap Pricil dengan tatapan masih fokus ke mata Chandra, senyumnya masih terukir disana.


Hal itu membuat Chandra frustasi dan ingin teriak.

__ADS_1


__ADS_2